
Senja tidak tahu apa yang mendasari dirinya meminta Rajendra untuk tetap tinggal dan mengelus pipinya. Ia merasa itu adalah permintaan bodoh yang pernah ia lakukan, tapi memang ada keinginan kuat dalam dirinya yang meminta untuk terus berdekatan dengan pria itu.
Bahkan sekarang Senja tidak bisa tidur jika belum melihat wajah Rajendra. Meski mengesalkan, tapi ia memang baru akan tidur nyenyak jika sudah bertatapan langsung dengan pria itu.
"Masih suka mual kalau makan sesuatu?"
Pagi-pagi sebelum berangkat bekerja, Rajendra bertanya pada Senja yang masih asyik bergelung dalam selimut tebalnya. Sudah beberapa hari wanita itu terus saja seperti itu. Dan yang lebih mengherankan Senja selalu muntah setiap habis makan makanan apapun.
"Ehem, aku ingin makan mie instan," sahut Senja dari atas kasur, masih enggan untuk sekedar beranjak darisana.
"Makanan itu lagi? Apa kau lupa kau menjadi seperti ini gara-gara memakan makanan menjijikkan itu? Yang lain saja." Rajendra langsung mengomel kesal.
Bagaimana tidak, ia menganggap Senja menjadi sering muntah karena keracunan mie instan yang dimakannya beberapa waktu lalu. Tapi ia juga belum tahu pastinya, karena Senja tidak mau diajak ke rumah sakit.
"Tapi aku mau itu," kata Senja merengek kesal.
"Senja, kau boleh meminta apapun di dunia ini. Tapi jangan makan makanan itu lagi, kau mau menjadi lebih sakit lagi? Jika iya, aku akan langsung membawamu ke rumah sakit agar kau di suntik oleh Dokter," ancam Rajendra dengan wajah seriusnya.
"Ck, sebenarnya kau ini kenapa sih? Aku mau ini tidak boleh, mau itu tidak boleh. Aku juga bosan Rajendra, tidak bisakah kau membiarkan aku hidup seperti keinginanku saja?" Senja menggerutu mengeluarkan unek-uneknya.
Sudah hampir dua Minggu ia terus terkurung didalam rumah itu dan tidak boleh melakukan aktivitas apapun.
"Kau ingin apa? Katakan saja, aku pasti menurutinya kecuali memakan makanan tidak sehat itu," kata Rajendra mencoba membuat Senja mengerti apa keinginannya.
"Aku mau keluar dari rumah ini," kata Senja langsung mendapatkan lirikan tajam dari Rajendra. "Maksudku, setidaknya ajak aku pergi kemana begitu, aku benar-benar bosan disini. Dulu saja Revan pernah mengajakku ke mall, dia-"
"Cukup!" Rajendra langsung menyela sebelum Senja menyelesaikan ucapannya. Hatinya sudah panas hanya karena Senja menyebut nama Revan.
"Sekarang bersiaplah, aku akan mengajakmu pergi," ucapnya lagi menahan kekesalan yang luar biasa.
__ADS_1
"Benarkah? Kau ingin mengajakku keluar dari rumah neraka ini?" ucap Senja asal saja dan ia kembali dilirik oleh Rajendra. "Ehm, maksudku kau benar-benar akan mengajakku pergi?" ralatnya lagi.
"Ya, hari ini kita akan pergi ke kantor," kata Rajendra.
"Ke kantormu? Kau akan mengajakku kesana?" Senja bertanya kaget.
Rajendra mengangguk singkat. "Iya, nanti siang baru kita pergi ke mall. Kau tidak keberatan 'kan menungguku bekerja dulu?" ucap Rajendra lagi.
Senja menipiskan bibirnya, wajahnya tampak berpikir keras. Jika ia ikut Rajendra ke kantor, pasti akan sama membosankannya seperti di rumah, tapi jika dirumah pun lebih bosan. Ia benar-benar bingung sekali.
"Bagaimana? Mau atau tidak?" tegur Rajendra karena Senja hanya diam saja.
"Ya ya, aku mau. Aku akan mandi sebentar," sahut Senja buru-buru bangkit dari kasurnya untuk segera bersiap.
Namun, karena ia tidak hati-hati, kakinya malah tersangkut selimut hingga membuat ia terjatuh.
"Astaga Senja, berhati-hatilah." Rajendra yang melihat Senja terjatuh, langsung menghampiri wanita itu lalu mengangkatnya ke kasur. "Coba aku lihat," ucap Rajendra memegang lutut Senja yang terlihat memerah.
Tapi matanya malah salah fokus melihat paha kaki Senja yang begitu mulus, membuat ia merasakan gejolak aneh.
"Aku tidak apa-apa," kata Senja menarik rok panjangnya untuk menutupi lututnya dengan cepat. Pasalnya ia malu jika menunjukkan kakinya kepada pria.
Rajendra tersentak, ia membuang pandangannya untuk mengusir pemikiran liarnya. Sebagai pria yang telah menyentuh Senja, ia seperti merasakan getaran aneh setiap tubuh mereka bersentuhan.
"Tadi itu merah, apa kita perlu ke rumah sakit saja? Bagaimana kalau kau patah tulang?" kata Rajendra cemas.
"Jangan terlalu banyak berpikir seperti itu, ini hanya memar biasa aja kok. Sudah, aku akan mandi dulu, kau tunggu saja diluar," ujar Senja segera bangkit untuk melanjutkan kegiatan yang tertunda tadi.
Rajendra masih diam disana, ia memandang Senja yang berjalan ke kamar mandi. Ia memperhatikan wanita itu tampak lebih berisi dan terlihat semakin seksi. Padahal Senja itu hanya menggunakan kaos biasa dan rok panjang diatas mata kaki. Tapi entah kenapa malah terlihat begitu cantik di mata Rajendra.
__ADS_1
'Apa mungkin karena jiwa Senja yang masih murni, membuat ia begitu tertarik?'
Rajendra tidak pernah tahu apa alasannya, tapi Senja memang sangat membuat siapapun tertarik dengannya meski wanita itu hanya diam saja. Rajendra cukup senang karena ia yang telah memiliki wanita itu sekarang.
'Tidak masalah jika Senja masih terus bersikap ketus seperti itu, suatu saat nanti Rajendra yakin, ia pasti bisa menaklukkan wanita itu. Lagipula siapa sih yang bisa menolak dirinya?'
_______
Rajendra benar-benar mengajak Senja pergi ke kantornya pagi itu. Banyak karyawan yang heran saat melihat kedatangannya bersama seorang wanita. Bahkan tak jarang para karyawan itu saling berbisik mempertanyakan sosok Senja yang diajak Rajendra ke kantornya.
Senja yang merasa diperhatikan puluhan pasang mata mendadak minder. Ia melihat dirinya yang berdandan ala kadarnya dan membandingkan dengan Rajendra yang tampil perlente, kinclong dan wangi. Hal itu membuat Senja mengurangi kecepatan langkahnya agar tidak sejajar dengan Rajendra.
"Kenapa?" Rajendra bertanya saat menyadari Senja mulai tertinggal dibelakangnya.
"Ehm, tidak apa-apa. Kau duluan saja, pegawaimu pasti merasa aneh melihat kita berdua jalan bersama," ucap Senja seadanya.
Rajendra mengerutkan dahinya, ia melihat sekelilingnya lalu kembali menatap Senja yang hanya bisa menunduk. Ia sepertinya tahu apa yang dirasakan oleh Senja.
"Tidak ada yang aneh sama sekali, Senja." Rajendra justru menarik pinggang Senja agar posisi mereka dekat, ingin menunjukkan kepada semua orang kalau Senja adalah miliknya.
"Rajendra, apa yang kau lakukan? Kau tidak lihat, disini banyak orang?" desis Senja sangat ingat jika Rajendra tidak mau hubungan mereka sampai terbongkar didepan publik.
"Biarkan saja, kau adalah istriku. Jadi, sudah sewajarnya kau berjalan disampingku, ayo." Rajendra tidak mempedulikan apapun lagi, ia segera menggandeng Senja dengan begitu mesra didepan semua karyawan kantornya.
Senja yang diperlukan seperti itu tentu baper, ia sampai tidak bisa berkata-kata dan hanya bisa mengikuti langkah Rajendra yang merangkul pinggangnya dengan posesif. Entahlah, akhir-akhir ini sepertinya ia memang sangat suka berdekatan dengan Rajendra. Benar-benar sangat aneh.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1