
Cukup lama Rajendra menunggu didepan kamar Senja, pria itu juga beberapa kali mengetuk pintu. Tapi tidak ada jawaban apapun, membuat ia merasa khawatir.
"Senja?" panggil Rajendra lagi seraya mengetuk pintunya.
Sama seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada jawaban membuat Rajendra semakin cemas.
"Kemana dia? Apakah mungkin dia sengaja tidak mau menemuiku?" gumam Rajendra dengan wajah berpikirnya.
Rajendra mencoba sekali lagi mengetuk pintu kamar Senja. Dan tidak ada jawaban sama sekali. Membuat ia tanpa ragu langsung masuk saja kedalam kamar itu.
Begitu Rajendra masuk, hening tidak ada suara apapun. Kamar itu juga terlihat kosong, tapi Rajendra mendengar suara kran air yang menyala, menunjukkan jika ada orang di dalam sana.
Rajendra lalu mendekati kamar mandi itu, ingin mengetuknya tapi ia heran saat melihat pintu kamar mandi tidak tertutup rapat. Rajendra tanpa berpikir panjang langsung saja membukanya, firasatnya mengatakan kalau ada yang tidak beres.
Rajendra membuka pintu kamar mandi itu dengan cepat. Tapi sedetik kemudian matanya terbelalak lebar demi melihat pemandangan didepannya. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat Senja yang hampir tenggelam didalam bath up dengan air yang tidak henti mengalir dari kran. Yang membuat Rajendra lebih kaget adalah, air dalam bath up itu berwarna merah darah.
"Senja!" Rajendra berteriak sangat keras, ia langsung membuang obat yang dibawanya lalu berlari, meraih tubuh Senja yang hampir tenggelam dalam air yang bercampur dengan darahnya.
"Apa yang kau lakukan?!" Pekik Rajendra semakin kaget saat melihat pergelangan tangan Senja terluka. Ternyata darah itu berasal dari luka Senja karena wanita itu berniat mengakhiri hidupnya.
Dengan tubuh gemetaran, Rajendra langsung mengangkat tubuh Senja dari dalam bath up itu. Ia tidak menyangka jika Senja akan melakukan hal nekat seperti itu. Tapi kemungkinan besar ada kaitannya dengan apa yang telah ia lakukan semalam.Ia harus secepatnya membawa Senja ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat karena darah terus mengalir dari tangan Senja.
"Brengsek!" Rajendra mengumpat panik, ia merobek kemejanya lalu membalut tangan Senja untuk mengehentikan lukanya. Ia harus secepatnya membawa Senja ke rumah sakit sebelum semuanya terlambat karena darah terus mengalir dari tangan Senja.
_______
Rajendra mondar-mandir cemas didepan ruang IGD, memikirkan bagaimana keadaan Senja yang setengah jam yang lalu sudah ditangani. Rajendra benar-benar sangat takut terjadi sesuatu yang pasti akan sangat disesalinya.
"Keluarga pasien?"
Rajendra tersentak saat mendengar suara Dokter keluar dari ruang IGD. Ia bergegas menandatangi Dokter itu dengan wajahnya yang sangat panik.
"Bagaimana keadaannya Dokter?" tanya Rajendra langsung.
__ADS_1
"Lukanya tidak terlalu dalam Tuan, sepertinya Nona ingin melakukan percobaan bunuh diri tapi gagal. Sekarang keadaanya sudah lebih baik, tapi jika boleh saya sarankan ..." Dokter menghentikan ucapannya sejenak, terlihat ragu untuk mengatakannya.
"Kenapa, Dokter?" tanya Rajendra sedikit mendesak.
"Oh, untuk kedepannya saya hanya menyarankan pada Tuan untuk bersikap pelan-pelan saja. Saya maklumi mungkin masih pengantin baru," kata Dokter mengulas senyum yang tidak biasa.
Rajendra mengerutkan dahinya, cukup bingung dengan perkataan Dokter itu. Tapi begitu menyadarinya, wajahnya langsung berubah merah padam.
"Ya Dokter, terima kasih," ucap Rajendra singkat dan dingin.
"Baiklah, saya permisi dulu. Mungkin sebentar lagi Nona akan siuman, silahkan jika ingin melihat," ujar Dokter mengulas senyum tipisnya sebelum pergi meninggalkan Rajendra.
_______
Senja terbangun setelah satu jam berlalu, ia merasakan tangannya begitu nyeri dan kepalanya sangat pusing sekali. Ia mencoba memegang kepalanya, tapi tangannya yang diinfus tertarik membuat ia merasa kesakitan.
"Akhhh!" Senja berteriak kecil, melihat tangannya yang diinfus dengan wajah bingungnya.
"Apa yang kau lakukan? Berhati-hatilah."
"Kau! Kenapa kau ada disini?" Pekik Senja masih begitu takut jika bertemu Rajendra, ia juga bingung kenapa tiba-tiba ada di rumah sakit. Seingatnya tadi ia ...
"Apa yang kau pikirkan Senja? Kenapa kau melakukan hal bodoh ini?" ujar Rajendra menatap Senja cukup tajam, ia tentu marah dengan sikap Senja yang menurutnya sangat gegabah.
"Aku hanya ingin mati," lirih Senja memeluk dirinya seraya menangis.
Sudah cukup, semuanya sudah cukup bagi Senja untuk bertahan di dunia yang kejam ini. Ia tidak sanggup lagi jika harus hidup setelah semua yang terjadi. Ia benar-benar ingin mengakhiri segalanya.
"Aku tidak mau hidup lagi, aku mau mati." Senja mendadak didera kecemasan dan kebingungan, ia langsung mencabut selang infusnya dengan kasar hingga ia merasakan nyeri yang luar biasa.
"Aduh ..." Senja meringis kesakitan seraya memegang tangannya.
"Senja! Apa yang kau lakukan!" Rajendra berteriak kaget, ia langsung menarik selimut untuk menutupi luka Senja.
__ADS_1
Begitu Rajendra menyentuhnya, Senja semakin kaget, ia menarik tangannya dengan kasar.
"Jangan menyentuhku baji ngan!" teriak Senja masih ingat jelas bayang-bayang bagaimana Rajendra menyentuhnya dengan kasar dan tanpa perasaan.
"Senja, berhentilah melakukan hal bodoh ini. Kau pikir aku ingin semua ini terjadi? Tidak! Aku sama sekali tidak menginginkannya, ayolah jangan terlalu naif, aku sudah meminta maaf bukan?" ucap Rajendra masih memegang tangan Senja, tak peduli wanita itu terus saja berontak.
"Aku tidak butuh maaf darimu, aku hanya ingin mati." Senja semakin histeris, ia tidak punya semangat hidup lagi dan benar-benar ingin pergi dari dunia ini.
"Aku sudah kotor, aku ingin mati. Aku tidak mau hidup lagi, aku ..." Senja menangis histeris, memukuli dirinya sendiri, berharap ia akan secepatnya mati.
"Hentikan ini Senja," titah Rajendra menahan tangan Senja agar tidak terus memukuli dirinya sendiri.
"Lepaskan, aku tidak ingin hidup, aku mau mati ..." Senja masih terus menyakiti dirinya sendiri seraya menangis.
"Senja! Aku bilang hentikan ini!" Rajendra membentak dengan suaranya yang sangat keras membuat tubuh Senja terjingkat kaget dan semakin mengencangkan tangisnya.
"Sudah berapa kali aku bilang, aku pasti akan tanggung jawab. Aku tahu aku salah Senja, aku akan tanggung jawab atas perbuatanku. Berhentilah menyakiti dirimu, aku pasti tanggung jawab, apa kau tidak percaya itu?" kata Rajendra sedikit melembutkan ucapannya.
"Dengan cara apa kau akan tanggung jawab? Menikahiku? Lalu, dua bulan lagi kita akan bercerai dan kau akan mencampakkan aku. Begitukah yang kau maksud? Jika iya, aku ucapkan terima kasih, tapi aku tidak butuh itu semua Rajendra," kata Senja memandang Rajendra begitu sendu.
Senja sudah memikirkan segalanya, setelah surat cerainya keluar, ia dan Rajendra sudah tidak akan punya hubungan apapun. Pria itu juga tidak menginginkan dirinya dan akan segera mencampakkan dirinya yang sudah tidak suci lagi. Setelah itu ia hanyalah wanita lemah yang menyedihkan. Jadi kematian memang jalan yang terbaik untuk dirinya saat ini.
Rajendra terdiam, cukup tertampar dengan ucapan Senja itu. Mereka memang saat ini sudah dalam proses perceraian, tapi setelah apa yang terjadi antara dirinya dan Senja ...
"Kau tidak bisa menjawabnya 'kan? Karena aku tahu kau memang tidak pernah menyukaiku Rajendra. Untuk apalagi kita hidup dalam kepura-puraan lagi? Tolong lepaskan aku saja, biarkan aku memilih jalan hidupku sendiri," lirih Senja menunduk seraya menutup wajahnya dengan kedua tangan.
"Jalan hidup apa yang kau maksud? Kau bahkan tidak ingin hidup lagi," geram Rajendra.
"Tidak ada alasan untuk aku hidup," ucap Senja menangis lirih, ia sudah tidak punya siapapun di dunia ini. Bahkan jika ia mati, tidak akan ada yang menangisinya.
"Aku, akulah alasanmu untuk tetap hidup, Senja."
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.