
Senja mematung, ia mendengar jelas semua yang dikatakan oleh Rajendra itu. Bibirnya berkedut menahan senyuman akan euforia ungkapan cinta Rajendra yang sangat lugas dan penuh keseriusan itu. Senja bisa merasakannya bagaimana pria itu mengatakannya sangat tulus sekali. Perlahan-lahan dinding kokoh yang ada dihatinya mulai goyah.
"Aku udah pernah merasakan sakit sampai aku merasa tidak percaya akan cinta. Apa kamu bisa berjanji untuk tidak membuatku terluka lagi?" tanya Senja belas memandang Rajendra sangat serius.
"Aku mungkin pria yang sangat buruk dimatamu, Senja. Aku juga tidak bisa berjanji untuk hal yang tidak bisa aku tepati. Aku akan berusaha membuatmu selalu nyaman denganku, dan melindungimu adalah tugasku. Aku hanya berjanji akan merubah diriku menjadi pria yang sempurna untukmu, jika aku salah, jangan pernah ragu untuk menegurku agar aku tahu kesalahanku. Maukah kamu menemaniku untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi?" sahut Rajendra mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Senja. Memandang penuh harap pada wanita yang menjadi pemenang dalam hatinya itu.
Senja tersenyum tipis, ia balas menggenggam tangan Rajendra.
"Jika kamu salah, aku tidak akan menegurmu. Tapi aku akan langsung pergi sejauh mungkin agar kamu tidak bisa bisa menemukanku," kata Senja.
"Senja, apa kamu masih punya rencana untuk meninggalkanku? Aku tahu aku salah, tapi tolong jangan menghukumku seperti ini. Aku mohon Senja, teruslah disampingku," pinta Rajendra begitu sendunya, perasannya sangat takut jika Senja benar-benar akan pergi meninggalkannya.
"Baiklah, aku akan memaafkanmu. Tapi dengan satu syarat," ucap Senja mendadak tersenyum jahil.
"Syarat apa?" Rajendra bertanya tidak sabar, apapun syarat yang akan diberikan Senja, ia pasti akan menerimanya dengan senang hati.
"Syaratnya adalah ... jangan pernah menyentuhku sampai anak didalam kandunganku lahir," kata Senja dengan bersemangat. Ingin melihat sampai mana Rajendra bisa bertahan.
"Apa?" Rajendra langsung lemas, padahal sudah banyak sekali rencananya selama honeymoon, tapi sepertinya akan gagal total.
"Jika kamu tidak bisa, artinya kamu tidak mencintaiku, tapi kamu hanya bernafsu padaku," kata Senja lagi.
"Tidak masalah, aku bahkan bisa menahannya selama 26 tahun. Waktu segitu bukan masalah besar untukku, Senja. Aku akan membuktikan padamu, kalau aku memang sangat mencintaimu," sahut Rajendra begitu yakin, toh selama ini ia tidak pernah bercinta dengan siapapun kecuali dengan Senja waktu ia mabuk dan cemburu.
"Kamu yakin? Bukankah Kalea yang kamu cintai?" sindir Rajendra.
"Kalea memang cinta pertamaku, tapi kamu adalah yang akan menjadi yang terakhir, Senja. Hanya kamu satu-satunya wanita yang ada disini," ujar Rajendra menarik lembut tangan Senja untuk menyentuh dadanya.
Senja tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat. Perutnya seperti dihinggapi kupu-kupu yang membuatnya ingin terbang.
"Gombal banget." Senja mencibir pelan.
__ADS_1
"Nggak percaya ya udah," kata Rajendra memasang wajah masam, kenapa sih Senja selalu tidak percaya padanya?
"Lupakan, ini ponselmu," ucap Senja teringat akan ponsel yang masih tergeletak dimeja.
"Bawa kamu aja," kata Rajendra.
"Buat apa? Itu 'kan kamu yang punya, aku udah punya sendiri dari Revan," ceplos begitu Senja.
"Jika pemberian dari Revan, kamu mau menerimanya, tapi kenapa dariku menolak," protes Rajendra.
"Bukan seperti itu, aku 'kan sudah punya ponsel. Jadi tidak perlu lagi Rajendra, lagipula bagaimana jika ada urusan penting dan orang yang akan menghubungimu. Pasti akan sangat merepotkan," jelas Senja.
"Nggak ada yang lebih penting dari kamu. Kalau kamu nggak mau ponselnya, buang aja," kata Rajendra begitu enteng.
"Sembarangan, ini itu ponsel mahal. Sangat sayang kalau membuangnya, kamu pakai aja lagi, aku nggak marah kok meksipun ada wanita lain yang menghubungimu," ujar Senja tersenyum tipis meskipun hatinya menolak.
"Kamu yakin nggak mau ponsel ini?" tanya Rajendra.
Senja menggeleng pelan sebagai jawaban.
"Rajendra!" Senja berseru kaget, tidak menyangka jika Rajendra akan benar-benar membuang ponselnya. "Kenapa kamu membuangnya?" sergah Senja.
"Bukannya kamu tidak menginginkannya? Jadi lebih baik dibuang saja, didalamnya juga tidak berisi hal yang penting," sahut Rajendra cuek saja, ia hanya ingin Senja tahu kalau ia benar-benar sudah melupakan Kalea dan membuang jauh-jauh wanita itu dari pikirannya seperti ia membuang ponsel itu.
"Tapi nggak gitu juga. Ish, mentang-mentang kamu kaya, seenaknya membuang uang," gerutu Senja tidak habis pikir dengan jalan pikiran Rajendra ini.
Meski ia senang karena Rajendra sudah memproklamirkan perasaannya, tapi tidak perlu dengan membuang ponsel yang harganya puluhan juta, pikir Senja.
"Tidak masalah, setelah ini aku harap kamu percaya kalau aku memang sudah tidak punya perasaan apapun pada, Kalea."
Senja tidak bisa berkata-kata, ungkapan jujur serta persetujuan persyaratan yang ia berikan itu saja sudah membuat ia percaya. Tapi sepertinya Rajendra memang ingin menegaskan segalanya.
__ADS_1
'Sekarang aku yakin, dia memang benar-benar mencintaiku ....'
_______
Keesokan harinya, Rajendra mengajak Senja untuk mengeksplor pulau Bali yang penuh pesona. Pria itu mengajak Senja untuk menyelam, ingin menunjukkan pada Senja dunia bawah laut yang indah. Tapi mereka berdua harus menaiki kapal pesiar agar bisa sampai ke daerah yang memiliki pesona bawah laut yang indah.
"Rajendra, tapi aku tidak bisa berenang." Senja sebenarnya ragu, karena ini kali pertamanya ia akan menyelam.
"Tenang saja, 'kan ada aku? Nanti aku akan menemanimu," kata Rajendra melempar senyuman indahnya.
Senja meliriknya sekilas, melihat pagi itu Rajendra yang tampak sangat tampan sekali menggunakan kemeja putih yang tidak dikancingkan bagian atasnya. Serta kacamata hitam yang bertengger di hidung mancungnya, membuat pria itu terlihat semakin sempurna. Senja tidak percaya bisa memiliki suami se tampan Rajendra ini.
"Jangan terus menatapku, kalau suka bilang saja," celetuk Rajendra diam-diam melirik Senja yang sejak tadi menatapnya.
"Apa sih." Senja memilih jawaban yang paling mudah ketika salah tingkah.
Rajendra hanya menarik sudut bibirnya, ia mengeratkan genggamannya pada Senja lalu menciumnya sebelum mereka berdua naik kapal.
"Aku mencintaimu," bisik Rajendra dengan begitu mesranya.
"Aku juga." Senja membalasnya, tapi hanya didalam hati saja, masih terlalu malu untuk mengakui perasaannya.
Mereka berdua lalu berjalan masuk ke kapal pesiar yang sangat megah itu. Senja tadinya berpikir hanya mereka berdua yang ada disana, tapi ternyata banyak sekali orang. Baik tua dan muda saling membaur menjadi satu.
Mereka berdua lalu diarahkan kearah kamar mereka. Membuat Senja semakin berdecak kagum, ia tidak menyangka jika ada kapal semewah itu, bahkan seperti hotel bintang lima dan tidak seperti naik kapal.
"Wow," ucap Senja semakin kagum begitu melihat kamar mereka yang sangat indah sekali menurutnya, ia bisa melihat laut yang sangat dekat dari jendela kecil yang berada di samping ranjang.
Rajendra tersenyum kecil, melihat kepolosan Senja. Memang tidak salah ia mengajak wanita itu kesini. Ia berjalan mendekati Senja, lalu memeluknya dari belakang.
"Matahari terbenam nanti akan lebih indah. Seperti namamu, yang sangat indah, seindah orangnya," bisik Rajendra begitu lembut dan mendayu, membuat Senja terhipnotis hingga tidak bisa berkata-kata.
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.