
Rajendra pulang kerumahnya saat hari sudah cukup malam. Seharian ini ia habiskan bekerja agar tidak terlalu memikirkan Senja meskipun sebenarnya ia masih sangat kepikiran. Rajendra selalu mencoba itu melupakan wanita itu, tapi nyatanya ia benar-benar tidak bisa.
Sesampainya dirumah, keadaan rumah sudah cukup sepi karena waktu menunjukkan pukul 10 malam, mungkin Ayah dan Ibunya juga sudah tidur. Jadi ia pun memutuskan untuk langsung masuk saja.
Namun, saat ia akan masuk kedalam terdengar suara mobil Adiknya datang membuat Rajendra mengurungkan niatnya. Ia menunggu sampai Adiknya turun dari mobil, tapi ia dibuat heran saat melihat Revan membawa sebuah boneka beruang yang berukuran sangat besar.
Untuk apa?
"Revan?" panggil Rajendra dengan dahi berkerut.
"Kakak? Kakak ada disini?" Revan kaget melihat sosok Kakaknya berdiri didepan rumah.
"Aku rasa kau tidak buta, kenapa kau membawa boneka sebesar ini kerumah? Untuk siapa?" tanya Rajendra penuh selidik.
Wajah Revan berubah pias mendengar pertanyaan dari Rajendra, ia langsung saja menyembunyikan boneka itu meski hal itu sangat tidak berguna.
"Bukan untuk siapa-siapa, hanya ingin membeli saja," jawab Revan asal.
"Kau pikir aku bodoh? Katakan boneka ini untuk siapa?" sergah Rajendra sama sekali tidak percaya, ia terus saja memandang tajam pada Adiknya itu.
"Jangan bilang boneka ini untuk Senja?" tebaknya tidak meleset sama sekali karena Revan langsung diam.
"Kenapa memangnya? Kakak tidak keberatan 'kan aku memberikan ini untuk Senja?" ujar Revan menantang.
"Memberikannya? Memangnya kau tahu dimana dia? Atau kau mungkin yang sudah menyembunyikan dia?" tuduh Rajendra semakin memandang adiknya tajam.
"Apa maksud Kakak? Bukannya dia ada dirumah Kakak?" Revan justru bingung dengan pertanyaan Kakaknya itu.
"Kau yakin tidak tahu dimana dia? Lalu, untuk apa kau membawa boneka ini? Kau tahu 'kan dimana Senja?" Rajendra tidak langsung percaya, ia justru terlihat marah melihat apa yang dilakukan Revan.
Rajendra menebak kalau saat ini mungkin saja Adiknya yang sudah menyembunyikan Senja. Lagipula Senja tidak mengenal siapapun di kota ini selain dirinya dan Revan. Jadi, kemungkinan besar memang Revan lah yang sudah menyembunyikan wanita itu. Rajendra sangat yakin akan hal itu.
"Kakak ini bicara apa sih? Aku tidak tahu dimana Senja, memangnya kemana dia?" Revan kembali bertanya dengan wajah bingungnya.
__ADS_1
"Jangan bohong kau!" bentak Rajendra dengan suara tinggi.
"Bohong apalagi? Aku itu sebenernya heran, sebenarnya ada hubungan apa Kakak dengan Senja? Kenapa Kakak selalu marah jika ada sesuatu yang menyangkut dirinya?" Revan balas membentak, ia juga kesal karena disudutkan seperti ini.
"Tidak penting hubunganku dan dia apa, lebih baik kau katakan dimana dia. Jika kau terus menyembunyikan dia, aku tidak perduli kau adalah adikku Revan," tegas Rajendra begitu tidak sabar.
Revan tersenyum sinis, sekarang ia sangat yakin kalau Kakaknya dan Senja itu memiliki sesuatu yang tidak ia ketahui.
"Aku punya hak untuk menjawab pertanyaan itu atau tidak. Dan sekarang aku memilih untuk tidak menjawab karena itu bukan urusanmu," ketus Revan memilih langsung menyelonong pergi begitu saja seraya membawa boneka beruang yang memang ia belikan untuk Senja.
Rajendra mengertakkan giginya begitu erat, ia melirik Revan dengan tatapan tajamnya. Melihat boneka yang dibawa Revan membuat darah Rajendra semakin mendidih, apalagi ia tahu kalau boneka itu untuk Senja.
"Revan," panggil Revan dengan aura dingin yang mengancam.
Merasa terpanggil, Revan pun menoleh untuk mengetahui apa yang akan dikatakan oleh Kakaknya. Tapi ia langsung disambut pukulan telak dipipinya dengan begitu keras hingga ia langsung terjengkang ke belakang.
"Brengsek!" Untuk pertama kalinya, Revan mengumpat keras didepan Kakaknya. "Apa-apaan kau!" bentak Revan seraya mengusap sudut bibirnya yang robek.
"Aku tidak mau bertanya dua, katakan dimana Senja!" teriak Rajendra benar-benar marah karena ia yakin kalau Revan yang telah menyembunyikan Senja.
"Tidak akan pernah, jika pun aku tahu dimana Senja berada, aku tidak akan memberitahumu," ucap Revan ketus.
Nyatanya hal itu memancing emosi Rajendra yang sudah terpendam beberapa hari ini. Tanpa tendeng aling-aling, ia langsung merangsek maju dan menghantam Revan dengan pukulan telak.
"Bang sat! Kau pikir aku takut denganmu Rajendra? Kita selesaikan sekarang juga!" Revan berteriak tidak terima, ia kali ini membalas pukulan Kakaknya dengan kekuatan yang sama kerasnya.
"Kau yang lebih dulu memulainya ba ji ngan."
Rajendra juga langsung sigap menangkis pukulan Adiknya. Tapi Revan pun memiliki kekuatan yang sepadan dengan Rajendra membuat ia beberapa kali terkena pukulan dan tendangan. Wajah tampan meraka pun sama-sama babak belur, bajunya kotor dan acak-acakan.
"Rajendra, Revan!" Bara berseru kaget melihat kedua putranya terlibat perseteruan sengit seperti itu.
"Apa-apaan ini? Hentikan kalian berdua!" teriak Bara dengan suaranya yang menggelegar dimalam itu.
__ADS_1
Rajendra dan Revan menurut dengan menyudahi perkelahian itu. Nafas keduanya terengah-engah tapi masih saling melempar tatapan sengit.
"Apa-apaan kalian? Revan, cepat minta maaf pada Kakakmu," titah Bara.
"Cih, tak sudi. Anak Ayah yang sudah mulai dulu," ketus Revan meludah kelantai.
"Dan itu semua adalah salahmu," sergah Rajendra tak kalah emosinya.
"Cukup!" Bara kembali membentak untuk melerai kedua putranya itu. "Kalian berdua masuk, kita bicara didalam," titah Bara kemudian.
Rajendra dan Revan saling melirik tatapan sengit, tapi tidak membatah ucapan Bara. Mau semarah apapun mereka, tidak akan bisa melawan Ayahnya karena mereka begitu hormat kepada pria itu.
__________
"Apa ini yang Ayah ajarkan pada kalian berdua? Kenapa kalian bertengkar?" Bara berbicara seraya memandang kedua putranya bergantian.
"Tanyakan saja pada anak kesayangan Ayah itu," celetuk Revan dengan gayanya yang malas.
Bara menghela nafas panjang mendengar ucapan Revan. Ia lalu menatap Rajendra yang hanya diam saja.
"Rajendra, ada apa ini?" Bara bertanya dengan suara beratnya.
"Tidak ada, hanya masalah kecil yang tidak penting. Ada apa Ayah menyuruhku kemari?" bohong Rajendra, tidak mau masalahnya semakin runyam jika Ayahnya sampai tahu apa yang menjadi penyebab mereka bertengkar.
"Jika memang tidak ada masalah, kenapa harus bertengkar? Apa kau lupa kalau kalian berdua bersaudara?" sergah Bara.
"Sudahlah Ayah, aku sedang tidak ingin membahas apapun yang menyangkut dia. Katakan saja kenapa Ayah menyuruhku kemari? Jika tidak penting, sebaiknya aku pergi saja," ujar Rajendra bangkit dari duduknya, emosinya saat ini benar-benar tidak stabil sama sekali.
"Rejendra, dengarkan Ayah," panggil Bara mencoba menahan Rajendra agar tidak pergi, tapi pria itu tetap saja berlalu meninggalkan rumah.
Bara menghela nafas panjang, Rajendra ini memang memiliki sifat yang sangat keras kepala seperti dirinya. Jika pria itu memang tidak ingin membahas hal yang tidak menyenangkan hatinya, maka mau dipaksa seperti apapun juga tidak akan mau menjawab.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.