
Sumpah demi apapun hari itu adalah hari paling mengerikan dalam hidup Senja. Ia akan sangat ingat bagaimana para warga itu menghakimi dirinya yang tidak tahu apapun. Bahkan Rajendra saja sudah mendapatkan hadiah bogem mentah diwajahnya karena pria itu sempat melawan saat para warga itu menyeretnya keluar dari kamar.
Senja tidak tahu siapa yang begitu tega menjebak mereka berdua seperti ini. Yang jelas Senja tidak akan pernah memaafkan orang itu sampai kapanpun.
"Brengsek! Aku sudah bilang, kita berdua dijebak. Aku dan dia tidak melakukan apapun," kata Rajendra masih berusaha menjelaskan meski saat ini ia sudah terpojok.
"Dia benar, kami berdua tidak tahu apa-apa. Pasti ada yang sengaja ingin memfitnah kita," timpal Senja tidak mau jika Rajendra yang tidak tahu apa-apa malah ikut terkena imbasnya.
"BOHONG!"
Disaat suasana semakin gaduh, tiba-tiba saja Khaira dan Dani muncul dirumah Senja. Keduanya tampak mengulas senyum liciknya melihat Senja dan Rajendra sudah terpojok.
"Kau! Untuk apa kau kesini? Lebih baik kau diam saja karena kau tidak tahu apapun!" teriak Senja begitu marah, ia curiga jika semua ini ada hubungannya dengan Khaira.
"Senja, kau ini jangan bertingkah sok didepan kami semua. Kami sudah melihat sendiri kalau kau adalah wanita yang suka memasukan seorang pria kedalam rumah. Tidak menyangka saja, wajah polos seperti dirimu ternyata doyan bermain juga. Ayo usir saja dia dari tempat ini, dia ini memang wanita pembawa sial," ujar Khaira sengaja mengompori para warga disana.
"Iya benar, usir saja dia darisini. Wanita sombong," timpal Dani semakin memperkeruh suasana.
"Iya benar, kita tidak mau kampung kita ikut terkena sial gara-gara wanita seperti ini."
Para warga itu ikut terprovokasi oleh ucapan Khaira dan Dani, mereka saling memaki kepada Rajendra dan Senja yang dinilai berbuat hal mesum dikampung mereka. Apalagi mereka melihat sendiri kalau keduanya tadi masih sibuk memakai baju saat digrebek oleh warga.
"Nikahkan aja sekalian biar nggak buat dosa terus."
"Iya bener, nikahin aja baru kita usir biar nggak ikutan ketiban sial.
"Iya nikahin aja."
Semua warga itu semakin lama semakin anarkis, ditambah provokasi yang terus diberikan oleh Khaira membuat situasi semakin memanas. Senja dan Rajendra bahkan sudah sangat lelah membela dirinya, mereka kini hanya bisa pasrah saat dipaksa duduk didepan kepada daerah untuk melakukan pernikahan.
__ADS_1
"Kalian harus menikah," titah kepala daerah dengan suara yang tegas.
"Tidak bisa! Aku dan dia tidak melakukan apapun, kita berdua benar-benar dijebak. Kalian tidak bisa seenaknya saja menghakimi kita seperti ini tanpa adanya bukti yang jelas," bantah Rajendra sangat keberatan dengan permintaan itu.
Bagaimana bisa ia harus menikahi wanita antah berantah yang sama sekali tidak dikenalnya?
"Bukti apalagi? Kita semua sudah melihat kau dan Senja didalam satu kamar tanpa menggunakan pakaian. Untuk apa pria dan wanita berduaan dikamar tanpa memakai pakaian? Kau pikir kita orang bodoh yang bisa ditipu? Udah nikahkan saja mereka," sahut seorang propokatif terus saja memojokkan mereka berdua.
"Diamlah, kau itu tidak tahu apapun. Berikan kami waktu, aku pasti bisa membuktikan kalau aku tidak salah," sergah Rajendra masih ngeyel.
"Tidak usah dengarkan dia Pak, diberikan waktu pasti mereka hanya akan kabur. Lagipula semalam aku melihat sendiri kalau Senja memasukkan pria ini kedalam rumahnya, saat aku ingin melarangnya, pria ini malah memukuliku, lihatlah ini."
Dani ikut angkat bicara, membuat cerita asal agar para warga itu mengusir Senja. Biarlah, dia juga sangat kesal mengingat apa yang dilakukan Rajendra semalam, semua tubuhnya saja masih begitu pegal. Itung-itung balas dendam saja dia.
"Bohong! Dia berbohong, aku hanya mencoba menyelamatkan Senja saat dia ingin dilecehkan oleh pria ini!" teriak Rajendra begitu murka, tidak menyangka jika akan menghadapi pria licik seperti Rajendra.
"Iya benar, Dani yang justru ingin melecehkanku. Pria ini sama sekali tidak bersalah, jangan nikahkan kami," sahut Senja ikut membela Rajendra, ia tidak mau pria itu terkena masalah karena dirinya.
Semua orang tentu sangat percaya dengan ucapan Khaira, karena beberapa orang itu adalah orang yang ia bayar untuk membuat Senja terpojok. Ia sudah bertekad untuk membuat Senja keluar dari tempat itu agar tidak ada yang mengganggunya dengan Dani lagi.
Dua orang melawan warga sebanyak itu rasanya benar-benar sangat mustahil untuk menang. Rajendra dan Senja akhirnya hanya bisa pasrah saat ketua daerah itu meminta mereka untuk menikah dengan disaksikan oleh banyak warga sana.
Air mata Senja tanpa sadar meleleh saat mendatangani surat pernikahan yang tertulis namanya disana. Semua kejadian ini benar-benar tidak diharapkannya sama sekali.
"Sekarang kalian sudah sah menjadi suami istri," ujar kepala daerah memberikan akta nikah baru kepada Rajendra dan juga Senja.
Seolah belum puas memaksa Rajendra dan Senja menikah, para warga itu mengusir Senja agar pergi meninggalkan tempat itu. Senja tidak bisa melawan, karena semakin melawan para warga anarki itu malah menyakitinya dan juga Rajendra.
Sekarang, kemana lagi ia harus pergi?
__ADS_1
"Cepat kemasi barangmu, kita akan pergi meninggalkan tempat ini," titah Rajendra dengan segala emosinya, sudah cukup ia dipermalukan seperti ini.
Senja yang tadinya masih menangis didalam kamarnya sontak mengangkat wajahnya begitu mendengar suara Rajendra.
"Kemana kita akan pergi?" tanya Senja dengan suara lirihnya, seperti tidak punya semangat hidup.
Senja itu jarang sekali menangis, sejak kecil meski ia hidup sendirian tanpa orang tua, ia selalu kuat menjalani hidupnya. Tapi saat ini ia benar-benar berada dititik terendahnya.
"Jangan banyak bertanya, kemasi saja barang-barangmu," ketus Rajendra seraya beranjak dari kamar Senja.
Rajendra mengambil ponselnya yang belum sempat ia sentuh sejak tadi, diluar sana masih banyak sekali warga yang menunggu ia dan Senja pergi. Tapi ia tidak mungkin langsung pergi begitu saja, sedangkan ia disini saja tidak punya apapun.
Rajendra segera mengaktifkan ponselnya yang sejak kemarin ia matikan. Wajahnya masih sangat emosi, tapi ia tahu saat ini emosi tidak akan menyelesaikan masalah. Untuk saat ini biarlah seperti ini dulu, untuk urusan Senja ia akan mengurusnya nanti. Rasanya baru kali ini Rajendra mendapatkan kesialan yang bertubi-tubi.
Begitu banyak panggilan dan pesan yang masuk ketika Rajendra mengaktifkan ponselnya. Nama Kalea yang paling banyak mengirimkannya pesan, ia mengabaikan pesona itu dan memilih menghubungi asistennya.
"Halo Bos? Akhirnya kau menghubungiku juga, aku harus berbicara-"
"Tutup mulutmu dan jemput aku sekarang!" bentak Rajendra tanpa basa-basi lagi.
"Wait, wait, kau memang harus secepatnya pulang karena-"
"Aku bilang tutup mulutmu Faris, kirimkan aku helikopter sekarang juga. Dalam waktu 1 jam kalau kau belum datang, siapkan saja wasiat terakhirmu!"
Rajendra langsung memerintahkan tanpa kompromi sama sekali. Ia tidak perduli saat ini Faris kelimpungan karena ulahnya. Sudahlah dia puas dicerca oleh Bara sejak kemarin, sekarang Rajendra justru memberinya perintah yang diluar otak manusia.
Benar-benar sialan!
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.