
"Senja? Untuk apa dia ada disini?"
Rajendra tentu sangat kaget melihat Senja ada disana. Bukankah ia sudah mengatakan kepada wanita itu tidak pergi kemana-mana selama mereka belum resmi berpisah? Ia takut jika Senja akan membuat masalah dan pastinya akan mengusahakan dirinya nanti.
"Dia benar-benar ceroboh," gerutu Rajendra begitu kesal. Ia bergegas menghampiri Senja untuk memperingatkan wanita itu.
Namun, sebelum ia sempat mendekat ia menghentikan langkahnya tatkala melihat sosok pria yang tidak disangkanya akan menghampiri Senja.
"Revan?"
Rajendra semakin terkejut melihat Adiknya juga ada disana. Yang lebih mengejutkan adalah, pria itu bagaimana bisa bersama dengan Senja?
_______
Senja melihat-lihat sembari menunggu Revan membayar makanannya. Akan tetapi ada sesuatu yang menarik perhatian Senja, hingga membuat ia melangkahkan kakinya menuju salah satu toko yang menjual boneka.
Disana Senja melihat boneka beruang besar yang sangat cantik dipajang di toko itu. Pandangan Senja berubah sendu, ia perlahan mendekati boneka itu dan ingin sekali menyentuhnya.
"Senja, aku sudah selesai. Ayo kita pulang," ujar Revan menghampiri Senja.
"Oh, baiklah." Senja mengangguk mengiyakan, tapi matanya masih melirik boneka beruang itu.
"Kenapa?" Revan menyadari jika Senja sebenarnya masih belum ingin pergi darisana.
"Oh tidak, boneka itu sangat lucu. Aku jadi ingat dulu Ibuku pernah membelikannya waktu aku kecil," sahut Senja tersenyum tipis mengingat masa kecilnya, tapi sesaat kemudian senyumannya berubah getir.
"Lalu, sekarang dimana Ibumu?" tanya Revan lagi.
"Dia sudah pergi."
"Lalu Ayahmu?"
"Entahlah, aku tidak pernah tahu dia ada dimana. Ibuku hanya mengatakan kalau Ayah pergi saat aku masih dikandungan, sudah itu saja. Tapi biarlah, semuanya sudah berlalu, tidak perlu membahasnya lagi, Tuan. Ayo kita pulang sekarang," kata Senja terlihat enggan untuk membahas hal yang membuat hatinya mengharu biru.
Revan terdiam mendengar ucapan Senja, ia menatap wanita itu yang terlihat sekali dengan menyembunyikan kesedihannya. Ia tidak menyangka jika Senja sudah tidak memiliki orang tua.
Revan lalu melihat boneka beruang besar yang tadi dilihat oleh Senja.
__ADS_1
"Ah iya aku lupa, tadi aku meninggalkan kunci mobilku didalam restoran tadi. Kau pergi duluan saja," kata Revan tiba-tiba saja.
"Eh? Mau aku ambilkan Tuan?" ujar Senja.
"Tidak usah, kau tunggu saja di mobil. Aku akan pergi mengambilnya dulu," ujar Revan menyempatkan dirinya untuk mengusap kepala Senja sebelum ia pergi.
Senja lagi-lagi terkejut dengan sikap Revan ini, ia memegang kepalanya dengan perasaan yang sulit diartikan.
Sementara itu, Rajendra yang menyaksikan itu semua tampak hanya bisa mengepalkan tangannya erat. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia tidak suka melihat Senja terlihat begitu dekat dengan Revan.
"Apa hubungan mereka? Kenapa Revan sangat dekat sekali dengan Senja? Apa mungkin ..."
Memikirkan bagaimana hubungan adiknya dan Senja, semakin membuat Rajendra memanas. Ia tentu tidak terima, wanita antah berantah yang ia bawa kenapa justru dekat dengan Adiknya?
"Apa jangan-jangan dia ingin menggoda Revan? Awas saja jika itu benar, aku tidak akan membiarkannya," gumam Rajendra tidak akan membiarkan hal itu sampai terjadi.
Selain Senja adalah wanita asing yang sama sekali tidak dikenal. Ia juga tidak mau jika nantinya Senja malah membongkar tentang pernikahan mereka. Bukan tidak mungkin jika Senja ingin melakukannya, pasalnya ia juga belum tahu bagaimana sifat asli wanita itu.
"Faris, aku mau kau mencaritahu semua tentang wanita itu. Laporkan semuanya padaku meski itu detail sekecil apapun," titah Rajendra merasa harus menyelidiki siapa sosok wanita yang masuk kedalam kehidupannya itu.
"Baik Tuan," sahut Faris mengangguk sigap.
_______
Malam harinya, sesuai perintah dari Revan. Senja sudah siap menggunakan gaun yang dibelikan oleh pria itu. Senja hanya merias dirinya seadanya, karena pada dasarnya ia memang tidak pandai merias. Ia pun sebenarnya sangat tidak nyaman menggunakan gaun itu, tapi apa mau dikata, Revan marah jika ia menolak permintaan pria itu.
"Senja!"
Suara teriakan Revan sudah terdengar diseluruh penjuru rumah. Membuat Senja hanya bisa menghela nafas panjang, ia buru-buru bangkit dari duduknya lalu berjalan keluar kamar untuk menghampiri Revan.
Terlihat Revan sudah rapi dengan setelan jas yang dipakainya. Pria itu tampak sibuk dengan ponselnya sehingga tidak melihat Senja datang.
"Tuan, aku sudah siap," ucap Senja memberitahu.
"Ya, setelah ini kita akan berang ..."
Revan memutar tubuhnya seraya memainkan ponselnya, awalnya tidak begitu melihat sosok Senja. Tapi saat ia menoleh, ia seketika terdiam menatap Senja yang malam itu sangat cantik menggunakan gaunnya.
__ADS_1
Revan benar-benar tidak percaya jika itu adalah Senja yang suka berpakaian asal dan alakadarnya. Kecantikan Senja itu berbeda, bukan cantik yang sangat cantik, tapi lebih ke manis dan enak dipandang.
"Tuan?" panggil Senja karena Revan hanya diam saja.
"Ya ha? Kau sudah siap? Baiklah, kita pergi sekarang," kata Revan berbicara sangat cepat, terlalu terpana dengan Senja malah membuatnya tidak fokus.
Senja mengangguk singkat, ia berjalan mendahului Revan tapi pria itu segera menahan tangannya.
"Ada apa Tuan?" tanya Senja bingung.
"Ehm, nanti jangan memanggilku Tuan jika disana. Panggil saja namaku ya," titah Revan sedikit memberikan senyuman tipis.
"Kenapa?"
"Sudahlah, ikuti saja perintahku. Ayo kita berangkat." Revan malas untuk memberikan alasan apa, ia langsung mengandeng tangan Senja dan mengajaknya keluar.
Senja sebenarnya sangat risih dengan sikap Revan ini, pria itu terlalu seenaknya saja padanya. Tapi saat ini ia masih butuh tempat tinggal, jika Revan akan memecatnya, kemana dia akan pergi?
Keduanya langsung keluar rumah menuju tempat pesta teman Revan diadakan. Tapi, saat baru saja mereka membuka pintu, bersamaan dengan Rajendra yang datang.
"Kakak!" seru Revan kaget melihat Kakaknya tiba-tiba datang.
Senja sendiri tak kalah kagetnya, ia memandang Rajendra yang menatapnya sangat dingin. Punggung Senja rasanya seperti dialiri keringat saat menatap mata Rajendra, pria itu memang biasa berwajah dingin, tapi malam ini benar-benar cukup tidak mengenakan untuk dilihat.
"Mau kemana kalian?" Rajendra bertanya dengan suara menahan amarah yang tiba-tiba muncul begitu saja.
Rajendra marah karena Senja benar-benar sangat lancang sekali menurutnya. Ia terus menatap wanita itu dengan sangat tajam. Sebenarnya cukup kaget melihat Senja yang berdiri didepannya ini berbeda dengan Senja yang ditemuinya beberapa waktu lalu
Dia sangat cantik malam ini.
"Ah, aku akan pergi ke acara temanku. Kakak tumben pulang kesini?" Revan menanggapi dengan santai saja.
"Kau akan mengajak dia pergi bersamamu?" tanya Rajendra menunjuk Senja dengan telunjuknya.
"Ya, apakah ada yang salah?" sahut Revan masih santai saja.
"Apa maksudmu melakukan ini? Apakah kau tahu siapa dia? Kenapa kau dengan seenaknya saja membawa dia pergi. Apakah selama ini kalian sudah terbiasa seperti ini, iya?" sentak Rajendra mulai tidak bisa mengontrol dirinya sendiri. Ia ingin sekali marah, tapi marah kenapa? Ia pun bingung dengan alasannya.
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.