
"CLARA, CLARA, BUKA PINTUNYA!" Seorang wanita setengah baya, dengan wajah ketakutan mengetuk pintu kamar putrinya dengan gerakan terburu-buru
"CLARA, CEPAT BUKA PINTUNYA!" Teriaknya lagi.
Nyonya Soraya terlihat mengawasi keadaan Mansion itu yang tampak sunyi. Ia begitu terlihat ketakutan dan gelisah setelah mendengar kabar dari bawahannya, yang mengatakan bahwa — Samantha sudah ditemukan dalam keadaan mengenaskan di sebuah pulau kecil.
Bukan hanya itu, sebuah rekaman cctv di area terjadinya tindakan kejahatan keduanya begitu terlihat jelas.
Sekarang nyonya Soraya berencana melarikan diri sebelum tuan Brown tiba dan menyeret mereka ke kantor polisi, bukan itu saja mungkin nyawa mereka akan melayang.
Pintu di depannya terbuka, Clara terlihat kesal karena tidurnya terganggu oleh keributan yang dibuat sang mommy.
"Ada apa, mom?" Tanya Clara dengan nada geram tertahan.
Nyonya Soraya tidak menjawab, ia segera mendorong putrinya masuk ke dalam kamar.
"Cepat, bereskan barang-barang berharga kamu!" Perintah nyonya Soraya.
Clara yang masih setengah sadar dari tidur nyenyaknya, terkejut saat mendengar penuturan sang mommy.
"Why?" Sentaknya dengan wajah kesal.
"Cepatlah, sebelum pria itu kembali," ujar nyonya Soraya dengan nada tinggi.
Clara terlihat semakin heran dan bingung, wajahnya pun kian mengkerut tajam. Ia bisa melihat wajah pias sang mommy.
"Katakan, sebenarnya ada apa, mom?! Tanyanya dengan nada memaksa.
Nyonya Soraya yang sibuk mengemasi barang-barang berharga putrinya, menatap ke arah sang putri.
"Mereka sudah menemukannya," tuturnya dengan wajah semakin pucat.
"Menemukan, siap?" Tanya Clara kembali yang belum memahami keadaan.
"Menemukan Samantha!" Bentak nyonya Soraya yang mulai geram dengan wajah bodoh sang putri.
Clara terlihat terkejut, tubuhnya juga tiba-tiba lemas dan wajahnya ikut terlihat panik.
"Bukan itu saja, mereka juga mempunyai bukti rekaman cctv di area itu," lanjut nyonya Soraya.
"Terus, kita harus bagaimana?" Tanya Clara dengan sikap dan wajah panik.
"Kita harus segera melarikan diri, sebelum pria kejam itu tiba," jawab nyonya Soraya.
Clara pun segera mengumpulkan barang-barang berharganya, ia juga mengganti piyama tidurnya dengan sebuah setelan santai.
Keduanya kini sudah bersiap untuk meninggalkan kediaman Brown dengan beberapa koper di tangan mereka.
Clara dan nyonya Soraya memasukkan barang-barang berharga mereka ke dalam mobil. Setelah itu, mereka pun masuk kedalam mobil mewah itu, setelah itu melaju meninggalkan Mansion brown dengan nafas lega.
"Cepatlah, Clara!" Pinta nyonya Soraya yang masih merasakan bahaya masih berada di sekitar kota tersebut.
__ADS_1
"Bersabarlah, mom. Aku juga sedang berusaha secepat mungkin," sahut Clara yang mulai jengah dengan kecerewetan sang — mommy.
"Kita harus segera meninggalkan, kota ini," sela nyonya Soraya yang terus melihat ke belakang.
"Tenanglah, mereka pasti tidak akan menemukan kita," ujar Clara.
"Kau, tidak mengenal pria itu. Dia tidak akan melepaskan kita," teriak nyonya Soraya dengan wajah ketakutan.
"Tenanglah, mom. Aku lagi mengendalikan kemudi. Bisa-bisa kita juga akan menyusul wanita itu," bentak Clara.
Wanita itu terus melajukan kendaraannya di tengah malam sepi begitu kencang. Kendaraan itu bahkan melaju, seperti angin lalu, membuat siapa saja yang melihat kendaraan tersebut akan merasa ngeri.
Sedangkan di dalam mobil, ibu dan anak itu terus berdebat bahkan bertengkar. Membuat Clara seakan kehilangan kendali kendaraannya.
"STOP MOM!"gertak Clara kepada sang mommy.
"Aku, sedang menyetir. Berhentilah berdebat, atau kita akan mengenaskan seperti wanita itu," ucap Clara dengan wajah marah kepada sang mommy.
"Kau, berani membentak mommy, yah!" Hardik nyonya Soraya.
"Dasar, anak durhaka," bentak nyonya Soraya sekali lagi.
"STOP, MOM!" Teriak Clara sambil menekan lebih dalam padel gas.
Tanpa Clara sadari, rem mobil tersebut tidak berfungsi. Clara yang menyadari itu terlihat membulatkan kelopak matanya dengan sempurna. Wajahnya pun kian panik dan was-was.
"Ada apa?" Tanya nyonya Soraya saat menyadari perubahan wajah putrinya.
"Katakan, ada apa?" Tanya nyonya Soraya sekali lagi dengan penasaran.
"Pelankan, mobilnya!" Titahnya yang mulai merasakan kekhawatiran.
"Clara!" Bentak nyonya Soraya.
Clara tetap diam, namun dari raut wajahnya nyonya Soraya sudah mulai paham dengan wajah panik sang putri.
"Tidak! Tidak mungkin," nyonya Soraya membeo dengan wajah semakin ketakutan.
"Cepat, cari cara bagaimana mengehentikan mobil ini," tutur nyonya Soraya dengan wajah tegang.
Clara terus berusaha menghentikan mobil itu dan menghindari bahaya. Kini mobil hitam mewah itu, terlihat melaju tak karu-karuan. Mobil mewah itu bahkan menyerempet pembatas jalan dan membuat bekas di jalan raya.
Hingga sebuah mobil besar juga melaju dari arah depan, membuat Clara dan sang mommy semakin terlihat tegang.
"Clara, awas!" Teriak nyonya Soraya, saat mobil mereka sudah sangat dekat dengan mobil besar tersebut.
Clara berhasil menghindar, namun ia tidak dapat menghindari sebuah jurang di depannya.
"Clara, awas. Akhh!" Teriak keduanya saat mobil mereka berhasil menerobos pembatas tembok jurang tersebut dan mobil mereka kini masuk kedalam jurang dengan sempurna. Terdengar suara benda terjatuh da berguling-guling di sana dan di susul suara ledakan nyaring.
"Berhasil, tuan. Dan mereka seratus persen tidak akan selamat," ucap seorang pria yang berada di dalam mobilnya dengan berucap lewat sambungan telepon.
__ADS_1
Terdengar kekehan suara pria di seberang sana dan wajah sang penelepon pun terlihat puas dengan tersenyum menyeringai.
"Baik tuan!" Ujar pria misterius tersebut. Setelah itu memutuskan sambungan telepon.
Ia juga turun dari mobil besar yang ia kendarai, memeriksa keadaan di jurang tersebut. Menyakinkan, apakah target mereka tidak terselamatkan.
Pria dengan postur tubuh tinggi itu, berdiri di pinggir jurang. Menatap tajam ke arah bawah dimana geboran api menyala dengan gumpalan asap hitam di dasar jurang tinggi itu.
"Selamat, menikmati balasan atas perbuatan kalian," gumam pria itu dengan senyum licik.
…………..
"Selamat pagi!" Sapaan datang dari sosok pria tampan yang kini terlihat membangunkan kedua anak kembarnya.
"Bangunlah, anak-anak daddy!" Pintanya dengan sebuah kecupan hangat ia berikan kepada kedua putra-putrinya masing-masing di kening.
Jeffin terus menganggu kedua anaknya, yang tidak merasa terganggu sedikitpun.
"Berhentilah, menganggu mereka!" Seru Catherine yang terlihat menyiapkan setelan kerja untuk sang suami.
Jeffin mendekati sang istri, ia juga memeluk tubuh istrinya itu dari belakang dan memberikan kecupan di kedua pipi — Catherine.
"Bersiaplah! Bukankah, kau mengatakan akan berangkat, pagi," ujar Catherine.
Jeffin yang masih memeluk sang istri dan menenggelamkan wajahnya di balik ceruk lehernya istrinya, tidak mengindahkan ucapan — istrinya itu.
Ia hanya asyik dengan kegiatannya, menciumi ceruk leher istrinya dan juga wajah cantik — Catherine.
"STOP DADDY! Pekik Catherine dengan diiringi tawa. Saat dengan usilnya Jeffin mengelitik perutnya.
"Tidak! Aku, masih ingin seperti ini," bisik Jeffin tepat di telinga istrinya.
"Daddy, berhentilah. Atau putrimu akan terbangun dan merengek untuk ikut denganmu," sahut Catherine dengan kepala ia sandarkan di dada sang suami.
"Aku, merindukanmu, sayang," bisik Jeffin halus di ceruk leher istrinya itu.
Jeffin membalikkan badan sang istri, kini tatapan penuh cinta itu ia berikan kepada wanita kesayangannya dengan begitu menghanyutkan.
Catherine pun membalasnya dengan senyum indah, salah satu tangannya pun mengusap wajah tampan suaminya itu dengan perasaan bahagia.
"Terimakasih, Atas segala kebaikan yang telah kau berikan kepadaku. Aku bersumpah, akan menghabiskan waktuku hanya untuk membahagiakan kalian," ucap Jeffin
Catherine semakin menampilkan senyum menawannya, ia juga kini mengantungkan kedua tangannya di leher sang suami. Memberikan sebuah kecupan hangat di kedua pipi — Jeffin.
"Terimakasih juga, untuk usaha kamu untuk berubah." Catherine kini memeluk erat tubuh suaminya dengan ucapan tulus.
Jeffin membalas pelukan itu, mengecup puncak kepala sang istri dan meletakkan dagunya di sana.
"Aku, mencintaimu!" Ungkap Jeffin. Ia juga mengubah posisi sang istri yang kini mereka kembali saling menatap penuh perasaan cinta.
"Hm! Aku juga mencintaimu, daddy!" Sahut Catherine dengan ucapan lembut.
__ADS_1
Tatapan mereka pun semakin dalam dan terbawa suasana hati mereka yang dipenuhi perasaan cinta.