
Kalea tidak menyangka jika wanita yang ia kira sangat lemah itu, ternyata berani melawan dirinya. Tapi hal itu membuat ia senang.
"Tidak, Kak. Kenapa Kak Senja berbicara seperti itu. Aku tahu Kak Senja bisa lebih hebat dariku, buktinya Kakak yang mendapatkan Kak Rajendra," kata Kalea mengulas senyum tipis.
"Apa yang sedang kau harapkan, Kalea?" Senja enggan sekali berbasa-basi, ia langsung berbicara tentang apa yang sebenarnya wanita itu inginkan.
Kalea mengangkat alisnya, semakin terkejut karena Senja bisa menebak apa yang sedang ia pikirkan itu. Ia semakin tersenyum manis.
"Tidak mengharapkan apapun, hanya sedikit mengingatkan, kalau kau mungkin istrinya, tapi hatinya adalah milikku." Ucap Kalea tanpa keraguan sama sekali.
Senja tersenyum sinis tapi tidak terlalu terlihat, ternyata benar dugaannya. Kalea ini tidak sebaik yang ia kira.
"Lakukan apa yang ingin kau lakukan, Kalea. Jika kau ingin mengambil Rajendra, silahkan. Aku tidak akan melarang kalau dia memang memilih dirimu," ucap Senja santai saja.
"Kau menantangku?" Kalea menarik sudut bibirnya.
"Anggap saja seperti itu. Aku benar-benar tidak keberatan kalau dia memang menginginkanmu. Tapi ...." Senja memberi jeda sejenak dalam ucapannya, ia maju selangkah hingga posisinya sangat dekat dengan Kalea. "Jika dia sudah menolak dan kau masih memaksa, kau akan tahu bagaimana sikap seorang istri jika ada wanita liar yang mencoba menggoda suaminya," lanjut Senja dengan tatapan tajam menusuk.
Kalea tertawa kecil mendengar hal itu. "Kak Senja tahu, beberapa hari yang lalu kami bahkan masih bersama. Menghabiskan waktu berdua dengan sangat bahagia. Dia bilang sangat mencintaiku, Kak. Dan Kak Senja tahu 'kan, kalau masa lalu yang indah itu akan sangat susah dilupakan?" kata Kalea semakin memanasi Senja.
'Biarkan saja wanita itu tahu kalau bagaimanapun juga, hati Rajendra akan tetap menjadi miliknya, apapun yang terjadi'
Senja sebenarnya cukup panas mendengar hal itu, tapi ia mencoba untuk tenang. "Hanya masa lalu 'kan? Sekarang aku masa depannya, jika kau yakin dia tidak bisa melupakanmu, kau tidak akan jadi masa lalu, Kalea."
Skakmat! Kalea sama sekali tidak bisa membalas ucapan Senja karena merasa tertampar oleh ucapan wanita itu. Tanpa sadar tangannya mengepal erat, tapi ia berusaha keras menahan emosinya.
"Jika sudah tidak ada yang ingin kau bicarakan, aku permisi dulu. Sebentar lagi suamiku bangun, dia pasti menunggu makananku," ujar Senja mengulas senyum tipisnya sebelum berlalu dari hadapan Kalea.
Kalea menekan giginya dengan kuat, benar-benar tidak menyukai gaya Senja yang seolah bisa memiliki Rajendra seutuhnya itu.
'Kita lihat saja nanti'
_____****_____
Senja masih sibuk memasak nasi tim dengan ayam kecap yang ia bumbui pedas manis. Ia tidak punya ide untuk membuat makanan apapun selain masakan yang pernah ia pernah masak. Meski tidak yakin ada yang mau memakan makanannya, tapi Senja tetap membuatnya.
"Semoga saja Kakek suka masakan aku," gumam Senja menata nasi tim itu kedalam wadah yang menurutnya menarik, lalu mengangkat ayam kecap yang juga sudah matang dan masih mengepulkan asap panas.
Senja hampir saja menyelesaikan pekerjaannya, tapi tiba-tiba saja ada seseorang yang memeluknya dari belakang, membuat ia begitu kaget.
__ADS_1
"Rajendra!" pekik Senja dengan suara tertahan, sudah sangat tahu jika orang yang bersikap seperti itu adalah Rajendra.
"Kenapa ada disini? Aku mencarimu daritadi," ucap Rajendra dengan suara manjanya.
"Kau tidak lihat aku sedang memasak? Cepat lepaskan aku, aku akan menyiapkan makanan ini dulu," kata Senja menyikut pelan perut Rajendra agar melepaskan pelukannya.
Rajendra mengerucutkan bibirnya kesal, dengan malas ia langsung menjauhkan dirinya dari Senja, menatap wanita itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Kau tidak muntah?" tanya Rajendra, ingat jika biasanya Senja muntah saat pagi hari.
"Enggak," sahut Senja mengerutkan dahinya, merasa cukup heran karena pagi ini ia tidak muntah seperti pagi biasanya.
"Mungkin anak kita tahu, kalau semalam dipeluk, Ayahnya. Jadi dia pinter kali ini," ujar Rajendra mengulas senyum penuh percaya dirinya.
"Apa? Emang ada ya kayak gitu?" Senja merengut tidak percaya.
"Ada dong, ini buktinya kamu nggak muntah pagi ini. Anak aku pinter banget," ujar Rajendra, secara reflek mengulurkan tangannya untuk menyentuh perut Senja yang masih rata.
Senja terkaku, ia merasakan sebuah getaran aneh yang sangat sulit diungkapkan saat Rajendra menyentuh perutnya. Apakah benar itu semua karena hormon kehamilannya? Anaknya ini seolah ingin terus dekat dengan Ayahnya?
"Kalian ternyata disini, udah ditungguin loh didepan."
Rajendra segera menjauhkan dirinya, cukup terkejut karena ada Kalea. Dan Senja merasa hal itu Rajendra lakukan hanya untuk menjaga hati Kalea, membuat ia tersenyum penuh ironi.
"Kakek memintaku untuk memanggil Kakak. Jangan hanya karena sesuatu yang tidak penting, Kakak sampai melupakan kebiasaan keluarga yang harus sarapan jam 7," ujar Kalea melirik kearah Senja, seolah mengatakan pada wanita itu gara-gara Senja, Rajendra malah melanggar aturan yang sudah ada sejak lama.
"Aku tidak lupa, aku hanya sedang memanggil istriku. Ayo ke depan," sahut Rajendra langsung saja menarik tangan Senja dan mengajaknya pergi tanpa menghiraukan Kalea.
Senja tersenyum tipis, nyaris terlihat saat melihat ekspresi Kalea yang berubah sangat kesal itu. Dalam hati sedikit bangga karena Rajendra tidak melayani wanita itu.
Mulut Kalea ternganga akan sikap Rajendra itu. Kenapa malah ia yang diacuhkan? Dengan menghentakkan kakinya, ia segera ikut menyusul ke depan.
______****______
"Maafkan kami datang terlambat, Kakek." Rajendra langsung meminta maaf begitu sampai diruang makan.
Kakek Hardi mengangkat wajahnya sebentar, lalu mengangguk pelan. "Jangan pernah mengulanginya lagi," ucap Kakek Hardi.
Rajendra hanya mengangguk mengiyakan, ia lalu mengajak Senja untuk duduk, bersamaan dengan Kalea yang datang dari dapur.
__ADS_1
"Senja untuk apa di dapur, Sayang?" tanya Kyara pada menantunya.
Senja baru akan menjawab, tapi Kalea langsung menyela begitu saja.
"Semuanya udah kumpul 'kan? Sekarang ayo sarapan, hari ini makanannya spesial karena aku yang masak. Aku juga masak makanan kesukaan, Kakek. Sini, Kalea ambilkan." Kalea dengan luwes langsung melayani Kakeknya, ia tahu jika ia masih menjadi pemilik tahta tertinggi dirumah itu karena Kakek Hardi memang sangat menyayanginya.
"Wah, sup miso. Kakek sudah lama sekali tidak makan ini," ujar Kakek Hardi tersenyum senang.
"Iya, aku juga buat sushi buat Kak Rajendra sama Paman Bara. Kalian berdua suka masakan jepang 'kan?" kata Kalea lagi, kali ini dengan sengaja mengerlingkan sebelah matanya kepada Rajendra.
Senja mendesis pelan, benar-benar merasa mati kutu karena Kalea memang lebih tahu semua kesukaan keluarga ini daripada dirinya yang orang baru.
"Aku ambilkan buat Kakak ya," kata Kalea lagi, mengambil sushi yang ia buat dan ingin memberikannya pada Rajendra.
Rania terlihat ingin menegur putrinya karena saat ini Rajendra sudah memiliki istri , tapi suara Rajendra sudah lebih dulu terdengar dan membuat semua doang bungkam.
"Aku tidak suka sushi. Tadi Senja sudah masak, kenapa tidak membawanya kesini, Sayang?" ucap Rajendra.
"Ha?" Senja terbengong sesaat, karena Rajendra memangilnya sayang.
"Kau bilang tadi sudah masak untukku? Mana? Kau tidak ingin membawanya kesini? Biarkan Ayah dan Ibu juga mencoba masakanmu," ujar Rajendra lagi.
"Wah, Senja juga masak? Kenapa tidak membawanya kesini, Sayang? Kakek juga pasti suka," timpal Kyara mengulas senyum tipisnya.
"Ehm, aku akan mengambilnya dulu," kata Senja, tidak bisa menyembunyikan raut wajah bahagianya karena Kyara mau menerima masakannya meski belum mencoba rasanya.
"Mau aku bantu?" tawar Rajendra.
"Enggak usah, kamu duduk aja, aku yang ambil sendiri." Senja menggeleng pelan sebagai tanda menolak, ia juga langsung berlalu pergi menuju dapurnya.
Rajendra tersenyum memandang Senja yang berjalan menjauh, setelah itu ia melirik kearah Kalea sekilas.
Rajendra sengaja melakukan ini benar-benar ingin menegaskan kepada Kalea, jika hubungan mereka sudah selesai setelah hari itu.
'Aku sudah mengakhiri semua, dan aku akan mencoba menata hatiku kembali.'
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1