Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 49. Persiapan.


__ADS_3

Setelah lebam diwajah Senja sembuh, wanita itu langsung diajak Kyara untuk menemui Kakek Hardi. Bukannya ingin terburu-buru, tapi Kakek Hardi yang sangat tidak sabar ingin segera bertemu dengan istri dari cucunya. Pria tua itu bahkan sampai ingin datang ke kediaman Rajendra langsung agar segera mengetahui tentang sosok Senja.


Namun, untungnya Kyara masih bisa mencegah dari hari ini ia berencana mengajak wanita itu kesana.


Kyara sudah mempersiapkan segalanya, dari penampilan Senja dan tentang apa yang saja yang mungkin akan ditanyakan oleh Kakek Hardi nanti.


"Kamu nggak usah tegang pokoknya, anggap aja ini lagi pertemuan sama temen. Nanti jawab aja sesuai passion kamu, Kakek lebih suka orang yang apa adanya," tutur Kyara pada menantunya yang hari itu sangat cantik setelah melakukan perawatan.


"Kamu sangat cantik, pantaslah anak Ibu milih kamu. Ibu juga senang lihatnya," puji Kyara mencubit gemas dagu runcing Senja.


Kyara seperti memiliki anak perempuan baru yang bisa ia dandani sesuai keinginannya, apalagi Senja begitu penurut, membuat Kyara sangat menyukainya.


"Ibu, jangan berkata seperti itu. Aku sangat gugup," kata Senja menjalin jari-jemarinya karena perasaan gugup yang luar biasa.


"Tidak usah gugup, Sayang. Ibu yakin kamu bisa melakukan yang terbaik. Cukup menjadi diri sendiri saja, tidak perlu berlebihan," tutur Kyara mengusap lembut lengan menantunya itu.


Senja hanya mengangguk lemah, ia tidak bisa mengontrol dirinya karena membayangkan apa yang akan dilalui. Kemarin saat ia bertemu Ayahnya Rajendra saja sudah tidak bisa berkata-kata, bagaimana sekarang ia bertemu Kakeknya yang sepertinya lebih dingin dari Bara.


"Baiklah, kamu udah siap 'kan? Sekarang hubungi Rajendra, minta dia jemput kesini. Anak itu kebiasaan kalau ada acara selalu terlambat," ujar Kyara setengah mengomel.


"Ehm ...." Senja terlihat kebingungan, pasalnya ia tidak mempunyai nomor Rajendra.


Selama seminggu ini saja ia hampir tidak pernah berbicara dengan pria itu meski tinggal dalam satu rumah. Senja masih enggan untuk bersikap terbuka kepada pria itu jika mengingat apa yang sudah terjadi sebelumnya.


"Kenapa Sayang?" tanya Kyara.


"Ehm itu Ibu, sebenarnya aku tidak punya nomor Rajendra," sahut Kyara menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.


"Astaga, kalian suami istri, bagaimana tidak punya nomor ponselnya?" Kyara terkejut mendengar penuturan menantunya itu.


"Ehm, iya Ibu, sebenarnya aku juga tidak terlalu sering menggunakan ponsel, jadi aku ...."


"Jadi sekarang kamu beneran nggak punya nomornya?" Kyara langsung menyela sebelum Senja menjelaskan.


"Tidak, Ibu." Senja menyahut seraya meringis.


"Sebentar." Kyara mengambil ponselnya di dalam tasnya lalu membuka aplikasi kontak dan mencari nama putranya disana. "Ini, kamu tulis nomornya dan langsung saja hubungi," kata Kyara menyodorkan ponselnya kepada Senja.


Senja sedikit kaget, ia buru-buru mengambil ponselnya dan menulis nomor Rajendra sesuai perintah Ibu mertuanya.

__ADS_1


"Udah? Kamu buruan kirim pesan sama Rajendra suruh jemput di salon langganan Ibu. Habis ini Ibu akan pulang, soalnya masih banyak yang harus diurus. Ini Ayah kamu juga sejak tadi sudah menelepon," kata Kyara lagi, memang menjadi super sibuk hari ini.


Senja hanya menganggukkan kepalanya berkali-kali meski sebenarnya ia masih kebingungan. Begitu Kyara pergi ia malah hanya memegang ponselnya tanpa ada niat untuk mengirimkan pesan kepada Rajendra.


Namun, Senja berpikir ulang, jika ia tidak menghubungi Rajendra, ia pasti akan tetap disini sampai nanti. Jadi ia dengan sangat terpaksa harus mengirimkan pesan itu.


_____*****_____


Rajendra terlihat mendengarkan dengan serius karyawannya yang tengah menjelaskan tentang projects baru untuk perusahaannya. Wajahnya benar-benar sangat serius sekali seolah tidak ada yang bisa mengganggunya. Memang jika sudah bekerja ia akan kembali ke setelan awalnya yang begitu serius.


"Jadi, nanti kita bisa meningkatkan produktifitas pabrik kita yang ada-"


Klunting ....


Namun, situasi serius itu harus terganggu tatkala mendengar suara ponsel Rajendra yang berbunyi diatas meja.


Rajendra segera mengambil ponselnya untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan. Dari wajahnya tampak cukup kesal karena ada yang berani menganggunya. Tapi begitu melihat isi pesan itu, wajahnya langsung berubah.


Jemput aku di salon langganan Ibu, Senja.


Tanpa sadar bibir Rajendra terangkat untuk mengulas senyum manisnya hingga kedua lesung pipinya terlihat. Padahal hanya sebuah pesan, tapi ia sudah sangat bahagia seperti ini.


"Meeting hari ini selesai, kalian boleh kembali ke ruangan kalian masing-masing. Kirimkan saja salinan dokumennya kepada asistenku, aku akan membaca ulang nanti," titah Rajendra benar-benar tidak bisa menyembunyikan raut wajah senangnya hingga membuat karyawannya terheran-heran.


Rajendra hanya meliriknya sekilas lalu mengalihkan pandangannya kembali kearah ponsel, ia segera mengetikkan pesan balasan untuk Senja.


Baiklah, tunggu aku disana.


"Hari ini kalian boleh pulang cepat, istri kalian pasti sudah menunggu dirumah. Hati-hati dijalan," ujar Rajendra mengulas senyum manisnya sebelum pergi meninggalkan ruangan meeting itu. Membuat semua orang kian terheran-heran.


"Apakah aku tidak salah lihat? Dia Rajendra 'kan?" Faris sampai melongo melihat tingkah bosnya yang super pemarah itu tiba-tiba berubah baik.


______


Rajendra benar-benar sangat bahagia sekali setelah mendapatkan pesan dari Senja. Pria itu dengan riang mengendarai mobilnya menuju salon tempat dimana wanita berada. Rajendra beberapa kali melihat penampilannya di kaca spion, memastikan jika ia masih terlihat tampan saat menemui Senja nanti.


Entahlah, ia merasa tidak pernah seperti ini sebelumnya. Ia seperti merasakan gairah yang membuat dirinya sangat bersemangat lagi. Rajendra bahkan lupa kapan terakhir kali ia bisa tersenyum selepas ini.


'Sekarang aku yakin, kalau memang dia yang aku inginkan'

__ADS_1


Rajendra meyakini hatinya jika memang sudah terkunci pada sosok Senja. Kemarin ia saat bersama Kalea seharian, Rajendra merasa bahagia, tapi seperti masih ada beban yang mengganjal. Tidak seperti sekarang yang begitu lega.


Sesampainya di salon itu, Rajendra memutuskan langsung masuk. Ia sudah terbiasa datang kesana untuk mengantar Ibunya, jadi ia sudah cukup mengenal pegawai disana.


"Selamat sore Tuan Rajendra, ingin menjemput istrinya ya?" Pegawai salon itu bahkan langsung menyapa begitu melihat kehadiran Rajendra.


"Ya, dimana dia?"


"Beliau sudah menunggu ada didalam, sebentar saya panggilkan," ujar pegawai itu.


"Tidak usah, aku sendiri yang akan kesana." Rajendra melarang, ia ingin menemui Senja terlebih dulu dan melihat wajah wanita itu segera. Padahal setiap waktu ia bertemu dengan Senja, tapi rasanya tidak pernah puas.


Rajendra berjalan masuk kedalam salah satu ruangan yang ditunjukkan pegawai tadi. Ia membuka pintunya untuk memanggil wanita yang berhasil membuat hatinya porak-poranda itu.


Namun, saat ia masuk, ia malah dibuat tertegun tatkala melihat sosok wanita cantik yang duduk dengan anggun menggunakan gaun yang berwarna dusty pink itu.


"Senja ..." Rajendra sampai tidak bisa berkata-kata melihat kecantikan Senja yang semakin terpancar.


Gaun yang digunakan Senja itu bermodel A line dengan bahu yang terbuka, melihatkan kulitnya yang putih bersih. Rambut panjangnya yang biasanya diikat asal, tampak dibiarkan terurai begitu indah. Riasan tipis yang diaplikasikan menambah kecantikan wanita itu semakin terpancar.


"Sudah datang rupanya, ingin pergi sekarang?" Senja langsung berdiri begitu melihat Rajendra datang.


Rajendra tersentak, ia langsung gelagapan lalu mengalihkan pandangannya, tapi ia kembali melihat Senja kembali. Terlalu menarik perhatian, gimana dong?


"Kau sudah siap? Ya, kita bisa langsung pergi sekarang," sahut Rajendra setelah menguasai dirinya.


"Ya." Senja mengangguk singkat dan mencoba untuk terlihat baik-baik saja, padahal sebenernya saat ini hatinya dilanda kegugupan yang luar biasa.


"Baiklah, ayo." Rajendra mengulurkan tangannya pada Senja.


Senja menatap uluran tangan itu lalu menatap wajah Rajendra yang mengulas senyum manisnya itu.


"Aku bisa berjalan sendiri," tukas Senja tanpa ada niat untuk menyambut uluran tangan itu dan malah langsung nyelonong pergi begitu saja.


Rajendra mengulum bibirnya, ia lalu menarik tangannya kembali dengan perasaan yang sangat canggung. Ternyata Senja masih belum memaafkannya.


'Tidak apa-apa, aku tidak akan menyerah, Senja. Teruslah berlari dan aku akan terus mengejarmu sampai dapat'


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2