
Sepanjang acara teman Revan, Senja begitu tak tenang karena teringat akan tatapan dingin dari Rajendra. Bahkan ia begitu tidak fokus saat Revan mengajaknya berbicara berbagai hal. Sampai akhirnya malam sudah sangat larut Revan mengajaknya pulang kembali ke rumah.
"Malam ini aku tidak menginap disini karena aku Ibu menyuruhku pulang kerumah utama. Ini untukmu," ujar Revan seraya mengangsurkan sebuah paper bag coklat kepada Senja.
"Ini apa, Tuan?" Senja bertanya seraya menekuk dahinya.
"Hadiah dariku karena malam ini kau sudah mau menemaniku. Aku sudah memasang kartu dan juga nomorku disana, kau tinggal menggunakannya saja," kata Revan lagi.
Senja terkejut dan langsung membuka isi paper bag itu, ternyata sebuah ponsel keluaran terbaru yang begitu cantik. Senja sampai melongo saat melihat benda itu.
"Ck, kau ini kenapa lebay sekali. Itu hanya ponsel biasa, jangan bertingkah seperti orang yang tidak pernah melihatnya," celetuk Revan begitu gemas rasanya melihat ekspresi polos Senja.
"Aku memang tidak pernah melihatnya," sahut Senja jujur saja, mungkin pernah melihat, tapi tidak pernah memilikinya karena Senja menganggap ponsel bukan kebutuhan yang pokok.
"Ha? Kau ini yang benar? Apakah kau tidak pernah punya ponsel sebelumnya?" Revan malah terkejut mendengar ucapan Senja.
Bagaimana di zaman dunia Hedon seperti ini masih belum punya ponsel? Bahkan ponsel adalah segalanya sekarang.
"Tidak pernah, Tuan. Lagipula ponsel bukan benda penting yang aku butuhkan. Tuan ambil saja kembali ponsel ini, aku tidak membutuhkannya," kata Senja mengangsurkan kembali paper bag itu kepada Revan.
"Tidak tidak, aku sudah memberikannya. Itu artinya ponsel ini adalah milikmu. Ambil saja, aku juga tidak perlu repot nanti jika ingin membutuhkan bantuanmu, ambil saja ini," ucap Revan memaksa Senja untuk menerima ponsel itu.
"Tapi Tuan, aku juga tidak bisa menggunakannya," kata Senja seadanya.
"Astaga, kau ini orang darimana sih? Menggunakan ponsel saja tidak bisa, kemari aku akan mengajarimu," gerutu Revan benar-benar dibuat heran dengan Senja ini.
Apakah memang masih ada wanita se-murni Senja ini?
Revan mengambil ponsel yang baru saja diberikannya pada Senja. Ponsel itu sudah menyala dan tinggal memakainya saja.
"Nah begini, kau bisa menghubungi seseorang dengan ponsel ini. Disini juga ada aplikasi Instagram, Facebook dan juga internet lainnya yang bisa kau gunakan untuk mencaritahu apapun," ujar Revan menjelaskan dengan lugas bagaimana cara menggunakan ponsel canggih itu.
"Wah, keren sekali ya. Hanya dengan benda kecil ini kita bisa mencaritahu segalanya," kata Senja berdecak kagum dengan ciptaan manusia itu.
"Ya memang, kau bahkan bisa membeli apapun darisini tanpa keluar rumah. Tinggal klik saja, semua yang kau inginkan ada," ucap Revan lagi.
__ADS_1
"Semudah itu, Tuan? Lalu bagaimana cara membayarnya?" tanya Senja dengan wajah ingin tahunya yang polos.
"Ya tinggal ditransfer lah, nanti aku akan mengajarimu tentang itu. Sekarang coba kau gunakan ponsel ini untuk menghubungiku. Aku sudah menjelaskan caranya 'kan?" kata Revan tersenyum tipis melihat kepolosan Senja ini.
Senja mengangguk mengiyakan, ia memegang ponsel itu dengan sangat berhati-hati seolah benda itu sangatlah berharga. Tingkahnya itu benar-benar menggemaskan dimata Revan, membuat seluas senyum manis tersungging diwajah tampannya.
"Tadi klik aplikasi hijau ini ya Tuan? Lalu mencari nomornya dan kita bisa mengirim pesan," ujar Senja begitu fokus dengan ponselnya sampai tidak menyadari jika Revan sejak tadi terus memandang dirinya.
Revan memandang tak jemu pada Senja, entahlah ia tidak pernah begitu tertarik pada seorang wanita seperti ia tertarik dengan Senja. Wanita itu padahal tidak melakukan apapun, tapi kenapa bisa membuat dirinya begitu tertarik. Apakah itu artinya ...
"Tuan, apakah benar seperti ini?"
Revan tersentak saat mendengar suara Senja, ia melihat wanita itu menunjukkan ponselnya yang sudah berhasil mengirimkan pesan ke nomornya.
"Oh iya sudah, aku sudah menerima pesannya," sahut Revan mengambil ponselnya lalu membukanya dan membuka pesan dari Senja.
"Wah, ternyata berhasil. Terima kasih Tuan," ucap Senja memberikan senyuman yang sangat manis untuk Revan.
"Ya sama-sama, besok aku akan mengajarimu lagi. Sekarang tidurlah, aku harus pulang dulu," kata Revan mendadak salah tingkah sendiri hanya karena Senja tersenyum sangat manis seperti itu.
"Iya iya, kau sudah ratusan kali mengatakannya. Pergilah ke kamarmu sekarang," celetuk Revan asal saja, semakin salah tingkah karena Senja masih terus saja tersenyum sangat manis.
Senja mengangguk mengiyakan, ia turun dari mobil Revan dengan wajah yang berseri-seri. Padahal hanya mendapatkan hadiah ponsel dari Revan, tapi ia sudah begitu bahagia. Ia menunggu sampai mobil Revan pergi barulah ia pergi ke kamarnya.
________
Mendapatkan ponsel baru dari Revan membuat Senja tidak tidur karena sibuk menggunakan ponsel itu dan mencoba berbagai aplikasi. Ia yang pada dasarnya orang yang pintar, cukup mudah menguasai ponsel itu hingga ia mendownload berbagai permainan yang menyenangkan.
"Ah, ponsel ini benar-benar canggih. Pantaslah semua orang sangat suka bermain ponsel," ucap Senja tersenyum senang.
"Sudah malam sekali, sebaiknya aku tidur saja," kata Senja sata melihat jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul 3 pagi.
Senja segera mematikan ponselnya dan bersiap untuk tidur. Tapi saat ia baru saja memejamkan mata, terdengar suara deru mobil yang mendekat membuat ia mengurungkan niatnya.
"Siapa yang datang?" gumam Senja bangkit dari kasurnya untuk melihat siapa yang datang ke rumah disaat tengah malam buta seperti ini.
__ADS_1
Senja berjalan menuju jendela kamarnya, ia melihat mobil Lamborghini hitam yang terparkir didepan rumah itu. Tak lama pemiliknya turun dan membanting pintunya dengan keras.
"Rajendra?" ucap Senja cukup kaget melihat siapa sosok orang yang datang. Seingatnya pria itu tadi sudah dirumah, kenapa baru datang kembali?
Senja mengerutkan dahinya bingung, ia terus menatap Rajendra yang tampak berjalan sempoyongan lalu berhenti dibawah tanaman hias. Pria itu membungkuk seraya memegang perutnya.
"Dia sakit?" Lagi-lagi Senja terkejut melihat Rajendra yang muntah-muntah seperti itu.
Senja bergegas keluar dari kamarnya untuk melihat keadaan Rajendra. Ia tidak mungkin diam saja saat melihat pria itu muntah seperti itu.
_______
Rajendra memuntahkan segala isi perutnya karena malam ini ia terlalu banyak minum. Kepalanya berdenyut-denyut sangat pusing dan pandangannya kabur. Perutnya pun terasa sangat perih sekali.
"Huekkkk .. Huekkkk ..." Rajendra terus muntah sampai ia begitu lemas rasanya. Ia hampir saja limbung sebelum ada seseorang yang menahan tubuhnya dari belakang.
"Kau tidak apa-apa?"
Rajendra mengerutkan dahinya saat mendengar suara halus seorang wanita itu. Ia memandang sosok wanita yang begitu dekat dengannya.
"Kau?" Rajendra masih cukup kesal jika mengingat kalau Senja baru saja pergi bersama Adiknya, tapi perutnya kembali bergejolak dan ia kembali muntah begitu banyak.
Senja memberanikan diri untuk mengelus punggung Rajendra, menepuknya pelan untuk membantu pria itu agar lebih mudah muntah.
"Jangan menyentuhku!" bentak Rajendra menepis tangan Senja dengan kasar.
"Kau sedang dalam keadaan tidak baik. Ayo, aku akan membantumu ke kamar," kata Senja tidak terlalu mengambil hati sikap kasar Rajendra, karena tahu jika pria itu sedang dalam keadaan setengah sadar.
"Memangnya siapa kau? Jangan sok perduli padaku, urus saja Revan sana," ketus Rajendra kembali mendorong Senja menjauh darinya.
Rajendra berjalan perlahan-lahan menuju rumahnya, ia berpegangan pada beberapa tanaman rumahnya. Tapi karena ia mabuk cukup parah, ia malah terjatuh tersungkur didepan rumah.
"Astaga, kau ini memang sangat keras kepala. Ayo, aku akan membantumu," tukas Senja begitu kesal melihat tingkah Rajendra ini, ia langsung saja meraih tangan pria itu dan membantunya untuk berdiri lalu membawanya kedalam rumah.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.