
Senja tidak henti berteriak-teriak dan juga memukuli Rajendra, berharap pria itu akan melepaskannya. Akan tetapi Rajendra tidak menggubrisnya dan terus membawanya pergi sampai kerumah pria itu. Senja sampai lelah sendiri dan memutuskan untuk diam saja karena tidak ada gunanya ia memaki dan juga marah sekalipun.
"Turun!" titah Rajendra begitu dingin.
Senja hanya melirik pria itu dengan malas, bukannya ia menurut, ia malah sengaja melipat tangan diatas perut, menunjukkan sikap membangkang.
Rajendra mendesis jengkel, ia melirik Senja yang terang-terangan melawannya itu. Tanpa mengatakan apapun, ia langsung turun dari mobil lalu mengitarinya dan membuka pintu disamping Senja.
"Kau yakin tidak mau turun?" tanya Rajendra menatap tajam pada Senja.
"Tidak." Senja menyahut dengan sangat ketus, ia bahkan enggan melihat wajah Rajendra yang terlihat basah kuyup karena terkena air hujan.
Rajendra menipiskan bibirnya, tanpa diduga ia langsung mendekati Senja lalu menyusupkan kedua tangannya dibawah leher dan lutut Senja lalu mengangkat wanita itu tanpa basa-basi.
"Rajendra! Turunkan aku, aku tidak mau ikut denganmu brengsek!" Senja berteriak-teriak kembali.
"Aku tidak butuh persetujuan darimu," ketus Rajendra seraya membawa Senja masuk kedalam rumahnya.
"Kau memang pria egois! Cepat turunkan aku sekarang!" Senja terus saja berontak dari pelukan Rajendra, ia benar-benar sudah tidak mau lagi jatuh ke lingkaran yang sama.
Sama seperti sebelumnya, meski Senja berontak dan terus saja berteriak, Rajendra tetap membawa wanita itu kedalam kamar lalu masuk kedalam kamar mandi. Disana Rajendra langsung menyalakan shower yang mengguyur tubuh keduanya.
"Akhhhhhhh!" Senja berteriak kaget.
"Kau ini apa-apaan sih? Kenapa kau melakukan ini? Bukannya aku sudah pergi dari hidupmu? Kenapa kau harus mengangguku lagi!" teriak Senja mengusap wajahnya kasar untuk menghalau air yang terus mengguyur tubuhnya.
Rajendra mengertakkan giginya, ia langsung merangsek maju dan memerangkap tubuh Senja ditembok belakangnya.
"Aku akan terus seperti ini sebelum memastikan jika kau hamil atau tidak," kata Rajendra begitu dingin, mengalahkan rasa dingin malam itu.
Senja tertawa sinis. "Lalu, jika aku hamil? Apa yang akan kau lakukan? Membangun rumah tangga yang sebenarnya dan membesarkan anak itu? Cih, klise sekali."
"Kenapa tidak? Kita sudah menikah, tinggal melanjutkan saja bukan?" sahut Rajendra terdengar enteng tapi mampu membuat Senja begitu kaget.
__ADS_1
"Apa maksudmu berkata seperti itu? Kau pikir ini semua lelucon Rajendra? Kita sudah akan bercerai," sergah Senja begitu kesal, merasa Rajendra ini hanya main-main saja.
"Itu bukan hal sulit untukku. Kau hanya perlu diam disampingku, kau mengerti?" ucap Rajendra seenaknya saja.
Senja terdiam sesaat, tapi kemudian ia tertawa hambar. Tanpa ragu ia langsung mendorong Rajendra dengan kasar.
"Terdengar mudah, tapi sayangnya aku tidak berminat sama sekali. Lebih baik kita bercerai dan aku akan menjalani kehidupanku sendiri," ucap Senja tersenyum begitu sinisnya.
"Kenapa kau sangat keras kepala, aku hanya jaga-jaga tentang apa yang sudah terjadi antara kita. Kau bisa saja hamil, Senja." Rajendra mengepalkan tangannya, mulai tidak sabar menjelaskan pada Senja apa alasan kuat yang membuatnya menjadi seperti ini.
"Kenapa harus dibuat runyam jika ada yang mudah?" kata Senja.
"Apa maksudmu?"
"Ya, kalau aku memang hamil, aku akan menggugurkannya jika itu yang kau pikirkan. Tenang saja, aku tidak akan pernah menyebut namamu atau nama keluargamu. Kau akan tetap aman dan bisa melanjutkan hidupmu sendiri dengan orang pilihanmu. Bukankah itu lebih baik? Kau juga tidak perlu tersiksa menjalani pernikahan tanpa cinta denganku bukan?" ujar Senja mengulas senyum yang mengatakan seolah dirinya baik-baik saja.
Padahal sebenarnya Senja sudah menahan kegetiran dalam hatinya. Membayangkan semua yang dikatakannya itu ternyata sangatlah menyakitkan.
"Katakan sekali lagi kau akan mengugurkan anak itu," kata Rajendra begitu geram, matanya berkilat-kilat penuh amarah.
"Oh ayolah Rajendra, kau itu orang yang cerdas. Aku belum tentu hamil karena-"
"Katakan sekali lagi kau akan mengugurkannya!" bentak Rajendra semakin mencengkram lengan Senja dengan kuat.
Senja meringis kesakitan, ia sebenarnya cukup takut melihat Rajendra yang sangat marah itu. Tubuhnya yang kedinginan semakin menggigil karena sangat takut. Tapi ia harus menunjukkan pada Rajendra kalau ia bukan wanita yang mudah ditindas.
"Ya, aku akan mengugurkannya! Kau dengar itu Rajendra? Aku akan mengugurkan bayi sialan itu jika aku memang benar-benar hamil. Apa kau pikir aku sudi mengandung-"
Rajendra langsung meraih kepala Senja dan melu mat bibir wanita itu dengan kasar untuk menghentikan ucapan Senja yang membuat amarahnya kian tidak terkendali.
"Ehhmmppppttttt ... . " Senja memukuli dada Rajendra untuk menghentikan ciuman kasar pria itu, ia kaget bukan kepalang karena Rajendra melakukan hal seperti ini.
Namun, Rajendra yang sudah diliputi amarah yang luar biasa, tidak menghiraukan apa yang dilakukan Senja, ia justru menangkap tangan Senja dan semakin mencium bibirnya dengan brutal. Senja salah karena telah mematik emosi Rajendra yang sejak tadi ia pendam.
__ADS_1
Senja mencengkram erat lengan Rajendra saat pria itu tak segan mengigit bibirnya. Air matanya meleleh bercampur air shower yang menyala. Rasa marah dan benci itu semakin menguat dihatinya, merasa Rajendra benar-benar menjatuhkan harga dirinya dan menganggap dirinya hanya wanita yang bisa diperlakukan seenaknya saja.
Puas mencium Senja dengan kasar, Rajendra baru melepaskannya dan ia langsung mendapatkan hadiah tamparan yang begitu kuat dari Senja.
"Ba ji ngan!" teriak Senja begitu marah, bibirnya terasa sakit, tapi hatinya lebih sakit karena perlakukan Rajendra.
Rajendra mendesis pelan, ia kembali meraih pinggang Senja dengan kasar.
"Lepaskan aku brengsek!" teriak Senja berontak.
"Kau benar-benar salah telah melakukan ini, Senja. Sekarang, kau akan tahu siapa aku yang sebenarnya."
Setelah mengatakan itu, Rajendra langsung meraih tubuh Senja kedalam gendongannya dan membawa wanita itu kembali ke kamar lalu melempar wanita itu ke ranjang.
Senja beringsut menjauh, ia sangat takut jika Rajendra akan kembali memperkosa dirinya.
"Jangan mendekat!" teriak Senja.
Rajendra tersenyum sinis, ia menarik kaki Senja dan langsung menindihnya.
"Akhhhhhhh!"
"Kau tahu, kau adalah satu-satunya wanita yang berani menolak diriku. Kenapa? Apa aku tidak baik untukmu?" kata Rajendra menatap wajah wanita polos dihadapannya dengan teliti. Meskipun polos, Senja nyatanya berani melawannya seperti ini.
"Kenapa kau harus bertanya? Seharusnya kau tahu, jika tidak semua orang harus menuruti keinginanmu!" seru Senja begitu pedasnya.
"Sayangnya aku tidak perduli itu semua, Senja. Selama aku bisa mendapatkan apa yang aku inginkan dengan caraku, aku tidak akan berhenti melakukannya. Jika kau ingin mencoba, lakukanlah," ucap Rajendra terdengar datar tapi begitu menusuk hati Senja.
Senja terdiam sesaat, ia menatap wajah Rajendra yang sangat dekat dengannya itu. Sialnya ia malah terperangkap oleh wajah dingin Rajendra yang begitu menghanyutkan. Dan hal itu langsung dimanfaatkan Rajendra untuk mencium bibirnya kembali dengan lebih lembut dari sebelumnya.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1