Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 21. Perasaanku Sudah Berubah.


__ADS_3

Rajendra mengendarai mobilnya dengan sangat cepat, ia menyalip beberapa kendaraan yang sekiranya menghalangi dirinya. Tujuannya saat ini hanya satu, yaitu menemui Kalea yang mengatakan jika wanita itu sedang dalam bahaya.


Terdengar umpatan dan makian dari pengguna jalan yang mobilnya Rajendra salip, tapi ia tidak mempedulikannya sama sekali. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sampai terlambat menyelamatkan Kalea.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya Rajendra sampai disebuah taman yang terletak ditepi danau. Tempat itu adalah tempat dimana ia sering menghabiskan waktunya dengan Kalea saat mereka berpacaran dulu.


Namun, sesampainya disana Rajendra malah heran karena kondisinya sangat sepi dan tidak ada siapapun.


"Lea!" teriak Rajendra memanggil wanita itu, berharap bisa menemukannya disana.


"Lea!"


Rajendra semakin panik karena tidak melihat Kalea dimanapun, ia berpikir apakah mungkin orang yang berniat jahat pada Kalea sudah membawanya.


"Sial!" umpat Rajendra begitu frustasi, ia bergegas pergi meninggalkan tempat itu, tapi sebelum ia sempat beranjak, ia merasakan sebuah tangan halus menyentuh pinggangnya. Disusul kehangatan yang melingkupi punggungnya.


"Lea?" ucap Rajendra memejamkan matanya singkat, menyadari jika orang yang sedang memeluknya adalah Kalea.


"Aku senang Kakak datang," kata Kalea mengeratkan pelukannya pada tubuh hangat yang sangat ia rindukan itu.


"Lepaskan aku Lea, kau sengaja melakukan ini?" ujar Rajendra cukup kesal karena Kalea berpura-pura dalam bahaya untuk membuatnya datang kesana.


Kalea melepaskan pelukannya pada Rajendra, tapi ia tetap menahan tangan pria itu dengan menggenggamnya.


"Maafkan aku Kak, tapi aku melakukan ini karena Kakak selalu menghindariku. Kenapa? Kenapa Kakak tidak mau menemuiku lagi? Apakah Kakak benar-benar sudah menyerah?"


Sudah sangat lama Kalea menahan dirinya, setiap detik ia lalui dengan perasaan sakit yang membuat ia hampir gila. Semakin lama, perasaan itu justru semakin kuat, memaksa Kalea untuk berbuat nekat dengan membohongi Rajendra agar mereka bisa bertemu.


"Kau tahu alasanku Lea, sekuat apapun kita berusaha, kita memang tidak akan bisa bersama. Orang tuamu juga tidak menyukaiku bukan?" ujar Rajendra berkata seadanya.

__ADS_1


"Tapi aku menyukaimu Kak, kita saling mencintai. Bukankah Kakak sudah berjanji untuk memperjuangkan aku? Ayo perjuangkan cinta kita. Aku sangat mencintaimu Kak, tolong jangan tinggalkan aku seperti ini ..."


Kalea menangis melupakan segala perasaan sakit di dadanya. Ia tidak sanggup lagi menahan perasaan itu lebih lama lagi.


Rajendra mengepalkan tangannya, ia juga sedang menahan perasaannya karena ingat janjinya kepada sang Ayah.


"Lupakan aku Lea, aku sudah tidak punya perasaan itu padamu," kata Rajendra terpaksa berbohong agar Kalea mau melepaskan dirinya.


Kalea terkejut, ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. "Tidak, tidak mungkin perasaan Kakak sudah berubah. Kakak bilang sangat mencintaiku dan kita akan selalu bersama-sama. Kakak bohong!" jerit Kalea tidak bisa menerima ucapan Rajendra.


"Aku tidak bohong, memang itulah kenyataannya Lea. Selama ini mungkin perasaanku salah, aku tidak mencintaimu," kata Rajendra dengan suaranya yang tegas. Benar-benar sudah tidak ingin membuat Kalea kembali berharap padanya. Karena ia hanya bisa memberikan luka pada wanita itu saja.


"Tidak! Aku tahu Kakak bohong, Kakak hanya mencintaiku. Kakak melakukan ini hanya karena orang tua kita 'kan? Ayo kita perjuangkan cinta kita Kak, kita tunjukkan kepada dunia kalau perasaan kita itu tidak salah. Aku mencintaimu Kak, tolong jangan menyerah, aku sangat mencintaimu. Tolong perjuangan aku ... ." Lirih Kalea dengan tangisnya yang menyayat hati.


Kalea sangat putus asa begitu mendengar jika Rajendra menyerah akan cinta mereka. Ia menjerit histeris hingga kakinya terasa sangat lemas. Ia pun menjatuhkan dirinya ke tanah dan menggenggam kedua tangan Rajendra dengan sangat erat. Benar-benar frustasi akan nasib cintanya yang harus kandas disaat rasa cinta itu semakin membara.


"Terserah kau saja, aku sudah bilang kalau aku sudah tidak punya perasaan itu, Lea. Lebih baik kau lupakan aku, karena kau hanya akan melakukan kebodohan jika terus mencintaiku," kata Rajendra segera melepaskan tangan Kalea dengan kasar lalu beranjak pergi meninggalkan wanita itu.


Rajendra sudah tidak sanggup lagi jika harus menyakiti Kalea lebih parah lagi. Ia tidak akan sanggup jika melihat wanita itu menangis. Saat ini ia benar-benar menahan dirinya agar tidak memeluk wanita itu dan menunjukkan cintanya. Biarlah Kalea membencinya agar wanita itu mudah untuk melupakannya.


"Kakak, jangan tinggalkan aku Kak. Aku mencintaimu, jangan tinggalkan aku Kak, akhhhhhhhh!" Kalea mencoba mengejar Rajendra, tapi tiba-tiba saja ia terjatuh dan tubuhnya langsung limbung begitu saja.


"Kalea!"


Rajendra berteriak kaget melihat Kalea yang tiba-tiba saja terjatuh. Ia bergegas kembali menghampiri wanita itu dan langsung meraihnya kedalam pelukan.


"Kalea, bangun Kalea! Ada apa denganmu? Maafkan aku Kalea," ucap Rajendra menepuk-nepuk pipi Kalea dengan begitu paniknya.


"Lea, bangunlah. Tolong buka matamu Lea, aku benar-benar minta maaf. Ayo buka matamu, jangan main-main Lea, aku sangat mencintaimu. Maafkan aku Lea," ucap Rajendra memeluk Kalea dengan sangat erat, ia menyesal karena telah menyakiti wanita itu.

__ADS_1


Wajah Kalea begitu pucat membuat Rajendra sangat panik. Ia tidak membuang waktunya, ia langsung saja meraih Kalea kedalam gendongannya, bermaksud membawa wanita itu ke rumah sakit.


Namun, Kalea tiba-tiba menahan tangannya seraya membuka matanya.


"Aku yakin kau memang masih mencintaiku, Kak." Ujar Kalea mengulas senyum tipis yang nyaris tak terlihat. Sangat senang karena ternyata Rajendra memang masih mencintainya.


"Kalea?!" Rajendra berseru kaget bercampur marah melihat apa yang dilakukan Kalea. "Kau benar-benar keterlaluan!" lanjutnya seraya melepaskan Kalea begitu saja.


"Kakak tidak bisa mengelak lagi, Kakak masih mencintaiku. Aku mohon kak, kembalilah padaku," pinta Kalea menatap Rajendra begitu sendu.


Biarlah ia menjadi wanita yang harus memohon kepada Rajendra. Ia benar-benar tidak akan bisa hidup tanpa Rajendra. Dua Minggu saja tanpa kabar dari pria itu membuat Kalea hampir mati. Lalu bagaimana jika selamanya? Mungkin ia akan benar-benar mati.


"Berhentilah melakukan hal bodoh ini Kalea! Kau itu wanita yang sempurna, banyak laki-laki yang lebih baik dariku diluar sana. Jangan berharap apapun lagi padaku, aku tidak pantas mendapatkannya Kalea, lupakan aku sekarang juga!" Rajendra membentak dengan suara keras. Menahan emosi yang bercampur aduk tak karuan didalam hatinya saat ini. Matanya bahkan tidak sanggup menatap mata Kalea yang begitu berharap padanya.


"Tapi aku hanya butuh kau Kak!" Kalea pun balas berteriak dengan suaranya yang lantang.


Tidak bisa, ia tidak bisa hidup tanpa Rajendra. Pria itu adalah segalanya untuk dirinya.


Rajendra mengepalkan tangannya, sungguh hatinya lebih sakit melebihi sakit tertusuk ribuan anak panah.


Tanpa mengatakan apapun, Rajendra segera pergi darisana meninggalkan Kalea dengan segala kesedihannya.


Bukan, bukan ia tidak ingin berjuang. Tapi untuk apa mereka bisa bersama jika orang tua mereka yang harus terluka? Bukankah sama saja mereka bersikap sangat egois?


Biarlah Rajendra menahan rasa sakit itu selamanya daripada ia yang harus membuat orang tuanya sedih. Karena bagi Rajendra, orang tuanya adalah segalanya.


Happy Reading.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2