
Baiklah, ikut ke kantor bersama Rajendra adalah hal yang paling Senja sesali seumur hidupnya. Sejak ia datang, ia hanya duduk diam seraya memandang Rajendra yang sibuk didepan laptopnya. Menjawab sapaan dari beberapa karyawan yang keluar masuk kedalam ruangan itu. Selebihnya ia hanya diam saja.
'Benar-benar membosankan.'
Namun, ada satu hal yang membuat Senja diam-diam kagum dengan sosok Rajendra yang menurutnya sangat berubah jika sedang bekerja seperti ini. Pria itu tampak sangat berwibawa dan begitu dihormati. Wajahnya yang serius itu justru semakin terlihat tampan sekali, sungguh makhluk ciptaan Tuhan yang sangat indah.
"Apakah sudah puas melihatku?" celetuk Rajendra yang melihat Senja sejak tadi menatap dirinya.
"Eh? Siapa yang melihatmu?" sanggah Senja segera mengalihkan pandangannya untuk membantah tuduhan implisit itu.
"Kau pikir aku tidak tahu sejak tadi kau menatapku. Ada apa?" kata Rajendra memusatkan pandangannya pada Senja.
"Kau terlalu percaya diri," tukas Senja masih tidak mau mengaku.
"Benarkah? Lalu apa ini namanya Nona Senja?" Rajendra tersenyum tipis, ia menunjukkan laptopnya yang memperlihatkan Senja yang diam-diam terus memperhatikannya.
Mata Senja membulat tak percaya, ia bingung kenapa gambarnya ada bisa di dalam laptop itu.
"Masih mau mengelak lagi Nona?" ucap Rajendra menarik sudut bibirnya, merasa lucu melihat ekspresi Senja yang terkaget-kaget itu.
"Iya, ehm maksudku, kenapa gambarku bisa ada disana? Apa disini ada kamera?" tanya Senja benar-benar bingung, wajahnya yang begitu polos itu membuat siapapun ingin menciumnya saja.
"Tentu saja bisa, kau ingin tahu caranya?" kata Rajendra mendadak punya ide cemerlang di otaknya.
"Bagaimana?" Senja mengangguk mengiyakan.
"Kemarilah, aku akan menunjukkan padamu," ucap Rajendra mengulurkan tangannya.
Senja mengerutkan dahinya, ragu untuk mendekat kearah Rajendra, tapi ia juga penasaran. Jiwa polosnya ingin sekali tahu alat yang menurutnya sangat canggih itu. Akhirnya dengan langkah pelan, ia mau mendekati Rajendra untuk melihat laptop itu.
__ADS_1
Rajendra masih mengulurkan tangannya, tapi Senja nyatanya tidak menyambut uluran tangan itu dan memilih berdiri disampingnya.
"Mana? Kau menggunakan alat apa sampai bisa ada gambarku disana?" tanya Senja begitu penasaran.
Memang ia sudah pernah melihat benda sejenis laptop seperti itu, tapi ia tidak pernah mengoperasikannya.
Rajendra memutar bola matanya malas, tanpa mengatakan apapun, ia langsung menarik tangan Senja hingga wanita itu duduk dipangkuannya.
"Eh!" pekik Senja kaget.
"Kau tidak akan tahu jika hanya melihat dari jauh, kau harus memperhatikan ini baik-baik," kata Rajendra memeluk pinggang Senja dengan begitu posesif.
"Ehm, aku melihatnya kok. Aku akan berdiri saja," ucap Senja merasa tidak nyaman duduk di pangkuan Rajendra seperti ini.
"Sudah diam saja, kau lihat saja ini." Rajendra menghiraukan ucapan Senja, ia mengotak-atik laptopnya untuk mengajari Senja bagaimana mengoperasikannya. "Diruangan ini memang ada CCTV-nya, dan hanya aku yang bisa melihat rekaman itu melalui laptop ini," ucap Rajendra menjelaskan seraya menyadarkan kepalanya dibahu Senja.
Senja tersentak, seketika saja tubuhnya terkaku dan bulu kuduknya merinding saat merasakan hembusan nafas Rajendra yang sangat halus.
Rajendra tersenyum mendengar kepolosan Senja, ia semakin gemas saja dengan wanita itu. "Ini namanya laptop, dan laptop itu berbeda dengan komputer yang harus menggunakan kabel untuk mengoperasikannya. Fungsinya sama saja, hanya saja menggunakan laptop lebih mudah karena bisa dibawa kemana-mana," ujar Rajendra menjelaskan lagi, kali ini ia menatap wajah Senja yang sangat dekat dengannya itu.
"Apa ini seperti ponsel juga?" Senja kembali bertanya.
"Bukan, disini kita bisa gunakan untuk menyimpan file-file penting. Tapi juga bisa memakai internet untuk mencari sesuatu," kata Rajendra masih tidak melepaskan tatapannya.
"Benarkah? Apa kita bisa mencari orang menggunakan ini?" Mata Senja berbinar saat mendengar penjelasan Rajendra.
"Tergantung, memangnya kau ingin mencari siapa?" Rajendra mengernyitkan dahinya.
"Tidak mencari siapapun, hanya bertanya saja. Bolehkah aku menunjukkan bagaimana caranya?" kata Senja melirik Rajendra.
__ADS_1
Dan pada saat itu ia baru sadar jika sejak tadi Rajendra terus menatapnya, posisinya pun sangat dekat sekali hingga ia merasakan hembusan nafas Rajendra yang hangat.
Rajendra terus saja memandang Senja, ada perasaan aneh saat ia bertatapan langsung dengan mata jernih Senja. Hatinya seolah menghangat saat menatap wajah ayu itu. Mungkin itu juga yang dirasakan Revan saat bersama Senja. Begitu tenang dan menghanyutkan.
"Aku ... " Senja ingin berbicara, mengatakan jika ia ingin beranjak, tapi ia kaget saat tiba-tiba saja Rajendra mencium bibirnya dengan lembut.
Rajendra tidak tahu apa yang membuat ia tidak bisa mengendalikan dirinya. Senja terlalu menggoda untuk dibiarkan begitu saja. Melihat wanita yang sah menjadi istrinya dan sangat dekat dengannya, membuat ia tanpa ragu menyentuhkan bibirnya diatas bibir Senja yang manis.
Senja yang tidak bisa berciuman tentu sangat kaku saat mendapatkan ciuman penuh perasaan itu. Ia memejamkan matanya seraya memegang kemeja Rajendra dengan erat. Sesaat kemudian ia merasakan Rajendra menarik pinggangnya hingga keduanya berhadapan dengan posisi yang masih berada dipangkuan pria itu.
"Rajendra ... Jangan seperti ini," lirih Senja memandang sendu pada Rajendra, ia takut jika akan goyah dan membiarkan dirinya jatuh kedalam permainan Rajendra begitu saja.
"Aku sudah mencobanya, tapi aku tidak bisa mengendalikan diriku. Aku tidak akan melakukan apapun, jika aku berbuat lebih, tampar saja aku," ucap Rajendra mengusap pipi Senja dengan lembut lalu kembali mendekatkan wajahnya pada Senja.
Senja mengigit bibirnya, bingung harus bersikap bagaimana lagi. Tapi nyatanya ia lebih memilih untuk mengikuti kata hatinya dengan membiarkan Rajendra kembali mencium bibirnya, bahkan kali ini lebih dalam dan liar.
Semakin lama ciuman itu semakin memanas, Senja mulai berani untuk membuka bibirnya untuk memberikan Rajendra akses untuk menyusupkan lidahnya. Saling berbelit dan bertukar saliva, tangan Senja bahkan tidak bisa dikondisikan, rambut Rajendra yang tersisir rapi tampak acak-acakan karena ulah tangan nakalnya.
Rajendra merasa Senja terlalu candu sehingga membuat ia tergila-gila, ia segera meraih pinggang wanita itu lalu menggendongnya.
"Rajendra!" pekik Senja kaget, ia langsung merangkulkan tangannya ke leher Rajendra karena takut akan jatuh.
"I want u so bad, Senja." Rajendra berbisik lirih, lalu kembali mencium pipi Senja, lalu kembali melu mat bibirnya dengan mesra.
Rajendra membawa Senja ke sofa tanpa melepaskan ciuman itu, ia merebahkan wanita itu perlahan-lahan, ingin membuat Senja senyaman mungkin saat bersamanya.
"Rajendra ... Ini ..." Senja ingin mengatakan kalau semua ini salah dan harus dihentikan, tapi Rajendra tidak memberinya kesempatan sama sekali untuk berbicara, pria itu kembali mencium bibirnya dan menarik kedua tangannya keatas.
Puas bermain dibibir manis Senja, Rajendra menurunkan ciumannya ke leher jenjang Senja yang putih, menjilatinya dengan gerakan menggoda yang membuat Senja tidak bisa menahan suaranya untuk tidak keluar.
__ADS_1
Hal itu memancing Rajendra untuk melakukan sesuatu agar bisa menjadikan suara itu lebih liar lagi.
Namun, sebelum semua itu terjadi, tiba-tiba pintu ruangannya terbuka, disusul suara yang begitu mengejutkan bagi keduanya.