Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 51. Perhatian Rajendra.


__ADS_3

Sepanjang acara makan malam itu, Senja bukan sibuk menikmati makanannya. Melainkan ia sibuk melihat Kalea yang berbicara sangat luwes dengan nada suara manja tapi enak didengar. Terlihat Kakek Hardi juga sangat antusias mendengar cerita Kalea, bahkan beberapa kali Kyara ikut menimpali.


Hanya Bara dan Rajendra yang hanya diam saja dan menikmati makanannya tanpa terganggu dengan celotehan Kalea.


"Akhir bulan ini rencana kampus bakalan ngadain tour ke Bali, aku mau ikut, Kek. Sekalian jalan-jalan, atau gimana kalau kita sekeluarga aja yang jalan-jalan saja kesana?" ujar Kalea dengan sangat bersemangat.


"Boleh, sudah lama kita tidak liburan keluarga. Kakek setuju saja, mumpung Kakek masih kuat untuk berjalan," sahut Kakek Hardi mengangguk setuju. "Bagaimana Bara? Steven?" tanya Kakek Hardi menatap kedua cucunya bergantian.


"Terserah bagaimana baiknya saja," jawab Steven melirik Bara yang terlihat hanya memasang datar.


"Bara?" Kakek Hardi beralih kepada cucu kesayangannya itu.


"Semua keputusan tergantung istriku," sahut Bara cuek, malas sekali jika membahas hal-hal seperti itu.


Kyara menatap suaminya, ia menggelengkan kepalanya seraya memukul pelan paha suaminya. "Kenapa harus terserah padaku? Jika kau setuju, aku juga akan berangkat. Tapi menurutku, lebih baik tanyakan saja pada Rajendra, dia yang pengantin baru, kenapa harus kita yang jalan-jalan?" ujar Kyara melirik kearah putranya.


Semua pandangan pun langsung tertuju pada Rajendra, termasuk Kalea yang langsung mengulas senyum manis.


"Aku yakin Kak Rajendra setuju, iya 'kan Kak?" Kalea menyahut dengan begitu percaya diri.


Ia merasa sangat mengenal Rajendra, dan pria itu sangat suka berpetualang, apalagi jika menyangkut tentang pantai. Jadi Kalea yakin kalau Rajendra tidak akan menolaknya.


Rajendra tidak menyahut, melirik pun tidak. Ia malah menatap Senja yang sejak tadi terus menekuri piringnya tanpa ada niat untuk memakan isinya.


"Kenapa hanya melihat makanannya? Kau tidak suka? Atau mau menu yang lain?" Rajendra mengabaikan pertanyaan Kalea dan malah bertanya kepada Senja.


Senja sedikit kaget, ia mengangkat wajahnya dan langsung bertatapan langsung dengan Kalea yang terang-terangan memasang wajah kesal. Ia lalu menatap Rajendra yang sejak tadi terus menatap dirinya.


"Kenapa? Mual?" tanya Rajendra lagi dengan nada yang penuh perhatian.


"Tidak, tidak, aku hanya sudah kenyang," sahut Senja dengan cepat.


"Kau yakin? Jika memang tidak enak, aku akan mencarikan makanan lain. Ingin apa?" ujar Rajendra semakin perhatian, ia bahkan menyerongkan tubuhnya hingga bisa menatap Senja dengan jelas.

__ADS_1


"Iya, aku hanya merasa lelah saja," kata Senja tersenyum kikuk.


"Baiklah, kalau begitu ayo aku akan mengantarmu ke kamar saja," ujar Rajendra bangkit dari duduknya.


"Iya Nak, dia 'kan sedang hamil, pasti capek kalau duduk terus. Istirahat saja, Senja. Tidak perlu sungkan seperti itu, ini rumah Kakek-mu juga," tutur Kyara ikut menimpali.


"Iya, Ibu." Senja mengangguk pelan, benar-benar merasa tidak enak karena diperlakukan sebaik itu.


"Ayo." Rajendra mengulurkan tangannya kepada Senja.


"Aku permisi dulu," ujar Senja seraya menyambut uluran tangan Rajendra lalu keduanya segera berlalu pergi menuju kamar Rajendra.


Hal itu tentu dilihat langsung oleh Kalea, membuat Kalea mengepalkan tangannya, tapi dengan cepat Rania mengelusnya hingga kepalan tangan itu terurai.


Kalea tersenyum tipis kepada Mamanya, tapi ia menahan rasa kesal dihatinya dengan sekuat tenaga. Hatinya panas karena Rajendra mengacuhkannya seperti itu. Padahal sebelum ada Senja, ia adalah prioritas pria itu.


'Aku ingin melepaskannya, tapi kenapa rasanya hatiku masih tidak rela? Bukankah aku yang lebih dulu ada sebelum dia? Kenapa harus aku yang mengalah?'


"Malam ini kita menginap disini dulu tidak apa-apa 'kan? Mungkin besok kita bisa pulang. Kakek mengatakan padaku untuk menginap dulu."


Rajendra berbicara saat keduanya masuk ke dalam kamar pria itu. Ia lupa belum mengatakan kepada Senja kalau Kakeknya meminta untuk menginap.


"Ehem, tidak apa-apa," sahut Senja sekenanya saja, ia sibuk melihat kamar Rajendra yang tampak sangat luas dan megah itu.


"Ya, sekarang gantilah bajumu. Di dalam lemariku ada kaos yang bisa kau pakai. Nanti aku akan meminta Faris untuk mengirimkan bajumu," tutur Rajendra lagi.


Senja hanya diam saja, ia melirik kearah Rajendra yang sejak tadi masih merangkul pinggangnya. Senja lalu teringat akan ucapan pria itu yang mengatakan kalau pria itu mencintainya, apakah itu semua benar?


"Ehm, bolehkah aku bertanya?" kata Senja cukup ragu, ia menjauhkan dirinya dari Rajendra karena merasa kurang nyaman.


"Bertanya apa?" Rajendra mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Tentang tadi, kenapa kau mengatakan kalau kau mencintaiku? Kenapa harus berbohong kepada semua orang? Bukankah hal itu akan membuat situasi semakin rumit?" kata Senja mengutarakan unek-uneknya, ia tidak mau terlalu percaya diri dan menambah sakit hatinya.

__ADS_1


Rajendra mengerutkan dahinya semakin dalam. Ia lalu berjalan mendekati Senja dengan perlahan. Ia berjalan sangat dekat dengan wanita itu hingga tubuhnya bersentuhan. Tatapan matanya terus menatap Senja yang hanya bisa terpaku.


"Berbohong?" Rajendra memiringkan bibirnya. "Aku tidak berbohong untuk yang kali ini. Aku memang mencintaimu," kata Rajendra dengan nada seriusnya.


"Cih, jangan berbicara omong kosong, Rajendra. Semua orang bahkan tahu kalau perasaanmu masih untuk sepupumu itu," tukas Senja tersenyum sinis bercampur miris. "Dia sangat cantik, sangat cocok denganmu. Wanita berpendidikan dan juga dari kasta yang sama denganmu. Kenapa tidak memperjuangkan saja cinta kalian berdua? Mungkin kalian akan menjadi pasangan yang sangat ideal," ucap Senja menahan nyeri dihatinya saat mengatakan hal itu.


Rajendra tersenyum tipis, membuat Senja merasa semakin kesal.


"Kenapa kau tersenyum? Apakah ada yang lucu? Oh, atau mungkin apa yang aku katakan itu benar? Kau memang ingin berbalikan dengan dia 'kan?" sergah Senja cukup emosional.


"Bukan, aku hanya merasa kalau kau cemburu itu sangat lucu sekali," kata Rajendra masih dengan senyum manisnya sehingga kedua lesung pipinya terlihat.


"Apa? Cemburu?" Senja membesarkan matanya mendengar ucapan pria itu.


"Ya, kenapa tidak bilang saja. Aku tidak suka melihatmu berdekatan dengan dia, Rajendra. Bukankah itu lebih menyenangkan?" kata Rajendra semakin melebarkan senyumnya.


"Cih, tidak sama sekali ya, Rajendra. Justru aku senang kalau kau memang ingin kembali dengan dia, dengan begitu aku bisa bebas dan pergi sejauh mungkin dari hidupmu," tukas Senja.


Wajah Rajendra langsung berubah mendengar ucapan Senja. Ia meraih pinggang wanita itu dengan cepat.


"Apa-apaan sih? Lepasin!" seru Senja benar-benar merasa kesal dengan Rajendra.


Rajendra tidak menggubrisnya, ia malah langsung memeluk Senja dengan sangat erat dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher wanita itu.


"Jangan katakan itu lagi, Senja. Aku sangat memohon padamu, tolong jangan pergi dariku. Mungkin kau masih tidak percaya dengan perasaanku, tapi aku tidak akan menyerah Senja. Aku benar-benar mencintaimu, Senja. Aku ingin kita hidup bersama dengan anak kita nanti, tolong jangan pernah pergi dariku, Senja. Aku sangat memohon padamu ...." ucap Rajendra dengan suara lirihnya, terdengar nada ketakutan dan permohonan yang sangat dalam dari suaranya yang berat itu.


Senja begitu kaget dengan sikap Rajendra ini, ia ingin melepaskan pelukan itu, tapi Rajendra memeluknya sangat erat. Ia bisa merasakan ketulusan dari nada suaranya yang membuat hatinya bergetar hebat.


'Haruskah aku percaya padanya?'


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2