
"Kita mau, kemana?" Samantha berpura-pura bertanya kepada — Jeffin, suaminya. Saat mereka keluar dari Mansion Abraham dengan membawa beberapa koper ukuran besar.
"Kita, akan menempati penthouse untuk sementara waktu," jawab Jeffin, yang mendorong kursi roda istrinya itu ke arah mobil yang terparkir.
"Kenapa kita harus meninggalkan tempat, ini?" Tanya Samantha kembali dengan perasaan marah, karena suaminya tidak akan jujur tentang — hubungannya dengan, Catherine.
"Tidak, apa-apa. Aku, hanya butuh suasana baru," terang Jeffin mencoba menyakinkan sang istri.
Samantha pun hanya bisa terdiam, sambil menahan segala gejolak amarahnya, wanita itu, tidak akan mudah di bodohi oleh pemikiran rapi suaminya, tentang sang istri kedua. Ia akan tetap, berpura-pura mengetahui apapun, sampai waktunya tiba. Di mana ia menemukan keberadaan sang istri kedua, mengambil kedua anaknya dan menghilangkan wanita itu untuk selamanya.
Sepanjang perjalanan, Samantha hanya bisa terdiam, dengan pikiran yang selalu menghantuinya. Pikiran tentang keberadaan wanita yang menjadi rivalnya dalam kehidupannya sekarang ini.
Meskipun ia terlihat tidak berdaya dengan kondisi harus tetap berada di kursi roda, tapi jiwa wanita itu tidak luput dari kelicikan ganas. Setiap detiknya hanya ada cara untuk menyingkirkan penghalang baginya untuk menikmati hidup indahnya.
……….
"Istirahatlah!" Seru Jeffin saat menyakinkan posisi tubuh sang istri sudah begitu nyaman.
"Hm!" Gumam Samantha dengan patuh.
Jeffin menitipkan kecupan lembut di kening sang istri dan setelah itu ia pun berlalu memasuki kamar mandi yang, terletak di sudut ruang kamar mewah itu.
Kedua kelopak mata indah itu pun terbuka lebar dan tatapan sendu kini berubah tajam. Ia masih mengingat semua hina demi hinaan, yang diuraikan oleh ibu mertua.
Yang sukses membuat perasaannya takut dan sakit hati. Samantha selalu merasa kaku bila berada di dekat ibu mertua, tidak ada kedekatan diantara mereka, hanya sikap dingin dan kaku yang selalu tercipta, apabila mereka bertemu, ataupun menghadiri sebuah acara.
Samantha bersumpah, akan melenyapkan satu penghalang itu, suatu saat nanti. Agar ia bisa merasakan damai dan tidak ketakutan lagi.
Persetan, dengan wanita itu adalah, ibu kandung dari suaminya, ia tidak akan peduli soal itu. Yang penting, hidupnya tetap dalam batas kenyamanan dan kemewahan.
"Aku, sangat yakin akan melenyapkannya suatu saat nanti," batin Samantha dengan wajah licik di balik wajahnya yang bersahaja.
"Kau, belum tidur honey?" Suara berat itu, sukses membuat Samantha terkejut.
Ia pun mencoba bangkit dan menyandarkan punggungnya ke belakang. Menatap sang suami yang menampilkan pemandangan menyenangkan di sana.
"Belum, aku kesusahan mendapatkan tidur nyenyak ku di tempat asing," sahut Samantha sambil menelan ludah sendiri dengan kasar.
Jeffin melangkah mendekati istrinya, yang memasang wajah sedih, sebagai pria yang begitu mencintai istrinya, ia tidak akan rela melihat wajah menyedihkan di depannya ini.
"Maaf! Aku, akan mencari sebuah tempat yang lebih nyaman untukmu, besok," ujarnya sambil membelai rambut sang istri.
Samantha hanya mengangguk dan kini jari-jari lembut, wanita itu sudah berada di dada polos suaminya. Sebagai wanita normal dan sudah lama tidak merasakan kehangatan pernikahan di area kamar tidur, tentu membuat wanita itu menginginkan momen tersebut.
__ADS_1
Apalagi kini ia disajikan oleh tubuh sang suami yang tidak pernah berubah, tetap sama saat terakhir ia mendapatkan kehangatan itu, dan sekarang ia menginginkannya kembali.
Dengan tatapan teduh menuntut dan mendamba, Samantha berharap suaminya akan peka dengan sentuhan dan tatapan tajamnya itu.
"Aku, menginginkanmu," bisik, wanita itu dengan suara halus.
Jeffin menjauhkan telapak tangan sang istri dan menggeleng kepalanya, menolak permintaan istrinya itu.
"Tidak, sekarang honey. Kau masih dalam pemilihan," tolak Jeffin berusaha selembut mungkin.
Raut wajah wanita itu tiba-tiba, menjadi jengah dan ia pun menatap suaminya dengan tatapan tidak biasa.
"Kenapa, kau selalu menolak diriku, hah. Apakah, karena aku tidak berdaya? Atau, karena aku tidak secantik dulu dan tubuhku pun juga tidak seseksi dulu?" Cerca Samantha dengan emosi yang meledak-ledak.
"Katakan!" Teriak Samantha.
Jeffin pun terkejut atas reaksi sang istri yang begitu berlebihan menurutnya, ia pun mencoba menyentuh wanita di hadapannya, namun hanya penolakan yang ia dapat.
"Jangan menyentuhku. Apa, ini karena pelayan sialan itu, yang sudah membuatmu berpaling dan merasakan tubuh, menjijikkannya," sentak Samantha kasar, hingga membuat jeffin terkejut atas perkataan istrinya itu.
“Sayang,” ucap Jeffin lirih.
“Jangan, menyentuhku!” sentak wanita itu lagi.
"Aku, benci pengkhianat," ujar Samantha di balik pelukan sang suami.
"Maaf! Tapi, aku tidak pernah melakukannya. Percayalah," jawab Jeffin yang penuh dengan dusta. Samantha pun tersenyum miris mendengar kebohongan suaminya.
"Menyingkirlah, aku lelah dan ingin istirahat," potong, wanita itu dengan raut wajah jengah.
Jeffin pun, akhirnya hanya bisa menghela nafas berat, ia menuruti perintah sang istri dengan memasuki ruangan ganti.
Sedangkan Samantha, hanya bisa menahan rasa sakit hatinya, atas kebohongan pria yang dulu selalu menjaga hati dan perasaannya hanya untuknya itu.
"Aku, bersumpah akan menyingkirkan wanita itu dari kehidupan kita," batin wanita itu dengan keadaan yang terlihat tidak baik-baik saja.
………
"Masakan, bibi sangatlah lezat!" Puji Catherine, selesai menyantap makan malamnya.
Wanita berusia setengah abad lebih itu pun tersenyum menyenangkan kepada — Catherine.
"Terima Kasih, nyonya muda," jawabnya tulus.
__ADS_1
"Apakah, bibi akan pulang malam ini?" Tanya wanita bertubuh mungil itu.
"Iya, nyonya. Bibi akan kembali ke kota, banyak bahan makanan yang sudah habis," sahut wanita itu.
Wajah Catherine berubah antusias, saat mendengar perkataan pelayan yang menemaninya selama berada di villa tersembunyi sang — mommy.
"Bolehkah, aku ikut berjalan-jalan di daerah sini?" Sambung Catherine penuh harap.
Sang pelayan pun menghentikan pekerjaannya dengan mendadak dan menoleh ke belakang, dimana, Catherine menampilkan wajah cerianya.
"Tidak! Saya, tidak akan berani melanggar perintah, nyonya Margaretha," sahut pelayan tersebut dengan wajah tegas.
Catherine pun hanya bisa menghela nafas lesunya. Ia pun tidak akan berani melanggar perintah — mommy Margaretha yang melarangnya untuk meninggalkan villa.
"Lebih baik, nyonya beristirahatlah. Tidak baik seorang wanita hamil terlalu larut tidur." Nasehat sang pelayan yang dipatuhi oleh, Catherine.
"Biar, saya mengantar anda," tawar sang pelayan.
"Tidak!" Tolak Catherine.
"Bibi, selesaikan saja tugasnya, aku bisa sendiri," lanjut Catherine.
Wanita berwajah lembut itu pun tersenyum dan mengangguk halus, menatap punggung mungil, nyonya mudanya yang menaiki tangga.
…….
"Kalian, belum menemukannya?"
"Iya, tuan. Dan tuan Jeffin pun belum menemukan istri …." Pria berpakaian formal hitam-hitam itu, menyeda ucapnya saat melihat, tatapan tajam sang big boss.
"Dia, tidak layak dikatakan seorang suami dari gadisku, setelah apa yang sudah ia lakukan kepadanya," ungkap pria berwajah tampan itu dengan raut wajah penuh dendam.
"Pergilah. Dan, terus awasi pergerakan nyonya Abraham!" Perintahnya dengan wajah dingin.
"Baik, tuan."
Sang anak buah pun berlalu dari ruangan atasannya setelah memberikan penghormatan dengan membungkukkan setengah badannya dan keluar dari ruangan mewah itu.
Meninggalkan pria yang kini menatap gambar seorang gadis mungil yang begitu cantik, bersama seorang remaja pria yang tampan.
"Aku, pasti akan menemukanmu dan aku, berjanji akan membawamu jauh dari mereka."
mampir di karya teman aku juga yuk! sambil nunggu bab selanjutnya ☺️
__ADS_1