Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 16. Wanita Asing.


__ADS_3

Rajendra memandang lurus mata Ayahnya yang tampak menatapnya sangat tajam. Ia tahu jika pria yang menjadi panutannya itu sedang marah padanya. Rajendra hanya diam saja karena ia tahu ia sudah berbuat salah dalam hal ini.


"Maaf," ucap Rajendra setelah keheningan yang cukup lama.


Bara menghela nafas panjang, ia memang cukup kesal dengan sikap putranya yang memutuskan pergi tanpa memberi kabar. Tapi ia tahu jika ia berada diposisi Rajendra, ia pasti akan melakukan hal yang sama, mungkin lebih parah.


"Temuilah Ibumu, sejak kemarin dia belum ingin makan karena belum mendengar kabar tentang dirimu," ujar Bara masih dengan sikapnya yang serius.


"Iya, Ayah." Rajendra hanya mengangguk singkat.


Rajendra segera berlalu dari hadapan Ayahnya setelah mendapatkan izin. Ia sudah tidak sabar ingin menemui Ibunya agar bisa meminta maaf karena sikapnya yang membuat wanita itu sakit.


"Rajendra."


Namun, sebelum Rajendra masuk kedalam ruangan, suara Ayahnya tiba-tiba terdengar membuat langkahnya seketika terhenti.


"Berjanjilah pada Ayah kalau kau benar-benar akan melupakan dia," ucap Bara menatap putranya dengan sangat serius.


Rajendra tersenyum getir, sepertinya memang sudah tidak ada jalan lagi untuk dirinya dan Kalea. Apakah sekarang waktunya ia menyerah dan melupakan segalanya?


"Jika Ayah memintaku untuk tidak berhubungan dengan dia, akan aku lakukan. Tapi, untuk melupakannya ..." Rajendra menghela nafas sejenak untuk mengurangi rasa sesak di dadanya. "Aku tidak akan bisa," lanjut lagi dengan suara yang begitu lirih, seolah menyimpan rasa sakit yang begitu dalam.


"Bisa, kau pasti bisa melupakannya dia. Mulai besok Ayah akan mengenalkanmu kepada semua dewan direksi kantor. Persiapkan dirimu," kata Bara berusaha bersikap tegas agar Ayahnya tidak lemah.


Mungkin jika Steven tidak menghina putranya, ia masih bisa menerima hubungan itu. Tapi ia adalah Bara, orang yang selalu ingat dengan segala hinaan yang pernah ia dapatkan. Dan ia sudah bersumpah untuk melindungi keluarganya dari hal semacam itu.


Jadi memisahkan mereka memang keputusan yang terbaik.


______


Senja membolak-balikkan tubuhnya berulang kali. Mencoba memejamkan matanya yang sangat lengket dan mengantuk. Tapi sampai malam sudah cukup larut ia belum bisa tidur juga. Terlalu nyaman dengan kasur yang ditempatinya, membuat ia malah tidak bisa tidur. Mungkin juga karena berada ditempat baru, jadi ia belum terbiasa.

__ADS_1


Akhirnya karena lelah dan tidak bisa tidur, Senja memilih turun dari ranjangnya dan pergi ke lantai bawah.


Rumah Rajendra ini sangat besar sekali, Senja sampai bingung harus kemana karena sangking banyaknya ruangan. Selain itu, disana ia hanya tinggal sendirian bersama para pelayan.


Sungguh membosankan.


"Orang kaya memang aneh, untuk apa beli rumah sebesar ini kalau tidak pernah ditempati," gerutu Senja merasa kesal sendiri rasanya.


Sesampainya dilantai bawah, Senja memutuskan untuk menonton televisi besar yang ada ruang tengah. Mungkin nanti bisa mengantuk jika digunakan untuk menonton, pikir Senja.


Namun, baru beberapa menit menonton, Senja malah semakin bosan dan belum mengantuk.


"Ahh, sebel banget sih. Pria sombong itu juga kenapa tidak pulang kerumahnya? Dia mau tidur dimana?" Senja kembali menggerutu melupakan kekesalannya.


Entah ia kesal karena tidak bisa tidur atau karena Rajendra seenaknya pergi begitu saja tanpa memberinya kabar sama sekali. Lalu, untuk apa Rajendra harus membawanya ke Jakarta?


"Bibi, Bibi, cepat buatkan aku kopi dong. Kepalaku sakit sekali Bibi ..."


"Bibi tol-"


Ucapan Revan terputus tatkala matanya menangkap sosok wanita asing yang ada dirumah pribadi Kakaknya.


"Siapa kau?" tanya Revan dengan nada yang cukup tinggi. Seketika ia langsung mengawasi wanita asing itu dari atas sampai bawah.


Senja menelan ludahnya kasar, bingung, takut dan juga panik saat melihat pria yang tidak dikenalnya itu.


"Aku-"


"Siapa? Pembantu baru?" tebak Revan.


Revan menganalisa dari penampilan Senja yang memakai baju seadanya. Tentu sangat biasa saja karena memang Senja tidak punya baju bagus ala kota. Ia hanya memakai kaos polos biasa dipadukan dengan celana panjang kain.

__ADS_1


Senja terdiam, ia bingung harus mengatakan apa. Tapi Senja ingat kata-kata Rajendra yang meminta jangan sampai ada yang tahu tentang pernikahan mereka.


"Hei! Apa kau tidak dengar aku sedang bertanya? Kau ini siapa? Kenapa ada dirumah Kakakku?" tegur Revan menyipitkan matanya, cukup kesal karena diacuhkan seperti itu.


Senja tersentak, ia buru-buru mengangguk cepat. "Ya, ya, aku pembantu baru disini," sahut Senja.


"Oh, kenapa kau tidak bilang daritadi? Ah, aku lelah sekali, tolong buatkan aku minum ehmm .." Revan mengangkat alisnya seraya bergumam, bermaksud untuk menanyakan nama pembantu barunya itu.


"Senja, namaku Senja," sahut Senja dengan cepat.


"Ya Senja, tolong buatkan aku teh hangat, tanpa gula, nanti antarkan ke kamarku. Aku mau mandi dulu," titah Revan seraya memijit kepalanya yang berdenyut pusing.


Senja mengerutkan dahinya, tapi saat kemudian ia mengangguk singkat.


"Aku akan membuatnya," kata Senja terpaksa menarik dirinya dari sofa empuk untuk menjalankan tugas dari Revan itu.


"Ingat ya, tanpa gula," ujar Revan kembali mengingatkan.


"Hemm ..." Senja hanya menyahut dengan malas lalu beranjak menuju dapur yang ada disisi ruang tengah itu.


Revan menatap Senja sampai wanita itu benar-benar lenyap dari pandangannya. Dari wajah Revan terlihat sedang merencanakan sesuatu yang entah apa itu, hanya Revan saja yang tahu.


Hem, sepertinya malam ini akan sangat menyenangkan.


Revan tersenyum kecil saat membayangkan rencananya itu. Seraya bersenandung kecil, ia lalu pergi menuju kamarnya untuk menunggu Senja mengantarkan minuman.


Happy Reading.


TBC.


Visual Revan_

__ADS_1



__ADS_2