Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 23. Ternoda.


__ADS_3

Senja sempoyongan saat memapah tubuh Rajendra yang menurutnya sangat berat. Pria itu memiliki tinggi 180cm dengan bobot 60kg lebih, membuat tubuh mungil Senja cukup kewalahan. Nafas Senja bahkan ngos-ngosan saat berhasil membawa pria itu ke lantai dua.


"Lea ..."


Sepanjang langkah mereka menuju lantai dua, Rajendra tidak henti bergumam-gumam tidak jelas dengan mata terpejam. Sepertinya kesadaran pria itu sudah hampir menghilang.


"Hei, kenapa kau ada disini? Bukannya kau sedang bersenang-senang dengan Revan?" Sesaat Rajendra sadar saat tahu jika wanita yang bersamanya adalah Senja, tapi juga tidak terlalu jelas.


Senja tidak menggubrisnya, ia fokus membawa Rajendra kedalam kamar. Sesampainya di kamar Rajendra, ia langsung menghempaskan tubuh Rajendra lalu mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.


"Air ..." lirih Rajendra dengan mata terpejam.


Senja menoleh, ia langsung sigap mengambilkan Rajendra minum. Pastinya pria itu kehausan karena baru saja muntah-muntah hebat.


"Ini, minum dulu," ucap Senja membantu Rajendra untuk duduk agar mudah untuk minum.


Rajendra menegak air itu sampai habis, tapi kepalanya yang sangat pusing tidak bisa bekerja dengan normal. Ia memandang Senja yang sangat dekat dengannya. Ia tidak berbohong kalau Senja itu memang sangat cantik alami. Kecantikan itu membuat Rajendra seperti terhipnotis hingga tidak bisa berpaling.


"Sudah atau mau lagi?" tanya Senja melirik Rajendra yang hanya diam saja.


Rajendra tidak menjawab, kepalanya terlalu pusing dan matanya sangat berat sekali. Sekarang saja dimatanya Senja ada dua orang. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali untuk melihat Senja dengan jelas. Tapi di otaknya malah teringat akan bagaimana tadi Kalea memohon dan menangis putus asa didepannya.


"Kalau sudah, aku akan pergi ke kamarku dulu," ucap Senja melepaskan Rajendra, merasa tugasnya disana sudah selesai dan ia langsung bangkit dari duduknya.


Namun, baru saja ia bangkit, tangannya langsung ditarik oleh Rajendra hingga ia terjatuh ke kasur yang empuk dan Rajendra langsung mendidih tubuhnya.


"Rajendra!" pekik Senja begitu kaget, ia mencoba bangkit tapi Rajendra malah memeluk dirinya.

__ADS_1


"Lea, jangan pergi. Aku minta maaf, Lea. Maafkan aku." Rajendra merancau tidak jelas, efek alkohol dalam dirinya mulai menguasai seluruh pikirannya hingga begitu kacau.


"Aku Senja Rajendra, sadarlah. Aku bukan Lea!" kata Senja terus saja berontak, ia mulai tidak nyaman dan begitu ketakutan karena tingkah Rajendra ini.


Rajendra mengerutkan dahinya, ia melihat wajah Senja kembali dan memastikan kalau wanita itu bukanlah Kalea.


"Senja?"


"Iya ini aku, lepaskan aku," kata Senja mendorong tubuh tegap Rajendra agar menyingkir dari atas tubuhnya.


Rajendra diam tidak bergerak sama sekali, kepalanya masih terlalu pusing tapi ia ingat segalanya. Ia menatap Senja yang berada dibawahnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Entah kenapa pikirannya mendadak liar saat ingat apa yang dialaminya hari ini.


Bayangan Senja pergi bersama Revan, lalu Kalea yang menangis memohon padanya, semuanya berdesakan diotaknya hingga rasanya kepalanya ingin pecah saat ini juga. Ditambah tentang orangtuanya yang menolak hubungannya dengan Kalea, membuat ia tidak bisa berpikir jernih.


"Tidak boleh ada yang bisa memilikimu, karena kau hanya milikku selamanya," kata Rajendra menatap Senja dengan tatapan tajam.


Rajendra langsung membungkam mulut Senja dengan sebuah ciuman yang begitu panas sebelum wanita itu menyelesaikan ucapannya. Kepalanya sudah tidak bisa lagi menahan rasa sakit yang luar biasa, saat ini ia hanya mengikuti keinginan dalam dirinya yang meminta untuk segera dituntaskan.


Senja menggelengkan kepalanya, mencoba menghindari ciuman itu. Ia juga terus mendorong Rajendra agar menjauh dirinya. Sungguh Senja tidak mau jika sampai Rajendra akan bertindak macam-macam padanya. Meskipun mereka sudah menikah, tapi Senja tidak ingin melakukannya disaat seperti ini.


"Rajendra akhhhhhhh! Lepaskan aku!" Senja berteriak keras saat Rajendra menciumi lehernya, tangisnya sudah tidak bisa ditahan lagi.


Takut, ia benar-benar sangat takut.


Rajendra menulikan telinganya, efek alkohol dalam dirinya sudah benar-benar menguasainya. Semakin lama ia justru semakin liar dengan merobek baju Senja dengan begitu kasar.


"Rajendra! Lepaskan aku, tolong!"

__ADS_1


Senja tidak henti berteriak keras, tangisnya semakin menjadi-jadi saat Rajendra sudah berhasil melepaskan kain yang menempel ditubuhnya.


"Rajendra, aku mohon, sadarlah ... Aku Senja ... ."


Senja rasanya sudah lelah berteriak hingga suaranya hampir habis, tapi tak sedikitpun Rajendra melepaskan dirinya. Seberapapun dia berontak dan menolak pria itu, justru Rajendra semakin liar dan menggila. Sampai akhirnya Senja harus kalah dan mencengkram sprei dibawahnya saat kesuciannya terenggut paksa dengan cara yang menyakitkan.


_______


Senja meringkuk memeluk dirinya sendiri seraya menangis sejadi-jadinya. Semua tubuhnya terasa sakit karena apa yang baru saja dilakukan Rajendra. Tubuh mulusnya terlihat penuh bercak kemerah-merahan karena sikap pria itu, rambutnya pun acak-acakan dan matanya sembab karena sejak tadi ia terus menangis.


Ibu ...


Sekarang apa yang harus dilakukannya? Ia sudah ternoda dan sudah tidak punya apapun lagi yang menjadi pegangannya. Lalu, apalagi yang bisa ia banggakan setelah harga dirinya hilang begitu saja. Bahkan pria yang telah merenggut paksa mahkotanya itu langsung tertidur setelah memaksa Senja memenuhi nafsunya.


Menyadari jika saat ini Senja masih berada satu kasur bersama ba ji ngan yang telah menodainya, ia memutuskan untuk pergi. Meski tertatih-tatih, ia tetap memunguti bajunya sendiri lalu pergi meninggalkan kamar yang menurutnya menjadi neraka baginya itu.


Sesampainya dikamar, Senja langsung masuk kedalam kamar mandi. Menyalakan shower dan membiarkan tubuhnya diguyur air yang begitu dingin. Air matanya tak henti mengalir, bersatu dengan air yang terus mengguyur tubuhnya yang sudah tidak lagi suci.


Aku kotor, aku sekarang hanyalah wanita kotor. Ibu, maafkan aku tidak bisa menjaga diriku sendiri. Maafkan aku ...


Tidak ada yang lebih menyakitkan bagi wanita jika harga diri yang ia jaga mati-matian harus terenggut paksa seperti itu. Saat kesucian itu hilang, semangat hidup pun rasanya ikut hilang begitu saja.


Setelah ini, apa yang harus aku lakukan? Haruskah aku bertahan dengan semua ini? Ibu, bantu Senja ...


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2