
Malam sudah sangat larut, tapi Senja masih tidak ingin memejamkan matanya. Sepertinya bangan sekali yang sedang ia pikirkan.
Ia lalu melirik kearah Rajendra terlihat sudah terlelap damai sejak tadi disampingnya tanpa terganggu sedikitpun.
Senja memiringkan tubuhnya, menatap Rajendra yang tertidur damai layaknya malaikat. Pria itu memiliki garis wajah yang begitu sempurna, membuat siapapun wanita dimuka bumi ini pasti tidak akan bisa menolak.
'Kenapa kau harus melakukan hal ini? Tidak bisakah kau jangan merantai hatiku seperti ini? Apa yang sebenarnya kau inginkan?'
Senja tidak tahu kenapa, tapi setiap kali ia ingin membenci Rajendra dan mencoba menghapus rasa cintanya, ia selalu tidak bisa. Padahal pria ini hanya bisa memberikannya luka, tapi kenapa hatinya seolah ingin bertahan dengan luka tersebut?
'Kau itu sangat curang, menjeratku agar selalu mencintaimu. Tapi kau sama sekali tidak ingin merubah perasaanmu.'
Senja sibuk membatin sendiri, mengungkapkan kekesalannya dalam diam dengan pandangan yang terus menatap Rajendra. Tapi semakin dipandang, justru membuat ia terhipnotis.
Entah setan apa yang merasuki Senja, sehingga ia mengulurkan tangannya untuk menyentuh wajah Rajendra. Dari mulai alis, mata, hidung, hingga terakhir dibibir pria itu.
'Dia benar-benar pria yang sempurna, andaikan saja aku bisa memilikinya seutuhnya. Mungkin aku akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini. Apa benar yang dia katakan tadi? Dia mencintaiku?'
senja menghela nafas panjang, tidak ingin berharap lagi untuk hal yang akan menyakiti hatinya kembali. Sekarang ia sudah berjanji untuk membunuh rasa cinta yang membuat hatinya terluka.
Senja segera menjauhkan dirinya. Tapi saat ia ingin menarik tangannya kembali tiba-tiba saja Rajendra menyambar tangannya membuat ia terkejut bukan kepalang.
"Rajendra!" pekik Senja dengan suara tertahan.
"Sudah puas melihat wajahku?" Rajendra berbicara dengan mata yang masih terpejam, seulas senyum mengembang di bibirnya yang manis.
"Kau belum tidur?"
Senja begitu kaget, ia berpikir apakah Rajendra sejak tadi sudah tahu apa yang telah dilakukannya.
"Kau yang membangunkanku," jawab Rajendra membuka matanya, lalu melirik kearah Senja yang masih terkaget-kaget itu.
"Ahhha, ya tidurlah lagi. Aku juga ingin tidur." Senja berbicara kikuk, malu sendiri karena ketahuan memperhatikan Rajendra secara diam-diam.
Senja langsung memutar tubuhnya agar membelakangi Rajendra. Menyembunyikan wajahnya yang memerah malu.
Namun, belum juga ia bernafas dengan tenang, Rajendra kembali melakukan moving dengan merapatkan tubuhnya lalu memeluk dirinya dari belakang.
"Rajendra?" Senja ingin memaki, tapi tubuhnya terkaku karena sentuhan mengejutkan ini.
"Aku sudah terbangun, kenapa harus tidur lagi?" bisik Rajendra mengembuskan yang hangat hingga menerpa leher Senja.
__ADS_1
"Ini sudah malam, aku mengantuk," kata Senja benar-benar tidak bisa berkutik.
"Tapi aku belum," ujar Rajendra semakin memeluk Senja begitu erat.
Senja mengigit bibirnya, ia bingung sendiri harus melakukan apa. Sejak mendengar kalau Rajendra mencintainya, hatinya mendadak mulai goyah kembali. Padahal sebelumnya ia sudah ingin membenci pria ini, tapi kenapa tidak bisa?
Rajendra lalu memutar tubuh Senja hingga keduanya berhadapan. Dalam remangnya cahaya kamar, ia melihat Senja yang sangat gugup itu. Rajendra tersenyum tipis, lalu mengulurkan tangannya untuk menyentuh pipi Senja.
"Kenapa belum tidur?" tanya Rajendra, sejak tadi memperhatikan jika Senja sangat gelisah tidurnya.
"Tidak apa-apa, mungkin ditempat baru, masih menyesuaikan," sahut Senja mencoba menatap kearah lain, menghindari tatapan mata Rajendra yang membuat jantungnya berdetak tak karuan.
"Mau melihat sesuatu yang indah?" Rajendra kembali bertanya.
"Sesuatu yang indah apa?" Senja mengerutkan dahinya tidak mengerti.
"Kau akan tahu nanti, ayo." Rajendra tiba-tiba saja langsung melempar selimut yang menutupi mereka berdua lalu bangkit dan mengulurkan tangannya kepada Senja.
"Eh? Kita mau kemana?" Senja masih diam ditempat karena sangat bingung.
"Sudah ikut saja, aku yakin kau akan menyukainya," kata Rajendra lagi.
Senja sebenarnya ingin menolak, apalagi ia merasa sangat tidak nyaman karena saat ini ia hanya menggunakan kaos Rajendra yang kedodoran tanpa bawahan, sehingga kaos itu hanya menutupi setengah pahanya saja. Senja takut jika akan bertemu keluarga Rajendra, bukankah itu sangat tidak sopan?
"Rajendra, kita mau kemana sih?" Senja bertanya bingung, melihat kesana kemari yang sudah sangat sepi karena semua penghuni rumah itu sudah tidur.
"Sebentar lagi kau akan tahu," kata Rajendra lagi.
Senja mendengus kecil, Rajendra benar-benar tidak memberitahunya akan mengajak kemana. Yang jelas mereka berdua harus berjalan menaiki tangga menuju lantai tiga rumah itu.
Disana ternyata merupakan sebuah perpustakaan yang penuh dengan rak buku. Lalu foto-foto keluarga yang sangat besar dan indah. Disisi lain ada sebuah ruangan lain yang tertutup rapat, lalu disebelah kanannya ada balkon dan Rajendra mengajak Senja kesana.
"Rajendra, kau ini mau mengajakku kemana sih?" gerutu Senja.
"Lihatlah," ujar Rajendra menunjukkan pemandangan dari balkon itu.
"Rajendra?" Senja berdecak kagum begitu melihat pemandangan yang sangat bagus dari balkon itu.
"Bagaimana? Indah sekali bukan?" ujar Rajendra tersenyum tipis melihat reaksi Senja.
"Ini bagus sekali," kata Senja. Benar-benar sangat kagum melihat lampu-lampu kecil yang berjajar dibelakang rumah itu. Terlihat sangat indah karena cahaya yang temaram. Ditambah nuansa taman bunga yang cantik, membuat pemandangan itu sangat indah sekali.
__ADS_1
"Kita juga bisa melihat bintang dari sini, lihat disana," ujar Rajendra menunjuk kearah atas, dimana bintang bertaburan sangat indah bersamaan dengan rembulan malam yang bersinar cerah.
"Coba cari, dimana orang tuamu," kata Rajendra.
"Ha?" Senja terbengong sesaat.
"Ya, Ibuku bilang, kalau orang yang sudah meninggal itu akan menjadi bintang di langit. Pasti kedua orang tuamu ada disana juga," ucap Rajendra mengulas senyum indahnya.
"Aku tidak tahu." Senja menggeleng pelan. Tidak tahu harus bersikap bagaimana, karena sudah terbiasa hidup tanpa orang tua sejak kecil.
"Ehm, kalau begitu ayo kita cari," kata Rajendra lagi, ia memandang kearah bintang di langit.
"Bagaimana mencarinya?" Senja menoleh memandang Rajendra.
"Itu, kau lihat bintang yang paling cerah itu? Dia bersinar lebih cerah dari yang lainnya. Aku rasa itu adalah orang tuamu. Keduanya saling berdampingan, mungkin mereka sedang melihatmu dari atas sana. Ayo, ucapkan sesuatu kepada mereka," ujar Rajendra begitu bersemangat.
Senja ikut memandang bintang yang dimaksud Rajendra. Bintang itu memang bersinar sangat cerah dari yang lainnya. Senja membayangkan, apakah itu memang kedua orang tuanya? Senja ingin sekali bertemu sekali saja jika bisa. Bohong kalau ia merasa tidak rindu, sangat ... Ia sangat-sangat merindukannya.
"Aku ..." Senja ingin berbicara, tapi suaranya tercekat di tenggorokan.
"Ya, katakan sesuatu pada mereka. Mereka pasti senang melihatmu disini," kata Rajendra.
"Aku ... tidak bisa ...." Senja ingin mengatakan kalau ia rindu, tapi kenapa rasanya susah sekali. Hanya matanya yang berkaca-kaca karena teringat momen terakhirnya bersama sang ibu sebelum meninggal.
Rajendra mengerutkan dahinya, memandang Senja yang seperti sangat kesusahan itu. Mungkin Senja tidak terbiasa mengekpresikan dirinya, dia lebih suka memendam, membuat wanita itu tidak bisa mengungkapkan perasaannya.
Rajendra mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Senja dengan erat membuat wanita itu menatap dirinya.
"Bisa, kau pasti bisa, Senja. Ayo berteriaklah, katakan apa yang ingin kau katakan. Kau pasti bisa," kata Rajendra memberikan semangatnya, ingin membuat Senja lebih bisa mengekspresikan dirinya lagi.
Senja memandang Rajendra yang terlihat sangat serius itu, membuat ia ingin mencobanya. Tapi lidahnya sangat kelu, ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya seperti yang orang lain lakukan karena ia terbiasa sendirian sejak kecil.
"Jangan takut mengekspresikan dirimu. Dunia juga harus mendengar apa yang kau rasakan saat ini. Kau bisa, Senja. Katakan kau menyayangi mereka." Rajendra terus berbicara, memberikan semangatnya kepada Senja.
Senja mendengarkan itu semua, ia bisa merasakan apa yang Rajendra inginkan. Membuat dirinya nyaman agar bisa lebih percaya diri lagi. Ia menatap kembali bintang dilangit itu, membayangkan kalau mereka adalah orang tuanya.
"Ayah ..."
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1