
"Ya, tentu saja aku tahu. Dia pembantu di rumah Kakak, tidak masalah 'kan aku akan membawanya? Lagipula sekarang bukan jam kerja dia."
Mendapatkan pertanyaan seperti itu, Revan malah menganggapnya angin lalu. Ia justru heran melihat sikap Kakaknya yang seolah begitu peduli dengan urusannya. Tidak biasanya, padahal Kakaknya itu selalu cuek untuk urusan apapun kecuali tentang Kalea.
"Pembantu?" Rajendra menekuk wajahnya seolah bertanya kepada Adiknya.
"Ya, atau mungkin Kakak belum tahu ada pembantu baru dirumah Kakak. Namanya Senja Kak, sudah dua Minggu dia kerja disini," ucap Revan, malah berpikir Kakaknya belum mengenal Senja.
Air muka Rajendra semakin mengeras, ia melirik Senja semakin tajam membuat wanita itu gugup seketika.
"Lalu, apa kau sekarang sudah begitu gila mau pergi mengajak pembantu? Kau tahu kasta dia jauh dibawah kita."
Deg
Senja mengangkat wajahnya begitu mendengar ucapan Rajendra yang begitu menyakitkan. Ia tersenyum pahit, kenapa rasanya sakit sekali saat Rajendra yang mengatakannya, bukankah ia sudah biasa mendapatkan hinaan seperti ini?
"Tuan Rajendra benar, tidak seharusnya aku pergi bersamamu Tuan Revan. Aku akan kembali ke kamarku saja," ujar Senja sadar akan posisinya.
"Tunggu dulu, Senja." Revan langsung saja menahan tangan Senja sebelum wanita itu beranjak. "Aku tetap akan mengajakmu. Aku tidak peduli kau siapa, yang jelas malam ini aku ingin kau yang menemaniku," titah Revan dengan sengaja memandang Kakaknya dengan tatapan menantang.
Senja terkejut dengan sikap Revan ini, ia melihat Rajendra yang semakin marah. Terlihat sekali dari wajahnya yang memerah, pertanda pria itu sedang menahan dirinya.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Lakukan saja sesukamu," ketus Rajendra langsung saja menyelonong masuk kedalam rumah.
__ADS_1
Namun, saat ia berada didekat Senja, ia sempat melirik wanita itu dengan mata hitamnya yang membuat Senja kembali menundukkan wajahnya.
"Sudah, tidak perlu memikirkan Kakakku. Dia itu memang seperti itu, ayo kita pergi sekarang," ucap Revan mencoba menenangkan Senja yang terlihat khawatir.
"Apa tidak sebaiknya aku tidak perlu ikut? Aku tidak enak karena-"
"Kau takut dengan Kakakku tapi kau tidak takut denganku. Kau ini benar-benar ya," celetuk Revan dengan begitu kesalnya.
"Bukan seperti itu, aku hanya tidak enak saja," kilah Senja.
"Jangan berbohong, kenapa kau melakukan itu? Kau suka dengan Kakakku ya?" tuduh Revan.
"Mana mungkin aku melakukannya, Tuan? Aku sadar posisiku, bukankah terlalu timpang jika seorang pembantu sepertiku menyukai Kakak Anda?" kata Senja mengulas senyum kecutnya.
Namun, jika sudah cinta untuk apa memikirkan kasta? Bukankah semuanya itu tidak penting?
"Baiklah, aku percaya padamu kali ini. Ayo kita pergi sekarang," ucap Revan, segera menggandeng tangan Senja lalu mengajaknya pergi.
Senja masih sempat menolak dan melihat kearah belakang, ia benar-benar tidak enak hati karena membiarkan Rajendra dirumah sendirian sedangkan dia malah kelayapan. Mau seburuk apapun hubungan mereka terbentuk, Senja sudah menganggap Rajendra itu suaminya karena Senja sangat menghargai arti sebuah hubungan.
Tapi sekarang ia justru terjebak bersama seorang pria yang merupakan adik dari suaminya sendiri.
_______
__ADS_1
Rajendra menatap nyalang saat mobil Revan pergi meninggalkan halaman rumahnya. Hatinya benar-benar memanas karena hal yang seharusnya tidak ia pikirkan sama sekali.
Belum selesai masalah tentang Kalea, sekarang justru Senja membuat ulah. Ia benar-benar harus melakukan sesuatu agar Senja tidak terus-menerus dekat dengan Adiknya.
Rajendra menutup gorden kamarnya dengan kasar lalu beranjak untuk mandi. Otaknya cukup panas karena sejak tadi dijejali oleh bayangan Senja dan Adiknya yang begitu dekat. Entahlah, hal itu seharusnya tidak menganggu dirinya bukan?
"Tidak, tidak mungkin aku sudah tertarik pada wanita antah berantah itu. Aku hanya tidak suka ada wanita asing yang dekat dengan Revan, tidak lebih dari itu," ucap Rajendra mengusap wajahnya dengan kasar. Mencoba meyakinkan pada dirinya sendiri jika perasannya bukan perasan lebih.
Namun, nyatanya semalaman itu Rajendra malah tidak tenang karena terus kepikiran tentang Senja. Banyak pertanyaan yang menganggu pikirkannya dan membuatnya hampir gila.
Rajendra pun akhirnya memutuskan untuk turun dari ranjang. Ia harus minum untuk membuat otaknya itu tetap waras. Tapi saat ia baru saja akan beranjak, ponselnya berdering menandakan ada panggilan masuk.
"Kalea?" gumam Rajendra begitu melihat nama penelepon itu.
Rajendra mengabaikannya, setiap saat Kalea memang selalu menghubunginya, tapi Rajendra terus saja mengabaikannya. Ia berusaha keras untuk tidak mempedulikan wanita itu sama sekali karena janjinya kepada sang Ayah.
Setelah panggilan pertama tidak diangkat, Kalea kembali menghubungi Rajendra. Tapi kali ini ia mengirimkan sebuah pesan yang membuat Rajendra terkejut bukan kepalang.
"Kalea!"
Seketika kepanikan langsung menghiasi wajah Rajendra. Pria itu buru-buru mengambil jaketnya dan pergi untuk menemui wanita yang sudah dua Minggu ini ia campakkan.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.