
Senja sebelumnya tidak berharap lebih, jika Kakek Hardi suka masakan yang ia buat, ia sudah merasa sangat senang.
Namun, hari itu Tuhan sepertinya sengaja memberikannya kebahagiaan lebih. Karena bukan hanya Kakek Hardi yang suka dengan nasi tim buatan Senja, tapi juga kedua orang tua Rajendra, termasuk Rajendra sendiri begitu menyukainya.
Awalnya Kakek Hardi menolak, tapi demi menghargai Senja, pria tua itu mau mencoba sedikit. Tapi ternyata Kakek Hardi justru ketagihan.
"Senja, masakan kamu enak. Terima kasih ya, sudah mau repot-repot," kata Kyara mengacungkan kedua jari jempolnya pada Senja.
"Terima kasih, Ibu." Senja mengangguk pelan.
"Masakan Kalea juga enak, Bibi juga suka. Masakan kalian berdua sama-sama enak pokoknya," lanjut Kyara yang merasa sungkan saat melihat wajah Kalea yang sedih itu.
Kalea hanya tersenyum sekilas, masih terlalu kesal karena Senja benar-benar seperti mengambil semua dari dirinya.
"Kakek, aku dan istriku akan pulang. Sudah tidak ada lagi yang dibahas 'kan? Nanti kabari saja kapan pernikahan Rajendra akan dilangsungkan," ujar Steven.
"Kalian nggak mau menginap lagi?" Kakek Hardi terlihat tidak rela.
"Lain kali kami pasti akan datang lagi. Aku juga sedang sibuk akhir-akhir ini," sahut Steven lagi, sebenarnya hanya berusaha menghindari keluarga Bara, karena ia merasakan gelagat yang tidak biasa dari putrinya.
"Baiklah kalau begitu, Kakek selalu menunggu kedatangan kalian." Kakek Hardi menghela nafas pasrah, tidak bisa lagi menahan jika cucunya sudah memutuskan.
"Aku juga akan langsung ke kantor, Kyara mau disini atau pulang?" timpal Bara yang sejak tadi bungkam.
"Ehm, aku ada janji sama temen aku."
Kyara ternyata juga ada acara lain, membuat baik keluarga Steven dan Bara pun ikut meninggalkan rumah Kakek Hardi. Mereka memang sering datang, tapi untuk tinggal bersama, keduanya belum bisa melakukannya.
"Rajendra bagaimana?" tanya Kyara.
"Aku juga mau pergi, masih ada rapat sama klien," sahut Rajendra tanpa menoleh, ia asyik menikmati makanannya.
"Baiklah, Ayah dan Ibu akan pulang dulu. Adikmu sejak kemarin tidak pulang, siapa tahu hari ini dia akan pulang," ujar Kyara lagi.
"Aku juga akan pamit. Kalea, ayo kemasi barang-barangmu," tutur Rania.
"Aku akan pulang nanti saja," sahut Kalea.
"Loh? Memangnya kenapa?" Rania mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Nggak apa-apa, Ma. Aku mau nemenin Kakek dulu aja," ucap Kalea dengan senyum tipisnya.
Rania mengerutkan dahinya seraya memandang Steven, pria itu hanya mengangguk sebagai jawaban jika mengizinkan Kalea untuk tetap tinggal.
Semua keluarga pun akhirnya berpamitan pulang kerumah masing-masing. Termasuk Rajendra dan Senja, keduanya pergi setelah keluarga mereka pergi karena tadi Rajendra masih berbicara dengan Kakek Hardi.
__ADS_1
"Aku anter kamu pulang dulu, habis ini ke kantor. Kamu nggak mau kemana-mana 'kan?" Rajendra bertanya sebelum mereka benar-benar pergi dari rumah Kakek Hardi.
"Enggak ada," sahut Senja singkat saja.
"Baiklah, ayo kita pulang," kata Rajendra lagi, ia meriah tangan Senja lalu menggenggamnya dan mengajaknya berjalan menuju mobil.
Namun, sebelum mereka berdua pergi, tiba-tiba suara Kalea terdengar, membuat keduanya terkejut.
"Hai, kalian mau pulang 'kan? Aku nebeng ya Kak, nggak apa-apa 'kan?" ujar Kalea dengan penuh percaya diri. Wanita itu merasa tidak akan ada yang menolak dirinya.
Senja hanya diam saja, ia melirik kearah Rajendra.
"Kau mau kemana?" tanya Rajendra, cukup tidak nyaman dengan sikap Kalea ini.
"Kakak tahu teman aku Calista 'kan? Aku mau ketemu sama dia Kak, anter ya ke salon langganan aku. Kak Rajendra masih ingat 'kan?" kata Kalea lagi, ia hanya menatap Rajendra saja, menganggap kalau Senja tidak ada.
"Aku mau pulang sama Senja, kamu minta antar supir aja. Pak Budi kayaknya dirumah," kata Rajendra langsung menolak, ia harus bersikap tegas kali ini.
"Pak Budi lagi istirahat, Kak. Lagian aku cuma nebeng doang kok, keberatan banget ya kalau ada aku? Bukannya Kakak sudah memilih dia? Aku tetap menjadi adikmu 'kan meksipun hubungan kita sudah berakhir?" kata Kalea dengan memasang wajah ingin dikasihaninya.
Rajendra mengigit bibirnya, kebimbangan itu terlihat sangat jelas dimatanya. Dan Senja tentu melihat itu semua, ia tersenyum sinis.
"Tidak perlu meminta izin, ayo kalau ingin pergi. Aku tidak keberatan sama sekali kok," ujar Senja.
"Kamu yakin nggak apa-apa?" Rajendra bertanya ragu.
Senja ingin melihat seberapa jauh Rajendra bisa menolak Kalea. Apa sama seperti sebelum-sebelumnya?
Rajendra mendesis pelan, sudah tidak punya alasan lagi untuk menolak. Lagipula ia sebenarnya hanya menjaga perasaan Senja dengan menolak Kalea. Tapi ternyata wanita itu ingin semuanya jelas.
"Baiklah, kau boleh ikut mobilku," kata Rajendra memilih berlalu terlebih dulu.
"Terima kasih, Kak." Kalea mengangguk seraya tersenyum manis.
Senja meliriknya dan segera menyusul Rajendra. Tapi sepertinya Kalea ini terang-terangan ini mencari masalah dengan Senja. Karena saat Senja akan duduk dikursi depan, wanita itu malah langsung menyerobot begitu saja.
"Lea, jaga sikapmu!" tegur Rajendra langsung saja.
"Kenapa memangnya?" Kalea berpura-pura tidak mengerti.
"Ck, cepat turun. Senja yang akan duduk didepan," tutur Rajendra begitu dingin.
"Bukannya sudah biasa? Aku selalu duduk disamping Kakak 'kan?" lirih Kalea memandang sendu pada Rajendra, berharap Rajendra akan luluh.
Rajendra mengalihkan pandangannya, ia paling tidak bisa jika bertatapan langsung dengan mata Kalea.
__ADS_1
Braak!!!!!
Suara pintu mobil yang tertutup membuat keduanya terkejut. Terlihat Senja sudah duduk dikursi belakang dengan wajahnya yang begitu dingin.
"Senja-"
"Sebaiknya kita pulang sekarang," sergah Senja sebelum Rajendra mengatakan apapun lagi.
Rajendra menghela nafas panjang, ia tahu jika saat ini Senja sedang marah. Ia juga bingung, kenapa ia harus berada disituasi rumit seperti ini? Kenapa ia harus terjebak perasaan rumit diantara dua wanita. Tapi Rajendra kali ini harus tegas, ia sudah menentukan pilihannya.
"Kita akan pulang setelah kau duduk didepan. Kalea, turun sekarang dan biarkan Senja duduk disampingku," kata Rajendra dengan suara tegasnya.
"Tidak perlu, aku akan duduk disini saja," timpal Senja.
"Tuh, Kakak denger sendiri 'kan? Kak Senja tidak keberatan kok," ucap Kalea memutar bola matanya malas.
"Kau yakin tidak mau turun?" Rajendra bertanya dengan wajah dinginnya.
"Tidak. Lagian ini hanya tempat duduk, kenapa harus ribet sih?" sahut Kalea.
Rajendra mengangguk pelan, tanpa mengatakan apapun, ia langsung melepaskan sabuk pengamannya lalu turun dari mobil, membuat Senja dan Kalea bertanya-tanya.
'Mau apa dia?'
Rajendra segera mengitari mobilnya, ia membuka pintu samping Kalea gerakan cukup kasar.
"Turun." Perintah Rajendra dengan aura dinginnya.
"Kakak-"
"Aku bilang turun sekarang!" bentak Rajendra.
Kalea mendengus kesal, ia tahu jika saat ini Rajendra sedang marah, dan melawan adalah ide yang sangat buruk. Karena semakin dilawan, Rajendra bisa semakin marah. Mau tidak mau, ia harus turun dari mobil itu.
Rajendra masih memasang wajah dinginnya, ia kemudian membuka pintu Senja, dan menarik tangan wanita itu.
"Rajendra, kenapa harus seperti ini? Aku nggak keberatan kalau-"
"Aku yang keberatan!" Rajendra kembali membentak meski dengan nada suara cukup rendah. "Kau itu istriku, jadi kau yang berhak duduk disampingku," lanjut Rajendra dengan suara tegasnya, pun sorot matanya yang sangat tajam itu.
Kedua wanita yang mencintai pria yang sama itu sontak langsung bungkam begitu saja. Keduanya sama-sama terkejut, tapi Senja merasa hatinya diliputi perasaan yang membuncah karena sikap Rajendra yang sangat manis itu.
Berbeda dengan Kalea, wanita itu justru semakin kesal dan sangat membenci Senja. Hanya karena wanita itu hamil anaknya Rajendra, tapi berhasil menguasai segalanya.
'Bukankah aku yang lebih berhak?'
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.