Pernikahan penuh luka

Pernikahan penuh luka
bab 34


__ADS_3

Catherine hanya mampu memejamkan mata, saat wajah suaminya berada di leher panjang miliknya yang terekspos menggoda.


Ia menahan rintihan dan juga desisan, saat mendapatkan sesapan bahkan gigitan kuat dari — suaminya.


Jeffin melampiaskan kemarahannya dengan meninggalkan jejak kemerahan dan bahkan luka gigitan di permukaan kulit leher dan bahu istri kecilnya.


Jeffin seakan ingin menghilangkan jejak sentuhan tangan pria lain di tubuh istrinya. Pria itu, tidak akan pernah terima, miliknya disentuh oleh siapapun.


"Katakan, dimana lagi dia menyentuhmu?" Cerca pria itu.


Dengan wajah penuh kemarahan dan hasrat, Jeffin menatap lekat wajah mengkerut istri kecilnya yang sedang menahan serangan gigitan dan juga remasan di punggung yang begitu kuat.


"Kau, berani membiarkannya menyentuh, milikku," bisiknya tegas.


Tatapan kelam pria itu masih menghunus tajam, kepada sang istri yang masih setia memejamkan mata. Fokus Jeffin kini beralih di bibir gugup istrinya itu yang menggigit bibir bawahnya.


"Katakan, kenapa kau begitu lancang, hum?" Gumamnya dengan halus.


Saat ini bibir pria itu, sudah menempel sempurna di bibir ranum istrinya, membelainya dengan lembut dan memberikannya kecupan-kecupan halus, berhasil membuat bulu kuduk, Catherine meremang.


"Aku, tidak akan suka kalau milikku ini disentuh oleh pria lain," tuturnya tegas.


Sambil mengecup seluruh permukaan wajah istrinya, dan meremas kuat punggung ramping istrinya. "Apa, kamu mengerti?" Sambungnya dengan berbisik.


"Kau, mengerti, gadis nakal."


Jeffin kembali berbisik tepat di telinga istrinya dan meninggalkan gigitan halus di daun telinga — Catherine.


Gadis yang berada di pangkuan suaminya itu, dengan posisi kedua kaki berada di kedua sisi tubuh sang suami. Ia hanya bisa mengangguk pasrah dan berusaha menahan, rasa geli dan juga perih.


Jeffin menjauhkan wajahnya dari ceruk leher menggoda sang istri, dan kembali memberikan tatapan sulit diartikan.


Ibu jarinya kini memainkan bibir ranum istrinya dan sesekali bergantian untuk ia kecup halus.


Yang membuat Catherine mendesis tertahan, menahan rasa aneh di dalam tubuhnya. Seakan ribuan semut bergerilya di dalam perutnya.


"Buka, matamu!" Perintah Jeffin.


Ia terus memandangi wajah menawan istri mungilnya itu dengan mata kelam yang mempesona. Tatapan bak elang yang kelaparan. Raut wajah dingin dengan rahang mengeras, menahan sesuatu yang sudah menggebu-gebu.


Catherine menurut, dengan segera membuka mata perlahan dan mengerjap setelahnya, membuat wajah gadis itu semakin terlihat menggemaskan.


Melihat itu, Jeffin hanya bisa menggertakkan giginya dengan garis wajah semakin merah. Menahan hasratnya yang sudah berada di ubun-ubun.


Dengan punggung tegak bersandar, dan Catherine di atas pangkuannya, kepala menunduk sedikit menatap wajah kemerahan dan mata berbinar milik istrinya yang diterpa sinar lampu redup mobil mewahnya.


Sedangkan Catherine, mendongakkan sedikit kepalanya, menatap lekat, mata kelam menghanyutkan di depannya. Dadanya berdesir menyenangkan berada pada posisi seperti ini. Posisi yang begitu intim di antara keduanya.

__ADS_1


Catherine terkejut, saat jari-jari kekar lembut suaminya, mulai menggelitik kulit tangan, naik ke leher dan sekarang berada di tengkuknya.


"Apa, kau berniat menggoda pria di sana?" Bisik Jeffin.


Bisikan halus itu, membuat Catherine bergidik tanpa sadar, saat sapuan hangat nafas sang suami menerpa kulit lehernya.


"Jawab," sambung Jeffin.


Pria itu kembali menatap dalam sang istri kecilnya, yang sudah memejamkan mata.


"T-tidak, aku hanya berkenalan dengannya," sahut Catherine dengan nada gugup.


"Benarkah," timpal Jeffin.


"Hum! Gumam Catherine.


Jeffin dibuat semakin gila dengan sensasi tubuh istrinya ini. Jeffin memejamkan matanya saat nafas segar sang istri menyapu permukaan wajah datarnya, yang begitu sangat dekat dengan wajah sang istri.


Jeffin mengusap wajah imut itu, menggunakan wajahnya yang dihiasi rambu-rambu halus di sekitar garis wajah dan bagian atas bibirnya yang tipis.


Jeffin menggelitik wajah menggemaskan itu, membuat istri kecilnya merinding dan menegang. Antara menahan rasa geli dan desiran hangat yang diciptakan pria bermata kelam itu.


Pria itu mendorong belakang kepala istrinya, hingga tubuh mereka menempel tanpa jarak.


Bibir keduanya pun kini saling bertemu dan pria itu segera menyesapnya penuh hasrat yang sejak tadi ia tahan.


Sang pria buas itu, menurunkan gaun mewah istrinya, hingga menampilkan buah ranum kesayangan yang di bungkus dengan kain terakhir, yang tak lepas dari kejahilan jari terampil sang tuan muda.


Kini terpampang sudah buah ranum itu di depan wajah, membuat hasrat pria itu semakin menggebu. Kembali ia menyerang bibir ranum di depannya. Dengan kedua tangan yang menarik naik keatas gaun bagian bawah sang istri. Dengan halus ia mengusap paha mulus dan putih itu.


Membuat sang gadis hanya bisa diam dan pasrah dengan tubuh yang mulai tenang dan terbawa suasana menyenangkan.


Ia tidak henti menggigit bibir bawahnya, menahan suara ledakan yang ia rasakan kini, saat suaminya kini berada di antara buah ranumnya itu.


Catherine merasa ingin mengeluarkan suara pekikannya, ketika dengan ganas suami buasnya itu menggigit gemes salah satu buah ranum miliknya.


Tubuh mungil itu sudah melengkung sedikit ke belakang dengan kedua tangan yang berada di rambut sang suami. Meremas kuat ketika ia berusaha menahan respon dari perbuatan suaminya itu.


Apalagi kedua kedua tangan suaminya tidak ingin ketinggalan untuk menyentuhnya. Sebelah tangan menggenggam salah satu buah ranumnya dan yang lain, kini memainkan tubuhnya, dari paha hingga kini berada di atas permukaan perutnya yang rata, memainkan pusarnya yang semakin membuat Catherine — ingin berteriak.


Jeffin tidak menghiraukan kegelisahan sang istri kecil atas perbuatannya, ia hanya ingin menikmati tubuh istrinya dan melampiaskan segala gejolak hasratnya.


"T-tunggu!" Seru Catherine. "Kau, tidak mungkin melakukannya di sini," sambungnya dengan suara berat.


Catherine masih memiliki kesadaran, dan menghentikan suaminya itu, saat jari-jarinya semakin menjadi. Catherine menjauhkan tubuhnya dan menatap wajah marah sang suami.


"Aku, tidak menyuruhmu melayangkan protes dan aku, tidak peduli kita dimana. Yang penting kau milikku dan aku akan memuaskan diriku," ucapnya dengan tegas dan penuh tekanan.

__ADS_1


Catherine hanya bisa menatap pria id depannya dengan pandangan nanar. Bukankah, dari ucapannya menandakan ia hanya sebagai pelampiasan dan apa bedanya dengan wanita sewaan.


Dalam lamunannya, Catherine terkejut kembali ketika suaminya meraup bibirnya penuh kebuasan, sampai-sampai ia kesulitan bernafas.


Kedua tangan pria itu menggenggam kuat kedua buah ranumnya, hingga Catherine mendesis kesakitan.


Bukannya berhenti saat mendengar istrinya hampir menjerit, Jeffin bahkan semakin menjadi dan kini ia menciumi bagian lekukan leher dan tulang bagian atas dadanya yang begitu menggoda. Menghirup aroma manis dari tubuh istrinya, yang semakin membuat Jeffin kelaparan pun gelap mata.


Catherine pun hanya bisa mengkerut wajahnya yang kembali tegang, ia hanya bisa membeku dengan kedua tangan saling meremas di belakang tubuh suaminya.


Catherine dapat bernafas lega, saat merasakan mobil mereka berhenti. Terdengar pintu di depan terbuka dan kembali tertutup.


Jeffin sendiri menjauhkan diri dari tubuh sang istri dan membenahi penampilan berantakan istri kecilnya, tanpa mengembalikan resleting gaun itu pada semula. Ia hanya membungkus tubuh istrinya dengan jas mewah.


"Siapa, yang memperbolehkan mu turun," ujar Jeffin dingin.


Ia sambil menahan kedua sisi pinggul istrinya dan melayangkan tatapan tajam.


"Mobilnya, sudah berhenti," jawabnya terbata.


Tatapan itu semakin tajam dan ia kembali meremas kuat rambut bagian belakang istrinya.


"Aku, tidak suka dibantah," ucapnya dengan wajah datar mengerikan.


Catherine pun hanya bisa mengatupkan rapat kedua belahan bibirnya, dengan wajah pias dan gugup.


Jeffin, menekan tombol di sebelah sisinya dan seketika atap mobil itu terbuka dan Catherine bisa melihat sekitarnya yang seperti berada di parkiran mewah.


Ia berpaling ke samping saat pintu mobil terbuka dan sisi luar dan asisten suaminya berdiri di sana dengan kepala menunduk.


Posisi Catherine masih berada di pangkuan suaminya yang tidak melepaskan sedikitpun genggamannya di pinggang rampingnya.


Pria itu juga keluar dengan ia masih berada di pangkuan. Berjalan dengan posisinya yang di gendong layak seekor anak Kuala. Wajah ia sembunyikan di ceruk leher wangi maskulin suaminya.


Kedua kaki melingkar di pinggang keras suami buasnya itu dan kedua tangan bertengger di leher dengan kencang. Suaminya itu hanya sesekali mengecup, bahunya yang tidak tertutup.


Jeffin menggendong terus istrinya mendekati lift yang langsung mengantarnya ke penthouse miliknya. Ia menggendong istri kecilnya itu seperti menggendong anak berusia 15 tahun , itu karena postur tubuh istrinya begitu mungil, jadi Jeffin begitu sangat mudah membawa sang istri.


"K-kita mau kemana?" Tanya Catherine yang mengintip di balik ceruk leher suaminya.


Jeffin hanya bisa mengeraskan rahangnya, saat nafas hangat istrinya itu menyapu tengkuknya yang merupakan inti dari jiwa sensitifnya.


"Jangan, menggodaku."



__ADS_1


__ADS_2