
Senja melangkahkan kakinya dengan gontai, menyusuri jalan setapak yang penuh dengan polusi. Sejak tadi ia sudah merasakan kepalanya sangat pusing, tapi ia menahannya karena ingin segera menemukan tempat untuk bersembunyi. Tapi Senja baru ingat jika ia tidak punya uang sepeserpun.
"Ya Tuhan, kemana aku harus pergi?" lirih Senja memandang kearah langit yang mulai gelap karena hari sudah sore. Bertambah cuaca yang mendung membuat awan terlihat semakin gelap.
Senja menggosok lengannya dengan kedua tangan. Kebingungan itu terlihat sangat jelas dimatanya, ia tidak punya arah tujuan yang pasti karena ia pun tidak punya siapa-siapa di kota itu. Satu-satunya orang yang ia kenal adalah Rajendra, tapi ia tidak mau kembali lagi kepada pria itu.
Karena terlalu banyak berpikir, Senja menyeberang tanpa melihat kanan kirinya. Hingga ia dikejutkan oleh bunyi klakson yang sangat keras membuat ia langsung menoleh.
"Akhhhhhhh!" Senja berteriak keras saat sebuah mobil yang hampir saja menabraknya. Ia yang terlalu kaget langsung terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
Senja meringis kesakitan begitu lututnya menghantam jalanan dengan cukup keras. Tangannya pun ikut terluka karena ia gunakan untuk menahan tubuhnya sendiri.
"Astaga, maafkan saya Nona."
Seroang wanita cantik turun dari mobil yang telah menabrak Senja. Wanita itu juga kaget saat tiba-tiba saja menyeberang begitu saja. Wanita itu tak lain adalah Kalea.
"Apakah Anda baik-baik saja? Mari saya bantu," ujar Kalea mengulurkan tangannya pada Senja.
Senja mengangkat pandangannya, melihat sosok wanita yang menurutnya begitu cantik. Penampilannya juga sangat elegan dengan kulit indah yang terawat. Wanita didepannya benar-benar sangat cantik sekali, pikirnya.
"Aku tidak apa-apa, aku yang seharusnya minta maaf karena menyeberang tidak melihat," kata Senja menyambut uluran tangan Kalea lalu berdiri.
"Saya juga salah, Nona. Mari saya antar ke rumah sakit, kaki Anda terluka," tutur Kalea dengan lembut.
"Oh, ini hanya luka kecil. Besok juga akan sembuh, aku sudah tidak apa-apa," ucap Senja tersenyum untuk menunjukkan kalau dirinya baik-baik saja.
"Tapi itu berdarah, pasti sangat sakit 'kan? Ayo saya antar saja ke rumah sakit, tidak apa-apa Nona," bujuk Kalea khawatir melihat lutut Senja yang terlihat mengeluarkan darah segar.
"Tidak, tidak, aku benar-benar berterimakasih padamu. Aku akan pergi saja karena aku sangat terburu-buru. Sekali lagi maafkan aku karena menyeberang sembarangan. Aku akan pergi dulu," tolak Senja terus meyakinkan kalau dirinya baik-baik saja. Ia tidak mau membuang waktu dan nantinya akan tertangkap oleh Rajendra.
Kalea masih mencoba untuk menahan Senja, tapi wanita itu kekeh ingin pergi membuat ia tidak lagi bisa berkata-kata. Ia hanya memandang kepergian Senja dalam diam sebelum ia masuk kedalam mobilnya.
Namun, sebelum ia masuk kedalam mobil, matanya tidak sengaja menangkap bayangan sosok pria yang sangat tidak asing baginya keluar dari mobil.
__ADS_1
"Kak Rajendra?" Kalea menyebut nama pria yang menjadi pemilik hatinya itu dengan suara yang lirih.
Rajendra memang masih mencari Senja disekitar rumah sakit tempat wanita itu dirawat. Ia bertanya ke beberapa pengguna jalan yang kebetulan lewat. Tapi ia cukup kesusahan karena tidak memiliki foto Senja.
"Apakah kau yakin tidak melihatnya? Dia memiliki tinggi sekitar 158cm, rambutnya panjang dan menggunakan baju rumah sakit. Apakah kau tidak melihatnya?" Rajendra mengulangi menyebutkan ciri-ciri Senja untuk mempermudah orang mengenalinya.
"Memakai baju rumah sakit? Sepertinya aku melihat," sahut salah satu orang.
"Benarkah? Dimana dia? Apa kau benar-benar melihatnya?" tanya Rajendra begitu mendesak.
"Iya tadi dia ada disana. Kalau tidak salah, wanita itu tertabrak mobil tadi," ujarnya lagi.
"Apa? Tertabrak mobil? Dimana?" Rajendra begitu kaget mendengar ucapan orang itu, kepanikannya langsung meningkat level satu membayangkan apa yang terjadi pada Senja.
"Iya Tuan, disebelah sana."
Tanpa membuang waktunya, Rajendra langsung pergi menuju dimana lokasi Senja jatuh. Ia berharap Senja masih baik-baik saja.
Namun, ia malah dikagetkan dengan kemunculan Kalea diwaktu yang sangat tidak tepat.
Meskipun perkataan Rajendra waktu itu begitu menyakitinya, Kalea masih tidak menyerah. Ia hanya menganggap Rajendra waktu itu sedang dalam kondisi yang tidak baik sehingga melakukan hal itu. Ia masih percaya jika hati mereka masih saling mencintai.
"Lea?" Rajendra terkejut tentunya, pertemuan mereka terakhir kali begitu menyakitkan, kini mereka harus bertemu kembali disaat yang tidak memungkinkan.
"Kakak kenapa ada disini? Kakak tidak ke kantor?" Kalea kembali bertanya, tidak lupa mengulas senyum indahnya kepada pria itu.
"Aku sedang ada urusan, aku pergi dulu." Rajendra menyahut sambil lalu, saat ini ia harus secepatnya pergi untuk mencari Senja sebelum wanita itu pergi jauh.
"Urusan apa? Kakak tidak ingin makan dulu," ucap Kalea menahan lengan Rajendra saat pria itu akan beranjak.
Biasanya jika seperti itu, Rajendra tidak akan menolak, apalagi ia memandang pria itu dengan penuh permohonan.
Namun, kali ini Rajendra menolak dengan menepis pelan tangan Kalea.
__ADS_1
"Lea, aku harap kau tidak lupa dengan perkataanku waktu itu. Lupakanlah aku, kita tidak bisa bersama Lea," ucap Rajendra dengan suara tegasnya. Ia juga langsung berlalu begitu saja dari hadapan wanita itu.
"Kenapa tidak bisa?"
Pertanyaan Kalea meluncur begitu saja membuat langkah Rajendra terhenti, tapi pria itu tidak menoleh sama sekali.
"Kenapa tidak bisa Kak? Berikan aku satu alasan kenapa kita tidak bisa bersama? Jangan terus membohongi perasaan Kakak sendiri, Kakak masih mencintaiku 'kan?" ucap Kalea dengan suara yang cukup keras.
Kalea tidak perduli jika saat ini mereka ada dipinggir jalan yang pastinya banyak sekali orang yang melihat. Ia hanya ingin kenapa Rajendra semudah itu melepaskannya? Apakah benar cinta pria itu hanya sesaat saja?
Rajendra menghela nafas lelah, sama seperti sebelumnya, ia tidak punya jawaban apapun dan memilih langsung pergi begitu saja meninggalkan Kalea.
______
Senja benar-benar sudah seperti gelandangan yang tidak punya rumah. Bajunya yang kedodoran itu semakin membuat ia terlihat sangat berantakan. Ia terus melangkah tanpa arah tujuan yang pasti. Hingga malam menjelang ia masih belum menemukan tempat untuk berlindung.
Duaarrrr!!!!
Suara petir sejak tadi sudah bergemuruh bercampur angin yang cukup kencang. Beberapa toko tampak sudah mulai tutup dan sepi saat rintik hujan mulai membasahi bumi.
"Kemana lagi aku harus pergi?" gumam Senja kebingungan dan terus memeluk dirinya sendiri. Kakinya cukup nyeri karena terluka dan sejak tadi terus berjalan.
Cukup jauh Senja berjalan hingga hujan tidak menunggu lagi, jatuh begitu saja mengguyur bumi dengan sangat deras membuat Senja segera berlari mencari perlindungan didepan salah satu toko yang tutup.
"Hujannya deras sekali," kata Senja berulang kali menggosok lengannya karena hawa dingin yang menusuk. Bajunya juga sedikit basah karena tadi ia terkena air hujan sebelum berteduh.
Duarrrr!!
Semakin lama hujan semakin deras diiringi suara guntur yang saling bersahutan. Senja mendudukkan dirinya seraya menutup telinganya rapat-rapat. Sejak kecil ia sangat takut hujan, apalagi sangat deras seperti ini membuat seluruh tubuhnya menggigil ketakutan.
"Siapapun tolong aku, aku sangat takut," gumam Senja terus saja menutup telinganya rapat-rapat agar tidak mendengar suara guntur yang begitu hebat.
Disela-sela ketakutannya, ada sebuah mobil yang berhenti disamping Senja. Wanita itu tidak begitu mempedulikannya karena perasaan takut yang luar biasa. Sesaat kemudian ia melihat sepasang sepatu yang berdiri tepat dihadapannya membuat ia mendongak untuk melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.