Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 45. Sudah Cukup Semuanya.


__ADS_3

Senja tidak menyahut meski ia mendengar jelas apa yang dikatakan oleh Revan. Ia tidak ingin membuat keadaan semakin runyam jika harus melibatkan Revan juga. Saat ini ia memang sangat kecewa pada Rajendra. Tapi berpaling kepada pria lain pun bukan jalan keluar yang baik.


Senja segera melepaskan pelukannya, mengusap air matanya yang tak henti mengalir. "Maaf," kata Senja melirik sekilas.


"Senja, aku serius dengan apa yang aku katakan. Aku tidak perduli dengan statusmu saat ini, aku sangat mencintaimu," ujar Revan memandang Senja sendu, terlihat sekali pria itu memiliki perasaan yang mendalam pada Senja.


"Tidak Tuan, aku sama sekali tidak pantas untukmu. Aku sudah punya takdirku sendiri dan harus aku selesaikan. Tuan bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku nanti," ucap Senja.


"Tapi bagiku kau yang terbaik untukku, Senja."


Senja menggelengkan kepalanya pelan. "Saat ini Tuan mungkin belum tahu. Aku akan mengatakannya, aku sekarang sedang hamil karena aku tidak bisa menjaga diriku sendiri. Apakah kau masih menginginkan aku, Tuan?" kata Senja tersenyum kecut.


"Kau hamil?" Revan terkejut tentunya mendengar ucapan Senja. Tapi ia tahu jika Senja tidak mungkin melakukan perbuatan seperti itu. "Apa kakakku memaksamu?" tebak Revan dengan mata yang berkilat-kilat penuh amarah.


Senja mengigit bibirnya, ternyata Revan orang yang sangat peka. Tanpa mengatakan saja pria itu sudah tahu.


"Brengsek! Apa itu juga alasanmu memilih dia waktu itu?" Revan mengumpat kasar, ia semakin yakin jika Senja memang melakukan ini semua hanya karena sudah pernah dinodai Kakaknya.


"Aku tidak punya alasan, Tuan. Sekarang Tuan sudah tahu semuanya. Terima kasih karena sudah bersikap baik padaku, seterusnya aku akan menyelesaikan ini semua, Tuan. Doakan saja aku bisa menyelesaikannya nanti," kata Senja tertawa hambar, sesekali mengusap air matanya yang terus mengalir.


Revan yang melihat tawa Senja justru begitu iba. Wanita itu pasti begitu trauma dan hatinya begitu hancur hingga rasanya ingin menertawakan hidupnya yang begitu mengenaskan. Revan merasa begitu kasihan, ingat kalau Senja hanyalah wanita polos yang belum terlalu mengenal dunia. Tapi sekarang wanita itu jutsru harus menelan kekecewaan yang mendalam.


"Jika alasanmu memilih dia karena hamil anaknya, aku bisa menggantikannya untuk menjadi ayah dari anak itu. Mari menikah denganku," ujar Revan dengan sangat serius.


Senja tentu terkejut mendengar ucapan Revan itu. Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali seraya menunduk.


"Maaf, tapi aku tidak bisa, Tuan."


"Kenapa?" Revan mengepalkan tangannya, menahan kekecewaan yang kembali menghantam dirinya saat ditolak dua kali oleh Senja.


"Karena, aku sudah menikah dengannya."


"Apa?"


_______


Rajendra pulang ke rumah saat malam sudah sangat larut. Wajah pria itu terlihat begitu panik sekali setelah sebelumnya ia datang ke restoran tempat dimana ia meninggalkan Senja tapi wanita itu tidak ada di rumah.

__ADS_1


"Apa Senja belum pulang daritadi?" tanya Rajendra pada pembantu rumah tangganya.


"Belum, Tuan. Sejak pergi bersama Anda tadi pagi Nona Senja belum ada kembali sama sekali."


Rajendra menghela nafas panjang mendengar jawaban dari pembantunya itu. Ia mengutuk kebodohannya yang begitu ceroboh meninggalkan Senja begitu saja. Padahal seharusnya ia tahu kalau Senja tidak akan bisa pulang karena wanita itu tidak pernah pergi kemanapun dan Senja adalah orang baru di kota ini.


"Sial, kemana dia?" Rajendra mengumpat kasar.


Ia kemudian menghubungi asistennya untuk ikut mencari Senja dan ia pun bergegas kembali lagi ke restoran itu, berharap bisa menemukan wanita itu disana.


Namun, sebelum ia pergi dari rumahnya, ada sebuah mobil yang masuk ke pelataran rumahnya. Rajendra sempat mengerutkan dahinya, tapi tidak butuh waktu lama untuk ia mengenali siapa pemilik mobil itu.


Rajendra menunggu sampai Revan turun dari mobil, cukup penasaran kenapa Adiknya itu datang. Tapi ia malah dibuat kaget saat melihat Senja juga datang bersama Revan.


"Kalian?" Rajendra mengertakkan giginya, ekspresi yang semula khawatir mendadak berubah marah melihat Senja bersama Adiknya.


Senja menundukkan wajahnya, takut saat melihat sorot mata Rajendra yang berkilat-kilat penuh amarah itu.


"Sebelum kau memarahinya, lihat dirimu terlebih dulu, Rajendra. Sudahkah kau melakukan hal yang benar hari ini?" Revan berkata sinis begitu berhadapan dengan Kakaknya.


"Ada apa denganmu? Kenapa kau mendapatkan luka seperti ini?" Rajendra buru-buru mendatangi Senja dan melihat wajah wanita itu dengan jelas.


"Lucu, sekarang kau berubah menjadi pria yang paling khawatir atas kondisinya. Tidakkah kau ingat saat kau meninggalkannya begitu saja sampai dia harus membayar makanan yang kau pesan dengan mencuci piring?" Revan melirik sinis pada Kakaknya.


"Mencuci piring?" Rajendra memejamkan matanya singkat, merasa bersalah jika apa yang dikatakan oleh Adiknya itu benar.


"Senja, kau-"


"Aku lelah ingin tidur." Senja langsung menyela sebelum Rajendra menyelesaikan ucapannya. "Tuan Revan, terima kasih sudah mengantarku pulang, aku masuk dulu," ujarnya lagi sebelum masuk ke dalam rumah.


Revan menunggu sampai Senja lenyap dari pandangannya baru ia melihat Kakaknya yang masih berdiri disana.


"Apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Rajendra, sangat tahu jika Adiknya ini ingin membicarakan sesuatu.


"Tidak ada, aku hanya ingin memberikan ini."


Bugh

__ADS_1


Setelah mengatakan kata itu, Revan langsung melesatkan sebuah pukulan yang sangat keras pada wajah Rajendra hingga membuat pria itu hampir terjengkang ke belakang karena sangking kerasnya pukulan itu.


Tanpa mengatakan apapun, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Rajendra mendesis kesakitan.


"Brengsek!" umpat Rajendra mengusap bibirnya yang robek karena ulah Revan tadi.


Rajendra tidak mau memikirkannya, ia lebih memilih langsung masuk untuk menemui Senja. Ia khawatir dengan keadaan wanita itu, apalagi melihat wajah Senja yang lebam tadi.


Begitu Rajendra masuk kedalam kamar bersamaan dengan Senja yang baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita itu tidak menatapnya sama sekali dan langsung pergi ke depan meja rias.


"Senja, aku ingin berbicara padamu," kata Rajendra mendekati Senja yang pura-pura sibuk menyisir rambutnya.


"Tidak ada yang perlu dibicarakan," sahut Senja singkat saja, enggan sekali berbicara apapun dengan Rajendra.


"Senja, aku benar-benar minta maaf karena tadi meninggalkanmu. Aku-"


"Sebaiknya aku tidak pernah tahu alasannya 'kan?" Lagi-lagi Senja menyela sebelum Rajendra mengatakan apapun. Ia menatap pria itu dengan mata berkaca-kaca.


Rajendra semakin merasa bersalah, ia memegang kedua lengan Senja dengan erat tanpa menyakiti.


"Aku benar-benar minta maaf, setelah hari ini, aku berjanji padamu akan berubah, Senja. Aku minta maaf, tolong biarkan aku menebus semua kesalahanku," kata Rajendra.


Senja menatap mata Rajendra yang terlihat begitu serius itu. Ia mencoba mencari kebohongan disana, tapi pria itu benar-benar serius. Senja ingin sekali mempercayainya, tapi kenapa hatinya sakit sekali rasanya.


"Apakah kau pergi dengan wanita itu tadi?" tanya Senja.


Rajendra terlihat terkejut, ia menguasai dirinya dengan cepat, ingin menjawab tapi lidahnya kelu.


Senja tersenyum tipis, matanya yang semula hanya berkaca-kaca akhirnya menitihkan air matanya. Ia lalu melepaskan tangan Rajendra yang memegang tangannya.


"Sudah, tidak perlu menjawabnya. Aku tahu hatimu memang akan selalu untuknya. Sekarang, bisakah minta satu hal padamu?" ujar Senja memandang Rajendra sendu.


"Tolong jangan bersikap baik lagi padaku. Biarkan aku membunuh perasaan yang sangat menyiksa ini. Sudah cukup Rajendra, sudah cukup semuanya, aku sudah lelah ..."


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2