
Senja sudah sangat gugup saat mobil Rajendra masuk ke halaman rumah Kakek Hardi yang sangat megah. Belum apa-apa saja Senja sudah merasa sangat minder, terlihat jelas bagaimana perbedaan kasta antara mereka berdua. Memang tidak seharusnya ia dan Rajendra itu bersatu, semuanya terlihat terlalu timpang dan sangat kurang pantas menurutnya.
Rajendra memarkirkan mobilnya di depan pintu utama dan seorang pelayan langsung membukakan pintu untuk dirinya. Setelah itu ia langsung berlari untuk membukakan pintu untuk Senja.
"Eh? Aku bisa membukanya sendiri," kata Senja merasa aneh diperlakukan sangat istimewa seperti itu.
"Tidak apa-apa, ayo masuk. Semua keluarga sudah menunggumu," ujar Rajendra tersenyum manis hingga kedua lesung pipinya terlihat. Ia mengulurkan tangannya pada Senja.
Senja mengigit bibirnya, dalam situasi seperti ini, bisa-bisanya ia mengagumi ketampanan Rajendra. Tapi ia segera membuang pikiran itu jauh-jauh lalu menyambut uluran tangan Rajendra.
Mereka berdua lalu berjalan menuju pintu utama, rasa gugup Senja kian mendera membuat ia meremas lengan Rajendra cukup kuat.
"Tidak apa-apa, aku bersamamu," bisik Rajendra menepuk pelan tangan Senja.
Senja mencoba tersenyum meski cukup kaku, merasa cukup tenang setelah mengatakan itu. Tapi ketenangan itu tidak berlangsung lama, karena begitu masuk ke dalam rumah Senja dibuat tercengang saat melihat keluarga Rajendra sudah berkumpul disana, termasuk Kalea.
Ya, wanita itu memang ikut datang kesana bersama kedua orang tuanya. Ia sudah mencoba berdamai dengan takdirnya entah ia bisa melakukannya atau tidak. Sebelumnya ia membayangkan akan seperti apa wanita yang akan mendampingi pria yang dicintainya selama ia hidup.
Jika wanita itu tak lebih cantik darinya, ia akan mudah mengatakan kalau .. Ah, masih cantikan aku.
Namun, ternyata wanita yang datang bersama Rajendra sungguh diluar dugaannya. Wanita itu benar-benar sangat cantik, bahkan lebih cantik dari dirinya. Kenapa sekarang ia malah tidak terima?
"Ah, akhirnya yang ditunggu-tunggu datang juga. Mana nih istri keponakan aku." Rania yang pertama kali berseloroh untuk mengusir kesunyian. Sebagai menantu tertua, ia harus pintar memposisikan dirinya.
"Iya Kak, Rajendra ayo kemari. Berikan salam pada Kakek," titah Kyara.
Rajendra mengangguk pelan, ia segera menggandeng tangan Senja menuju dimana Kakeknya berada. Pria itu langsung memberikan pelukannya kepada sang Kakek yang sejak tadi hanya diam.
"Apa kabar Kek?" tanya Rajendra mencoba membuat Kakeknya tidak terlalu memperhatikan Senja nantinya.
"Seperti yang kau lihat. Siapa namanya?" Kakek Hardi menjawab sambil lalu, ia lebih mementingkan tentang sosok wanita yang menjadi istri dari cucu kesayangannya ini.
__ADS_1
"Namanya-"
"Biarkan dia sendiri yang menjawab, dia punya mulut 'kan?" tukas Kakek Hardi.
Kyara melirik suaminya, merasa kasihan melihat Senja diperlakukan seperti itu.
"Nama saya Senja," ucap Senja sedikit terbata, ia benar-benar gugup hingga ingin pingsan rasanya.
"Hanya Senja saja? Tidak ada nama keluarga?" tanya Kakek Hardi lagi, tampak belum puas dengan jawaban Senja.
"Ya, hanya Senja saja." Senja mengangguk pelan.
"Aku dengar kau sudah hamil dan menikah dengan cucuku. Apa yang sudah kau lakukan sampai bisa seperti ini? Dimana kalian bertemu?" Kakek Hardi kembali mencerca dengan suara yang cukup ketus.
"Kakek, kenapa Kakek bertanya seperti itu? Kami memang menikah sesuai keinginan kita berdua," sahut Rajendra menggenggam tangan Senja untuk menenangkan wanita itu.
"Menikah itu bukan sekedar hubungan pacaran yang tidak disaksikan oleh, Tuhan. Kalian mempermainkan pernikahan, sama saja mempermainkan, Tuhan. Apa alasanmu melakukan ini? Kau tahu keluarga kita tidak bisa menikah dengan sembarang orang!" sergah Kakek Hardi masih tidak terima cucunya ini menikah diam-diam dibelakangnya.
Senja yang tadinya menunduk saja langsung mengangkat wajahnya begitu mendengar ucapan Rajendra. Ia sama sekali tidak menyangka jika Rajendra ternyata mencintainya.
Bara menarik sudut bibirnya melihat apa yang dilakukan putranya. Mau memperjuangkan wanitanya didepan orang banyak seperti itu bukanlah hal mudah. Sekarang ia yakin kalau Rajendra memang sudah mencintai istrinya.
Kyara pun begitu, ia tersenyum melihat bagaimana Rajendra membela Senja. Pria itu bahkan dengan gamblang mengatakan perasannya meskipun disana juga ada Kalea yang tampak tidak bisa berkata-kata.
"Aku merestui kalian, kapan pestanya akan dilangsungkan?" kata Bara kembali membuat semua orang kaget.
Kakek Hardi langsung berwajah sama mendengar keputusan dari cucunya.
"Ayah mau menerima Senja?" tanya Rajendra ingin memastikan, tapi wajahnya tidak berbohong kalau pria itu sedang berbahagia.
"Tentu saja, dia sedang mengandung keturunan keluarga Prakasa 'kan? Tidak alasan lagi yang bisa menolaknya. Katakan saja kapan kalian siap, aku akan segera mengumumkan pernikahan kalian ke publik," ujar Bara mengulas senyum tipisnya.
__ADS_1
"Sebaiknya secepatnya saja, dia sudah hamil. Akan menjadi konsumsi publik nantinya jika perutnya membesar," timpal Kakek Hardi terpaksa menyetujui pernikahan itu. Mau bagaimana lagi, Senja juga sudah mengandung cicitnya.
"Ehm, tapi aku rasa tidak perlu diadakan pesta besar-besaran. Senja sedang hamil, dia juga sering muntah, nanti dia bisa kecapekan. Cukup adakan syukuran saja pada semua pegawai di kantor. Aku rasa itu lebih baik," kata Rajendra teringat akan kondisi Senja yang sedang mengandung dan masih suka muntah-muntah jika mencium bau yang menyengat.
"Rajendra benar, Senja masih hamil muda. Jika dia kecapekan akan sangat bahaya nanti. Lebih baik diadakan syukuran saja, itu juga lebih bermanfaat. Kita juga bisa berbagi dengan anak-anak yang membutuhkan," timpal Kyara menyetujui perkataan putranya.
"Tapi Rajendra itu pewaris utama perusahaan. Semua orang harus tahu tentang pernikahannya, kita hanya mengadakan pesta satu hari, tidak akan membuatnya keguguran," celetuk Kalea yang sejak tadi diam saja membuat semua orang langsung meliriknya.
"Kalea, apa yang kau katakan?" tegur Rania menatap Kalea tidak suka.
"Oh, maafkan aku Ma. Aku hanya bicara asal, maaf maaf," ujar Kalea menjawab santai, wajahnya tidak ada penyesalan sama sekali.
Senja tentu melihat hal itu, ia mengerutkan dahinya, merasa pernah bertemu dengan wanita itu, tapi dimana pikirnya.
"Baiklah, semua keputusan lebih baik biarkan Rajendra dan Senja yang menentukan. Kita sebagai pihak keluarga hanya bisa mendukung, sudah itu saja," ujar Bara mengambil jalan tengah.
"Ya, lebih baik sekarang kita makan malam saja. Urusan pesta itu bisa dipikir nanti, yang terpenting Rajendra dan Senja sudah menikah, aku senang karena akan memiliki cucu," kata Kyara tidak henti mengulas senyum manisnya, sedikit tidak menyangka jika ia sudah berada dititik sejauh ini.
"Kyara benar, Bibi ucapakan selamat ya untuk berdua. Bibi doakan semoga pernikahan kalian selalu direstui oleh Tuhan dan diberikan kebahagiaan," tutur Rania mendekati Senja seraya mengelus lembut lengannya.
"Terima kasih, Bibi." Senja tersenyum tipis sebagai tanggapan.
Tapi dalam hati ia berpikir keras, tadi Kalea memanggil wanita yang menyebut dirinya Bibi dengan sebutan Mama. Jadi itu artinya, Kalea adalah anak dari Bibinya Rajendra, dalam artian mereka adalah sepupu.
Senja tentu sangat ingat saat Rajendra dulu mengatakan jika cinta tidak direstui oleh orang tuanya karena mereka berdua merupakan sepupu dekat.
'Apakah dia wanita itu?'
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1