Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 63. Wanita Terlarang.


__ADS_3

Senja sudah berdandan rapi menggunakan dress yang dibelikan Rajendra waktu kemarin bulan madu. Ia akan diajak Ibu mertuanya untuk melihat pameran lukisan yang diadakan temannya, jadi Senja merasa harus tampil sebaik mungkin karena akan dikenalkan dengan teman-teman ibu mertuanya yang tentu bukan dari kalangan biasa-biasa saja.


"Halo Ibu? Ya, Senja ke depan sekarang." Senja terburu-buru keluar rumah begitu ibu mertuanya menghubunginya.


Senja ingin langsung masuk kedalam mobil, tapi langkahnya terhenti sesaat melihat sosok Revan yang duduk dikursi kemudi dengan wajahnya yang dingin.


"Sudah siap 'kan? Ayo berangkat sekarang, keburu acaranya dimulai nanti," tegur Kyara mengejutkan Senja yang tadinya sedang melamun.


"Iya, Ibu." Senja mengangguk mengiyakan, ia langsung masuk kedalam mobil.


"Sudah, ayo Revan, kamu antar kami dulu ke acara teman ibu. Nanti siang baru boleh keluar," ujar Kyara lagi.


Revan tidak menyahut, ia hanya diam saja seraya mengemudikan mobilnya. Tapi sejatinya ia sedang menahan perasaannya untuk tidak melihat Senja. Wanita terlarangnya yang tidak bisa ia miliki sampai kapan pun.


Sepanjang perjalanan mereka, tidak ada yang berbicara, hanya sekali Kyara bertanya tentang bagaimana honeymoon-nya di pulau Bali. Senja pun hanya menjawab biasa saja, selain malu, ia juga tidak enak dengan Revan.


"Anak teman ibu hebat sekali, sudah bisa menggelar pameran lukisan sendiri," ujar Senja mengalihkan pembicaraan ke hal lain.


"Oh iya, dia memang sudah suka melukis sejak kecil. Lukisannya bagus-bagus," sahut Kyara ikut bangga dengan prestasi anak temannya itu.

__ADS_1


"Wah, aku tidak sabar ingin melihatnya ibu," kata Senja dengan senyum sumringahnya.


Semua hal itu tentu tak luput dari pandangan Revan, pria itu memegangi dadanya yang berdetak kencang. Nyatanya hatinya masih merasa jatuh cinta akan senyuman manis dari wanita terlarangnya itu.


Sesampainya ditempat acara, Revan memilih menghindar, ia tidak mau hatinya mengharu biru melihat Senja yang begitu dekat dengannya tapi tidak bisa ia miliki. Revan terkadang sangat bingung, kenapa harus datang jika akan pergi? Lebih baik Revan tidak pernah mengenalnya sama sekali.


"Revan, kamu bukannya juga sama lukisan? Ayo kita lihat sama-sama, siapa tahu ada yang cocok," ujar Kyara menahan tangan putranya saat akan pergi.


"Ibu saja yang melihat, aku ingin merokok," sahut Revan mencari alasan agar bisa pergi dari Ibunya.


Senja menatap Revan dalam diam, tatapan pria itu tidak pernah berubah, tapi sorot matanya berubah sendu dan membuat Senja merasa tidak enak hati.


"Anak muda memang seperti itu kalau putus cinta," keluh Kyara menghela napasnya.


"Yang membuat seorang berubah, apalagi kalau bukan cinta? Jika merasa bahagia, artinya bisa memiliknya. Tapi jika tidak, pasti sudah bisa ditebak bukan bagaimana akhirnya?" kata Kyara sudah sangat memahami sekali sifat putranya itu.


Senja mengigit bibirnya, andai saja Kyara tahu yang menyebabkan Revan seperti itu adalah dirinya.


"Ayo melihat kesana, itu teman-teman ibu," kata Kyara lagi.

__ADS_1


Senja mengangguk mengiyakan, ia mengikuti saja kemana ibunya mengajaknya pergi. Berkenalan dengan ibu-ibu sosialita dan ngobrol-ngobrol ringan bersama mereka. Senja cukup menikmati kegiatannya itu sebelum seseorang yang tidak diinginkan datang bergabung dan mendominasi pembicaraan.


"Hai Kak Senja, lama tidak bertemu. Kakak apa kabar?" Kalea dengan luwes berbicara seraya melambaikan tangannya pada Senja.


"Kabarku sangat baik," sahut Senja seadanya saja.


"Tentunya baik dong, 'kan habis bulan madu. Ya ampun jeng, sebentar lagi nimang cucu dong ini," celetuk salah satu teman Kyara yang tadi sempat Kyara ceritakan jika Rajendra dan Senja baru pulang bulan madu.


"Bulan madu?" Sorot mata Kalea begitu kaget mendengarnya, ia menatap Senja tajam tapi tidak terlalu terlihat. Dan ia menemukan sesuatu yang membuat hati Kalea mendadak seperti terbakar api cemburu.


"Hahaha, aku emang bakalan nimang cucu kok jeng. Sekarang menantuku sudah hamil dua bulan, atau tiga bulan jalan ya?" ujar Kyara dengan bangga mengatakannya, ia juga mengelus lembut perut Senja yang masih rata itu.


"Iya Ibu," sahut Senja dengan seulas senyum manis dibibirnya.


Kalea mengepalkan tangannya tanpa sadar, untuk menutupi rasa marahnya, ia tersenyum-senyum saja saat para teman-teman Kyara begitu memuji Senja yang terlihat cantik alami itu. Tapi bukan itu yang sejak tadi menjadi fokus Kalea, melainkan cincin yang melingkar di jari manis Senja.


Kalea ingat betul dengan ucapan Rajendra dulu. Dimana pria itu mengatakan hanya akan memasangkan cincin pengikat pada wanita yang tepat. Apakah itu artinya ...


'Aku tidak akan pernah rela, Kak. Kamu sudah berjanji padaku untuk selalu bersama, kenapa jadi seperti ini?'

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2