Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 53. Bintang Yang Paling Indah.


__ADS_3

"Ayah, Ibu, ini aku ... Senja." Senja berbicara dengan suara tercekat, matanya sudah berkaca-kaca hanya menyebut nama orang tuanya.


Rajendra melihatnya, melihat jika Senja ternyata sangat rapuh. Wanita menganggap jika kesendirian itu adalah sebuah hal yang sangat biasa karena Senja sudah hidup sebatang kara sejak kecil. Hal itu membuat Rajendra dihantam rasa bersalah yang membuat hatinya terasa sangat sakit.


Rajendra menarik Senja kedalam pelukannya. "Kau tidak sendirian, aku akan selalu bersamamu. Aku mencintaimu," ucap Rajendra.


Tangis yang semula masih bisa Senja tahan, langsung jebol begitu saja mendengar ucapan tulus dari Rajendra. Ia memberanikan dirinya untuk membalas pelukan itu dan semakin mengencangkan tangisnya.


Rajendra semakin mengeratkan pelukannya, rasa cintanya ternyata bukan sekedar main-main. Tapi ia benar-benar sangat menyayangi wanita yang ada didalam pelukannya ini, hingga melihat Senja sedih ia pun seolah merasakan kesedihannya.


"Aku bersamamu, aku akan selalu bersamamu. Kau tidak sendiri lagi sekarang," ucap Rajendra mencium pelipis Senja berkali-kali.


Senja tidak bisa menjawab meski hanya sekedar kata-kata singkat. Yang jelas hatinya merasa lega, merasa disayangi dan membuat dirinya merasa diinginkan. Sebuah perasaan yang hampir tidak pernah Senja rasakan, dimana sejak kecil ia selalu dicaci dan dibenci oleh orang lain karena dianggap wanita pembawa sial.


"Sudah, jangan menangis lagi. Kau ingin orang tuamu sedih karena melihat putrinya yang cantik ini menangis?" kata Rajendra sedikit tersenyum untuk menghibur Senja.


"Ini semua gara-gara kau!" Senja mengusap air matanya, ia memukul pelan lengan Rajendra.


Rajendra tertawa kecil, ia meraih tangan Senja lalu memposisikan wanita itu didepannya. Memeluknya dari belakang seraya menyadarkan dagunya dibahu wanita tersebut.


"Sekarang ayo kita lomba," kata Rajendra.


"Lomba apa?" tanya Senja tidak mengerti, mencoba mengabaikan rasa gugup yang mendera dirinya karena Rajendra memeluknya.


"Kita hitung berapa banyak bintang dilangit," kata Rajendra lagi.


"Ha? Menghitung bintang? Yang benar saja," sahut Senja merasa aneh saat ada yang mengajaknya menghitung bintang.


"Ya, nanti yang paling cepat akan mendapatkan hadiah."


"Hadiah?" Senja semakin mengerutkan dahinya lebih dalam.


"Ehem, ayo kita mulai sekarang. Ingat, yang kalah akan dapat hukuman," seloroh Rajendra sekenanya saja.


"Apa? Kenapa bisa seperti itu?" Senja membulatkan matanya kaget.

__ADS_1


"Aku sudah mulai menghitungnya, awas kalah nanti." Rajendra mengabaikannya, ia malah sibuk melihat bintang dilangit.


Senja semakin kaget, ia tentu tidak mau kalah, ia ikut melihat bintang dilangit dan langsung menghitungnya seperti apa yang dikatakan Rajendra. Wajahnya sangat serius sekali karena benar-benar memperhatikan bintang itu satu-persatu.


Rajendra menahan senyumnya melihat ekspresi Senja itu. Ia bukannya ikut menghitung bintang, justru malah asyik memandang Senja yang sangat dekat dengannya itu.


'Dia itu sangat polos sekali, membuat aku gemas saja'


"24, 25 ..." Senja menghitung semua bintang yang dilihatnya.


"Jumlahnya 25, ya 25 semua bintang itu. Yes, aku berhasil menyelesaikannya lebih cepat." Senja bersorak senang begitu menyelesaikan acara menghitung bintangnya.


"Kau kalah Rajendra, sekarang kau harus aku hukum," kata Senja semakin bersemangat untuk menghukum Rajendra.


"Kau yakin jumlahnya 25? Tapi aku pikir ada 26," kata Rajendra dengan mata tak lepas memandang Senja.


"Enggak kok, beneran ada 25. Kau tambah yang mana sampai ada 26?" Senja merenggut tidak mengerti.


"Ada satu bintang yang sangat cerah, dia yang paling cantik diantara ribuan bintang dilangit," kata Rajendra.


"Benarkah? Yang mana?" Senja mengerutkan dahinya lebih dalam, kali ini ia menoleh untuk melihat kearah Rajendra. Dan disaat itu juga Ia baru sadar jika sejak tadi Rajendra sedang menatap dirinya.


"Kau ingin tahu dimana bintang itu?" ujar Rajendra secara reflek mengulurkan tangannya untuk membenarkan sulur rambut Senja kebelakang.


"Di-mana?" Senja menyahut terbata-bata. Sungguh saat ini jantungnya ingin sekali meledak.


"Dia ada didepanku. Satu-satunya bintang yang paling cantik dari ribuan bintang yang ada di dunia ini. Itu adalah kau, Senja."


Senja semakin terkejut mendengar itu semua. Terdengar sangat gombal, tapi bohong kalau ia tidak menyukainya.


"Apaan sih," sahut Senja mengalihkan pandangannya untuk menutupi kegugupannya.


"Kau tidak percaya? Percayalah," kata Rajendra memegang tangan Senja kembali.


"Nggak tahu, aku kayaknya udah ngantuk banget. Pengen tidur, aku ke kamar dulu." Senja berusaha mengelak dengan terburu-buru pergi.

__ADS_1


Namun, bukan Rajendra namanya kalau melepaskan Senja begitu saja. Ia langsung berjalan cepat menyusul wanita itu lalu menarik tangannya dan memeluknya.


"Rajendra!" pekik Senja kaget.


"Mau pergi kemana? Aku pasti akan mendapatkankanmu mau sejauh apapun kau pergi. Mau mencoba melawan? Satu lawan satu, satu malam," bisik Rajendra tepat ditelinga Senja, ia juga sengaja mengigit pelan telinga wanita itu membuat tubuh Senja seperti tersengat aliran listrik.


Belum hilang rasa kagetnya, Rajendra sudah menggendong Senja dengan cepat, membuat wanita itu kian tidak bisa berkutik.


Tanpa mereka sadari, Kalea ternyata menyaksikan semua adegan romantis yang terjadi antara mantan kekasihnya itu dengan wanita barunya. Melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Rajendra begitu memuja Senja. Padahal selama ini saat ia berhubungan dengan Rajendra pria itu jarang sekali menunjukkan rasa sayangnya, tapi kenapa dengan Senja berbeda?


'Apa yang istimewa dari wanita itu?'


____*****____


Keesokan harinya, Senja sudah bangun pagi-pagi sekali. Ia menyingkirkan tangan Rajendra yang melingkari perutnya dengan sangat hati-hati agar pria itu tidak terbangun. Ia lalu berjalan pelan untuk mengambil kaosnya yang semalam dilempar Rajendra entah kemana.


Sebenarnya tidak terjadi apapun antara mereka semalam selain sentuhan manis yang memabukkan. Tidak lebih dari itu, Senja masih belum siap jika harus menyerahkan tubuhnya kepada Rajendra sebelum perasaan pria itu jelas.


Setelah membersihkan dirinya, Senja langsung pergi ke dapur. Ia memposisikan dirinya sebagai seorang menantu yang harus menyiapkan makanan sebelum semua anggota keluarga bangun. Ia juga berencana untuk mengambil hati Kakek Hardi melalui makanan, hal yang sudah umum dilakukan oleh semua orang.


Dimana jika kita ingin mengambil hatinya, kita bisa mencobanya melalui perut. Membuat terbiasa dan lama-lama akan merasa suka.


Namun, saat Senja tiba di dapur, ternyata sudah ada Kalea yang sedang menata banyak sekali makanan yang sudah siap untuk dimakan, membuat Senja cukup terkejut akan hal itu.


'Dia masak banyak sekali, sejak kapan dia bangun?' pikir Senja.


"Hai, Kak Senja ya? Selamat pagi, Kak. Aku sudah memasak, jika Kakak ingin mencoba memasak makanan lain, silahkan saja. Sejauh ini sih semua orang sangat suka masakan yang aku buat. Atau mungkin Kakak ingin aku ajari bagaimana caranya membuat semua orang menyukai Kakak?" Kalea langsung berbicara dengan nada yang sangat sopan dan lemah lembut.


Namun, bagi Senja itu malah seperti sebuah penghinaan. Kalea ini seolah sangat meremehkannya, wanita itu menganggap kalau tidak akan ada orang yang bisa menolak dirinya, membuat wanita itu begitu percaya diri. Entah kenapa Senja tidak menyukainya, memang bicaranya sangat lembut, tapi begitu menusuk.


"Oh ya? Bagus sekali, tapi aku rasa aku tidak perlu belajar darimu, Kalea. Karena suamiku bilang, dia sangat suka masakan yang aku masak," sahut Senja dengan seulas senyum tipisnya, ia juga mengangkat dagunya untuk menegaskan pada Kalea, ia tidak akan semudah itu terpancing jika hanya dengan kata-kata pedas seperti itu.


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


Mampir juga kesini yaaaa!!!!



__ADS_2