
Disisi lain, Senja terlihat memandang sebuah kertas kecil ditangannya dengan perasaan campur aduk. Kebingungan itu tampak sangat jelas sekali dimatanya. Ia lalu mengalihkan pandangannya kearah luar jendela, memandang hujan yang malam itu kembali turun. Mengingatkan Senja pada kejadian satu Minggu yang lalu, dimana ada seorang pria paruh baya yang menemuinya saat ia berteduh waktu hujan deras.
Senja membulatkan matanya begitu melihat sosok pria asing yang tidak dikenalnya. Pria itu berdiri dengan memegang payung hitamnya, membuat wajahnya terlihat cukup menyeramkan. Ia beringsut menjauh karena takut pria itu akan macam-macam. Meski pria itu sudah berumur, Senja masih sangat takut mengingat kejahatan tidak mengingat umur.
"Si-siapa kau?" ucap Senja terbata-bata, terlihat sekali wanita itu sangat ketakutan.
"Namaku Bara."
Bara memperhatikan wanita asing yang ditemuinya itu. Ia sengaja mencari wanita ini setelah mendapatkan semua penjelasan dari Faris tentang bagaimana kisah putranya dan wanita ini terbentuk.
"Bara?" Senja mengerutkan keningnya saat mendengar nama pria tersebut, merasa tidak mengenalnya, bahkan namanya sangat asing baginya. "Aku tidak mengenalmu, pergilah darisini," kata Senja masih sangat takut.
"Kau mungkin tidak mengenalku, tapi kau mengenal putraku," ujar Bara dengan suara dinginnya.
"Putra?" Senja semakin tidak mengerti.
"Rajendra, kau pasti mengenalnya 'kan?" ujar Bara memperjelas.
Mendengar nama Rajendra, sontak membuat Senja begitu kaget, otaknya langsung mengirimkan sinyal bahaya dan ia harus secepatnya pergi. Jika pria didepannya ini adalah Ayahnya Rajendra, artinya pria itu pasti akan mendukung anaknya bukan? Jadi ia harus secepatnya pergi.
"Anda salah orang, Tuan. Saya bukan Senja, aku akan pergi," kata Senja buru-buru bangkit, berniat untuk secepatnya pergi dari hadapan Bara.
"Hei anak muda, kau mau mencoba membohongiku?" Bara langsung menahan tangan Senja sebelum wanita itu pergi.
"Saya tidak tahu maksud Anda Tuan, saya harus benar-benar pergi," ucap Senja sangat takut sekali.
"Jika kau takut aku akan berbuat macam-macam, buang pikiran itu jauh-jauh. Aku tahu apa yang sudah terjadi antara kau dan putraku. Jadi, tidak ada yang perlu kau tutupi lagi," ujar Bara dengan auranya yang begitu berwibawa, membuat Senja pun segan terhadap pria itu.
"Maaf," ucap Senja menunduk tanpa berani mengangkat wajahnya. " Kami hanya tidak sengaja bertemu, dan Rajendra juga sudah ingin kita berpisah. Kami tidak ada hubungan apapun lagi," pungkasnya lagi.
"Hm, aku sudah tahu itu semua. Tapi, disini aku hanya ingin memberikanmu penawaran," kata Bara mengulas senyum misteriusnya.
__ADS_1
Senja tentu sangat kebingungan waktu itu, ia bahkan tidak bisa menjawab apapun saat Bara memintanya melakukan hal yang menurutnya sangat sulit sekali.
"Aku tidak meminta kau menjawabnya sekarang. Pikirkan saja baik-baik, jika kau sudah memutuskan, kau boleh menghubungiku. Ini kartu namaku."
Menyadari jika Senja masih sangat kebingungan, Bara akhirnya memberikan kartu namanya pada Senja, ia juga tidak memaksa untuk Senja mau menuruti permintaannya. Bahkan Bara juga memberikan Senja tempat tinggal dan bersedia menyembunyikan dirinya dari Rajendra.
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Senja kembali memandang kartu nama ditangannya dengan bingung.
"Ah sudahlah, lebih baik sekarang aku menikmati hidupku dulu," kata Senja menyimpan kembali kartu nama itu didalam laci samping kasurnya.
"Daripada aku sibuk berpikir, lebih baik aku pergi mencari makan. Aku sangat lapar sekali," ujar Senja lagi seraya mengambil beberapa lembar uangnya untuk membeli makanannya.
Uang itu juga ia dapatkan dari Bara, meski Senja menolak, pria itu tetap memaksanya. Membuat Senja mau tidak mau menerima uang itu.
_______
Setelah pergi dari rumah orangtuanya, Rajendra memutuskan untuk pulang kerumahnya langsung. Ia mengabaikan rasa ketat diwajahnya dan juga rasa sakit diseluruh badannya setelah pertengkarannya dengan Revan tadi. Saat ini mungkin ia butuh minum atau rokok untuk menenangkan emosinya.
Untuk itu, ia membelokkan mobilnya ke sebuah IndoMei yang ada tidak sengaja ia lewati.
Rajendra langsung saja masuk untuk membeli keperluannya. Ia berjalan menuju tempat minuman berada dan mengambil beberapa kaleng minuman. Ia tahu minuman itu kadar alkoholnya tidak terlalu tinggi, tapi bagi Rajendra itu sudah cukup karena ia malas untuk pergi ke club'.
Setelah mendapatkan barang yang ia butuhkan, Rajendra langsung membayarnya. Tapi karena ia terlalu terburu-buru, tidak sengaja ia malah menabrak seseorang hingga batang belanjaan mereka berdua terjatuh.
"Apa kau tidak punya mata!" hardik Rajendra sarkas.
"Maaf, maaf saya tidak sengaja ... ." Wanita itu menunduk untuk memunguti belanjaannya.
Rajendra mendengus kesal, ia mengambil minumannya hingga wajahnya sejajar dengan wanita yang baru saja ditabraknya.
"Senja?" ucap Rajendra membulatkan matanya begitu melihat wajah wanita yang tidak sengaja ditabraknya.
__ADS_1
Senja sendiri begitu kaget melihat Rajendra disana, ia sama sekali tidak menyangka akan bertemu pria itu disana. Tapi sedetik kemudian Senja ingat jika saat ini ia sedang tidak ingin bertemu dengan pria ini.
Senja langsung buru-buru bangkit dan berlari pergi meninggalkan Rajendra tanpa mengatakan apapun.
"Senja ... ." Rajendra membesarkan matanya melihat Senja yang langsung kabur itu. Ia pun segera mengejar tanpa membuang waktunya.
"Senja, berhenti Senja!" teriak Rajendra.
Senja tidak menghiraukannya, ia langsung berlari keluar IndoMei menerobos hujan yang malam itu masih mengguyur kota Jakarta. Ia benar-benar sudah tidak mau punya urusan apapun lagi dengan Rajendra.
"Senja!"
Rajendra tidak menyerah, ia ikut menerobos hujan yang membuat seluruh tubuhnya basah kuyup. Senja sudah ada didepan matanya, dan ia tidak akan melepaskan wanita itu dengan cara apapun.
"Berhenti Senja!" Rajendra kembali berteriak, berharap jika Senja mau mendengarnya.
Namun, Senja tetap melanjutkan langkahnya dengan sangat cepat. Ia masih begitu marah pada Rajendra setelah apa yang dilakukan oleh pria itu. Tapi secepat apapun ia berlari, Rajendra berhasil menangkapnya berkat kalinya yang panjang.
"Mau lari kemana lagi kau!" bentak Rajendra mencengkram erat tangan Senja.
"Lepaskan aku! Aku tidak punya urusan denganmu," kata Senja menarik-narik tangannya.
"Jangan harap aku akan melakukannya, Senja! Berapa kali aku bilang, takdirmu itu sudah terikat denganku. Jadi jangan coba-coba lari dariku lagi." Rajendra berbicara dengan sangat emosional, pun tatapan matanya yang sangat tajam pada Senja yang terlihat menggigil. Entah karena kedinginan atau takut.
"Kau pikir siapa dirimu ha? Kau bukan Tuhan yang bisa seenaknya saja menentukan takdirku. Aku tidak akhhhhhhh!!!"
Senja belum sempat menyelesaikan ucapannya tapi tubuhnya tiba-tiba diangkat oleh Rajendra lalu pria itu meletakkannya dipundak, menggendong Senja layaknya karung beras.
"Rajendra! Turunkan aku, apa-apaan kau!" Senja semakin berteriak karena ulah Rajendra itu, ia juga langsung memukuli pria itu berharap Rajendra mau melepaskannya.
"Diam atau aku bisa melakukan yang lebih dari ini." Rajendra kembali mengancam tanpa menghiraukan Senja, ia juga langsung memboyong wanita itu menuju mobilnya, tidak perduli meski Senja berteriak, memohon, dan memukulinya.
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.