Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 36. Mie Instan.


__ADS_3

Senja begitu kaget saat terbangun masih di pelukan Rajendra. Sudah beberapa hari ini Rajendra selalu melakukan hal-hal yang membuat Senja rasanya hampir gila. Setiap malam pria itu selalu tidur dikamarnya dan bersikap manis.


Senja bukannya senang, tapi ia malah sangat kesal sekali. Ia bahkan ingin sekali menenggelamkan dirinya ke dasar samudera agar tidak lagi bertemu dengan pria menyebalkan itu.


"Hah, aku harus melakukan sesuatu agar pria gila ini tidak terus-menerus tidur di kamarku," gumam Senja mendengus seraya menyingkirkan tangan Rajendra yang menimpa perutnya dengan kasar.


Senja buru-buru pergi untuk membersihkan dirinya, masih terlalu pagi untuk mandi, jadi ia hanya menggosok gigi dan mencuci mukanya wajah. Setelah itu ia beranjak pergi ke dapur untuk masak daripada tidak mengerjakan apapun.


Sebenarnya setiap malam Senja selalu mengunci kamarnya, tapi rumah itu 'kan rumahnya Rajendra, jadi pria itu memiliki kunci cadangan agar bisa masuk kedalam kamarnya.


"Nona, kenapa Anda memasak? Sudah biarkan saya saja, Nona." Kepala pelayan tergopoh-gopoh menghampiri Senja begitu tahu Senja sedang berkutat didapur. Ia tahu jika Tuannya akan sangat marah jika tahu Senja mengerjakan pekerjaan rumah.


"Bibi, aku hanya ingin membuat sedikit sarapan. Tidak apa-apa, Bibi kerjakan yang lain saja," kata Senja mengulas senyum tipisnya.


"Haduh, bisa riweh ini mah. Nona sebaiknya jangan masak, Tuan Rajendra tidak suka jika Nona kecapekan. Biarkan saya saja ya Nona," bujuk Kepala pelayan begitu takut akan nasib pekerjaannya.


"Nggak apa-apa, Bi. Kalau Bibi takut Rajendra marah, aku sendiri yang akan mengatakan padanya nanti. Bibi tenang saja ya," ujar Senja menenangkan Kepala pelayan itu.


Memang Senja sudah tahu watak Rajendra yang suka memarahi para pelayan disana jika membiarkan Senja melakukan pekerjaan rumah. Padahal itu semua tidak masalah bagi Senja, malah dulu ia pernah mengerjakan pekerjaan yang lebih keras dari itu.


"Tapi Nona ... ."


"Tidak apa-apa, Bi. Percaya saja padaku ya, sekarang Bibi kerjakan yang lain saja," kata Senja lagi.


Kepala pelayan itu tidak bisa membantah, ia langsung pergi berpamitan dan membiarkan Senja memasak keinginannya.


Pagi itu Senja tidak memasak apapun, hanya ingin mie instan dengan telur setengah matang. Membayangkannya saja sudah begitu ngiler, sejak semalam ia menginginkannya, tapi setiap hari makanan yang dimasak disana makanan higienis khas orang kaya.


'Sungguh membosankan.'


Senja hampir menyelesaikan masakannya tatkala ada seseorang yang memeluknya dari belakang membuat ia hampir saja menjatuhkan sendok yang dipegangnya.


"Rajendra!" pekik Senja begitu kaget.


Tidak ada orang lain lagi yang berani bersikap kurang ajar seperti itu padanya selain, Rajendra.


"Selamat pagi, kenapa tidak membangunkanku?" ucap Rajendra dengan suara serak khas bangun tidur. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh Senja yang hangat.

__ADS_1


"Kau tidur sangat nyenyak, sudah lepaskan tanganmu. Aku sedang memasak," sahut Senja begitu ketus dan mencoba melepaskan dirinya. Ia begitu risih ada pria yang menggelayutinya seperti ini.


"Memasak apa? Baunya sangat harum sekali," gumam Rajendra, ia bukannya melepaskan pelukan itu justru sengaja menenggelamkan wajahnya dileher Senja.


"Ini hanya masakan rakyat jelata, kau tidak perlu tahu. Ish, cepat menyingkirlah Rajendra." Senja terus bersikap ketus karena benar-benar risih.


Rajendra menekuk wajahnya, ia melongokkan kepalanya untuk melihat apa yang dimasak Senja.


"Mie instan? Kenapa kau membuatnya? Kau tahu makanan itu termasuk dalam kategori junk food, itu artinya sangat berbahaya untuk tubuh. Aku tidak mengizinkanmu memakannya," ujar Rajendra mengernyit jijik saat melihat mie itu.


Senja menipiskan bibirnya, geram tentunya karena mulut besar Rajendra itu. Ia langsung melepaskan dirinya dan mendorong pria itu dengan kasar.


"Kau pikir aku peduli? Aku sudah memakan mie ini sejak aku kecil, buktinya aku baik-baik saja tuh," cetus Senja mendengus sebal.


Senja melanjutkan kegiatannya, mengambil mie yang sudah matang itu lalu menaruhnya di mangkok. Hah, mencium harumnya saja membuat Senja begitu keroncongan. Ia sangat tidak sabar sekali untuk menikmatinya.


"Kau ini kenapa keras kepala sekali, makanan itu tidak sehat, Senja," ujar Rajendra mencoba bersabar untuk tidak menyingkirkan makanan menjijikkan itu.


"Bodo amat, sebaiknya kau kerjakan saja pekerjaanmu. Jangan mengurusku," sergah Senja menyelonong pergi begitu saja membawa mie instan buatannya.


Rajendra tidak menyerah, ia mengikuti Senja yang duduk di meja makan tidak perduli wanita itu kesal atau tidak.


"Kenapa? Apa kau keracunan?" tanya Rajendra panik melihat ekspresi Senja.


"Tidak, ini sangat enak sekali. Aku akan menghabiskannya," sahut Senja begitu bersemangat untuk memakan kembali mie instan itu.


Entahlah, ia memang sangat suka mie instan dari dulu. Tapi kali ini ia merasa berbeda, rasa mie instan itu terasa begitu enak sekali. Ia bahkan dengan tidak sabar memakan mie itu dengan sangat lahap.


"Pelan-pelan saja, kau bisa tersedak nanti," tutur Rajendra mengernyit saat melihat gaya makan Senja itu. Dari dulu memang tidak ada anggun-anggunnya sama sekali.


"Ini sangat enak, kau mau?" ujar Senja begitu bersemangat.


"Tidak usah, kau saja." Rajendra masih mengernyitkan dahinya, benar-benar jijik sekali melihat makanan itu.


Namun, sesaat kemudian ia kaget saat melihat Senja menghentikan makannya dan menutup mulutnya.


"Kenapa?" tanyanya.

__ADS_1


"Mual," sahut Senja memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menahan perutnya yang tiba-tiba bergejolak luar biasa.


"Kau pasti keracunan, ayo kita ke rumah sakit sekarang." Rajendra langsung panik, ia takut jika Senja benar-benar keracunan seperti dugaannya.


Senja menggelengkan kepala lalu buru-buru berlari pergi karena sudah tidak tahan lagi akan rasa mual diperutnya. Sesampainya di kamar mandi, ia langsung memuntahkan apa yang baru saja dimakannya termasuk apa yang ia makan sebelumnya sampai kerongkongan begitu pahit.


"Astaga, aku sudah bilang 'kan jangan memakannya? Apakah sakit sekali?" kata Rajendra membantu mengelus tengkuk Senja untuk memudahkan wanita itu muntah.


Senja mencuci mulutnya sampai bersih, perutnya masih ingin muntah tapi tidak terlalu. Kepalanya sangat pusing sekali hingga kedua matanya berkaca-kaca karena rasa sakit itu.


"Sudah?" tanya Rajendra semakin cemas melihat wajah Senja yang pucat.


Senja hanya mengangguk lemah, ia ingin beranjak tapi kepalanya sangat pusing sekali.


"Aku akan menggendongmu," kata Rajendra langsung meraih tubuh Senja dengan cepat.


Senja tidak menolak karena kondisinya sangat lemah. Ini benar-benar sangat aneh, ia baik-baik saja dan makanan yang dimakannya pun tidak bermasalah, tapi kenapa tiba-tiba mual sekali?


"Kau istirahat saja dulu ya, aku akan meminta Bibi membuatkanmu bubur. Setelah itu baru kita ke Dokter," ujar Rajendra membantu merebahkan tubuh Senja ke kasur lalu menyelimutinya.


"Tidak usah, aku mau tidur saja," sahut Senja terus memejamkan matanya rapat-rapat.


"Kau yakin? Wajahmu sangat pucat sekali, sebaiknya kita periksa saja," bujuk Rajendra mengusap lembut pipi Senja.


Senja hanya mengangguk lemah, ia cukup menikmati elusan lembut dipipinya, membuat ia menjadi lebih tenang. Benar-benar sangat aneh sekali.


"Baiklah kalau begitu, aku akan pergi ke kantor. Jika ada apa-apa denganmu, hubungi saja aku," ujar Rajendra seraya beranjak pergi.


Namun, sebelum ia bangkit tangannya ditahan oleh Senja membuat pria itu menoleh.


"Ada apa?" tanya Rajendra lembut.


"Disini saja, aku suka kau mengelus ku seperti ini," ucap Senja spontan begitu saja. Tapi sedetik kemudian ia menyesal karena telah berkata seperti itu.


'Sepertinya ada yang aneh dalam dirinya'


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2