Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 44. Menangislah, Senja.


__ADS_3

"Revan?" Senja bergumam lirih, sangat terkejut melihat Revan ada disana. Tapi ia merasa cukup lega karena ada orang yang membantunya.


Revan mengeram rendah saat melihat Senja disakiti seperti itu, matanya tampak berkilat-kilat penuh amarah dan tangannya mengepal sangat kuat. Ia menatap Bobi dengan sangat tajam seolah bisa membunuh pria itu jika bisa.


"Sialan!" Bobi mengumpat rendah, ingin memaki siapa orang yang telah menendangnya.


Namun, saat melihat sosok Revan, pria itu sangat terkejut bukan kepalang. Ia terkejut karena tahu jika Revan merupakan ketua dari geng Avegas yang terkenal begitu kuat.


"Aku, aku tidak sengaja melakukannya. Aku akan pergi, maafkan aku, maafkan aku," kata Bobi segera bangkit dan ingin berlari.


Tapi sayangnya Revan tidak mudah melepaskannya begitu saja, ia langsung menarik rambut Bobi sebelum pria itu sempat beranjak.


"Coba ulangi sekali lagi kalau kau tidak sengaja melakukannya, apa kau pikir aku begitu buta sampai tidak melihat apa yang kau lakukan? Dasar pengecut!" bentak Revan dengan suara yang begitu keras, ia bahkan langsung mendorong Boby kearah teman-temannya.


Boby begitu ketakutan, ia menatap sekelilingnya yang sudah ada anak buah Revan.


"Aku benar-benar minta maaf, aku tidak tahu kalau dia wanitamu, aku-"


"Apapun alasanmu aku tidak perduli, kau sudah membuat dia terluka. Itu artinya kau memang sudah siap akan konsekuensinya, beresan dia!"


Revan enggan mendengarkan penjelasan dari Boby, ia sudah melihat sendiri bagaimana pria itu memukul Senja tadi. Ia tentu tidak terima akan hal itu, untung saja ia juga melihatnya karena setiap malam daerah itu menjadi tongkrongan anak muda. Hanya tidak menyangka jika akan bertemu Senja disana.


Setelah mengurus Boby, ia langsung mendatangi Senja yang baru saja bangkit.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Revan memegang lengan Senja. Tapi ia malah kaget melihat hidung Senja berdarah dan pipi wanita itu memar.


"Brengsek! Baji ngan itu yang telah melakukannya?" Revan mengumpat marah melihat hal itu, ia tak bisa membayangkan bagaimana sakitnya luka itu.


"Aku tidak apa-apa Tuan Revan. Terima kasih sudah membantuku, ini hanya luka biasa," kata Senja mencoba tersenyum meski ia harus menahan nyeri dipipinya.


"Kau pikir aku bodoh? Jelas ini terluka dan kau mengatakan baik-baik saja? Kau pikir dirimu wonder woman yang tahan rasa sakit? Ayo ikut aku, aku akan mengobati mu," sergah Revan terlihat begitu kesal, tapi banyak khawatirnya. Terlihat sekali dari raut wajahnya.


Senja sedikit mendengar ucapan Revan, tapi sesaat kemudian ia kembali meringis saat merasakan pipinya yang begitu nyeri.


"Aku benar-benar tidak apa-apa, ini hany-"

__ADS_1


"Shhh diamlah perempuan keras kepala. Aku lebih tahu apa yang harus aku lakukan," sentak Revan langsung saja meraih tangan Senja dan membawa wanita itu pergi ke mobilnya.


Senja tidak membantah lagi, ia hanya menurut saja saat Revan mengajaknya pergi. Sekarang terlihat pria itu mengambil sebuah kotak yang berisi obat-obatan.


"Kemari," ujar Revan menarik lengan Senja hingga keduanya berhadapan.


"Tuan, tapi saya-"


"Kenapa kau ada ditempat ini?"


Lagi-lagi Revan langsung menyela sebelum Senja mengatakan apapun. Ia mengambil sebuah tisu untuk membersihkan luka Senja lalu mengolesinya dengan salep. Posisinya sangat dekat sekali dengan Senja dan ia bisa melihat dengan wajah polos wanita didepannya itu.


"Ehm, aku tadi ...." Senja bingung harus menjawab apa, ia tidak mungkin mengatakan kalau Rajendra yang telah meninggalkannya disana.


"Kenapa? Kakakku meninggalkanmu?" tebak Revan tidak meleset sama sekali karena Senja langsung bungkam begitu saja.


Revan tersenyum sinis melihat hal itu, ia melanjutkan apa yang untuk mengobati Senja yang hanya bisa diam.


"Mungkin dia ada pekerjaan lain," kata Senja.


"Maaf," lirih Senja.


"Kenapa harus meminta maaf? Memangnya kau salah apa?" tukas Revan memandang lurus mata Senja.


Senja yang melihat hal itu langsung menunduk, tidak berani menatap langsung mata Revan. Tapi sesaat kemudian ia merasakan tangan Revan menyentuh dagunya dan mengangkatnya perlahan.


"Jangan meminta maaf untuk hal yang tak pernah kau lakukan. Dan jangan pernah menundukkan kepalamu jika kau tidak bersalah. Hal itu hanya akan membuat lawanmu merasa kau menang, terus tegakkan kepalamu selagi kau merasa yang kau lakukan itu benar. Kau mengerti?" ujar Revan dengan nada yang sangat serius, tapi terselip nada perhatian didalam.


Senja terdiam mendengar ucapan Revan, tapi diam-diam ia menyetujui apa yang Revan katakan. Pria itu ternyata bisa begitu bijak meski terkadang sangat jahil sekali.


"Terima kasih," ucap Senja mengangguk pelan.


Revan tidak menyahut, ia malah terus menatap Senja yang benar-benar sangat polos itu. Pipinya yang lebam itu tidak mengurangi sedikitpun kecantikannya. Membuat jantung Revan rasanya berdebar-debar.


Entah apa yang Revan pikirkan saat itu, ia tiba-tiba mendekatkan wajahnya pada Senja.

__ADS_1


Namun, sebelum ia melakukan hal lebih sorot lampu mobil yang begitu menyilaukan tampak menyorot kearah mereka membuat Revan langsung membuang mukanya meski masih tidak melepaskan Senja.


"Maafkan aku," ucap Revan berbisik lirih ditelinga Senja. Merasa sangat bersalah karena hampir saja berbuat kurang ajar pada wanita yang sudah menjadi milik Kakaknya.


Senja mengangguk pelan, ia pun merasa malu karena hampir saja terlena. Tidak seharusnya ia diam saja saat ada pria lain yang ingin melakukan hal seperti itu padanya disaat statusnya masih menjadi istri orang.


"Ini sudah malam, aku akan mengantarmu pulang," kata Revan lagi.


Senja menatap Revan sesaat. Pulang? Kenapa rasanya ia enggan sekali, ia masih marah dengan Rajendra, dan sekarang ia lebih marah karena pria itu malah dengan seenaknya meninggalkannya.


"Bisakah, kau mengajakku ke suatu tempat?"


______***______


Revan memandang Senja yang tampak makan dengan sangat rakus. Wanita itu terlihat sedang meluapkan kekesalannya dengan makan yang sangat banyak. Terlihat sudut mata Senja sudah basah, tapi wanita itu sekuat tenaganya menahannya. Revan tahu jika saat ini Senja sedang menahan perasaannya.


Senja memang selalu seperti ini, jika ia sedang kesal atau banyak sekali perasaan yang mengganggunya, ia akan makan dengan sangat banyak hingga dadanya terasa sesak. Ia bahkan sampai tersedak karena makan terlalu terburu-buru.


"Uhuk, uhuk!" Senja terbatuk-batuk hingga dadanya terasa sangat sakit sekali.


"Menangislah Senja, kau juga punya hak itu menangis. Luapkan semua yang kau rasakan saat ini, jika memang hal itu bisa membuatmu lega, maka menangislah," kata Revan seraya menyodorkan air putih kepada Senja.


Senja memandang air yang diberikan oleh Revan, lalu bergantian menatap pria itu dengan tatapan sayunya. Melihat tatapan Revan yang begitu teduh, membuat pertahanan Senja jebol juga. Ia menangis sekencang-kencangnya meluapkan rasa sesak yang begitu menghimpit.


"Rasanya, sakit sekali ... Aku ...." Senja tidak bisa menahan dirinya lagi dan Revan langsung memeluk wanita itu dengan hangat, tahu bagaimana rasanya menahan perasaan yang begitu menyakitkan.


Senja sendiri tidak menolak saat Revan memeluknya, saat ini ia memang membutuhkan seseorang yang bisa menjadi sandarannya karena saat ini ia benar-benar tidak punya siapapun dan apapun lagi di dunia ini. Hanya menangis yang bisa ia lakukan sebagai senjata terakhirnya.


"Aku sudah lelah sekali, kenapa Tuhan tidak mencabut nyawaku saja ... Aku sudah tidak tahan lagi," ujar Senja disela-sela tangisnya.


"Jangan pernah berpikir untuk mati, Senja. Jika memang kau tidak bahagia dengan dia, izinkan aku menggantikan posisinya."


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2