
"Mommy, mau kemana?" Tanya Jeffin yang terkesiap saat sang mommy keluar dari lift dengan penampilan anggun.
Jeffin yang baru saja dari ruangan santai di lantai dasar, terkejut saat bertepatan dengan mommy — Margaretha.
"Party!" Jawab mommy dengan wajah cuek dengan mendelik tajam ke arah putranya.
"Party?! Jeffin membeo sambil menelisik penampilan wanita kesayangannya itu.
"Kenapa? Apa, mommy terlihat lebih muda dan cantik?" Mommy Margaretha, meminta sang putra untuk menilai penampilannya malam ini.
"Mommy, adalah tercantik bagiku," sahut Jeffin sembari tersenyum lembut dan mengecup pipi merona, mommy — Margaretha.
"Kau, memang putra mommy," sela wanita cantik itu dengan wajah tersipu.
"Aku, menyayangimu, mom," ucap Jeffin tulus.
"Mommy, juga menyayangimu, sayang," balas sang mommy, dan meninggalkan kecupan di kening putra semata wayangnya.
Keduanya pun saling berpelukan penuh kasih sayang, bagaimanapun Jeffin begitu menyayangi sang mommy.
Ia tidak akan bisa membantah segala ucapan wanita kesayangannya ini. Segala ucapan sang mommy adalah titah baginya.
Mereka secara bersamaan berpaling, saat mendengar pintu lift terbuka. Dan — sosok gadis cantik dengan penampilan mempesona keluar dari lift tersebut.
Tatapan mata kagum pun tak luput dari keduanya, mommy bahkan segera berjalan mendekati menantunya dan memberi pujian.
"Lihatlah. Kau begitu cantik dan imut sekali, sayang!" Seru mommy Margaretha.
Catherine hanya bisa menyembunyikan wajah salah tingkahnya saat mendapatkan pujian.
"Mommy, juga terlihat cantik," balas Catherine dengan senyum tulus.
__ADS_1
"Bagaimana Jeffin, apakah, istrimu terlihat cantik dan begitu imut menggemaskan?" Seloroh sang mommy, menuntut penilaian dari — putranya.
Jeffin hanya diam dengan tatapan mata kelam yang sulit diartikan. Tatapannya kini memantau lekat sang istri dengan perasaan begitu bergejolak.
Ia merasa tidak rela, istri kecilnya mengikuti acara party tersebut dengan penampilan begitu memukau siapa saja yang memandang. Dan …akan terpesona dengan wajah cantik istri kecilnya.
Apalagi, gaun yang istrinya kenakan begitu terkesan menggemaskan di tubuh mungil istrinya itu. Namun masih meninggalkan kesan seksi yang memperlihatkan, area padat menonjol sang istri.
Dada pria bermata tajam bak singa jantan kelaparan itu, bergemuruh panas. Tiba-tiba saja jiwa posesifnya bangkit. Ingin rasanya Jeffin, mengurung saja istrinya itu di dalam kamar dan mengungkungnya di bawah kuasanya.
"Hey, bagaimana?" Seru mommy Margaretha sambil menepuk pundak — Jeffin.
Pria itu pun mengalihkan tatapannya kelain arah dan melangkah begitu saja, meninggalkan mommy dan Catherine dengan ekspresi tidak percaya.
"Dasar, tembok es," gerutu mommy Margaretha.
"Ayo, sayang. Saat berpesta," sorak mommy sambil menarik menantunya.
Ia yang sejak tadi menanti jawaban sang suami akan penampilannya, harus kecewa, yang hanya mendapatkan tanggapan cuek.
Catherine pun hanya bisa menghela nafas kecewa dan berusaha untuk bersemangat. Semoga saja ia mendapatkan hiburan di acara party tersebut.
………….
Jeffin hanya bisa memandang tajam mobil mewah yang mengantar, istri kecilnya dan juga sang mommy.
Ingin mencegah, namun ego dan gengsi yang ia miliki terlalu kuat. Terpaksa ia harus tersiksa dengan rasa gelisah.
Memikirkan, keadaan di suasana party yang dihadiri oleh kalangan konglomerat dan … tentu saja pengusaha sukses dan muda tampan akan memeriahkan party tersebut.
Apalagi acara tersebut adalah, party ulang tahun salah satu orang terkaya di kotanya. Sudah dipastikan, akan banyak kalangan pebisnis muda di sana. Dan siapa yang akan menolak pesona istri kecilnya malam ini yang terlihat begitu cantik dan menggemaskan.
__ADS_1
"Sial!" Umpatnya kesal. Karena perasaan kini masih ragu, untuk menyusul sang istri.
Pandangannya kini menatap istri pertama dengan tatapan nanar, ia pun ikut berbaring di samping istrinya, memeluknya erat dan memberikan kecupan di pipi pucat wanita itu.
"Maafkan, aku," bisiknya berulang kali. Mencoba membuang pikirannya terhadap istri kecilnya.
"Bagaimanapun, kau adalah wanita yang aku cintai. Meskipun, gadis itu terus membuatku tersiksa, tapi … mulai sekarang sudah cukup. Aku, tidak ingin membuatmu terluka, sayang," tuturnya lembut dan mengecup pipi sang istri.
"Maaf! Ucapnya lagi dan mencoba memejamkan mata. Menghilangkan bayang-bayang tentang istri kecilnya yang di tatap oleh para pemuda sukses, di pesta tersebut.
"Sh*it." Geramnya kesal dan kembali bangkit. Turun dari ranjang sambil meraih ponselnya yang ada di atas nakas.
"Aku, akan kesana!" Seru Jeffin melalui panggilan telepon dengan asistennya di seberang sana.
"...
"Hum! Sekarang," titahnya yang tak terbantahkan.
" ….
"Tut"
Setelah Jeffin menutup panggil, pria itu segera menuju kamarnya bersama istri kecilnya.
"Kali ini aku tidak akan, melepaskanmu," gumamnya dengan tatapan penuh rencana.
Jeffin malam ini tidak akan mau kalah dengan penampilan para kaum Adam di pesta tersebut. Meskipun, usianya terbilang sudah dewasa, namun pesonanya tak terkalahkan. Apalagi didukung oleh materi melimpah.
Jeffin mematuk dirinya di depan cermin, menilai penampilannya sendiri,. Takut ada hal keburukan dipakainya, yang akan menurunkan nilai pesonanya.
__ADS_1