Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 40. Tidak Ada Jalan Lain.


__ADS_3

Rajendra langsung pasang badannya saat Kyara akan masuk kedalam untuk melihat Senja. Ia tidak mau jika Ibunya akan bertanya macam-macam atau mungkin bisa saja mengatakan hal yang akan menyakiti Senja.


"Ibu jangan memarahi Senja, dia tidak bersalah disini. Aku yang salah Ibu, marahi saja aku," ucap Rajendra masih memasang wajah bersalahnya.


Kyara mendengus kesal, ia mendekati Rajendra dan tanpa ragu langsung memutar telinganya dengan keras karena sangking kesalnya.


"Aduh, aduh, Ibu sakit." Rajendra memekik kesakitan.


"Biarkan saja, kau pikir Ibumu ini orang macam apa yang akan memarahi anak orang. Jika ada masalah yang terjadi dalam hidupmu, itu tentu kau yang paling bersalah," omel Kyara menahan dirinya untuk tidak memukul kepala putranya yang mengesalkan itu.


Rejendra mendesis pelan, ia memandang Ayahnya, mencoba untuk meminta bantuan, tapi Bara malah sengaja membuang muka seolah tidak melihat.


"Ibu, tapi aku benar-benar serius. Semua ini memang aku yang salah dan aku akan mempertanggungjawabkan semuanya," kata Rajendra memegang tangan Ibunya, menciumnya bermaksud merayu.


"Harus, itu memang harus. Tapi bagaimana dengan orang tua gadis itu? Apa mereka tahu semua ini?" tanya Kyara.


Rajendra terdiam, ia bahkan tidak tahu apakah Senja itu memiliki orang tua atau tidak. Tapi saat mereka bertemu, Senja itu tinggal sendiri. Jadi kemungkinan besar Senja memang tidak punya orang tua.


'Kenapa ia tidak berpikir tentang itu semua?'


Kyara langsung masuk kedalam saat Rajendra masih sibuk berpikir. Pria itu tidak bisa mencegah karena sudah kepalang basah juga. Sekarang ia hanya bisa menunggu apa yang akan dilakukan Ibunya nanti. Tapi yang jelas Rajendra harus mempertanggungjawabkan semua yang telah ia perbuat itu.


________


Senja merenung memikirkan apa yang telah dialaminya. Semua ini benar-benar diluar pemikirannya sama sekali. Ia tidak menyangka jika apa yang dilakukan oleh Rajendra waktu itu membuat ia hamil. Sekarang rasanya Senja semakin terpuruk kedalam jurang yang gelap dan mematikan.


Memikirkan tentang anak yang ada di kandungannya, membuat air mata Senja tanpa sadar meleleh begitu saja membasahi pipinya. Senja tidak tahu kehidupan yang seperti apa yang akan ia lalu bersama anaknya nanti. Apakah Rajendra benar-benar bisa menerima anak yang hadir karena kesalahan itu.


"Permisi ... ."

__ADS_1


Disela-sela kekalutan hatinya, Senja mendengar suara lembut dari balik punggungnya. Ia menoleh untuk melihat siapa yang datang. Sesaat kemudian ia mengusap air matanya agar Kyara tidak tahu kalau ia menangis.


Menyadari jika wanita yang datang itu adalah orang tua Rajendra, membuat Senja bangkit untuk sekedar memberikan salam, tapi kepalanya yang terlalu pusing membuat ia mendesis pelan.


"Sudah, sudah, senyamannya saja. Tidak perlu memaksakan dirimu," ujar Kyara pengertian.


"Maafkan saya," kata Senja menunduk, takut jika Ibunya Rajendra akan memarahinya.


Senja beranggapan kalau orang kaya seperti keluarga Rajendra pasti akan sangat marah jika tahu anaknya telah menghamili wanita miskin seperti dirinya. Bukankah memang seperti itu biasanya?


"Loh, kenapa minta maaf? Seharusnya Ibu yang minta maaf. Karena Rajendra kau jadi susah seperti ini. Maafkan Rajendra ya, dia pasti tanggung jawab kok," tutur Kyara mengelus lembut lengan Senja untuk menenangkan wanita itu.


Senja tersentak, ia tidak menyangka jika Ibunya Rajendra akan bersikap begitu baik padanya seperti ini. Hal itu membuat ia memberanikan diri untuk mengangkat wajahnya dan bertatapan langsung dengan Kyara.


"Saya dan Rajendra, ehm maksud saya ... Ini semua benar-benar ketidaksengajaan, Nyonya. Saya tidak meminta untuk Rajendra tanggung jawab, saya ... ." Senja mencoba untuk menjelaskan meski lidahnya kelu untuk mengucapkan setiap kata, ia terlalu gugup.


"Sudah, sudah, jangan berkata seperti itu. Ibu tidak akan bertanya apa alasan kalian sampai bisa seperti ini. Yang terpenting sekarang adalah mahluk kecil yang ada disini," tutur Kyara mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Senja yang masih rata.


Perlakukan Kyara itu tentu membuat Senja terbawa perasaan, apalagi sudah sejak lama ia tidak merasakan sentuhan dari seorang Ibu, membuat air matanya tidak terbendung lagi.


"Terima kasih, terima kasih sudah mau menerimaku," kata Senja menangis tergugu.


"Jangan berkata seperti itu, kau adalah istri putraku. Jadi sekarang kau adalah anak Ibu juga, kemarilah," kata Kyara membuka kedua tangannya untuk Senja.


Tanpa berpikir dua kali, Senja langsung masuk kedalam pelukan hangat Kyara dan tangisnya tumpah begitu saja. Hatinya diliputi perasaan yang tak tertuliskan saat tahu rasanya jika ia diterima oleh orang lain. Dianggap kehadirannya dan tidak menyalahkannya atas masalah yang telah terjadi.


Kyara tersenyum tipis, ia mungkin tidak mengenal Senja, tapi ia tahu kalau Senja adalah wanita yang baik. Dan ia pun tidak pernah mempermasalahkan seperti apa wanita yang menjadi pilihan putranya. Selama itu bisa membuat putranya bahagia, Kyara pasti akan mendukungnya.


"Sudah, jangan menangis lagi. Ibu hamil tidak boleh terlalu banyak pikirkan. Nanti bayinya juga bisa stress," ujar Kyara mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Terima kasih, Nyonya." Senja mengangguk seraya mengusap air matanya.


"Ibu," kata Kyara menegaskan. "Kau sudah menjadi menantu Ibu, jadi kau adalah anak Ibu, kau mengerti 'kan?" ujar Kyara lagi, memegang dagu Senja dengan gemas.


"Iya, Ibu." Senja mengangguk mengiyakan, ia mencoba memberikan senyum tipisnya dan dibalas senyum indah oleh Kyara.


"Baiklah, kau istirahat saja dulu. Sudah makan belum? Nanti Ibu akan meminta Rajendra untuk memesankannya untukmu. Kau juga harus banyak makan, jika sudah lebih baik nanti, kita pulang dan membicarakan tentang pernikahan kalian," kata Kyara begitu perhatian kepada menantunya itu.


"Pernikahan?"


"Ya, Ayahnya Rajendra bilang kalian sudah menikah? Kita tinggal meresmikannya saja bukan? Kita juga perlu mengumumkan pernikahan kalian ke publik nantinya. Bukan masalah apa, tapi anak yang ada didalam kandunganmu ... Ehm, maksud Ibu kau pasti mengerti maksud Ibu 'kan?" ujar Kyara menjelaskan, ia hanya tidak mau jika orang-orang beranggapan negatif nantinya.


Senja mengerti apa yang dimaksud oleh Kyara. Tapi ia tentu tidak bisa meresmikan hubungannya dengan Rajendra, mengingat jika mereka berdua telah menandatangani surat perceraian. Lagipula ini semua tidak sesuai rencananya, jika pernikahan mereka akan diumumkan, bukankah akan semakin sulit nanti posisi Senja?


"Ehm, Nyonya maksudku, Ibu .. sebenarnya aku dan Rajendra-"


"Kenapa? Apa kau takut dengan keluarga kami? Tenang saja, semua pasti akan menyukaimu, Sayang. Tidak perlu cemas, percaya sama Ibu," tukas Kyara tersenyum tipis.


Senja berusaha untuk menjelaskan kalau ia dan Rajendra akan bercerai, tapi Kyara yang sudah terlalu senang akan memiliki menantu perempuan yang cantik, membuat wanita itu lupa segalanya. Ia bahkan melupakan kemarahannya kepada suami dan putranya karena sibuk memikirkan tentang pernikahan Rajendra.


Bagi Kyara, tidak penting Senja itu wanita darimana, yang terpenting anaknya sudah bahagia itu sudah cukup untuknya. Lagipula Senja memang sudah hamil, itu artinya wanita itu mengandung keturunan keluarga Prakasa. Jadi, tidak ada alasan untuk menolak Senja.


Namun, semua pemikirannya itu bertolakbelakang dengan Bara yang masih merasa semua ini terlalu mendadak. Bara menganggap jika masih belum terlalu mengenal Senja lebih dalam. Ia juga yakin jika kemungkinan besar Kakeknya tidak akan semudah itu menerima wanita yang tidak jelas seperti Senja untuk masuk kedalam keluarga besarnya.


"Pernikahan itu bukan hal yang bisa dijadikan untuk bermain-main. Apalagi ini menyangkut tentang nama baik keluarga. Kakek ingin memastikan semuanya jelas sebelum pernikahan itu terjadi. Besok, bawa gadis itu ke rumah utama, kita akan bicarakan ini semua disana."


Kakek Hardi memerintahkan dengan sangat tegas dan tidak bisa dibantah sama sekali. Membuat semua jalan yang akan Senja lakukan seolah buntu dan ia hanya bisa pasrah.


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2