
Malam hari sangat indah, suasana di kapal terasa sangat syahdu. Malam itu ada acara besar di kapal pesiar karena natal akan segera datang. Pihak kapal mengadakan pesta di bar yang ada didalam kapal itu.
Rajendra mengajak Senja kesana, rasanya ia juga sudah sangat lama sekali tidak berpesta. Lagipula jika didalam kamar terus, Rajendra tidak akan bisa menahan dirinya karena Senja selalu saja memakai baju saringan yang memamerkan tubuh indahnya. Lama-lama Rajendra akan menerkam wanita itu juga.
"Aku pakai baju kayak gini nggak apa-apa?" Senja bertanya sembari menatap penampilannya, apakah sudah cocok atau belum menggunakan gaun hitam dengan tali kecil serta rok yang memiliki belahan sampai ke paha.
"Memang nggak ada baju lain lagi 'kan?" Rajendra menyahut kesal.
Bagaimana tidak, baju-baju yang disiapkan Ibunya benar-benar membuat Rajendra selalu ketar-ketir karena begitu seksi. Meskipun Senja selalu cantik, tapi ia tidak rela jika istrinya dikagumi orang lain.
"Apa kita nggak pergi aja?" Senja meringis, tidak tega jika melihat Rajendra selalu tersiksa seperti itu.
"Nggak apa-apa, kita kesana bentar aja. Lusa kita akan pulang," kata Rajendra sembari mengulurkan tangannya, meminta Senja untuk mendekat.
Senja mengangguk mengiyakan, ia lalu menyambut uluran tangan itu lalu Rajendra memeluk pinggangnya dan mereka berdua pergi ke tempat pesta.
"Kalau naik kapal, emang selalu ada acara kayak gini?" tanya Senja penuh rasa ingin tahu.
"Ya, tapi kali ini lebih besar karena mendekati natal," sahut Rajendra.
"Aku baru tahu," ujar Senja dengan bibir mengernyit.
"Belum pernah naik kapal?" tanya Rajendra heran.
"Kamu udah tahu jawabannya. Aku cuma pernah naik kapal-kapal biasa yang nganter ke pulau biasanya itu. Bukan kapal yang seperti ini," kata Senja seadanya saja.
"Baiklah, itu tidak masalah. Setelah ini, aku akan mengajakmu keliling dunia. Supaya kamu tahu, kalau ada yang lebih indah dari ini," ucap Rajendra menarik tangan Senja lalu menciumnya.
"Rajendra." Wajah Senja sudah bersemu merah karena sikap manis pria itu.
"Aku boleh nanya sesuatu nggak?" Rajendra tiba-tiba menghentikan langkahnya.
"Nanya apa?"
"Mengenai persyaratan itu, aku hanya tidak boleh menyentuhmu 'kan? Kalau cium boleh?" ujar Rajendra dengan wajah penuh harapnya.
"Eh? Itu sama saja dong, nanti-"
"Baiklah, kalau begitu aku harus minta maaf." Rajendra langsung menyela sebelum Senja menyelesaikan ucapannya.
"Minta maaf buat?" Senja mengernyitkan dahinya bingung.
"Minta maaf karena kali ini aku mau ingkar janji," jawab Rajendra memandang sendu pada Senja.
Senja terkejut, ia ingin mengatakan sesuatu tapi belum sempat karena sedetik kemudian ia merasakan sesuatu yang lembut menempel dibibirnya. Senja membulatkan matanya, Rajendra telah menciumnya!
__ADS_1
Namun, hanya sekejap lalu melepaskannya.
"Udah, udah cukup buat saku. Ayo pergi," kata Rajendra kembali meraih pinggang Senja kembali.
Senja mengulum bibirnya, entah kenapa sekarang malah ia yang merasa tidak rela jika ciuman itu hanya sekejap. Kenapa Rajendra tidak memaksa seperti biasanya?
'Sebenarnya apa sih maunya hati ini,' gerutu Senja kesal sendiri.
______
Kata "wah" rasanya tidak cukup untuk menilai pesta yang diadakan malam itu. Dari semua jamuan dan dekorasi, serta hiburan yang disediakan di pesta itu begitu meriah. Semua orang yang datang juga sudah bisa dipastikan dari kalangan mewah karena biaya untuk naik kapal pesiar sendiri sangatlah fantastis.
Senja sampai terkagum-kagum melihat itu semua.
Rajendra lalu mengajak Senja untuk duduk disalah satu meja yang masih kosong, menikmati persembahan serta mengajak wanita itu makan.
"Mau makan apa?" tanya Rajendra.
"Apa aja deh," sahut Senja tidak terlalu memperhatikan, ia malah sibuk mengambil ponselnya untuk mengambil gambar.
"Kamu main ponsel terus?" Rajendra mengerutkan dahinya, belakangan ini ia perhatikan, Senja sering memakai ponselnya.
"Nggak apa-apa 'kan? Aku cuma mau ambil gambar aja, buat koleksi," kata Senja.
"Mana ada, cuma sedikit," jawab Senja.
"Mana? Coba aku lihat," ujar Rajendra mengulurkan tangannya.
"Yakin? Nggak bagus tapi."
"Bukan masalah, namanya juga belajar. Aku mau lihat," kata Rajendra lagi.
"Ehm ini." Senja tidak menolak, ia memberikan saja ponselnya kepada Rajendra agar bisa menilai hasil jepretannya.
"Kamu juga ikut lihat, sini." Rajendra tiba-tiba saja menarik tangan Senja hingga wanita itu duduk dipangkuannya.
"Rajendra, malu ah, banyak orang," kata Senja mencoba berontak.
"Nggak perlu mikirin orang lain, kita nggak kenal mereka juga. Ayo, tunjukkan padaku bagaimana hasil foto kamu." Rajendra menyahut cuek saja, toh disana semua orang juga sudah biasa melakukan hal seperti itu. Bahkan ada yang lebih parah sampai berciuman bibir.
Senja menurut meski sedikit risih berada dipangkuan Rajendra, ia membuka galeri lalu menunjukan foto-foto yang ia ambil saat gabut dirumah.
"Cuma foto nggak jelas sih, tapi aku suka mengabadikan momen. Buat kenangan," kata Senja.
Rajendra mengangguk mengerti, ia melihat foto yang diambil Senja. Kebanyakan hanya foto bunga yang ada di taman rumah mereka. Rajendra akui cukup bagus juga Senja memilih posisi untuk memfoto agar hasilnya bagus.
__ADS_1
"Gimana menurut kamu? Bagus nggak?" tanya Senja.
"Lumayan." Rajendra menyahut singkat, ia menggeser slide foto selanjutnya untuk melihat semua hasil jepretan Senja. Tapi ia malah dikejutkan dengan sebuah foto dirinya yang sedang tertidur.
"Kyaaaaa! Jangan melihatnya, jangan melihatnya!" Senja berseru panik, ia malu sekali karena Rajendra melihat foto yang ia ambil diam-diam saat pria itu tidur.
"Hahaha, nggak nyangka kamu punya rahasia. Kenapa nggak bilang aja sih kalau mau foto," ejek Rajendra menjauhkan ponsel itu agar Senja tidak bisa mengambilnya.
"Rajendra, kembalikan nggak!" Senja merengek kesal, sumpah ia sangat malu sekali.
"Nggak akan, mendingan kita foto aja berdua. Kamu belum punya 'kan foto kita?" kata Rajendra lagi.
"Nggak ah, aku kesel sama kamu," tukas Senja memasang wajah cemberutnya yang menggemaskan.
Rajendra malah tertawa melihat wajah Senja itu, ia lalu membuka aplikasi kamera lalu mengarahkan kearah mereka berdua.
"Chisss, aku senyum dong," ujar Rajendra mendekatkan wajahnya dengan Senja, ingin mengambil gambar mereka berdua yang bagus.
"Rajendra ih, aku malu." Senja menutupi wajahnya, tidak percaya diri jika harus berselfie seperti itu.
"Nggak boleh malu. Senja, lihatlah."
Senja mencoba menurut, melihat kearah kamera untuk mengambil foto mereka berdua. Bibirnya melengkung membentuk senyuman tipis, membuat Rajendra senang sekali.
"Nah gitu dong senyum, Nyonya Rajendra, i love you," bisik Rajendra membuat Senja menoleh.
Cup
Cekrek
Rajendra langsung mencium bibir Senja saat wanita itu menoleh, tangannya bergerak pelan memencet tombol untuk menjepret foto mereka berdua.
"Rajendra ..." lirih Senja dengan suara yang bergetar.
Rajendra tersenyum tipis, ia kembali mencium pipi Senja sekilas. "Ayo, ambil foto yang banyak. Kamu yang pegang kameranya," kata Rajendra menyerahkan ponsel Senja kembali.
Senja menurut saja, ia juga suka mengambil gambar. Dan untuk pertama kalinya ia mengambil fotonya dengan Rajendra, ia hanya bergaya biasa saja karena masih kaku, tapi Rajendra yang super aktif itu malah sibuk mencium Senja lah, memeluknya, entah gaya apalagi. Yang jelas senyuman dan tawa tak henti tersemat dibibir mereka.
Happy Reading.
TBC.
Mampir kesini yaaa ...
__ADS_1