Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 24. Tatapan Penuh Luka.


__ADS_3

Rajendra terbangun saat hari sudah sangat siang, ia merasa kegerahan dan menggeliat dari tidur nyamannya. Sesaat ia melihat kondisi luar yang tampak sudah terang benderang. Kepalanya sangat pusing sekali hingga terasa ingin pecah. Ia lalu mencoba bangkit dari tidurnya, dan pada saat itulah ia baru sadar jika ia tertidur tanpa menggunakan sehelai benang.


Rajendra langsung menarik dirinya, mengingat apa saja yang sudah dilaluinya semalam.


Ia pulang kerumah setelah mabuk-mabukan karena rasa sakit hatinya setelah mengakhiri hubungannya dengan Kalea. Lalu perutnya bergejolak karena terlalu banyak minum hingga muntah. Setelah itu ...


Senja?


Rajendra membulatkan matanya saat ingat apa yang sudah dilaluinya. Wanita itu memapahnya kedalam kamar, lalu memberinya minuman. Tapi ia yang sudah gelap mata dan terlalu banyak minum malah menarik wanita itu ke ranjang.


"Oh shitttt, apa yang sudah aku lakukan?" Rajendra mengumpat seraya menjambak rambutnya frustasi.


Rajendra ingat semuanya, Senja yang menangis karena ia telah memaksa wanita itu. Rajendra bahkan sangat ingat saat wanita itu mengigit bahunya setelah ia berhasil memiliki wanita itu.


"Arghhhhhhhh sial!" Rajendra kembali mengumpat, mengutuk kebodohannya yang tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri.


Rajendra merasa harus melakukan sesuatu segera saat ini. Ia buru-buru turun dari ranjang. Tapi saat ia akan turun, ia kembali dikejutkan melihat bercak merah di seprainya yang putih.


Menjadi bukti nyata jika Senja masih suci, dan ia yang telah merenggut paksa kesucian wanita itu.


Rajendra mengusap wajahnya kasar, ia harus segera menemui Senja untuk meminta maaf kepada wanita itu. Entah bagaimana responnya nanti, ia benar-benar harus meminta maaf karena perbuatan tak bermoral yang telah ia lakukan.


_______


Rajendra sudah membersihkan dirinya dan langsung pergi ke kamar Senja. Keadaan rumah sangat sepi karena biasanya jika pagi seperti ini para pelayan sedang sibuk dibelakang untuk membersihkan taman.


Rajendra langsung saja datang ke kamar Senja yang ada dilantai satu. Ia sebenarnya cukup tahu, menerka bagaimana reaksi Senja nantinya. Apakah wanita itu akan marah dan memaki dirinya?


Dengan ragu Rajendra mengetuk pintu kamar itu, tapi secara bersamaan pintu itu terbuka membuat tangan Rajendra terhenti di udara.


"Senja," lirih Rajendra kaget melihat wajah Senja tepat didepannya.

__ADS_1


Ia memandang wanita itu yang tampak sembab dan memerah, pertanda wanita itu masih terus saja menangis.


Senja sendiri begitu kaget melihat Rajendra datang ke kamarnya. Seketika saja bayangan malam menyakitkan itu tergambar jelas diotaknya, membuat ia langsung menundukkan wajahnya dan tidak berani menatap Rajendra.


"Senja, kita perlu bicara," ucap Rajendra mencoba mendekat.


"Pergi, aku tidak ingin membahas apapun," kata Senja langsung menghindar begitu Rajendra mendekat.


Rajendra menghela nafas panjang, ia memandang Senja yang sangat ketakutan itu. Pastilah wanita itu takut karena semalam ia berubah menjadi pria yang mengerikan.


"Aku minta maaf, aku benar-benar minta maaf. Semalam aku ... " Rajendra kebingungan sendiri bagaimana mengatakannya. Karena semalam itu ia antara sadar dan tidak saat menyentuh Senja.


Tapi Rajendra tidak berbohong jika malam yang dilaluinya bersama Senja semalam begitu terkesan. Darahnya bahkan kembali berdesir saat melihat Senja, ditambah ia tidak sengaja melihat tanda merah yang dibuatnya semalam di dada Senja, membuat ia seolah begitu tertarik untuk mendekati Senja kembali.


"Senja, aku tahu aku salah. Semalam aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri. Percayalah aku tidak bermaksud seperti itu, aku minta maaf Senja," ucap Rajendra memberanikan diri untuk memegang tangan Senja.


"Lepaskan aku!" pekik Senja langsung menarik tangannya dengan kasar. Tubuhnya bergetar hebat saat bersentuhan lagi dengan pria yang telah menodainya itu.


"Biasa?" Senja langsung menyela sebelum Rajendra menyelesaikan ucapannya. Hatinya begitu terluka saat Rajendra menganggap kehilangan kehormatan adalah sebuah hal yang biasa.


"Semudah itu kau mengatakan semuanya ini hal yang biasa? Kau mungkin tidak akan pernah ada bekasnya karena kau adalah seorang pria, sedangkan aku? Aku sudah kehilangan semuanya Rajendra, aku hancur dan aku sekarang sudah kotor. Bagaimana bisa kau menganggap itu semuanya biasa? Apakah kau pikir masih ada orang yang mau dengan wanita kotor sepertiku?" Senja berbicara seraya menangis, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali dengan tatapan yang begitu sendu pada Rajendra.


"Tidak akan pernah, tidak akan pernah adalagi pria yang mau dengan wanita kotor sepertiku ..." lirihnya dengan air mata yang tidak henti mengalir membasahi pipinya yang putih.


Rajendra mengigit bibirnya, ia merasa bersalah telah berkata seperti itu. Ia menyesal telah melakukan hal itu, tapi bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur bukan? Ia tidak bisa lagi mengulangi apa yang sudah terjadi.


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku-"


"Apa dengan kata maaf, apa yang telah hilang bisa kembali lagi? Jika iya, aku akan memaafkanmu," sergah Senja memandang Rajendra dengan tatapan penuh luka yang membuat pria itu semakin merasa bersalah.


Senja langsung beranjak pergi meninggalkan Rajendra untuk masuk ke kamarnya, tapi Rajendra dengan cepat menahan tangannya.

__ADS_1


"Lalu apa uang harus aku lakukan agar kau bisa memaafkanku, Senja? Aku menyesal, aku benar-benar minta maaf, aku-"


"Senja!"


Ucapan Rajendra terputus tatkala mendengar suara Revan yang begitu mengejutkan. Ia reflek langsung menarik tangannya kembali sebelum Revan menyadari apa yang baru saja dilakukannya.


"Kakak? Kakak ada disini?" tanya Revan, cukup keheranan melihat Kakaknya ada di depan kamar Senja.


Ada apa ini?


"Oh itu, aku ehm ..." Rajendra kebingungan harus menjawab apa.


"Ingin apa? Kakak tidak sedang memarahi Senja karena masalah semalam 'kan?" Revan menyipitkan matanya curiga, memandang Kakaknya dan Senja bergantian.


Melihat dari ekspresi Senja yang tertekan, membuat Revan berpikir mungkin saja Rajendra baru saja memarahinya karena semalam pria itu cukup tidak suka jika ia pergi bersama Senja.


"Tentu saja tidak, aku memang ada urusan disini. Kau kenapa sudah ada disini? Bukannya kau kuliah?" bantah Rajendra.


"Aku sudah selesai kelas, lagipula ini sudah siang," sahut Revan seadanya, masih memandang Kakaknya dengan curiga, karena tidak biasanya Kakaknya ini mau berurusan dengan pembantu.


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tukas Rajendra tidak nyaman dengan pandangan Adiknya itu.


"Tidak apa-apa, aneh saja kenapa Kakak ada disini. Nggak ke kantor?" tanya Revan.


"Bukan urusanmu aku ke kantor atau tidak. Ini rumahku, jadi aku bebas mau ada dimana saja. Justru kau yang aneh, kenapa kau selalu ada dirumahku? Apa kau tidak punya pekerjaan lain?" cetus Rajendra cukup geram juga dengan tingkah Adik kecilnya ini.


"Itu juga bukan urusan Kakak, aku kesini ingin meminjam pembantu Kakak dulu," kata Revan menanggapinya dengan acuh, ia malah langsung saja menarik tangan Senja agar ikut bersamanya.


"Tunggu dulu!"


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2