Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 06. Pergi.


__ADS_3

Malam itu benar-benar menjadi malam terkelam dalam keluarga Prakasa. Setelah hubungan Rajendra dan Kalea terbongkar, sikap permusuhan itu kembali hadir dalam diri Bara dan Steven. Mereka sama-sama tidak mau mengalah dan terus berkeras hati. Hubungan yang semula baik-baik saja berubah dalam sekejap mata.


"Mulai detik ini, Ayah harap kau bisa melupakan wanita itu." Begitu sampai dirumah, Bara langsung memberikan perintahnya dengan suara tegas.


"Kenapa?" Hanya satu kata itu yang meluncur dari bibir Rajendra.


"Jangan tanya kenapa, karena kau pasti mendengar sendiri apa yang dikatakan oleh Pamanmu. Kita tidak punya apapun selain harga diri, jika sudah diinjak-injak, apa yang akan kau banggakan lagi? Lupakan dia." Bara menyahut dengan nada datarnya, mencoba membuat putranya mengerti jika mau bagaimana pun juga, mereka tidak akan pernah bisa bersama.


Rajendra mengepalkan tangannya, untuk pertama kalinya ia memberanikan diri menatap Ayahnya dengan sangat tajam.


"Jika aku meminta Ayah meninggalkan Ibu, apa Ayah juga akan melakukannya?" kata Rajendra melawan tatapan Ayahnya.


Kyara saja sampai terkejut mendengar ucapan putranya yang seperti itu. Memang tidak ada yang salah dengan hubungan mereka, tapi ...


"Rajendra!" bentak Bara cukup emosional. "Apa kau tidak mengerti juga apa yang Ayah katakan? Kau dan Kalea tidak akan pernah bisa bersama sampai kapanpun juga. Untuk apa kau harus melakukan hal yang sia-sia?" lanjutnya lagi.


"Kenapa tidak bisa? Jika Ayah saja bisa merebut Adik ipar Ayah sendiri, kenapa aku tidak?"


Deg


Bara dan Kyara semakin syok mendengar ucapan Rajendra. Hanya ada satu pertanyaan dalam benak mereka, bagaimana Rajendra bisa tahu?


"Rajendra, apa yang kau katakan, Nak?" tutur Kyara mencoba berbicara lembut dengan putranya itu.


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Jangan Ayah pikir aku tidak tahu tentang masa lalu kalian," sahut Rajendra berapi-api. "Ayah yang membuat kesalahan, kenapa aku yang harus menerima hukuman? Kami berdua saling jatuh cinta, kenapa tidak bisa bersama?" sambung Rajendra.


"Cinta itu tidak salah, tapi kepada siapa kau jatuh cinta itu yang salah. Ayah tidak akan pernah melarangmu jatuh cinta dengan siapapun, asalkan jangan pada dia!" seru Bara tak kalah kerasnya.


"Tapi aku hanya mencintai Kalea, dan dia satu-satunya wanita yang aku inginkan. Jika Ayah tetap tidak bisa menerima dia, aku tidak peduli, aku tetap akan menikahinya!" teriak Rajendra dengan nada penuh tekadnya.


Rajendra langsung meninggalkan kedua orang tuanya setelah mengatakan hal itu. Tapi ucapan Ayahnya selanjutnya membuat langkahnya seketika berhenti.


"Baik jika itu keputusanmu. Itu artinya kau sudah siap memutusakan semua hubungan dengan keluar ini."


"Bara!" Kyara menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh suaminya.

__ADS_1


"Biarkan saja Kya, dia begitu ingin mempertahkan cintanya dan melawan orang tuanya sendiri. Itu artinya dia memang sudah tidak membutuhkan kita lagi," kata Bara menatap punggung Rajendra.


Rajendra menggelengkan kepalanya berkali-kali, mana mungkin ia bisa meninggalkan keluarganya demi wanita yang dicintainya? Mereka berdua sama pentingnya bagi Rajendra karena ia begitu menyayangi keduanya.


"Ayah benar-benar keterlaluan!" teriak Rajendra.


"Semua ini demi kebaikan kalian berdua, lagipula apa yang kau pikirkan? Apakah mungkin bisa kau menikahi sepupu sendiri? Orang gila mana yang akan melakukannya. Jika kau ingin mencobanya, silahkan saja. Kau sangat mengenal Ayah, Rajendra." Bara hanya mengatakan hal itu sebelum ia pergi dari ruang tengah rumahnya.


Biarlah Rajendra menganggapnya egois atau menjadi Ayah yang kejam. Melihat bagaimana sikap Steven hari ini yang terus mengolok-olok harga diri putra dan keluarganya, membuat Bara yakin jika keputusannya ini memang sangat tepat.


_______


Rajendra mengamuk didalam kamarnya, ia menghancurkan apa saja yang ada didepan matanya untuk meluapkan emosi dalam dirinya. Ia melampiaskan segala rasa sakit hati dengan menyakiti fisiknya.


"Brengsek! Arghhhhhhhh!"


Pranggggggg!


Terakhir kalinya Rajendra meluapkan amarahnya dengan memukul kaca didepannya hingga hancur berkeping-keping, seperti hati Rajendra saat ini.


"Tidak bisa, aku tidak akan bisa melupakan Kalea," gumam Rajendra mengusap wajahnya dengan kasar.


Rajendra lalu mengambil ponselnya, memandang foto dirinya dan Kalea yang begitu mesra. Tanpa sadar bibirnya terangkat untuk mengulas senyum manis, tapi sedetik kemudian senyumannya langsung hilang tatkala mengingat ucapan Ayahnya.


"Brengsek sekali," umpat Rajendra mengusap sudut matanya yang tiba-tiba saja basah. Rasanya ternyata memang sangat sakit, seperti luka yang disiram oleh air garam, perih dan menyakitkan.


"Aku tidak bisa seperti ini terus."


Daripada mengharu biru menangisi nasib cintanya yang menyedihkan, Rajendra memilih pergi meninggalkan rumahnya. Ia langsung menghubungi asistennya untuk menyiapkan penerbangan malam itu juga.


"What? Kau tidak lihat ini jam tiga pagi? Mana ada penerbangan dijam segini?" Faris, asistennya langsung berteriak begitu ia memberikan perintah.


"Aku tidak perduli, jika kau masih sayang pekerjaanmu, sebaiknya kau siapkan sekarang juga. Aku akan menunggumu di Bandara," titah Rajendra tidak perduli asistennya itu kelimpungan atau tidak. Yang jelas malam ini ia harus pergi dari rumahnya.


Rajendra segera mengemasi barang-barangnya, ia tidak membawa banyak baju, hanya beberapa dan juga sebuah buku yang tersimpan rapi didalam lemari. Sesaat ia memandang buku itu lalu memasukkannya kedalam tas lalu mengambil mantelnya yang tebal dan memakainya.

__ADS_1


Rajendra keluar kamarnya dengan mengendap-endap, suasana rumah sangat sepi karena memang masih jam 3 dini hari. Diluar pun hanya ada beberapa penjaga yang bertugas.


"Tuan Rajendra, Anda akan kemana?" tanya salah satu penjaga.


"Bukan urusanmu aku akan kemana, cepat bukakan pintu gerbangnya," tukas Rajendra tidak ada ramah-ramahnya sama sekali.


"Tapi Tuan, Tuan Bara bisa marah kalau tahu Anda pergi," ucap penjaga itu begitu takut.


"Dan aku bisa lebih marah jika kau berani melawan perintahku!" bentak Rajendra melayangkan lirikan tajamnya kepada penjaga itu, sehingga membuatnya gelagapan.


"Tunggu apalagi? Cepat buka pintunya sekarang!" seru Rajendra dengan nada kesal yang tidak ditutupi.


"Baik Tuan."


Penjaga itu langsung patuh membukakan pintu gerbang untuk Rajendra dan membiarkan pria itu pergi meninggalkan rumah.


Rajendra sendiri tidak membuang waktunya, ia segera mengendarai mobilnya dengan sangat cepat meninggalkan rumahnya. Entah bagaimana respon kedua orangtuanya besok saat tahu jika ia pergi, ia hanya ingin menenangkan pikirannya sejenak. Berharap jika ia kembali nanti, maka semua akan baik-baik saja dan kembali seperti semula.


Tidak sampai satu jam, Rajendra sudah tiba di Bandara. Disana terlihat Faris sudah menunggunya dengan wajah tertekan.


"Hah, kau ini dari dulu memang sangat suka menyiksaku. Memangnya kau ini kau kemana sih malam-malam buta seperti ini?" gerutu Faris seraya menguap, pertanda ia masih mengantuk.


"Kau sudah mengurus apa yang aku minta?" Rajendra mengabaikan perkataan Faris dan fokus akan tujuannya.


"Sudah, semuanya sudah siap. Ini paspor dan juga beberapa uang yang mungkin kau butuhkan disana. Alasan apa yang harus aku katakan jika Ayahmu besok bertanya?" kata Faris lagi.


"Pikirkan saja sendiri, itulah gunanya kau aku bayar," tukas Rajendra dengan begitu pedasnya.


Rajendra merampas apa yang diberikan oleh Faris lalu menyelonong pergi begitu saja, tidak mempedulikan Faris yang mengumpat penuh kekesalan itu. Ia hanya ingin secepatnya pergi meninggalkan kota ini, sudah itu saja.


"Dasar bos sialan!"


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2