
Rajendra kembali menemui Senja saat sore menjelang, ia membawakan makanan untuk wanita itu karena ingat sejak tadi Senja belum makan apapun. Sejak tadi setelah berpikir dengan kepala dingin, Rajendra sadar jika apa yang dilakukannya pada Senja memang sangat keterlaluan. Ia tahu betul bagaimana hubungan mereka terbentuk, sekarang kenapa ia malah tidak rela jika mereka harus berpisah?
"Senja," panggil Rajendra begitu ia sampai didalam ruangan rawat Senja.
Wanita itu tampak meringkuk seraya memejamkan matanya, tapi Rajendra tahu kalau Senja tidak tidur. Wanita itu hanya sedang menghindarinya saja.
"Aku membawakan makanan untukmu. Makanlah sedikit, sejak tadi kau belum makan apapun," ucap Rajendra dengan suara yang terbilang cukup lembut daripada tadi.
Senja hanya diam saja, tidak ada niat untuk membuka matanya sama sekali. Melihat wajah Rajendra, hanya mengingatkannya pada kehancuran hidupnya. Jadi ia lebih memilih diam saja tanpa mempedulikan pria itu.
"Senja," panggil Rajendra lagi.
Tapi Senja masih bertahan dengan sikapnya yang terang-terangan menghindari Rajendra. Membuat pria itu cukup kesal tapi ia menahannya.
"Baiklah, aku akan meletakkan makanannya disini. Aku akan membersihkan diriku dulu, jika kau butuh apapun, panggil saja aku," kata Rajendra memandang punggung Senja yang tidak bergerak sama sekali.
Lagi-lagi tidak ada sahutan, membuat Rajendra semakin emosi. Dengan langkah kasar, ia segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Jika Senja terus bersikap seperti itu, bisa-bisa ia akan kembali meledak.
Mendengar suara pintu tertutup, Senja baru membuka matanya. Ia mendengus kesal jika teringat akan Rajendra. Pria dingin yang begitu arogan dan suka semena-mena. Entah kesialan apa yang membuat ia harus terikat pada pria itu sampai sejauh ini. Jika boleh ia memutar waktu, Senja tidak ingin bertemu Rajendra. Ia yakin hidupnya pun akan baik-baik saja.
Bukan terkurung seperti tawanan rumah yang menyedihkan seperti sekarang ini.
Tawanan? Aku rasa tidak, sejak tadi Rajendra bahkan membiarkan aku sendiri dikamar ini tanpa mengawasiku. Itu artinya aku masih bisa pergi.
Mata Senja membulat sempurna saat menyadari hal itu, ia langsung mendudukkan dirinya dengan sangat pelan karena tangannya masih sakit.
Senja melirik kearah kamar mandi dan juga pintu keluar secara bergantian. Sepetinya saat ini sangat cocok ia gunakan untuk kabur, ia bisa bebas dan tidak akan berurusan dengan Rajendra lagi.
"Ya benar, aku harus kabur sekarang," kata Senja mengangguk-angguk pasti, ia sudah bertekad akan pergi karena hidup bersama Rajendra hanyalah ilusi yang tidak pernah ada dalam bayangannya.
__ADS_1
Senja turun dari ranjang dengan sangat pelan, ia mencabut infus ditangannya hingga tangannya kembali mengeluarkan darah. Rasanya begitu nyeri tapi masih bisa ia tahan. Tekadnya sudah sangat kuat untuk pergi dari hidup Rajendra.
Senja melangkahkan kakinya dengan sangat berhati-hati, ia tidak mau sampai Rajendra melihatnya sebelum ia benar-benar pergi. Begitu sampai didepan pintu, ia menoleh sesaat kearah kamar mandi.
"Aku pergi ... ."
________
Rajendra mandi tidak terlalu lama, ia tadi sempat mengirimkan pesan kepada Faris untuk mengantarkan baju ganti untuknya dan juga laptop miliknya. Ia tentu tidak bisa meninggalkan Senja sendirian di rumah sakit itu. Setidaknya sampai Senja benar-benar sembuh, baru ia bisa lebih tenang.
Rajendra langsung keluar begitu urusannya selesai. Tapi ia tertegun sejenak saat melihat kasur Senja kosong, lalu dibawahnya ceceran darah yang tidak terlalu banyak tapi sangat terlihat.
Butuh waktu beberapa detik untuk Rajendra sadar akan apa yang terjadi. Seketika matanya membulat sempurna saat tahu jika Senja telah kabur.
"Oh shittt, wanita itu benar-benar keras kepala. Beraninya dia pergi, arghhh sial!" Rajendra mengumpat penuh kekesalan, ia tidak menyangka akan kecolongan seperti ini.
"Apa yang dia pikirkan, kemana dia akan pergi? Apa dia tidak sadar diluar sana sangat berbahaya," geram Rajendra dengan tangan yang mengepal kuat. Kali ini ia benar-benar kesal karena sudah berani melawan perintahnya dengan pergi meninggalkan dirinya.
"Pergilah sekuat yang kau bisa Senja, aku pasti menemukanmu." Rajendra berdecih seraya berjalan sangat cepat mencari Senja disekitaran rumah sakit itu.
Namun, ia sama sekali tidak melihat Senja ada dimana-mana. Rajendra yakin kalau Senja pasti belum jauh, mengingat kondisi wanita itu yang masih lemah. Tapi kenapa ia tidak menemukannya dimana-mana?
Rajendra tidak menyerah, ia buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi Faris. Disaat bersamaan pula, Ayahnya menelponnya membuat Rajendra semakin kesal. Ia langsung saja mematikan telepon dari Ayahnya dan langsung menghubungi Faris.
"Halo Tuan?"
"Faris, cepat kerahkan anak buah kita untuk mencari Senja," perintah Rajendra dengan segala emosinya.
"Nona Senja? Memangnya beliau kemana, Tuan? Bukannya-"
__ADS_1
"Tidak perlu banyak bertanya, cari saja disekitar rumah sakit Medika. Aku yakin dia masih belum jauh," sergah Rajendra begitu tidak sabar.
Setelah menghubungi Faris, ia langsung mengambil mobilnya dan mencari Senja disekitar sana. Emosinya kali ini benar-benar memuncak, Senja salah karena sudah berani mematik emosi Rajendra ketitik paling dalam.
Aku pasti menemukanmu.
_______
Bara membuka berkas itu dengan cepat, ia membaca isi keseluruhan berkas itu dengan mata tajamnya yang begitu jeli. Hingga ia menemukan sesuatu yang membuat ia begitu syok.
"Ini surat ... ." Bara menggelengkan kepalanya tidak percaya membaca isi berkas itu.
Surat perceraian antara putranya dengan wanita yang bernama Senja? Bagaimana bisa ia tidak tahu kalau putranya sudah menikah dan bahkan akan merencanakan perceraian.
"Apa-apaan ini? Apakah mungkin ini salah?"
Bara masih begitu tidak percaya, ia membaca ulang buku itu dan ternyata surat itu memang benar surat perceraian putranya. Disana juga tertulis tanggal pernikahan mereka yang membuat Bara semakin terkejut.
"Ini benar-benar asli, bagaimana Rajendra menyembunyikan masalah sebesar ini tanpa sepengetahuanku?" gumam Bara mengeram rendah, ia langsung saja mengambil ponselnya untuk menghubungi Rajendra. Ia harus mendengar langsung penjelasan dari putranya itu.
Berulang kali Bara mencoba menghubungi Rajendra, tapi pria itu sama sekali tidak mengangkatnya dan malah mematikannya. Ia tidak menyerah, tapi hasilnya juga sia-sia, Rajendra sama sekali tidak mengangkat panggilannya.
"Anak itu benar-benar keterlaluan, siapa lagi wanita yang dinikahi ini? Jika Kyara tahu, dia pasti akan sakit lagi," gumam Bara memijit kepalanya yang mendadak berdenyut sangat pusing.
Tidak menyangka jika dimasa tuanya ia malah dibuat senam jantung oleh putranya sendiri. Setelah masalah dengan Kalea selesai, Bara bisa bernafas lega. Tapi sekarang muncul masalah baru dengan anaknya menikahi wanita yang entah darimana asalnya. Jika terus-menerus seperti ini, Bara sepertinya akan memiliki penyakit jantung akut.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1