
"Mommy!" Suara teriakan seorang gadis cilik menggema di seluruh ruang makan di Mansion mewah tersebut.
"Mommy!" Kembali suara cempreng mengemaskan itu terdengar. Membuat Catharine yang sedang menyiapkan sarapan pagi menghela nafas panjang.
Wanita cantik itu menoleh ke belakang, di mana terlihat sosok gadis mungil turun dari tangga dengan langkah tergesa-gesa.
"Hati-hati, Andrea! Perhatikan langkahmu," pekik Catherine dengan wajah was-was.
"Tenanglah, mom," sahut gadis bertubuh mungil dengan garis wajah yang sangat mirip dengan sang daddy. Rambut panjang pirangnya terlihat di ikat tinggi ke atas, pipi kemerahan itu terlihat menggemaskan.
Catherine sekali lagi hanya bisa menarik nafas panjang, melihat tingkah aktif dan lincah putrinya itu.
"Selamat pagi, mommy!" Sapa si mungil Andrea dengan memamerkan senyum terbaiknya.
Catherine yang begitu gemes melihat tingkah putrinya itu, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk mencium kedua pipi kemerahan sang putri kecilnya.
"Selamat pagi juga, sayang," balas Catherine, sambil menuntun si kecil Andrea duduk di kursi khusus untuknya.
"Mommy, terlihat cantik hari ini. Apa, karena hari ini adalah … ulang tahun, daddy?" Selorohnya, menggoda sang mommy dengan nada suara cemprengnya yang menggemaskan.
Catherine yang mendengar godaan putrinya yang mengaitkan dengan sang daddy, hanya bisa menarik tipis sudut bibirnya.
Catherine memaklumi sikap putranya ini … yang — terkenal, ceria, manja, aktif dan cerewet. Andrea juga terkenal sedikit bar-bar, dan memiliki sifat daddynya yang arogan apabila tidak menyukai kepada seseorang.
"Dimana, kakak kamu?" Tanya Catherine, mencoba mengalihkan perhatian sang putri, yang memang sangat menyukai pembahasan mengenai — daddynya.
"Masih …."
"Aku di sini, mom," sahut seorang anak laki-laki tampan dari arah lain.
Catherine menoleh, dan menerbitkan senyum hangatnya. Ia segera mendatangi putra tampannya itu yang sedang duduk di kursi roda.
"No, mom!" Sentak sang putra yang menatap sang mommy nanar.
"Kembalilah, ke tempat mommy, aku bisa melakukannya sendiri," ucapnya dengan senyum terpaksa.
Catherine hanya mengangguk lirih dan mencoba kembali ke arah meja makan, sambil mengawasi putranya yang berusaha mendorong sendiri kursi roda yang sudah 3 tahun menemani putranya itu.
Catherine mengalihkan pandangannya, saat tiba-tiba matanya terasa panas dan tidak terasa setetes air mata jatuh di ekor matanya.
"Selamat pagi, kakak!" Sapa si cantik Andrea.
"Selamat pagi juga, adik." Andrew membalas sapaan adiknya dengan seutas senyum kasih sayang. Ia juga mencium telapak tangan adiknya. Interaksi yang selalu ia lakukan di pagi hari kepada sang adik.
Diam-diam, Catherine membalikkan badannya, mencoba menghapus air matanya dan mendongakkan kepalanya ke atas, agar genangan air mata di kelopak mata indahnya itu tidak jatuh di hadapan kedua — putra-putrinya.
"Mom!" Seru si cantik Andrea.
__ADS_1
Catherine membalikkan badannya dengan senyum hangat, ia melihat wajah Putrinya itu yang memelas dan mengarahkan piring makan ke hadapannya.
"Aku, sudah lapar," ucapnya dengan kedua pipinya mengembang.
Catherine tersenyum, ia mengusap rambut pirang putrinya dan segera menyiapkan sarapan untuk kedua buah hatinya itu.
"Kamu, mau sarapan apa, sayang?" Tanya Catherine, kepada putra tampannya itu.
"Aku, hanya menginginkan seperti biasa, mom," jawab sang putra dengan tatapan mata teduh.
Seperti biasa, Catherine akan menyajikan sang putra menu andalannya, yang sama persis dengan sang daddy.
Kedua anaknya itu, memiliki kesukaan sama dengan daddy mereka. Bahkan kedua anaknya itu lebih cenderung mengikuti geng sang daddy. Dari garis wajah dan lukisan fisik, begitu mirip dengan suaminya itu.
Namun putranya terlihat sedikit lemah lembut dan tertutup. Ia lebih cenderung suka menyendiri.
Entah karena ia tidak nyaman dengan kondisinya yang hanya bisa beraktifitas di kursi roda. Lain halnya dengan putri cantiknya yang begitu ceria dan aktif. Ia terkenal humble kepada seseorang.
Catherine hanya bisa terdiam menatap kedua anaknya yang menikmati sarapan mereka. Namun tatapannya terus tertuju kepada putranya yang begitu — terlihat lemah. Raut wajah tampan pria kecilnya itu terlihat tidak bersemangat.
Andrew William Abraham, pemuda kecil, tampan dengan manik manik hijau yang mengikuti sang mommy. Ia dinyatakan lumpuh dan harus mengenakan kursi roda saat mengalami, sebuah tragedi kecelakaan di sekolah.
Putranya terjatuh dari tangga dan mendapatkan benturan serius di bagian belakang kepalanya.
Memang kondisi fisik putranya itu tidak begitu baik. Ia harus menjalani sebuah terapi. Yang berakibat gerakan tubuh putranya sangat lambat dan sewaktu-waktu bisa jatuh pingsan apabila kondisi fisiknya menurut.
Catherine hanya bisa bersabar dan bersedih hati, melihat kondisi putranya yang tidak sebaik putrinya yang begitu aktif.
"Selamat pagi!" Sapa suara hangat datang dari arah pintu masuk.
Sosok pria rupawan datang dengan tersenyum begitu menawan, pria yang selama ini membantu Catherine, membesar si kembar.
"Selamat pagi, daddy Kenzie." Andrea yang menyapa terlebih dahulu dengan mulut mungilnya yang penuh dengan makanan.
"Andrea!" Tegur Catherine saat melihat, tingkah sana putri.
Kenzie hanya bisa terkekeh melihat kelakuan Andrea yang begitu menggemaskan. Segera saja pria berkacamata itu, mencium kedua pipi gadis kecilnya.
"Kamu, semakin menggemaskan, honey," ujar Kenzie yang segera menggendong gadis kecil itu dan mendudukkannya di pangkuan.
"Apa, aku juga semakin cantik?" Tanya gadis kecil itu.
Kenzie tertawa mendengar ucapan, putri kecil Jeffin itu. Siapapun yang melihat gadis kecil ini, pasti akan langsung jatuh cinta.
"Yap! Kamu terlihat berkali-kali sangat cantik," jawab Kenzie dengan ciuman bertubi-tubi ia berikan kepada gadis kecilnya itu.
"Tentu saja aku cantik. Itu … karena daddy Jeffin sangat tampan," celetuk gadis cantik itu.
__ADS_1
Catherine dan Kenzie tiba-tiba saling melirik. Entah mengapa, putrinya ini sering sekali membanggakan daddynya.
"Iyakan, mommy?" Tanyanya kepada Catherine yang terlihat salah tingkah.
"H-hm i-ya," jawab Catherine tergugup.
"Aku, sudah tidak sabar ingin bertemu dengan, daddy. Bukankah, daddy Kenzie berjanji akan mengajak kami bertemu dengan, daddy Jeffin?" Seloroh Andrea dengan ekspresi wajah antusias.
"Andrea, habiskan sarapanmu!" Titah Catherine dengan wajah tidak suka.
Catherine juga melirik wajah sendu putranya yang semakin terlihat sedih. Entah mengapa, setiap kali menyinggung tentang sang daddy, maka raut wajah putranya itu akan berubah sedih.
Andrea terlihat sedih dengan mata berkaca-kaca. Kenzie hanya bisa menghela nafas panjang yang tidak bisa melihat wajah putrinya tampak bersedih.
"Bersiaplah, kita akan berangkat sekarang," timpal Kenzie.
"KAKAK!" Sentak Catherine dengan wajah protes.
Kenzie hanya mengedipkan matanya dan di ikuti anggukkan kepala. Tidak lupa, senyum tulus pria itu ia berikan kepada Catherine dan Andrew.
"Kau, selalu saja memanjakannya, jadinya dia sering bertingkah seperti ini," sungut Catherine sambil menyiapkan Kenzie sarapan ke dalam piringnya.
"Aku, sudah menyiapkan berkas-berkas mereka," sela Kenzie yang tampak acuh dengan kemarahan Catherine yang sudah biasa ia dapatkan. Apabila memanjakan kedua anak kembarnya itu.
"Benarkah, dad?! Seloroh Andrea antusias.
"Hm! Mungkin, dua jam lagi kita akan ke bandara," sambung Kenzie yang membuat, kedua kelopak mata Catherine membola.
"APA! Teriak Catherine.
Refleks, kedua anaknya menutup kedua telinga mereka. sedang Kenzie tanpa tidak acuh mendengar teriakkan — Catherine.
"Bersiaplah, satu jam lagi kita akan menuju ke bandara," timpal Kenzie dan berdiri dari duduknya. Andrea yang mendengar ucapan daddy Kenzie bersorak kegirangan.
Sementara Andrew tampak terlihat tidak bersemangat, ia merasa tidak percaya diri bertemu dengan sana daddy yang sangat dikagumi dan rindukan itu.
"Tenanglah, dia pasti sangat merindukanmu juga," bisik Kenzie. Sambil mendorong kursi roda Andrew ke kamar pria kecil itu.
Catherine hanya bisa pasrah, akhirnya ia akan bertemu kembali dengan suaminya itu. Catherine harus menyiapkan mental kuat untuk berhadapan dengan suaminya.
Ia juga tidak bisa bersikap egois, dengan melarang kedua buah hatinya untuk mengenal sosok daddy mereka dan melarang kedua anaknya itu bertemu dengan sang daddy.
Catherine sadar, kedua anaknya masih sangat membutuhkan sosok ayah kandung mereka. Dan … ia harus bisa menjaga sikapnya saat bertemu dengan sang — suami.
mampir yuk Kakak. di karya teman aku, sambil nunggu update berikutnya ☺️
__ADS_1