Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 48. Beri Aku Waktu.


__ADS_3

Rajendra memandang Senja yang terlihat sedang sibuk di dapur. Setelah kepergian Ibunya, wanita itu sama sekali tidak menyapanya sama sekali. Senja selalu menghindari untuk bertatapan langsung dengannya. Padahal Rajendra begitu ingin memeluk wanita itu dan mengganti seluruh luka yang pernah ia berikan.


Semalam, setelah Rajendra memikirkan semuanya, ia baru sadar bagaimana egoisnya dirinya. Memaksa Senja untuk selalu bersamanya tapi ia justru sibuk memikirkan wanita lain. Ia sadar betapa buruknya dirinya.


Dan sekarang, Rajendra ingin memperbaiki semuanya dengan melupakan Kalea lalu membuka lembaran yang baru bersama Senja, wanita yang telah mengandung anaknya.


"Senja ..."


Disela-sela lamunannya, Rajendra kaget saat melihat Senja berlari ke kamar mandi. Ia segera menyusul wanita itu kesana dan ternyata Senja sedang muntah-muntah hebat. Secara impulsif, Rajendra langsung mendekat dan membantu menepuk-nepuk punggung Senja.


"Masih ingin muntah?" tanya Rajendra melihat Senja yang tampak sudah sangat pucat wajahnya.


Senja menggeleng lemah, kerongkongannya begitu pahit sekali rasanya, pun kepalanya yang berdenyut-denyut pusing.


"Ke dokter aja gimana? Kemarin belum dikasih vitamin buat mual dan muntah 'kan? Kamu jadi pucet kayak gini," kata Rajendra tampak sangat khawatir melihat Senja.


Senja melirik Rajendra sekilas, ia menarik tangannya dengan kasar. "Nggak usah sok peduli, lebih baik kau jangan mengurusku lagi," tukas Senja begitu ketus.


"Senja, kamu itu sedang hamil, aku nggak mau kamu kenapa-kenapa nantinya. Tolong mengertilah, aku tahu aku salah, tapi aku benar-benar minta maaf Senja. Aku ingin berubah dan kita sama-sama ngerawat anak ini," ujar Rajendra kembali memegang tangan Senja meski wanita itu menolak.


"Kalau kau memang anak didalam kandungan ini sehat, lebih baik kau jangan pernah mengangguku lagi, karena itu yang lebih baik untukku sekarang!" sergah Senja masih begitu marah jika mengingat perlakukan Rajendra.


Lagipula ia sudah berjanji untuk tidak menggunakan hatinya kali ini. Ia ingin membunuh perasaan cinta yang sangat menyiksa itu.


Rajendra terdiam, tampak sangat kaget mendengar ucapan Senja yang begitu sarkas itu. Hatinya kenapa tidak terima jika Senja bersikap seperti itu? Ingin marah, tapi ia harus menahan dirinya.


'Aku tidak boleh egois, sekarang Senja sedang hamil anakku dan aku harus menjalani semua takdir yang sudah aku buat sendiri. Toh, setelah hari kemarin aku sudah berjanji pada diriku, jika aku akan benar-benar melupakan Kalea'


______


Hari itu Senja diajari seorang pelatih khusus yang melatih tentang bagaimana tata krama seorang wanita yang anggun. Dari mulai cara makan, dan juga cara berjalan.

__ADS_1


Senja yang biasanya makan dan berjalan asal-asalan tentu cukup kesusahan. Ia seperti dipaksa melakukan hal yang sangat susah baginya. Padahal sebenarnya Senja tidak perlu melakukan itu karena tadi Rajendra sudah berulang kali melarang. Tapi Senja malah semakin kekeh karena dilarang oleh Rajendra.


Akhirnya pria itu memilih diam saja, tapi ia memperhatikan Senja dari jauh, tidak ingin sampai wanita itu tertekan nantinya.


Kini terlihat Senja sedang berjalan dengan menggunakan sepatu hak tinggi dengan buku yang berada diatas kepala.


"Ingat Nona, dagunya harus diangkat dan pandangan lurus ya. Berjalan pelan seperti sebuah ketukan tangga nada."


Penjelasan dari pelatih itu terdengar sangat mudah, tapi tetap saja Senja cukup kesusahan untuk melakukannya. Beberapa kali ia hampir jatuh dan buku diatas kepalanya pun ikut terjatuh.


"Terlalu sulit kah menggunakan sepatu hak tinggi Nona? Apa kita coba bejalan biasa dulu?" Pelatih itu menawari Senja karena melihat wanita itu kerepotan.


"Tidak, tidak, aku pasti bisa. Jika tidak dibiasakan, pasti akan sangat susah. Aku bisa kok," kata Senja menggeleng pelan, ia tidak mau menyerah dengan mudah. Ia harus menyelesaikan tugasnya ini demi dirinya sendiri.


"Baiklah, sekarang Nona berjalan menuju kearah kolam renang. Pelan-pelan saja Nona, setelah itu kembali kesini."


Senja mengangguk pelan, ia kembali mengambil bukunya tadi lalu meletakkannya diatas kepala. Lalu mulai berjalan sangat pelan dengan dagu terangkat dan langkah pelan. Untuk hal ini Senja benar-benar harus berkonsentrasi penuh agar bisa menyelesaikan tugasnya.


'Aku harus menunjukkan kalau aku juga bisa menjadi lebih baik dari dia'


Senja berjalan sangat pelan, tapi karena memang belum terbiasa, ia hampir saja terjatuh, tapi ada seseorang yang langsung sigap menahan tubuhnya hingga ia tidak jadi menyentuh lantai.


"Rajendra ..." Senja menyebut nama pria itu tanpa suara.


"Lepaskan aku!" sentak Senja begitu menyadari jika saat ini ia masih marah pada pria ini.


"Sudah hentikan, kau sudah dari siang tadi seperti ini. Sekarang waktunya kau makan dan istirahat, kau bisa belajar besok lagi," titah Rajendra, terkesan dingin tapi begitu perhatian.


"Enggak, aku nggak akan berhenti sebelum aku bisa," cetus Senja malah dengan terang-terangan membantah pria itu.


Senja kembali melanjutkan langkahnya, tapi baru saja ia melangkah kakinya malah terkilir karena tidak hati-hati.

__ADS_1


"Aduh, aduh!" Senja memekik pelan seraya memegang kakinya.


Rajendra menghela nafas panjang, tanpa mengatakan apapun, ia langsung meraih Senja dan menggendongnya dengan cepat.


"Rajendra, apa-apaan kau! Turunin aku!" seru Senja melotot kaget, ia melirik pelatih yang tadi melatihnya tampak tersenyum-senyum melihat interaksi keduanya.


"Kau memang sangat keras kepala, sudah tahu tidak bisa, jangan memaksakan dirimu," omel Rajendra begitu kesal.


"Apaan sih, turunin nggak! Aku tuh masih mau belajar." Senja kembali membentak seraya meronta dari pelukan Rajendra.


"Enggak akan, kalau kamu masih gini terus, aku malah nggak bakalan ngijinin kamu belajar lagi dan nyuruh orang itu nggak usah balik," kata Rajendra mengancam.


"Memangnya kau itu siapa? Beraninya kau mengaturku, buruan lepasin!" teriak Senja masih kekeh.


"Aku suamimu, dan sebagai suamimu aku memintamu untuk menurut padaku atau aku akan-" Rajendra menjawab dengan enteng.


"Akan apa? Mau mengusirku? Silahkan, itu lebih bagus, aku malah pengen cepet-cepet pergi dari rumah sialan ini," sambar Senja dengan wajahnya yang bersungut-sungut kesal.


Rajendra terdiam, ia menghentikan langkahnya saat ia sampai didepan pintu kamar mereka. Memandang Senja yang terang-terangan memasang wajahnya yang bermusuhan itu. Terlihat sangat galak, tapi kenapa malah terlihat semakin cantik? Apakah kecantikan itu sebuah kutukan?


"Kenapa kau diam? Udah nggak punya kata-kata buat jawab 'kan? Udah deh nggak perlu maksa. Ini tuh jadi pilihan yang terbaik buat kita, kamu bisa bersamanya lagi setelah kita pisah," kata Senja begitu asal, padahal hatinya begitu perih saat mengatakannya.


"Aku sudah tidak punya hubungan apapun dengannya," ucap Rajendra ingin Senja tahu kalau ia dan Kalea sudah mengakhiri hubungan kalian.


"Kau apa?" Senja terlihat kaget, tapi hanya sesaat. "Tidak mungkin kau benar-benar akan melepaskannya. Untuk saat ini aku yakin jika hatimu masih untuk dia. Untuk apa berpisah jika hati kalian masih saling mencintai? Bukankah itu lebih menyakitkan?" lanjut Senja mengalihkan pandangannya kearah lain, ia hampir menangis tapi ia menahan dirinya.


"Ah sial, sudahlah jangan mengatakan apapun lagi. Aku ingin istirahat." Senja langsung turun dari gendongan Rajendra dengan cepat lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.


Namun, baru saja ia akan membuka pintu, tangannya ditarik oleh Rajendra hingga ia masuk kedalam pelukan pria itu.


"Beri aku waktu dan teruslah bertahan. Aku akan membuktikan padamu jika saat ini hanya kau satu-satunya wanita yang aku inginkan, bukan dia."

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2