Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 25


__ADS_3

Sebuah pintu kokoh dan megah menjulang tinggi, terbuka dari luar. Terlihat sosok pria tampan dengan tubuh idealnya yang hanya mengenakan bawahan saja.


Wajahnya tanpa terlihat segera, tetesan air mengalir dari rambut hitam pekatnya. Ia berjalan tanpa memperhatikan keadaan kamar. Yang terlihat hanya kesunyian dan kamar pun, sudah tampak rapi.


Jeffin pun seakan tidak acuh, keberadaan istri kecilnya kemana, masa bodoh dengan gadis mungil itu, yang membuatnya kesusahan menikmati tidur malamnya.


Jeffin melangkah ke arah ruangan ganti dengan bersungut-sungut kesal, saat libido nya sebagai pria normal bangkit di pagi hari.


Pria itu terus mengerang kesal dan mengerubuti dirinya sendiri yang sudah kehilangan akal. "Jaga, harga dirimu sialan," batinnya berteriak.


Namun, langkahnya terhenti saat berada di ambang pintu ruangan ganti tersebut.


Perubahan wajahnya tidak terlalu asing, ia memperlihatkan raut wajah seperti semalam. Seperti seorang pria yang menginginkan sentuhan dan kehangatan.


Rahang wajah Jeffin mengetat, mata kelam menghunus tajam pada objek indah memikat di depannya. Sebuah pemandangan sempurna yang mampu membuatnya semakin hilang akal.


Bagaimana tidak, di depannya terpampang jelas tubuh sempurna dan molek menggoda istri kecil dalam keadaan polos.


Istrinya itu, terlihat ingin mengenakan pakaian dengan posisi membelakangi pintu ruangan. Dan … Jeffin dapat dengan jelas melihat tubuh molek istri kecilnya itu. Tubuh mungil namun terlihat menonjol di bagian tertentu.


Aliran darah pria dewasa itu berdesir hebat, cangkung lehernya terlihat naik turun begitu seksinya, ia begitu kesusahan menelan ludahnya sendiri.


Wajahnya pun kian panas dengan tatapan yang siap memangsa targetnya.

__ADS_1


Tanpa banyak berkata-kata, Jeffin melangkah masuk dalam diam dan menutup pintu ruangan itu dengan perlahan. Salahkan, istri mungilnya yang begitu ceroboh meninggalkan pintu ruangan dalam keadaan terbuka dan ia pun dapat melihat tubuh melok polos istri kecilnya itu dengan tatapan buas.


"Apa, kamu sengaja menggodaku, hm?" Jeffin kini memeluk tubuh polos istrinya itu dan berbisik di atas pundak gemetar — Catherine.


Jelas saja, Catherine begitu terloncat kaget saat mendapatkan pelukan tiba-tiba dari arah belakang.


Bukannya, wajah senang yang Catherine, perlihatkan. Tapi … raut wajah tegang dan pias yang terlihat.


Tubuh moleknya pun kini mulai gemetar dan pori-pori di sekujur tubuhnya tiba-tiba terbuka dan mengeluarkan keringat dingin.


"Kamu, sengaja melakukannya?" Bisik Jeffin yang jari-jari kekarnya sudah bergerak lincah di atas permukaan kulit perut istrinya.


"Katakan!" Tekan Jeffin sambil menarik rambut istrinya kebelakang, membuat — Catherine mendongakkan kepalanya ke atas, memperlihatkan kulit lehernya yang putih pucat itu.


"T-tidak," sahut Catherine dengan nada gemetar dan seluruh tubuhnya kini bergetar hebat. Tapi, suaminya itu tidak peduli.


"Iya," gugup Catherine sambil mengeratkan kedua kelopak mata, yang dilanda rasa takut.


"Kamu, menggunakan sabut milikku?" Jeffin menjauhkan wajahnya dari ceruk leher istri kecilnya, tapi masih menarik ke belakang rambut — Catherine. Jeffin kini berpindah mengecup seluruh permukaan kulit punggung dan pundak istrinya.


Kedua tangan lembab Catherine kini saling meremas kuat, berusaha mengelak, tapi… genggaman tangan suaminya begitu kuat di belakang rambutnya.


Ia pun menggigit bibir yang terus gemetar gugup dan ketakutan, wajah yang kian memucat.

__ADS_1


"Katakan, kenapa kamu memakai sabun milikku?" Tanyanya dengan aktifasi bibirnya yang terus mengecup penuh minat ceruk turun ke pundak istrinya.


"Aku, tidak memiliki pilihan lain," sahut Catherine lirih.


"Kamu, sengaja menggodaku? Dengan menggigit bibirmu?" Pria dengan mode buas itu, menarik lebih kuat ke belakang rambut istrinya, hingga ia bisa melihat wajah ketakutan, istri mungilnya itu.


"Tidak! Aku, tidak pernah menggoda mu. Aku, hanya lupa menutup pintu," jawab Catherine dengan raut wajah menahan kesakitan di bagian belakang kepalanya.


"Sayangnya, aku tidak peduli. Dan … kali ini kamu harus menjadi pelampiasan aku lagi," bisik sarkas Jeffin di telinga istrinya itu sambil menggigit kuat daun telinga — Catherine.


"Sakit!" Ringis Catherine pilu.


"Aku, tidak akan pernah peduli. Semakin, kamu kesakitan maka aku semakin menginginkanmu," ucap Jeffin dengan nada mengerikan yang tertangkap di telinga Catherine.


Jeffin pun mendorong ke depan tubuh istrinya sambil berjalan dan menuntun gadis itu, ke arah nakas yang ada di hadapan mereka.


Dengan kasar, Jeffin mendorong tubuh polos — Catherine dan tanpa menunggu aba-aba, Jeffin kembali melakukan penyatuan dengan posisi tubuh istrinya di depan.


Catherine kembali berteriak kesakitan. Luka robekan kemarin malam pun masih terasa dan kini, dengan kejamnya, pria ini melakukannya lagi dengan posisi yang semakin membuat Catherine sesak di dada.


Apalagi mendengar erangan suaminya yang lagi-lagi menyebutkan nama istri pertama di setiap hentakannya.


Bukan kenikmatan yang Catherine rasakan, tapi sebuah rasa sakit dan pilu di sekujur tubuh dan batinnya.

__ADS_1


Sementara Jeffin, melampiaskan fantasi liarnya kembali kepada istri kecilnya itu. membuat ia begitu hilang kendali dan akal sehat yang selama ini ia pertahankan.


kehangatan tubuh istri kecilnya membuat Jeffin menjadi gila. tubuh mungil istrinya ini, sudah menjadi candu baginya yang ingin melakukannya lagi dan lagi.


__ADS_2