
Rajendra bisa merasakan apa yang Senja rasakan saat ini, ia langsung memeluk wanita itu dengan sangat erat.
"Lepas! Kau jahat! Aku membencimu!" Senja berteriak dan berontak dari pelukan Rajendra.
"Tidak, tidak, aku benar-benar minta maaf Senja. Berikan aku kesempatan, aku akan memperbaiki segalanya, maafkan aku." Rajendra terus memeluk Senja sangat erat, nyatanya hatinya ikut sakit melihat Senja bersedih seperti ini.
"Lepaskan aku! Aku membencimu, kau benar-benar jahat Rajendra! Kenapa harus aku yang terus berjalan kearahmu! Kenapa!" Senja memukuli Rajendra seraya terus berontak dari pelukan pria itu.
Sudah cukup hatinya merasakan sakit, ia tidak mau lagi menambah rasa sakit itu. Rasanya kini ia bahkan hampir mati karena rasa sakit hati yang begitu menyiksa.
"Senja, aku mohon," pinta Rajendra tidak perduli akan pukulan itu, ia terus saja memeluk Senja sangat erat.
Kesabaran Senja sudah habis, ia langsung mendorong tubuh Rajendra dengan kasar.
"Pergi, aku tidak ingin melihatmu lagi. Aku ingin sendiri," kata Senja mengusap air matanya dengan kasar.
"Senja ..." Rajendra memandang Senja sendu, sangat berharap wanita itu mau memberinya kesempatan.
"Aku bilang pergi." Senja langsung saja menarik tangan Rajendra dengan kasar lalu mendorong pria itu agar keluar dari kamarnya. Setelah itu ia langsung menutup pintu kamarnya dengan keras dan menguncinya
Senja menjatuhkan dirinya ke lantai seraya menangis sejadi-jadinya. Kenapa? Kenapa ia harus jatuh cinta kepada seorang Rajendra? Kenapa harus Rajendra? Pria yang sudah memberinya luka yang begitu menyakitkan, kenapa harus kepada dia?
"Senja, apa kau butuh waktu sendiri? Baiklah, tidak apa-apa. Aku akan menunggu disini ya, aku benar-benar minta maaf," kata Rajendra dari luar pintu kamar Senja.
Senja tidak menghiraukannya, hatinya sudah terlalu sakit hingga rasanya ia hampir mati. Memang sudah seharusnya ia menjauh sejauh mungkin dari Rajendra. Ia tidak boleh lagi lemah hanya karena rasa cintanya.
Aku harus melupakannya, aku membencinya.
_______
Rajendra menghela nafas panjang, ia mengusap wajahnya kasar lalu mendudukkan dirinya didepan pintu kamar Senja. Ia berjanji tidak akan pergi darisana sebelum Senja membukakan pintu untuknya. Saat ini ingatkan Rajendra melayang pada saat dimana Kalea mendatanginya di toilet tadi.
__ADS_1
"Kalea? Untuk apa kau disini?" tanya Rajendra, tidak menyangka jika Kalea akan nekat menemuinya disana.
Kalea mendekati Rajendra, memandang sayu pada pria itu. Perlahan air mata yang sejak tadi dibendungnya langsung pecah begitu saja. Tanpa ragu ia langsung menghambur ke dalam pelukan Rajendra yang sangat ia rindukan.
"Lea?" Rajendra mencoba melepaskan pelukan itu karena merasa tidak enak, tapi Kalea justru memeluknya sangat erat.
"Tolong katakan semua itu tidak benar, Kak. Kakak tidak mungkin menikahi wanita lain 'kan? Kakak hanya mencintaiku, iya 'kan Kak? Semua itu tidak benar bukan?"
Kalea menolak kenyataan meski semua itu sudah jelas didepan matanya. Kalea tidak rela jika pria yang menjadi pria pertama dalam hidupnya itu akan hidup bersama wanita lain selain dirinya.
"Kalea, jangan seperti ini. Bukankah sudah aku katakan kalau kita tidak bisa bersama. Kau itu adik sepupuku," ujar Rajendra tidak tega melihat Kalea menangis seperti ini.
Kalea yang mendengar ucapan Rajendra langsung melepas pelukannya. Ia menatap tak percaya pada Rajendra. "Sepupu Kak? Apakah itu sebuah alasan? Dimana janjimu dulu padaku Kak? Kau sudah berjanji untuk selalu ada untukku dan menungguku. Dimana itu semua Kak? Apa dia sudah menggantikan posisiku? Secepat itu Kak?" ucap Kalea begitu keras, tapi lirih diakhir kalimatnya.
"Lea, tolong mengertilah. Sekarang bukan hanya sebuah perasaan saja. Tapi-"
"Tapi apa Kak? Kenapa kau sangat jahat! Kau itu hanya milikku Kak, bagaimana kau bisa menikah dengannya!" jerit Kalea mendorong bahu Rajendra dengan kasar.
"Bisa! Kita pasti bisa bersama Kak. Aku yakin kita pasti bisa bersama. Kenapa kita harus mengalah pada orang tua kita? Kita juga berhak bahagia Kak!"
"Kalea, kau sangat mengenalku. Bagiku orang tuaku lebih penting daripada apapun di dunia ini. Cobalah ikhlas Kalea, jangan terus menentang takdir!" Rajendra kembali membentak keras.
"Itu bukan sebuah alasan Kak!" teriak Kalea tak kalah kerasnya.
"Terserah apa katamu. Aku sudah lelah Lea," ujar Rajendra memilih menghindar karena tak sanggup melihat wajah Kalea yang begitu sedih bercampur amarah.
Kalea langsung menahan tangan Rajendra dengan erat.
"Lea!" seru Rajendra.
"Katakan kalau kau sudah tidak mencintaiku dan tatap mataku," ujar Kalea menantang.
__ADS_1
"Lea, kau sudah tahu jawabannya," kata Rajendra enggan.
"Katakanlah Kak! Katakan kalau kau sudah tidak mencintaiku lagi dan tatap mataku!" teriak Kalea memegang erat tangan Rajendra.
Rajendra berdecak kesal, ia memandang mata Kalea yang terlihat berkaca-kaca. Ingin mengatakan kalau ia tidak mencintainya, tapi lidahnya begitu kelu. Ia justru terperangkap oleh mata indah Kalea.
"Aku ...
"Kau masih mencintaiku 'kan Kak? Aku tahu perasaanmu, tolong jangan lupakan aku, aku sangat mencintaimu, Kak." Kalea tersenyum seraya menangis secara bersamaan. Ia lalu memeluk Rajendra kembali dengan erat.
"Kalea, jangan seperti ini," kata Rajendra mencoba menolak.
"Tolong jangan menolakku lagi Kak. Jika memang ini yang terakhir, izinkan aku mencintaimu satu hari ini saja. Satu hari ini saja Kak," pinta Kalea begitu sendu.
Rajendra memandang mata indah itu, ia benar-benar tidak bisa berkata apapun. Bahkan sekedar untuk mengatakan tidak pun tidak bisa. Ia hanya bisa memandang Kalea yang perlahan-lahan mulai mendekatkan wajahnya lalu mencium bibirnya dengan lembut.
Rajendra terlena, ia menarik tengkuk Kalea untuk memperdalam ciumannya menjadi lebih intim. Saat itu yang dipikirkannya hanya ingin menyalurkan perasaannya yang tidak bisa ditahan lagi. Ia mencium Kalea dengan begitu menggebu-gebu dan panas.
Mungkin jika tidak ingat itu ditempat umum, Rajendra bisa saja khilaf. Ia melepaskan ciumannya, lalu memegang pipi Kalea dengan lembut.
"Setelah hari ini, berjanjilah untuk melupakanku Kalea," ujar Rajendra.
Kalea mengigit bibirnya, ingin sekali berteriak kalau ia menolak. Tapi bukankah itu semua sia-sia? Rajendra tidak akan memilih dirinya lagi.
"Apa kau juga bisa berjanji untuk melupakanku Kak?" Kalea balas bertanya dan hal itu membuat Rajendra bungkam.
Rajendra kembali menarik tengkuk Kalea lalu mencium bibirnya lebih panas dari sebelumnya. Kalea pun membalasnya dengan penuh cinta, ia menangis tapi bahagia karena Rajendra memberinya kesempatan untuk hari ini.
Aku harus memanfaatkan sebaik mungkin waktu ini. Aku yakin Kak Rajendra tidak akan melupakanku karena dia hanya mencintaiku. Ya, dia hanya mencintaiku.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.