
Kyara terbangun pagi-pagi sekali, ia sudah terbiasa menyiapkan makanan untuk suaminya karena Bara tidak pernah mau makan jika bukan dia yang memasak. Padahal dirumah itu banyak sekali pelayan, tapi untuk urusan dapur, Kyara sendiri yang menanganinya dengan dibantu oleh pelayan.
Tepat pukul tujuh pagi Bara turun dari kamar dengan pakaiannya yang sudah rapi. Seperti biasa, pria itu selalu tampil parlente meski umurnya sudah tidak lagi muda. Sepertinya dalam kondisi apapun Bara akan tetap selalu tampan dimata Kyara.
"Mau sarapan sekarang?" tanya Kyara mendekati suaminya.
"Hm, kemana anak-anak?" Bara menyahut singkat, wajahnya sudah tak kalah penuh amarah seperti semalam, tapi masih terlihat begitu dingin.
"Revan masih dirumah Kakek, kalau Rajendra sepertinya belum bangun, aku akan melihatnya," kata Kyara melirik dimana kamar putranya berada, sejak tadi memang tidak ada tanda-tanda Rajendra akan keluar dari kamarnya.
"Biarkan saja," titah Bara.
"Biarkan bagaimana? Dia bisa sakit kalau suka melawatkan jam makan, biasanya juga tidak seperti ini. Apa menurutmu kau tidak terlalu berlebihan?" ujar Kyara, mencoba peruntungan untuk merayu suaminya.
"Maksudmu, kau ingin aku membiarkan putra kita terus mengejar anak Steven dan selalu dihina olehnya?" sergah Bara langsung emosional jika menyangkut hal itu.
"Bukan begitu Bara, kau tahu dipisahkan dari orang yang kita cintai itu sangat menyakitkan. Kau pun pasti tahu rasanya, aku tidak mau jika nantinya Rajendra akan melakukan hal yang diluar prediksi kita," kata Kyara, sangat hafal sifat putranya yang sebelas dua belas dengan Ayahnya itu, ia takut jika Rajendra akan berbuat hal nekat nantinya.
"Kau hanya terlalu cemas, banyak wanita lain yang mau dengan putra kita. Aku yakin Rajendra juga pasti akan mengerti apa yang aku lakukan ini yang terbaik untuk dirinya," sahut Bara masih dengan sikap keras kepalanya.
"Ck, kau memang selalu seperti itu. Banyak yang mau dengan putra kita, tapi belum tentu putra kita mau dengan mereka," ketus Kyara seraya berlalu pergi, bisa-bisa ia ikut emosi jika terus berdebat dengan suaminya itu.
Kyara meninggalkan Bara, ia pergi memanggil putranya Rajendra. Sejak semalam ia selalu kepikiran tentang bagaimana perasaan Rajendra, putranya itu pasti hancur sekali karena harus dipaksa mengakhiri hubungan dengan wanita yang dicintainya.
Namun, sebenarnya Kyara juga tidak begitu suka dengan sikap Steven yang menurutnya terlalu menyudutkan putranya, padahal anak mereka sama-sama salah.
"Rajendra, Nak? Ini Ibu, tolong buka pintunya," kata Kyara seraya mengetuk pintu kamar Rajendra.
__ADS_1
Tidak ada sahutan dari dalam membuat Kyara kembali mengetuk pintunya lebih keras. Tapi hingga beberapa kali Kyara mengulanginya, tetap tidak ada sahutan sama sekali membuat wanita yang telah memiliki dua anak itu cemas. Pasalnya semarah apapun Rajendra, pria itu tidak pernah mengabaikan Kyara.
"Rajendra? Apa kau masih marah dengan Ayah dan Ibu? Ayo turun dulu, kita sarapan bersama," tutur Kyara lagi.
Tidak ada sahutan, membuat Kyara memutuskan untuk langsung masuk kedalam kamar yang ternyata tidak dikunci.
Kyara tentu heran melihat hal itu, seketika firasatnya mulai tidak enak, segera saja ia masuk kedalam dan ia kaget melihat barang-barang Rajendra berserakan dengan kaca yang hancur berkeping-keping.
"Rajendra?" panggil Kyara semakin kalut.
Kyara bergegas mencari anaknya diseluruh kamar, dan ternyata tidak ada Rajendra sama sekali disana.
"Rajendra!" teriak Kyara tidak bisa membendung air matanya, saat menyadari jika putranya itu kemungkinan besar pergi dari rumah.
"Bara! Bara!" Kyara kembali berteriak memanggil suaminya seraya berjalan keluar kamar.
"Rajendra, Rajendra Bara, dia tidak ada di kamarnya, ia pasti pergi huaaaaaa ..." Kyara menangis memeluk suaminya, inilah yang ia takutkan, Rajendra akan berbuat hal nekat karena keinginannya tidak dituruti.
"Kya tenanglah, apa maksudmu Rajendra tidak ada? Apa kau sudah mencari dikamarnya?" Meski Bara kaget, ia mencoba untuk bersikap tenang.
"Sudah Bara, dia memang tidak ada dikamarnya. Kemana perginya putraku?" ujar Kyara dengan air mata yang terus mengalir.
"Kita akan mencarinya, aku yakin Rajendra tidak akan bertindak gegabah. Mungkin dia hanya perlu waktu sendiri," ujar Bara memenangkan istrinya.
"Tapi dia pergi kemana? Aku ingin bertemu dia. Bara, tolong cari putraku, kembalikan dia Bara, aku mau putraku kembali." Kyara menangis histeris dipelukan suaminya, benar-benar sangat takut karena Rajendra pergi.
Selama ini semarah apapun Rajendra, pria itu tidak pernah sampai pergi dari rumah. Kali ini jika Rajendra pergi, itu artinya pria itu benar-benar sangat marah.
__ADS_1
"Kya, tenanglah Kya, Rajendra pasti kembali, tenang ya," ucap Bara mencium kening Kyara dan terus berusaha menenangkannya.
Namun, Kyara yang memang memiliki vertigo yang tinggi, merasa kepalanya mendadak sangat pusing karena memikirkan nasib putranya. Ia tidak kuasa untuk menahan sakit kepala hebat dikepalanya hingga ia pingsan dipelukan suaminya.
"Kyara!"
_______
Rajendra menghabiskan seharian waktunya dengan melamun dikamar hotelnya. Ia seperti mengasingkan diri dari dunia dengan terus berdiam diri didalam kamar seraya menegak minuman keras. Sudah beberapa botol ia habiskan, berharap ia akan mabuk dan melupakan segalanya, tapi ia justru tidak mabuk sama sekali.
"Kalea, kau sedang apa?" lirih Rajendra mengusap foto Kalea yang menjadi wallpaper ponselnya.
Mana mungkin ia bisa semudah itu melupakan wanita yang menjadi cinta pertamanya sejak kecil. Bahkan setiap saat yang ada dipikiran Rajendra hanya Kalea, lalu kenapa orang tua mereka begitu kejam memisahkan mereka berdua.
"Aku merindukanmu, Lea."
Rajendra bergumam-gumam sendiri seperti orang gila, lama-lama ia seperti ingin marah, tapi marah kepada siapa? Orang tuanya? Atau orang tua Kalea yang sama-sama egois?
"Apakah kita bisa bersama-sama lagi seperti dulu?" lirih Rajendra terus saja menatap foto Kalea. Hingga ia mendapatkan panggilan masuk dari Ayahnya disana.
"Ayah?" Rajendra mengerutkan dahinya, menebak jika mungkin saja Ayahnya itu sudah tahu kalau ia pergi.
Namun, Rajendra yang masih begitu marah, enggan mengangkat panggilan itu dan malah dengan sengaja mematikan ponselnya lalu melemparkannya asal. Rajendra benar-benar ingin menenangkan dirinya saat ini, sebelum menghadapi kenyataan yang begitu menyakitkan.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1