
Senja tampak tidak begitu bersemangat saat Rajendra mengajaknya pergi ke kantor setelah dari rumah sakit. Ia masih kepikiran dengan semua masalah yang terjadi dalam hidupnya saat ini. Masih begitu terkejut dan belum bisa menerima jika ia saat ini tengah mengandung anak dari pria asing yang baru dikenalnya hampir dua bulan yang lalu.
"Kau tidak perlu terlalu cemas, besok itu hanya pertemuan keluarga biasa. Kakek hanya ingin mengenalmu," ujar Rajendra menenangkan Senja yang terlihat begitu gusar.
"Haruskah kita melakukannya? Bukankah sebentar lagi kita akan bercerai?" sahut Senja memberanikan diri untuk menatap Rajendra.
Rajendra menipiskan bibirnya, hampir saja mengumpat kasar karena mendengar kata perceraian itu.
"Apa kau ingin kita bercerai dalam keadaanmu seperti ini? Kau itu sedang hamil anakku, jadi aku tidak ingin mengambil resiko apapun jika ada sesuatu yang terjadi padamu," sergah Rajendra menahan dirinya.
"Apa kau pikir aku tidak bisa menjaganya? Aku pasti bisa Rajendra, dia anakku juga," kesal Senja.
"Menjaganya? Dengan cara apa Senja? Kau bahkan tidak punya apapun selain pakaian yang kau punya saat ini. Kau ingin membuat hidup anakku menderita dengan hidup miskin bersamamu?" sentak Rajendra sudah tidak tahan lagi. Tapi sedetik kemudian ia menyesal telah mengatakan itu semua pada Senja.
Senja menatap Rajendra tak percaya, hatinya seperti dihantam rasa sakit yang begitu memilukan.
"Setidaknya itu lebih baik daripada dia hidup diantara kedua orang tua yang tidak saling mencintai," ujar Senja membuang pandangannya kearah lain, menyembunyikan air matanya yang meleleh begitu saja.
"Senja, ini bukan masalah cinta, tapi-"
"Aku tahu, aku memang tidak punya apapun lagi sekarang. Bahkan hidupku juga tergantung padamu 'kan? Baiklah, terima kasih sudah menyadarkan aku Rajendra. Aku akan selalu mengingatnya sampai kapanpun itu. Lantas, jika anak itu sudah lahir? Apakah kau akan mengizinkan aku pergi?" kata Senja entah berpikiran kearah mana.
"Pergi?" Wajah Rajendra langsung mengeras mendengar ucapan Senja. "Jadi, kau ingin meninggalkan anakmu setelah dia lahir, begitu?"
"Tentu, bukankah itu yang kau inginkan? Sekarang aku sadar, kau memang hanya menginginkan anak dikandungan ini 'kan? Oke, aku akan mengabulkannya sesuai permintaanmu. Bahkan aku memberikanmu bonus kebebasan tanpa menanggung bebannya selama sembilan bulan. Semua itu sudah cukup bukan?" Senja berbicara dengan nada kasar, padahal hatinya begitu tercabik saat mengatakan itu semua.
Rajendra menarik lengan Senja dengan kasar hingga wanita itu menatap dirinya. "Kenapa kau selalu ingin pergi dariku? Apa yang kurang dariku sampai kau terus menolakku, ha!" bentak Rajendra marah. Harga dirinya seolah terusik karena penolakan terus-menerus dari Senja.
"Kenapa kau harus bertanya jika kau sendiri sudah tahu jawabannya? Aku tidak pernah menginginkanmu, dan asal kau tahu Rajendra, aku sangat membencimu!" teriak Senja menghempaskan tangan Rajendra hingga cengkeraman itu terlepas.
__ADS_1
Rajendra semakin marah, ia kembali mencengkram lengan Senja lebih kuat dari sebelumnya. Ia menatap wanita didepannya dengan tatapan yang sangat tajam.
"Kau membenciku?" tanya Rajendra.
"Ya! Sangat-sangat membencimu Rajendra. Bahkan jika Tuhan memberikanku kehidupan yang baru, aku berharap tidak bertemu dengan pria sepertimu!" jerit Senja melawan tatapan mata itu, ia mengabaikan rasa nyeri ditangannya itu.
"Oh shitttt! Jangan kau pikir dengan sikap baikku selama ini kau bisa seenaknya saja padaku, Senja. Memangnya kau pikir aku mau terjebak dalam situasi seperti ini? Sama sekali tidak, mungkin benar kata temanmu itu, kau memang wanita pembawa sial!" Rajendra membentak tanpa begitu keras, ia bahkan tanpa sadar mengucapkan kata yang membuat hati Senja seperti ditusuk-tusuk ribuan anak panah.
Senja tersenyum kecut, tapi matanya semakin basah mendengar kata-kata yang sangat ia benci seumur hidupnya. Akhirnya Rajendra mengatakan kata menyakitkan itu dengan begitu lantang di depannya.
"Ya, memang itulah aku Rajendra. Maafkan aku jika aku sudah membuat hidupmu sial, seharusnya kau memang tidak pernah bertemu denganku," lirih Senja memandang Rajendra dengan begitu sayu. Ia segera melepaskan tangan Rajendra dan memilih membuang pandangannya ke arah jendela. Menahan rasa sesak di dadanya yang begitu menyakitkan.
Rajendra terdiam, ia menyesal sekali telah mengatakan hal itu pada Senja. Inilah yang ia paling benci dalam dirinya, jika sudah marah, ia memang tidak bisa mengendalikan dirinya dan apa yang dikatakannya pasti akan sangat disesalinya.
"Maafkan aku," kata Rajendra mencoba meraih tangan Senja, tapi wanita itu menghindar.
Senja hanya diam saja, tidak ada niatan untuk menyahut. Untuk apa meminta maaf jika ujung-ujungnya akan mengulangi hal yang sama. Senja sudah lelah sekali rasanya, ingin menyerah tapi sialnya ia sudah lebih dulu terjatuh kedalam rasa cinta yang begitu menyakitkan.
Rajendra hanya mengambil beberapa berkas penting di kantornya dan ia memaksa Senja untuk ikut meski wanita itu terus menolak. Sejak pertengkaran tadi, Senja bahkan tidak mengatakan apapun lagi. Hanya menjawab pendek-pendek ketika Rajendra bertanya.
"Ibu baru saja menelepon, setelah ini kita akan pergi ke butik langganannya karena-"
"Baiklah." Senja langsung menyahut tanpa menunggu Rajendra menyelesaikan ucapannya.
Rajendra menghela nafas panjang, sepertinya membujuk Senja yang sedang marah lebih sulit daripada menaklukan lawan bisnisnya. Ia benar-benar menyesal telah berbicara sembarangan seperti tadi.
"Kita makan dulu aja, ini udah sore tapi kau belum makan apapun," ujar Rajendra lagi.
Senja tidak menyahut, Rajendra pun tidak menunggu persetujuan langsung dari Senja dan langsung saja membelokkan mobilnya ke salah satu restoran ternama di kota Jakarta.
__ADS_1
Rajendra turun terlebih dulu, ingin membukakan pintu untuk Senja tapi wanita itu sudah turun duluan.
"Ayo masuk," ajak Rajendra seraya merengkuh pinggang Senja, tapi lagi-lagi wanita menolak dan memilih berjalan terlebih dulu.
Rajendra mengangkat tangannya, pertanda ia menyerah untuk membujuk Senja. Mungkin ia bisa mencobanya nanti jika amarah Senja lebih mereda.
_______
"Kau makan dulu, aku akan pergi ke toilet sebentar," ujar Rajendra setelah melihat makanan yang dipesan kan untuk Senja sudah datang.
"Kenapa banyak sekali?" kata Senja mengernyit saat melihat meja didepannya penuh terisi makanan.
"Ya, aku tidak tahu makanan apa yang kau suka. Dokter bilang kau harus banyak makan agar bayi kita sehat," kata Rajendra tersenyum sedikit karena Senja mau berbicara padanya.
"Tapi tidak sebanyak ini juga, sayang kalau nggak di makan," ujar Senja men de sah lelah, takut akan membuang makanan itu sia-sia nantinya.
"Tidak apa-apa, kau pilih mana saja yang kau suka. Aku akan pergi sebentar," kata Rajendra tanpa ragu mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Senja.
Senja tersentak, ia langsung menjauhkan kepalanya membuat Rajendra menarik tangannya kembali dengan canggung.
"Maaf," kata Rajendra tersenyum kikuk.
Senja tidak menyahut dan berpura-pura menunduk agar tidak bertatapan langsung dengan Rajendra. Ia masih marah jika mengingat apa yang dikatakan oleh Rajendra barusan.
Rajendra sendiri langsung pergi begitu saja ketempat tujuannya. Ia merasa tangannya cukup lengket dan harus segera mencucinya. Ia paling tidak tahan jika badannya kotor seperti itu.
Setelah beberapa menit di toilet, Rajendra membasuh wajahnya dengan air, berharap menyejukkan otaknya yang ruwet karena masalah hari ini.
Namun, saat ia keluar dari kamar mandi, ia justru harus menghadapi masalah yang membuat kepalanya semakin berdenyut, dimana ia melihat Kalea sudah berdiri menunggunya dengan wajah yang begitu menyedihkan.
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.