Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 42


__ADS_3

"Sakit!" Rintihan halus itu terdengar dari sebuah tempat tidur mewah di tengah-tengah ruangan kamar.


Mata yang sebelumnya tertutup, kini mulai terbuka perlahan, menyesuaikan penglihatannya dengan terpaan cahaya matahari melalui celah-celah gorden.


Gadis berwajah pucat itu, berdehem untuk menghilangkan rasa kering dan sakit di tenggorokannya.


Sosok feminim itu pun bangkit dari tidurnya, bersandar dengan gerakan lemah, ia juga menggapai gelas putih di atas nakas, meminumnya agar bisa membasuh tenggorokannya yang kering.


Gadis itu menyandarkan punggung lemahnya kebelakang, merasakan kondisi tubuhnya yang begitu lemas.


Gadis lemah itu tersentak kaget, saat menyadari pakaian yang ia kenakan, dan refleks menatap sekeliling kamar mewah tersebut. Nafas lega terdengar keluar dari mulutnya. Ia merasa lega, karena berada di kamar asing milik sang suami.


Namun ada rasa penasaran dalam hatinya, bagaimana bisa ia berada di sini dan siapa yang mengganti bajunya?


Catherine pun tidak ingin terlalu banyak berpikir, ia terlalu lelah dan lemas.


Lantas gadis berwajah lesu itu pun mencoba bangkit dari tempat tidur, ia butuh ke kamar mandi, meskipun tubuhnya masih terasa hangat, Catherine menginginkan air untuk menyegarkan tubuhnya itu.


Ia pun tidak memikirkan pria diktator itu, entah kemana dia, Catherine tidak terlalu mengambil pusing. Dirinya hanya ingin membersihkan tubuh setelah itu kembali ke Mansion.


Ia menghentikan langkahnya di depan cermin besar di sana, memandangi penampilannya yang terbungkus oleh kaos kebesaran, tentu saja milik suaminya yang buas.


"Ck! Sulit dipahami," Catherine membeo.


Ia mendesak akan sikap suaminya itu, bukankah dia sendiri yang mengatakan kalau membenci dirinya, lantas kenapa ia masih memperdulikannya?


"Entah! Mungkin ini yang dinamakan, pria labil," gumamnya sambil melanjutkan langkah memasuki kamar mandi.


…………..


"Apa-apaan ini!" Hardik seorang wanita anggun kepada pelayan di Mansion Abraham.


"M-maaf nyonya, apa maksud anda? Tanya kepala pelayan dengan sikap tenang.


"Kenapa, tidak ada sarapan di atas meja," sela Clara dengan bergaya arogan, layaknya seorang nyonya besar.


"Maaf, nyonya! Kamu, tidak menyajikan sarapan karena tuan dan nyonya muda tidak berada di Mansion," sahut kepala pelayan tersebut.


Wajah nyonya Soraya dan Clara berubah merah, ia kini menatap marah ke arah para pelayan yang berjejer di depannya.


"Kau, pikir kami apa, hah!" Bentak nyonya Soraya kasar.


"Tamu!" Timpal seorang gadis yang menjadi sahabat — Catherine.


"Kau!" Gertak nyonya Soraya sambil menunjuk wajah — Lusi.


"Anda, hanya tamu, nyonya," sambung Lusi dengan wajah sinis.

__ADS_1


"Tamu yang tidak tahu diri," lanjut gadis itu.


Clara dan nyonya Soraya pun semakin emosi, sejak kemarin malam ia dibuat kesal oleh para pelayan pilihan — Catherine. Yang tidak ingin diajak bekerja sama, untuk bisa mengambil alih hadiah-hadiah mewah dari seseorang untuk — Catherine.


Para pelayan pilihan Catherine, lebih memilih menjalankan perintah tuan muda Abraham, daripada menerima imbalan dari nyonya Soraya.


Sekarang ia harus di buat kesal kembali di saat dirinya dalam keadaan kelaparan. Dan — dengan beraninya dan tidak sopannya mereka menantang kerabat dekat istri pertama dari tuan muda Abraham.


"Kalian, keterlaluan. Ingat. Aku adalah mommy dari nyonya muda pertama, jadi aku punya hak untuk mendapat pelayanan terbaik," pekik nyonya Soraya dengan bola mata melotot menantang.


"Cepat, siapkan kami sarapan!" Perintah Clara dengan wajah arogan.


Kepala pelayan dan beberapa bawahnya masih terdiam, begitu dengan Lusi yang memandangi kedua wanita terhormat itu dengan sinis.


"Apa yang kalian lihat, hah! Cepat layani kami!" Sentak Clara dengan wajah emosi.


"Maaf, kami hanya diperintahkan untuk melayani, nyonya muda dan tuan muda," timpal sang kepala pelayan.


"Dasar pelayan rendahan!" Maki nyonya Soraya semakin berang.


"Aku rasa anda adalah kaum konglomerat terpandang, tapi … kenapa kalian senang berada di rumah orang? Dan menjadi benalu merepotkan di sini? Apakah, begini gaya hidup seorang kaum atas?" Sela Lusi dengan kata-katanya yang tajam.


"Memalukan, gaya sosialita namun hidup gratisan," cibir Lusi dengan wajah mengejek.


"KAU! DASAR GADIS SIALAN! Hardik nyonya Soraya.


Sedangkan Clara hanya bisa menahan amarahnya karena direndahkan dan dihina para pelayan rendahan.


Wanita dengan tampilan anggun berkelas itu, menarik sang mommy menjauh dari area ruang makan. Wajahnya terlalu pias mendengar segala hina dari kalangan pelayan tersebut.


"Apa yang kau lakukan, biarkan mommy memberi mereka pelajaran. Enak saja mereka menghina kita," cerca nyonya Soraya, wajahnya terlihat merah menahan kekesalan.


"Kita, harus segera menyingkir gadis sialan itu. Pasti ini semua ulahnya, kita tidak dapat di hargai di sini," potong Clara dengan wajah geram.


"Kau, benar nak! Kita harus segera menyingkirkannya dari sini," sela nyonya Soraya dengan senyum licik.


…………


Catherine keluar dari kamar mandi dengan tubuh setengah menggigil, meskipun tubuh mungilnya sudah dibungkus oleh handuk tebal. Rambut panjang indah itu terlihat basah dan belum ia keringkan, sehingga tetesan air berasal dari rambutnya itu mengenai lantai.


Manik hijau itu berkeliaran mengelilingi sekitar kamar asing baginya, ia berjalan ke salah satu pintu, yang ia yakini adalah ruangan ganti. Dan tebakannya benar.


Catherine membuka satu demi satu pintu lemari panjang ada disana, yang semuanya diisi oleh pakai pria. Masa bodoh dengan peringatan pria diktator itu yang melarangnya menyentuh sedikitpun barang-barang miliknya.


Yang terpenting, ia tidak kedinginan lagi jadi — Catherine meraih salah satu kemeja hitam milik suami arogannya itu. Memakainya dengan membuangkus hingga kebagian paha mulus itu.


Setelah aman dengan penampilannya, Catherine keluar dari ruangan tersebut dan menuju pintu kamar, ia tidak tertarik dengan pemandangan indah dari atas kamar asing itu, yang sekarang baginya mengisi perut yang sejak tadi berbunyi, setelah itu ia akan kembali ke Mansion.

__ADS_1


Catherine membeku, saat berada di ambang pintu salah satu ruangan di penthouse mewah itu, ia dapat melihat suami buasnya berada di balik kompor dengan penampilan begitu mendebarkan jantungnya.


Suami terlihat begitu tampan, dengan gaya berpakaiannya yang santai, rambut yang biasa tertata rapi kini dibiarkan berantakan. Lengan kekar itu, kini sibuk mengaduk masak di atas kompor. Wajahnya masih terlihat dingin namun begitu mempesona.


Catherine menggelengkan kepalanya, mengusir jiwa pesonanya kepada suami diktatornya itu. Ia tidak seharusnya luluh oleh ketampanan pria di depan. Meskipun hatinya memberontak, namun sekuat tenaga Catherine berusaha menekan perasaannya itu.


Cepat-cepat ia membalikkan badan dan berniat menjauh, tapi … baru beberapa merajuk langkah, suara berat nan mengesankan itu — menyapa. Membuatnya harus berhenti dengan posisi memunggungi.


"Kau, sudah bangun?" Jeffin bertanya tanpa melihat sang istri.


Catherine refleks mengangguk, seakan sang pemberi pertanyaan melihat gerakan kepalanya.


Dengan dahi mengkerut, Jeffin menoleh ke arah sang istri, menilai penampilan istri kecilnya itu yang tiba-tiba, membuatnya berdesir hebat, ketika melihat kedua kaki sang istri terekspos menggemaskan.


"Kemarilah!" Perintahnya dengan suara berat tertahan.


Catherine meneguk ludahnya, saat mendengar suara sang suami yang terdengar begitu menggetarkan jiwa — pesonanya.


"Kemarilah, little bear!" Perintah Jeffin kembali yang kali ini dengan panggilan tidak seperti biasa.


"Little bear?" Catherine membeo dengan membalik badan dengan cepat.


"Come on!" Panggil Jeffin sekali lagi tanpa melihat ke arah sang istri.


Dengan wajah mengkerut penasaran, Catherine pun menurut. Berjalan mendekat kepada sang suami.


Bibir mungil itu tidak hentinya bersungut-sungut dan mencibir, saat mengingat semua perbuatan pria di depannya ini.


"Cicipi!" Seru Jeffin sembari mengarahkan sebuah alat garpu ke mulutnya.


"Buka mulutmu," suruh pria di depannya.


Catherine menurut dengan mata berkedip-kedip heran dengan tingkah dan sikap suaminya yang mendadak hangat.


"Bagaimana?" Tanya Jeffin tiba-tiba.


Membuat Catherine tersendat makanan dan terbatuk-batuk. Jeffin segera mendekati istri kecilnya itu dan mengusap punggung mungil istrinya.


Ia juga segera memberikan minum kepada gadisnya, yang masih terdengar terbatuk-batuk.


"Lain kali berhati-hatilah dan jangan melamun," tegur Jeffin sambil meninggalkan kecupan di atas kepala istri kecilnya itu.


"Duduklah, aku akan menyiapkan sarapan untukmu," sela Jeffin.


Catherine pun masih terbengong-bengong dengan wajah bingung dan tidak percaya. Atas perubahan sikap suami buasnya ini. "Bukankah, kemarin dia begitu marah kepadaku? Terus apa yang aku lihat ini?" Monolognya dengan wajah bingung.


"Apa, dia mendapatkan wangsit dari malaikat? Menyuruhnya agar berbuat baik kepada istri lainnya?" Gumamnya dengan wajah yang semakin mengkerut.

__ADS_1


"Entahlah, hanya Tuhan dan dia lah' yang tahu," lanjutnya dan lebih memilih menuruti pria buas itu dari pada moodnya kembali hancur dan wujud aslinya akan kembali mengerikan.



__ADS_2