
Entahlah, bagaimana kehidupan yang akan Senja jalani setelah kejadian ini. Ia sungguh merasa cemas akan masa depannya nanti. Senja berpikir apakah pernikahan itu akan membawa kebahagiaan untuk dirinya? Atau justru ia harus mendapatkan luka dari pria asing yang telah menjadi suaminya itu.
"Ini."
Senja tersentak saat mendengar suara deep yang sekarang mulai familiar ditelinganya itu. Ia memandang sebuah kertas yang disodorkan oleh Rajendra dengan tatapan bingung.
"Apa ini?" tanya Senja.
"Ini surat perceraian kita. Kau tinggal menandatanganinya, nanti setelah dua bulan asistenku akan mengurusnya," ujar Rajendra datar sekali, malah terkesan dingin dan abai.
"Surat cerai?"
Siapa yang tidak terkejut mendengar hal itu, mereka baru saja menikah belum ada satu hari. Tapi Rajendra justru menyodorkan sebuah surat cerai padanya? Lelucon macam apa ini?
"Ya, aku tahu kau pun tidak pernah menginginkan pernikahan ini bukan? Kita hanya orang asing yang tidak sengaja bersinggungan, jadi aku rasa langkah ini sangat tepat untuk kita berdua. Tenang saja, selama kau masih menjadi istri palsuku, aku tetap akan bertanggung jawab atas dirimu nanti," kata Rajendra dengan entengnya.
Rajendra sudah memikirkan segalanya, ia memang tidak mungkin bisa menjalani kehidupan rumah tangga dengan wanita asing yang baru dikenalnya. Lagipula ia tidak mencintai Senja, jadi daripada tersiksa dalam sebuah hubungan tanpa cinta, lebih baik diakhiri saja bukan?
Berbeda dengan Senja yang merasa Rajendra ini terlalu mempermainkan pernikahan. Tapi ia juga membenarkan apa yang dikatakan Rajendra. Mereka benar-benar tidak bisa hidup bersama.
"Lalu, dimana aku akan tinggal?" Senja lebih bertanya tentang hal itu, tempat tinggal baginya yang paling utama.
"Seperti kataku tadi, selama kau masih menjadi istri palsuku, aku akan menanggung semua kebutuhanmu termasuk tempat tinggal. Kau bisa tinggal di rumah pribadiku lagi nanti," ujar Rajendra santai saja, bukan hal sulit baginya jika hanya menyediakan tempat tinggal.
"Dirumah pribadimu? Apa itu artinya?"
Mata Senja membulat sempurna saat pikirannya mulai berkelana. Ia memandang Rajendra dengan takut, ia takut jika pria itu akan macam-macam padanya. Bagaimana pun juga, ia belum terlalu mengenal pria itu.
"Apa yang kau pikirkan?" Rajendra mendengus saat melihat ekspresi wajah Senja. "Tenanglah, aku tidak akan melakukan apapun padamu. Kau itu bukan tipeku karena badanmu terlalu gemuk dan dadamu rata," sambung Rajendra melirik tubuh Senja dengan wajah tidak berminatnya.
__ADS_1
Senja menatap Rajendra tidak percaya, ia langsung menutup dadanya dengan kedua tangan. Ia tampak sangat kesal karena Rajendra menghina dirinya.
"Dasar mesum! Kau pikir kau ini begitu menarik apa? Asal kau tahu ya, kau itu juga bukan tipeku," ketus Senja tidak mau kalah.
"Baguslah, itu lebih baik bagiku. Hanya mengingatkan saja, jangan jatuh cinta padaku, Senja."
Ucapan Rajendra itu sontak membuat Senja terdiam. Cukup terusik dengan ucapan itu, Rajendra seolah membuat benteng kokoh untuk hatinya sendiri. Bahkan sebelum Senja mendekat pria itu sudah memperingatkannya.
"Cih, jika aku jatuh cinta pasti bukan denganmu. Kemarikan suratnya, aku akan tanda tangan supaya kita secepatnya bercerai," ujar Senja memasang wajah datar untuk menutupi perasaannya.
Rajendra menurut tanpa banyak bicara, ia menyerahkan surat cerai itu kepada Senja dan wanita itu segera menandatanganinya.
"Baiklah, semuanya sudah beres. Nanti sesampainya disana mungkin kita tidak akan bertemu lagi," kata Rajendra menyerahkan surat cerai itu kepada Faris.
"Ehem." Senja hanya menyahut dengan deheman, mulai malas menanggapi apa yang diucapkan Rajendra.
"Aku mengerti, selama kita belum bercerai aku akan terus menumpang hidup padamu 'kan? Tidak masalah, setelah pernikahan kita selesai aku akan secepatnya pergi dari hidupmu agar kau tidak perlu repot mengurusku," sergah Senja menyela sebelum Rajendra menyelesaikan ucapannya. Nada suaranya begitu dingin dan terkesan ketus.
Rajendra mengerutkan dahinya, ia cukup tak suka dengan sikap Senja yang membantahnya itu.
"Apa yang kau katakan? Kau ingin pergi kemana?" tanya Rajendra.
"Entahlah, mungkin mencari pekerjaan sendiri. Yang jelas aku akan menanggung hidupku sendiri tanpa bantuanmu," ketus Senja.
"Kau gila ya? Apa kau pikir mencari pekerjaan itu mudah?" seru Rajendra tidak habis pikir, bagaimana ada wanita yang dikasih enak malah memilih hidup susah?
"Sudahlah, pokoknya kau harus menurut apa kataku. Jangan bersikap aneh-aneh, dan yang paling penting jangan sampai ada orang yang tahu tentang pernikahan ini," titah Rajendra dengan wajahnya yang serius.
Rajendra benar-benar harus menyimpan rapat rahasia itu karena demi menjaga nama baik keluarganya sendiri. Dan yang paling utama menjaga perasaan Kalea, wanita itu pasti akan hancur jika tahu ia sudah menikah dengan wanita lain.
__ADS_1
"Oh, jadi alasanmu melakukan ini sebagai tutup mulut begitu? Bagus sekali, orang kaya biasa seperti itu bukan?" ucap Senja tersenyum kecut, mulai sadar arah pembicaraan mereka kemana.
"Tentu saja, itulah gunanya kita perlu memiliki banyak uang. Uang memang tidak akan menyelesaikan masalah, tapi semua masalah membutuhkan uang," tukas Rajendra begitu pedasnya, tidak peduli Senja tersakiti oleh kata-katanya atau tidak, ia hanya bersikap realistis.
Senja tersenyum penuh ironi, yah sejak dulu memang sudah menjadi hukum alam jika yang memiliki uang yang bisa menentukan segalanya. Sedangkan orang miskin seperti dirinya? Hanya diam dan menyaksikan tanpa berani mengutarakan isi hatinya.
_______
Sesampainya di Jakarta, Rajendra benar-benar berpisah dengan Senja. Setelah dari Bandara, ia memerintahkan Faris untuk mengantarkan Senja pulang ke rumah pribadinya, sedangkan ia langsung ke rumah sakit tempat Ibunya dirawat.
Tadi Faris sempat menjelaskan tentang kondisi Kyara yang beberapa hari ini dirawat karena tekanan darahnya selalu tinggi. Hal itu membuat Rajendra dihantam rasa bersalah yang luar biasa, karena dirinya Ibunya jadi sakit seperti ini.
Rajendra langsung menuju ruang rawat Ibunya setelah sebelumnya bertanya di resepsionis dimana kamar Ibunya. Rajendra berjalan sangat cepat agar segera sampai disana.
Namun, saat ia sampai disebuah lorong yang menghubungkan bagian loby dan ruang perawatan. Langkahnya terhenti tatkala melihat sosok wanita yang berdiri satu garis didepannya.
"Kakak ..." lirih Kalea memandang Rajendra dengan sorot mata berkaca-kaca.
Rajendra membuang pandangannya, mencoba menguasai dirinya agar tidak terpancing untuk segera memeluk wanita yang belakangan ini selalu mengisi hati dan pikirannya itu.
Tanpa mengatakan apapun, Rajendra langsung pergi begitu saja melewati Kalea yang hanya diam mematung. Saat ini ia masih belum siap bertemu dengan wanita itu, mungkin nanti.
Setetes air mata langsung lolos dari sudut mata Kalea karena mendapatkan perlakuan acuh dari Rajendra. Ia sangat merindukan pria itu, tapi kenapa Rajendra seolah tidak peduli padanya?
"Apakah perasaanmu padaku sudah mulai berubah kak?" lirih Kalea dengan air mata yang tak henti mengalir.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1