
Senja tidak tahu apa saja yang sudah dibawakan oleh Ibu mertuanya saat mereka akan pergi tadi. Yang jelas Senja tidak diizinkan untuk membawa apapun. Ibu mertuanya bilang, semua sudah disiapkan oleh wanita itu. Jadi Senja tinggal berangkat saja.
"Apa ya yang dibawain sama Ibu?"
Senja bertanya-tanya penasaran dengan hadiah apa yang Ibu mertuanya itu berikan. Ia yang awalnya ingin tidur, berubah haluan membuka koper yang dibawakan Ibu mertuanya.
Saat koper itu terbuka, Senja justru dibuat kaget dengan isi koper itu yang berisi baju sarangan dengan berbagai warna. Senja benar-benar syok sekali, ia meraih satu diantaranya lalu mengangkatnya keatas.
"Baju apa ini?" Senja geli sendiri melihat baju itu, bahkan jika memakainya seperti tidak memakai apapun.
Terdengar suara ponselnya kembali berbunyi, pesan Ibu mertuanya terlihat disana. Senja langsung membacanya.
Ingat pesan Ibu, kamu harus memakainya didepan Rajendra dan tanyakan bagaimana pendapatnya. Jika kamu menolak, Ibu akan marah.
Senja berdecih pelan, tidak anak, tidak ibu sama-sama tukang mengancam pikirnya.
Senja lalu kembali melihat baju yang dipegangnya itu. Ia melirik kearah kamar mandi yang masih tertutup rapat. Sebenarnya enggan untuk memakainya, tapi nanti Ibu mertuanya akan marah. Akhirnya ia pun mau mengganti bajunya dengan baju saringan tipis berwarna putih yang diambilnya tadi.
Senja memakai baju itu sebelum Rajendra keluar dari kamar mandi, ia lalu menatap pantulan dirinya dicermin.
"Baju apa ini?" Senja menatap penampilannya dengan sangat syok, ia seperti tidak mengenali sosok wanita yang ada dicermin itu.
Lingerie putih itu tampak sangat pas ditubuh Senja yang kini cukup berisi meski perutnya belum kentara. Bagian atasnya yang berenda itu membuat dada Senja terlihat sangat menggoda. Lalu dibagian perut sampai ke setengah paha menerawang membuat perut dan segitiga bermuda Senja terekspos jelas.
Siapapun yang melihat Senja seperti ini, pasti akan menerkamnya tanpa ampun karena tubuh sintal menggoda itu.
Senja lalu memutar tubuhnya untuk memastikan penampilannya lagi. Sebenarnya tidak nyaman, tapi mau apalagi? Dia tidak bisa menolak jika sudah ibu mertuanya memberikan perintah.
"Ehm ... tapi aku terlihat cantik memakai baju ini," gumam Senja terkikik geli melihat penampilannya kali ini.
"Aku dari dulu 'kan memang cantik. Rajendra saja yang bodoh karena tidak bisa tulus mencintaiku," gerutu Senja mendadak kesal sendiri.
Senja yang awalnya enggan menggunakan baju itu, tampak mulai suka. Ia memutar tubuhnya lagi dan menatap penampilannya dengan senyuman kagum. Hingga saat ia berputar lagi, ia kaget karena Rajendra sudah berdiri didepan pintu kamar mandi dengan tatapan tajamnya.
"Rajendra! Sejak kapan kamu berdiri disana?" tanya Senja dengan wajah kagetnya.
"Enggak lama, setidaknya masih bisa mendengar saat kamu muji diri sendiri," sahut Rajendra menahan senyumnya, sejak tadi ia memperhatikan apa yang dilakukan istrinya itu.
"Apa?" Wajah Senja berubah malu mendengar jawaban itu. "Oh iya, bagaimana menurutmu penampilanku?" Senja lalu bertanya tentang penampilannya, ingat jika Ibu mertuanya ingin ia menanyakan pendapat dari Rejendra.
__ADS_1
Rajendra terkejut, manik mata pria itu langsung menyoroti semua dalam diri Senja. Ia tidak menyangka jika Senja akan memakai baju haram itu dan dengan tanpa malu memamerkannya.
"Kamu ingin menggodaku?" sergah Rajendra dengan tanan mengepal, otaknya sudah liar membayangkan isi dari baju haram yang sudah sedikit di spoiler itu.
"Menggoda apa? Ibu bilang ingin aku menanyakan ini padamu. Apa aku pantas memakai baju ini?" Senja yang polos itu sama sekali tidak mengerti jika Rajendra sedang menatapnya dengan tatapan menerkam. Wanita itu justru memamerkan tubuhnya dengan jelas.
"Senja ...." Rajendra mengeram rendah, dengan langkah panjang, ia langsung mendekati wanita itu hingga ia berdiri tepat dihadapannya.
"Kenapa? Aku jelek ya pakai baju ini?" Senja mendongak sembari bertanya.
"Tidak," jawab Senja dengan suara beratnya ia mendekatkan dirinya hingga tubuhnya bersentuhan dengan wanita itu.
"La-lu?" Seperti biasa, Senja pasti langsung gugup jika sudah di Pepet Rajendra seperti ini.
"Kamu sangat cantik," ucap Rajendra dengan tatapan mendamba.
"Benarkah? Apa aku sangat cocok memakai baju ini?" Senja tentu senang karena Rajendra memuji dirinya, selama ini pria itu tidak pernah memujinya.
"Sangat cocok." Rajendra mengangguk mengiyakan, nafasnya kian berat dan ia terus mendekatkan dirinya pada Senja, tangannya terulur itu menyentuh pinggang wanita itu dengan gerakan pelan.
"Rajendra, kamu mau apa?" Tubuh Senja seperti tersengat aliran listrik begitu tangan Rajendra menyentuh pinggangnya.
"Jangan terlalu polos jadi orang, aku ingin memakanmu jika seperti ini,' bisik Rajendra mengigit pelan telinga Senja.
Senja meremang, ia langsung membuka matanya, kaget karena Rajendra tidak melakukan hal seperti dugaannya.
"A-aku hanya menuruti keinginan, Ibu. Aku akan menggantinya jika kamu tidak menyukainya," ujar Senja mencoba menyingkir dari hadapan Rajendra.
"Aku sangat suka kamu memakai baju ini. Dan aku ingin setiap malam kamu memakainya di hadapanku. Jangan coba-coba menunjukkannya pada orang lain," titah Rajendra menarik pinggang Senja sebelum wanita itu pergi kemanapun.
Senja mengerutkan dahinya, ia justru ingin tertawa mendengar perintah Rajendra itu. "Ya aku sudah tahu lah, aku nggak mungkin pakai baju saringan seperti ini jalan-jalan. Dasar aneh, sudah lepaskan, aku akan mengganti baju," cetus Senja menjauhkan dirinya dari Rajendra.
Rajendra menyipitkan matanya, ia yang sejak tadi menahan dirinya merasa tidak sanggup lagi melihat tubuh sintal istrinya menari-nari di pelupuk matanya. Tapi ia masih waras untuk tidak menyergap Senja karena wanita itu belum makan apapun sejak pagi. Senja pasti lelah 'kan?
_____****_____
Setelah mengganti bajunya, Rajendra mengajak Senja makan sambil menikmati sore mereka di restoran yang berada dekat dengan vila yang mereka tempati. Memandang lautan yang indah serta semburat warna Senja yang mulai terlihat.
"Rajendra, bolehkah aku pinjam ponselmu?" tanya Senja ragu-ragu.
__ADS_1
"Untuk?" Rajendra langsung meliriknya, karena permintaan Senja itu cukup mengejutkan.
"Aku ingin mengambil gambar," jawab Senja, tidak ingin melewatkan momen yang menurutnya sangat indah itu.
Rajendra mengambil ponselnya tanpa memprotes, ia lalu memberikannya pada Senja setelah membuka kuncinya.
"Terima kasih," bisik Senja tersenyum senang.
"Kamu nggak bawa ponsel?" tanya Rajendra.
"Enggak, aku lupa ketinggalan di kamar," sahut Senja seadanya.
Senja lalu mencari aplikasi kamera agar bisa mengambil gambar secepatnya. Tapi ia melihat ada pesan masuk ke ponsel itu. Ia tidak berniat membukanya karena hal itu sangat lancang.
Namun, saat melihat siapa pengirim pesan itu membuat ia terdiam.
Kalea💞
Aku merindukanmu, Kak.
Banyak pesan yang wanita itu kirimkan, tapi satu pesan terakhir itu yang tidak sengaja Senja baca. Hatinya mendadak panas sekali, apalagi melihat nomor Kalea masih disimpan dengan emoticon love.
"Ini, ada pesan," ujar Senja menyerahkan kembali ponsel itu pada Rajendra.
Rajendra terdiam, ia menatap ekspresi Senja yang sudah berubah itu. Ia sudah bisa menebak kalau pesan itu pasti dari Kalea.
"Tidak jadi mengambil gambar?"
Senja menggeleng pelan. "Lain kali saja," sahut Senja.
"Ya sudah, matikan saja ponselnya. Selama seminggu kedepan dilarang memakai ponsel. Aku nggak mau waktu kita terganggu karena hal yang tidak penting," ujar Rajendra lagi.
"Kamu nggak nyesel ninggalin dia?" Entah kenapa pertanyaan itu langsung meluncur dari bibir Senja.
"Tidak ada yang perlu disesalkan. Mungkin aku dulu masih belum bisa memahami perasaanku. Tapi semakin lama aku bersamamu, aku merasa perasaanku padamu bukan sekedar rasa tanggung jawab karena aku sudah melakukan hal itu padamu. Aku tahu ini semua terlalu cepat, tapi itulah kenyataannya, Senja. Hatiku memang sudah memilihmu, dan berkali-kali aku menanyakannya pada hatiku sendiri, dan berkali-kali jawabannya tetap sama, yaitu kamu Senja."
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1