
Keesokan harinya, Senja dibuat kaget saat membuka pintu kamar dan menemukan Rajendra tertidur disana. Pria itu terlihat duduk bersandar disamping pintu kamar dengan baju yang digunakan kemarin.
'Itu artinya semalam dia benar tidur disini?'
"Apa dia pikir aku akan luluh setelah dia melakukan ini?" Senja tersenyum sinis.
Bukannya ia senang melihat tingkah Rajendra, tapi ia begitu muak. Rajendra akan selalu bersikap baik padanya jika pria itu berbuat salah. Tapi ujung-ujungnya nanti juga anak kembali mengulangi kesalahan yang sama. Senja benar-benar lelah dan tidak ingin tahu apapun lagi soal Rajendra.
Sekarang ia hanya ingin anak didalam kandungannya ini secepatnya lahir dan ia akan pergi meninggalkan pria ini.
Tanpa menghiraukan Rajendra, Senja langsung berlalu pergi begitu saja menuju dapur. Bawaan bayinya itu selalu lapar setiap waktu, tapi jika sudah makan malah akan mual. Tapi meskipun begitu Senja harus memaksa dirinya untuk makan agar anak didalam kandungannya itu sehat.
Saat Senja melewati ruang tengah, tidak sengaja ia melihat sosok wanita yang baru saja datang. Membuat ia mengurungkan niatnya menuju dapur.
"Ibu?" Senja cukup terkejut melihat Kyara pagi-pagi disana. Ia segera memutar langkahnya untuk menghampiri Ibu mertuanya tersebut.
"Senja astaga! Apa yang terjadi padamu? Kenapa dengan wajahmu?" Kyara langsung berseru kaget begitu melihat wajah Senja yang lebam. Ia buru-buru mendekati menantunya untuk melihat lebih jelas luka itu.
"Ini kenapa Sayang? Kenapa kau bisa mendapatkan luka seperti ini?" tanya Kyara tidak menyembunyikan raut wajah cemasnya.
"Nggak apa-apa, Bu. Ini hanya luka biasa," sahut Senja tersenyum kikuk.
"Luka biasa gimana? Ini jelas lebam seperti bekas pukulan? Apa Rajendra yang melakukannya?" tebak Kyara dengan perasaan yang tidak menentu.
"Bukan, bukan Ibu, ini bukan-"
"Anak itu benar-benar ya. Sekarang kemana dia? Rajendra!" Kyara tidak menghiraukan ucapan Senja, ia malah sibuk berteriak memanggil putranya.
Kyara berasumsi bisa saja kemarin putranya bertengkar hingga melakukan kekerasan fisik. Pasalnya luka dipipi Senja itu jelas sebuah pukulan.
"Ibu, ini bukan-"
__ADS_1
"Sudah, kamu diam. Kemana anak itu? Rajendra!" Kyara kembali berteriak dengan suara yang lebih keras dari sebelumnya membuat Rajendra yang semula masih tertidur langsung terjaga seketika.
Rajendra menatap sekelilingnya dengan bingung, ia heran kenapa tidur dilantai. Tapi sesaat kemudian ia langsung ingat jika semalam itu tidur disana untuk membuat Senja percaya jika ia ingin merubah segalanya.
"Rajendra!"
"Ibu." Rajendra tersentak saat mendengar suara Ibunya ada disana. Ia buru-buru bangkit untuk menemui Kyara yang sudah menunggunya dibawah.
Kyara berkacak pinggang begitu melihat Rajendra turun dari lantai atas. Ia memperhatikan penampilan putranya yang tampak acak-acakan. Dan yang membuat ia heran kenapa Rajendra juga mendapatkan luka dipipinya?
"Ibu? Ada apa kesini sepagi ini?" tanya Rajendra pada Ibunya, tapi ia melihat kearah Senja yang langsung membuang mukanya.
"Tidak penting Ibu mau apa kesini. Sekarang lebih baik kau jawab saja, kenapa wajah istrimu bisa lebam begini? Kau apakan dia?" tanya Kyara melayangkan tatapan yang sangat tajam pada Rajendra.
Rajendra kembali memandang Senja, ia baru memperhatikan jika pipi Senja lebam cukup parah. Ia pun tidak tahu bagaimana Senja bisa mendapatkan luka itu, tapi yang jelas itu salahnya karena tidak bisa menjaga istrinya sendiri.
"Ibu, aku benar-benar tidak apa-apa. Luka ini bukan Rajendra yang membuatnya, tapi karena kesalahanku sendiri," ujar Senja menjelaskan.
"Ya, kemarin Rajendra sedang sibuk di kantor Ibu, dia baru pulang sampai larut malam ketika aku sudah tidur. Mengenai luka ini, aku mendapatkannya karena tidak sengaja jatuh dikamar mandi dan pipiku mengenai lantai," ucap Senja mencoba menutupi masalah yang sebenarnya, ia tidak mau jika Kyara malah menyalahkan Rajendra karena pria itu tidak tahu apapun mengenai lukanya.
"Kau terjatuh? Astaga, tidak apa-apa 'kan? Bagaimana dengan bayinya?" Kyara kembali dibuat kaget mendengar ucapan Senja.
Ia segera mendekati menantunya untuk melihat apakah wanita itu baik-baik saja.
"Aku tidak apa-apa Ibu. Luka seperti ini tidak akan membuatku menjadi sakit, aku bahkan pernah mendapatkan luka yang lebih parah dari ini."
Saat Senja mengatakan hal itu, ia memandang Rajendra dengan tatapan yang sangat Rajendra tahu maknanya.
'Aku terluka saat bersamamu, tapi aku tahu jika aku pergi pun akan lebih terluka. Kenapa mencintaimu harus penuh dengan luka seperti ini? Tidak bisakah aku memintamu hanya untukku?'
Rajendra memandang Senja dalam diam. Ia malah merasa sangat bersalah melihat apa yang dilakukan Senja. Wanita itu masih bisa tersenyum menutupi kebusukannya didepan Ibunya sendiri, padahal wanita itu sedang sangat terluka saat ini.
__ADS_1
'Senja, maafkan aku.'
"Lain kali berhati-hatilah Sayang. Usia kandunganmu itu masih sangat muda dan usia rentan, harus dijaga baik-baik," tutur Kyara mengusap lengan Senja perlahan.
"Iya Ibu, Senja minta maaf. Lain kali aku akan menjaganya dengan baik nanti," kata Senja mengangguk mengiyakan.
"Iya, Rajendra juga harus diperhatikan istrimu, jangan sibuk kerja terus. Kalau terjadi apa-apa pada istrimu, nanti kau akan menyesal," tukas Kyara kembali mengomeli putranya.
Rajendra hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Ia masih sibuk memandang Senja, wanita hebat yang telah ia sakiti berulang kali.
"Baiklah, tadinya Ibu kesini ingin mengajak Senja pergi ke butik untuk mencoba bajunya. Tapi melihat pipinya yang lebam, sepertinya kita tunda dulu saja pertemuan keluarga kita. Nanti Ibu akan menjelaskan pada Kakekmu, biarkan Senja sembuh dulu. Untuk saat ini Senja akan dilatih oleh pelatih khusus agar Senja nanti tidak kaget saat bertemu Kakek," ujar Kyara mengatakan maksud tujuannya.
"Pelatih khusus untuk?" Senja bertanya bingung.
"Ehm, Senja, maaf Ibu bukannya ingin menghina atau apa. Tapi Kakeknya Rajendra itu sangat menjunjung tinggi bagaimana bibit, bebet dan bobot setiap calon anggota yang akan masuk ke keluarga kami. Apalagi Rajendra itu adalah pewaris utama di keluarga kami. Jadi setiap tingkah lakunya diperhatikan oleh publik. Ibu hanya ingin melatihmu agar nantinya tidak kaget saat Rajendra mengajakmu pergi kemana-mana, sekarang kau 'kan istrinya-"
"Ibu, aku rasa ini terlalu berlebihan. Aku tidak ingin Senja nanti-
"Ya aku mengerti Ibu, kapan pelatihannya akan dilakukan?" Senja langsung menyela sebelum Rajendra menyelesaikan ucapannya. Ia tidak merasa sakit hati dengan apa yang dikatakan oleh Kyara karena ia pun sadar akan posisinya.
Rajendra menggeleng tidak setuju. "Kau tidak perlu memaksakan dirimu, yang menikah kita, bukan Kakek," tukas Rajendra.
Senja menatap Rajendra tajam. "Memangnya kenapa? Tidak ada salahnya bukan menjadikan diriku lebih baik? Apa menurutmu hanya dia yang baik?" kata Senja entah berbicara apa.
Ia merasa Rajendra meremehkannya dan ia ingin menunjukkan pada pria itu kalau ia pun bisa menjadi wanita yang berkelas.
"Baiklah, karena Senja sudah setuju. Ibu akan meminta pelatihnya datang hari ini," ujar Kyara tersenyum tipis melihat tekad Senja yang begitu kuat. Apalagi ia bisa melihat sorot mata yang tidak bisa dari putranya, membuat kebahagiaan dalam diri Kyara bertambah.
'Sepertinya hatinya sudah mulai berubah. Semoga dengan kehadiran Senja, bisa membuat Rajendra melupakan Kalea'
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.