Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 17. Revan Yang Menyebalkan.


__ADS_3

Senja membuatkan teh sesuai keinginan pria yang ia tahu sebagai Adiknya Rajendra, yaitu teh biasa tanpa gula. Bukan hal sulit bagi Senja melakukan pekerjaan seperti itu. Dulu ia bahkan bisa mengerjakan pekerjaan yang lebih sulit dari membuat teh.


Setelah selesai membuatnya, Senja segera membawa teh itu ke kamar Revan yang tadi sempat ditunjukkan oleh pria itu. Senja mengetuk pintunya tapi tidak ada sahutan dari dalam.


"Kemana dia?" gumam Senja mengerutkan dahinya.


"Permisi, Tuan? Ini teh Anda."


Senja kembali mengetuk pintu kamar Revan dengan cukup keras. Dan kali ini berhasil mendapatkan sahutan dari dalam sana.


"Masuk saja," sahut Revan dari dalam.


Senja tidak menyahut, ia langsung saja membuka pintu kamar itu dengan membawa teh buatannya. Tapi ia sempat terkejut saat melihat Revan ternyata baru selesai mandi dan hanya menggunakan handuk melilit di pinggangnya, membuat ia buru-buru menundukkan pandangannya.


"Ini teh yang Anda minta, aku taruh dimeja ya," ucap Senja ingin secepatnya pergi, cukup tak nyaman juga jika berduaan dengan pria.


Revan tersenyum kecil melihat tingkah Senja yang malu-malu itu, membuat ia bersemangat untuk melanjutkan rencananya.


"Tunggu sebentar, aku harus mencobanya dulu," kata Revan berjalan santai mendekati Senja yang hanya diam mematung.


"Ini sudah sesuai keinginan Anda, teh tanpa gula," ucap Senja memberitahu jika ia membuat teh sesuai keinginan Revan.


"Hmm ..."


Revan hanya menyahut dengan gumaman rendah, ia mengambil teh yang dibuat Senja lalu meminumnya dengan mata yang tak lepas memandang Senja.


Senja tentu risih dengan sikap Revan itu, rasanya ia ingin sekali mencongkel mata Revan.


"Bagaimana? Sudah sesuai keinginan Anda bukan? Aku akan pergi dulu," kata Senja benar-benar risih.


"Kau terlihat terburu-buru, apa kau tidak ingin melihat sesuatu yang indah?" ujar Revan masih terus saja menatap Senja.


"Tidak terima kasih, ini sudah malam. Sudah waktunya tidur," sahut Senja sedikit ketus meski masih cukup sopan.


"Benarkah? Bahkan jutaan wanita diluar sana banyak sekali yang ingin melihatnya. Jika kau ingin, aku akan menunjukkannya padamu," ujar Revan menebar senyum bergulanya.


Senja menekuk wajahnya, semakin aneh dengan sikap Revan ini.


"Apapun itu, aku tidak ingin melihatnya. Aku permisi dulu," kata Senja buru-buru pergi, tapi Revan dengan cepat langsung menahan tangannya.


"Kau!" Senja hampir saja memaki tapi ia menahannya.


"Kau benar-benar tidak ingin lihat ya? Aku tinggal membukanya saja, yakin tidak ingin melihat?" kata Revan terus saja menggoda Senja.


"Aku bilang tidak ya tidak, lepaskan tanganmu," ketus Senja menarik tangannya dengan kasar.

__ADS_1


"Kalau kau tidak mau, aku saja yang akan memperlihatkannya."


Setelah mengatakan hal itu, Revan langsung saja membuka handuk yang dipakainya dihadapan Senja.


"Akhhhhhhhh!"


Senja reflek berteriak kaget melihat tingkah Revan itu, ia langsung memutar tubuhnya karena berpikir Revan tidak menggunakan apapun


"Hahaha, kau tertipu, hahaha ... sudah aku duga, pikiranmu itu sangat mesum Senja. Hahaha ..."


Revan langsung tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Senja itu. Ia berpikir Senja ini terlalu polos entah bodoh.


"Kau!" Senja berseru kesal karena merasa dibohongi, ia melirik Revan ternyata masih menggunakan celana pendek dibalik handuk.


"Hahaha, apa? Kau ini manis sekali sih, sudahlah kau sudah boleh pergi. Aku sedang malas bermain-main malam ini. Tapi kalau kau benar-benar ingin melihatnya, ya boleh saja ..."


Revan semakin tertawa karena berhasil mengerjai Senja. Sepertinya ia sekarang punya mainan baru yang bisa ia kerjai sewaktu-waktu.


"Dasar pria gila!" umpat Senja segera pergi meninggalkan kamar Revan.


Hatinya dongkol setengah mati dengan sifat Revan ini.


"Arghhhhhhh, sial banget sih hidupku. Udah ketemu Kakaknya yang dinginnya kayak kulkas 12 pintu, sekarang ketemu Adeknya yang setengah gila. Benar-benar menyebalkan."


Senja menggerutu kesal sepanjang ia kembali ke kamarnya. Ia berharap agar bisa secepatnya pergi meninggalkan rumah itu.


________


Ternyata kejahilan Revan malam itu hanya awal permulaan saja. Pasalnya kini setiap hari Revan selalu saja meminta hal aneh-aneh pada Senja. Intinya pria itu hanya ingin membuat Senja kesal saja.


Dari mulai meminta makanan yang langka, meminta mengambilkan ini, mengambilkan itu. Ah, pokoknya tiada hari tanpa membuat Senja kesal. Sepertinya membuat Senja kesal adalah motto hidup Revan.


"Senja!"


Senja menghela nafas panjang saat pagi-pagi sekali mendengar suara Revan. Pria itu sudah dua Minggu disana, tapi Rajendra justru sama sekali tidak datang kesana.


Dengan malas, Senja menyeret langkahnya untuk menemui Revan yang terlihat duduk dimeja makan menikmati sarapannya.


"Ya Tuan?" kata Senja.


"Hari ini kau harus ikut aku," titah Revan melirik Senja yang berdiri tegak di sampingnya.


"Aku?" Senja menunjuk dirinya sendiri, memastikan kalau ia tidak salah dengar.


"Siapa lagi?" Revan menyahut seraya mengangkat alisnya.

__ADS_1


"Memangnya kita akan pergi kemana, Tuan?" tanya Senja ingin tahu.


"Ada deh, pokoknya kau harus ikut kalau kau tidak ingin aku suruh menguras kolam renang. Mau?" kata Revan sedikit mengancam agar Senja mau ikut dengannya.


"Eh tidak, tidak." Senja langsung menggeleng cepat mendengar ucapan Revan itu.


"Ya sudah, kalau tidak mau menguras kolam, cepat ganti bajumu. Aku tidak mau terlambat hanya karena menunggumu, cepatlah," titah Revan seenaknya saja, suka sekali membuat Senja kesal dan tidak berdaya seperti itu.


"Tapi Tuan, aku tidak bisa keluar dari rumah ini," kata Senja ingat tentang peringatan dari Rajendra, jika ia tidak boleh keluar dari rumah itu untuk alasan apapun.


"Kenapa tidak bisa?" Revan menekuk dahinya tidak mengerti.


"Ya, Rajendra yang bilang kalau aku tidak boleh pergi dari rumah ini," ucap Senja seadanya saja.


"Kakakku?" Revan semakin mengernyitkan dahinya. Heran tentunya karena Kakaknya tidak pernah mengurus pembantu mereka.


"Ah, kau pasti bohong padaku. Jangan cari alasan, untuk apa Kakakku mengurus dirimu? Itu tidak mungkin, sudahlah cepat ganti bajumu sekarang," kata Revan sama sekali tidak percaya dengan ucapan Senja.


"Tapi ..."


"Baiklah, sepertinya kau memang sangat ingin menguras kolam renang. Aku akan pergi sendiri saja," sergah Revan langsung bangkit dari duduknya dan bersiap pergi.


"Jangan Tuan, jangan suruh aku menguras kolam renang. Baiklah, aku akan ikut dengan Anda," kata Senja tanpa sadar langsung menahan tangan Revan agar pria itu tidak jadi pergi.


Revan mengangkat alisnya, melirik tangan Senja yang menyentuh dirinya itu.


Menyadari apa yang dilakukan, Senja langsung menarik tangannya sendiri.


"Maaf Tuan, aku tidak sengaja," kata Senja.


"Hem, waktumu lima menit dimulai dari sekarang," ucap Revan kembali ke sifat jahilnya.


"Eh?" Senja gelagapan sendiri mendengar hal itu.


"Aku akan menghitung mundur dari sekarang, satu ..."


"Ya ya, aku akan ganti baju sekarang!" Senja semakin gelagapan, sumpah demi apapun ia ingin sekali memukul wajah Revan yang sangat menyebalkan itu. Ia buru-buru berlari ke kamarnya itu mengganti bajunya karena tidak ingin si Revan menyebalkan itu akan mengerjainya lebih parah jika ia menolak keinginannya.


Semoga saja Rajendra tidak tahu jika ia keluar dari rumah, pria itu memang hanya diam saja, tapi kadang membuat Senja merasa salah tingkah sendiri karena dengan sikap diamnya.


Sementara itu, Revan tidak henti tertawa karena benar-benar puas sekali mengerjai Senja. Padahal sebenarnya hari ini ia ada kelas kuliah, tapi ia malah menghabiskan waktunya untuk menggoda Senja.


Dia itu benar-benar menggemaskan.


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2