Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 10. Suara Yang Merdu.


__ADS_3

Malam mulai datang, meninggalkan semburat surya yang hilang ditelan kegelapan. Rajendra memutusakan pergi meninggalkan hotelnya untuk mencari udara segar. Ia cukup bosan juga hanya berdiam diri disana, membuat hatinya terus mengharu biru tidak karuan.


Malam itu Rajendra pergi dengan berjalan kaki, sengaja ingin menikmati suasana tepi pantai yang begitu sejuk. Tempat itu juga menurutnya sangat bagus, apalagi jika malam seperti ini.


Setelah berjalan beberapa saat, Rajendra menemukan sebuah kafe yang terletak ditepi pantai. Kafe itu bernuansa outdoor, sehingga para pengunjungnya bisa menikmati suasana pantai yang indah. Rajendra langsung saja kesana, ingin menikmati sejenak waktunya.


"Selamat malam Tuan, mau pesan apa?" Seorang waiters langsung saja mendatangi Rajendra begitu pria itu duduk.


"Berikan aku cocktail satu," sahut Rajendra singkat saja, malam itu ia tidak ingin mabuk, sudah cukup seharian ini ia mengkonsumsi alkohol, jadi ia memesan minuman dengan kadar alkohol yang rendah.


Sembari menunggu pesannya datang, Rajendra menatap pemandangan didepannya. Rembulan malam itu bersinar cerah seperti kemarin malam, menatap rembulan itu mengingatkannya pada seseorang yang saat ini jauh disana.


Rajendra menghela nafas panjang, kenapa rasanya susah sekali membuat ia tidak memikirkan wanita itu, padahal ia sudah berusaha keras. Lalu bagaimana ia akan menjalani hidupnya nanti?


Saat Rajendra tengah melamun, terdengar suara alunan musik dari arah panggung kafe, disusul sebuah suara halus yang begitu merdu ditelinga Rajendra, membuat ia mengalihkan pandangannya kearah panggung.


"Dia?" gumam Rajendra, cukup terkejut saat melihat sosok wanita yang duduk dengan membawa gitar dipangkuannya.


Wanita itu tak lain adalah Senja yang memang bekerja disana sebagai sampingan. Malam itu Senja tampil berbeda dari saat pertama kali bertemu dengan Rajendra. Rambut panjangnya dikepang disamping seraya menggunakan dress warna putih sederhana yang tampak pas membalut tubuhnya.


"Selamat malam, aku akan menyakinkan satu lagu spesial malam ini. Semoga dengan lagu ini bisa menghibur kalian semua yang hadir disini," ujar Senja sebelum memetik gitarnya dan mulai bernyanyi.


Begitu suara Senja terdengar, semua tamu kafe yang hadir tampak langsung terpana mendengar suara Senja yang begitu merdu, termasuk Rajendra yang diam-diam bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat kearah panggung.


Apalagi lagu yang dibawakan Senja malam itu seolah mewakili bagaimana perasaan Rajendra saat ini. Lagu dari seorang penyanyi ternama Miley Cyrus yang berjudul Angels Like You, dimana lagu itu menceritakan seorang yang merasa hubungannya dengan kekasih adalah sebuah kesalahan, tapi ia tidak bisa melepaskan dirinya dari hubungan tersebut.


"Angels like you can't fly down here with me ..."

__ADS_1


Senja menutup penampilannya itu dengan begitu sempurna. Tepuk tangan riuh langsung terdengar begitu ia menyelesaikan lagunya.


"Baby, satu kali lagi, berikan suara merdumu." Terdengar teriakan dari salah satu pengunjung kafe yang meminta Senja untuk menyanyikan satu lagu lagi.


Senja tertawa kecil seraya menggelengkan kepalanya, ia melepaskan gitarnya lalu turun dari panggung tanpa menghiraukan selorohan itu. Semua orang memang sangat menyukai suara Senja yang lembut dan merdu, termasuk Rajendra sendiri.


"Senja, ini upahmu malam ini. Lain kali nyanyikan lah lagu yang lebih banyak," ujar seorang pria yang merupakan pemilik kafe itu, memberikan beberapa lembar uang untuk Senja setelah wanita itu pergi ke ruang belakang.


"Asalkan kau mau memberikan bayaran tambahan, aku tidak masalah melakukannya, Nick." Senja menyahut dengan santai, ia mengambil uang yang diberikan oleh Nick dan menghitungnya.


"Ck, itu bukan hal sulit. Malam Minggu nanti datanglah lagi, biasanya sangat ramai karena banyak pendatang. Aku akan memberikanmu bonus," ujar Nick lagi.


"Baiklah, terima kasih Nick. Aku akan pergi dulu," ucap Senja seraya berlalu darisana.


Senja segera mengganti dress yang dipakainya dengan pakaiannya yang biasa, sebuah kaos oblong dan celana panjang. Rambutnya dibiarkan tergerai begitu saja, lalu ia pergi meninggalkan kafe itu.


"Dani?" Senja menekuk wajahnya saat melihat sosok pria itu, ia enggan bertemu dengan Dani karena mengingat pertemuannya beberapa lalu malah membuat ia mendapatkan hadiah tamparan dari Khaira.


"Hai, buru-buru banget mau kemana?" ujar Dani berjalan mendekati Senja.


"Ini sudah malam, aku akan pulang," sahut Senja begitu ketusnya.


"Mau aku antar?" tawar Dani.


"Tidak perlu Dani, mulai sekarang sebaiknya kau jangan mendekatiku lagi. Kau itu sudah punya Khaira," kata Senja menegaskan kepada pria itu.


"Khaira?" Dani tertawa kecil, membuat Senja bingung. "Kenapa dengan Khaira? Aku tidak punya hubungan apapun dengannya. Kau tidak perlu cemas begitu Senja, ayo aku akan mengantarmu pulang," sambung Dani tanpa ragu langsung meraih tangan Senja.

__ADS_1


"Aku bilang tidak perlu!" seru Senja, reflek langsung menarik tangannya dengan kasar.


Dani mengerutkan bibirnya, wajahnya tampak cukup terkejut karena penolakan Senja ini.


"Ayolah Senja, aku tahu kau menyukaiku. Lupakan tentang Khaira, dia juga tidak ada disini. Malam ini, aku akan menemanimu," kata Dani sekenanya saja, ia kembali memegang tangan Senja meski wanita itu menolak.


"Dani, lepaskan aku. Kau ini apa-apaan sih, aku akan teriak jika kau macam-macam," tukas Senja mulai merasakan gelagat yang tak nyaman dari sikap Dani.


"Dari dulu kau memang sangat sombong Senja, aku jadi penasaran apasih istimewanya dirimu ini," desis Dani mengulas senyum bengisnya.


"Aku tidak tahu maksudmu, cepat lepaskan aku Dani!" seru Senja mulai kesal, ia terus menarik tangannya tapi Dani justru membawanya pergi meninggalkan Kafe itu.


Sesampainya diluar Dani langsung menghempaskan tubuh Senja hingga mengenai tembok dengan cukup keras.


Senja meringis kesakitan, tapi ia menatap Dani dengan sangat tajam. "Kau benar-benar pria gila! Apa sih maumu sebenarnya," kata Senja kesal.


"Kau! Kau yang aku inginkan," kata Dani tersenyum licik.


Dani mendorong tubuh Senja ke tembok dan ia menghimpitnya. Dari dulu ia memang sangat penasaran dengan Senja, wanita yang tak gampang untuk didapatkan meski tahu jika ia punya segalanya. Dani memegang kedua pipi Senja dan bermaksud untuk mencium bibir wanita itu.


"Dani, lepaskan aku. Arghhhhhhhh! Aku tidak mau." Senja berteriak keras dan mencoba menggelengkan kepalanya, sumpah demi apapun ia tidak mau dicium oleh Dani, apalagi ia belum pernah berciuman dengan siapapun.


Dani tidak menghiraukan penolakan Senja, ia tetap melanjutkan aksinya. Tapi sebelum bibirnya menyentuh bibir Senja, tiba-tiba ada seseorang yang menarik bahunya membuat ia menolah dan ia langsung mendapatkan hadiah pukulan telak dipipinya.


"Arghhhhhhhh, oh shitttt!" Dani mengumpat marah seraya menggoyangkan rahangnya yang begitu nyeri.


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2