
"Eh apa ini?" Senja tiba-tiba dibuat kaget saat Rajendra menyentuh tangannya serta memberikan sesuatu dijari manisnya.
"Cincin?" Senja tidak bisa menyembunyikan raut wajah kagetnya begitu melihat benda berkilauan di jari manisnya. Sebuah cincin yang memiliki batu pertama pink dan terlihat sangat elegan.
"Rajendra?" Senja memandang Rajendra dengan raut wajah terkejutnya.
"Suka nggak? Waktu beli kemarin, pengennya ngajak kamu. Tapi aku sibuk banget, aku pikir bakalan kebesaran, ternyata pas," ucap Rajendra mengulas senyum tipis sembari mengelus tangan Senja.
"Kamu beliin cincin buat aku?" Senja bertanya dengan suara bergetar menahan tangis.
Memang terdengar sangat lebay, tapi bagi Senja hal itu sangat mengharukan. Rajendra memberikannya cincin yang begitu cantik sekali. Tapi bukan karena kecantikan itu yang membuat Senja terharu, tapi karena Rajendra memberikan benda yang bisa dilambangkan sebagai pengikat.
"Iya, maaf banget baru beli sekarang. Padahal kita nikah udah tiga bulan. Kamu nggak apa-apa 'kan?" ujar Rajendra masih dengan senyum manis sehingga lesung pipinya terus terlihat.
"Nggak apa-apa." Senja menggeleng pelan. "Aku bahkan nggak pernah mimpi punya cincin seperti ini, terima kasih Rajendra." Senja berbicara lirih, memandang penuh cinta pada pria yang menjadi pemilik hatinya itu.
Rajendra tersenyum tipis, mengusap air mata Senja perlahan. "Aku yang harusnya berterimakasih. Terima kasih Senja, terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Aku mencintaimu," ujar Rajendra mencium kedua tangan Senja dengan lembut.
Tangis Senja tak tertahankan lagi, tapi kali ini tangisan kebahagiaan. Ia mengangguk pelan, dengan mata yang masih memandang sendu pada Rajendra.
Rajendra pun begitu, memandang Senja dengan pandangan yang sendu dan penuh cinta. Hingga sesaat kemudian, hanya lewat pandangan, Rajendra dan Senja mendekatkan dirinya, saling menyatukan bibirnya dengan penuh cinta.
Rajendra mencium Senja sangat lembut hingga membuat Senja terbuai. Bukan ciuman penuh nafsu seperti biasanya, tapi ciuman itu terasa sangat penuh perasaan yang menggebu, dengan hati yang saling berdebar-debar karena rasa cinta yang meluap-luap.
Suara angin dan deburan ombak seolah ikut bertepuk tangan melihat perayaan cinta dari kedua insan manusia itu. Suasana malam itu benar-benar menambah syahdu moment yang tercipta.
Setelah cukup lama, Rajendra melepaskan ciumannya, tapi tidak melepaskan pelukannya. Masih menikmati malam bersama Senja yang duduk dipangkuannya. Benar-benar momen yang sangat indah dan tidak akan terlupakan. Senja bahkan tidak henti menatap cincin yang melingkar di jari manisnya.
"Sudah mengantuk belum?" tanya Rajendra.
"Ehm, lumayan." Senja menyahut lirih.
"Mau kembali ke kamar?" tanya Rajendra lagi.
__ADS_1
"Boleh, tapi aku mau ke toilet sebentar," kata Senja yang sejak tadi menahan ingin buang air karena masih larut dalam kesenangan.
"Akan aku antar." Rajendra pun ikut bangkit, tidak mungkin membiarkan istrinya berjalan sendirian dikeramaian seperti itu. Apalagi disana banyak sekali pria.
Senja tidak menolak, ia pun takut jika harus berjalan sendiri diantara orang asing itu.
"Udah, kamu sampai disini aja," ujar Senja menahan langkah Rajendra saat ingin masuk ke lorong yang menghubungkan dengan toilet.
"Nggak mau aku temenin sampai masuk?" goda Rajendra.
"Enggak! Sampai disini aja." Senja menyahut dengan tegas.
"Hahaha, aku hanya bercanda, masuklah." Rajendra mengacak-acak gemas rambut Senja.
Senja mencibir pelan sebelum berlalu pergi ke toilet. Entah kenapa ia merasa Rajendra sangat tampan sekali malam itu. Biasanya juga tampan, tapi malam itu ketampanan Rajendra bertambah berkali-kali lipat. Apa karena ia semakin mencintai pria itu? Sehingga ia melihatnya seperti pangeran.
Senja terkekeh-kekeh geli, dari dulu Rajendra 'kan memang sangat tampan. Ia saja yang begitu beruntung bisa menikah dengan pria sempurna seperti Rajendra.
Senja lalu melirik cincin yang diberikan oleh Rajendra, mendadak malah hatinya yang diliputi rasa bersalah. Rajendra 'kan memang berhak atas dirinya karena pria itu adalah suami sahnya.
Setelah berpikir cukup lama, Senja segera keluar dari toilet. Sepetinya ia sudah sangat lama di dalam sana, Rajendra pasti sudah menunggu.
Senja pun berjalan cepat untuk keluar, tapi karena terburu-buru ia malah tidak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang berlawanan arah.
"Arghhhhhhhh!" Senja berteriak karena hampir saja terjatuh, tapi untung saja pria yang ditabraknya itu menahan pinggangnya.
"Berjalanlah dengan benar!" bentak pria itu membuat Senja kaget.
"Maaf, maaf, saya-" Senja ingin berbicara, tapi pria yang ditabraknya justru memegang tangannya dengan sangat kuat, nyaris mencengkram.
"Kau?" Pria itu menatap Senja dengan pandangan terkejut.
Senja mengerutkan dahinya, ia melirik sekelilingnya yang hanya ada mereka berdua. Senja bingung kenapa respon pria itu seperti mengenal dirinya.
__ADS_1
"Tuan mengenalku?" tanya Senja, benar-benar bingung karena ia tidak pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.
Pria itu tidak langsung menyahut, ia menyoroti seluruh diri Senja dengan pandangan yang tajam. Ia juga menatap lekat-lekat wajah Senja, lalu sesaat kemudian pergi begitu saja tanpa mengatakan apapun.
Senja mengernyitkan dahinya, merasa semakin aneh dengan pria itu. Ganteng sih, tapi kelakuannya sangat-sangat aneh.
"Mungkin pria itu punya gangguan ingatan," gumam Senja tidak terlalu memikirkannya, ia segera berlalu menemui Rajendra.
______
Malam sudah sangat larut, tapi Rajendra masih belum tidur karena pria itu masih menikmati rokok. Ia tidak bisa tidur sebelum merokok terlebih dulu. Ia juga menunggu Senja yang sejak tadi ada di kamar mandi entah untuk apa karena sudah sangat lama.
"Senja? Kamu baik-baik saja 'kan?" teriak Rajendra ingin memastikan apakah istrinya itu baik-baik saja atau tidak karena tidak ada suara apapun.
Tidak ada jawaban membuat Rajendra cukup panik, ia mematikan rokoknya kemudian memutuskan bangkit dari duduknya untuk menyusul Senja ke kamar mandi.
"Senja? Kamu nggak apa-apa 'kan?" teriak Rajendra sembari mengetuk pintu kamar mandi dengan cukup keras.
Masih tidak ada jawaban, membuat Rajendra semakin panik. "Senja? Aku masuk ya? Kamu baik-baik saja 'kan?" Rajendra mengulangi pertanyaan yang sama untuk memastikan lagi apakah istrinya itu baik-baik saja.
Namun, lagi-lagi tidak ada jawaban. Rajendra yang sudah panik langsung memutuskan untuk membuka pintu kamar mandi. Tapi sebelum ia menyentuh gagang pintunya, pintu itu sudah terbuka terlebih dulu.
"Senja, kenapa ka-" Rajendra tidak bisa melanjutkan ucapannya tatkala netranya dikejutkan dengan pemandangan didepannya. Rajendra menggelengkan kepalanya, setiap malam Senja 'kan memang selalu memakai baju yang menggoda iman itu.
"Aku pikir kamu kenapa-kenapa, dipanggil nggak nyahut, ayo tidur," kata Rajendra memilih buru-buru pergi daripada imannya tergoda karena Senja memamerkan tubuhnya.
Namun, baru saja Rajendra berbalik, tiba-tiba ia merasakan tangan mungil memeluk pinggangnya, disusul suara yang membuat Rajendra berdebar-debar.
"Aku menginginkanmu."
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1