Persimpangan Cinta Rajendra

Persimpangan Cinta Rajendra
PCR 27. Izinkan Aku Pergi.


__ADS_3

Senja mengangkat wajahnya begitu mendengar ucapan Rajendra. Ia memandang pria itu dengan tatapan terkejut. Tidak menyangka jika hal itu akan terlontar dari bibir Rajendra.


"Berhentilah untuk memberikanku harapan, aku bukan wanita yang kau inginkan, kenapa kau harus mengatakannya?" ucap Senja kembali menundukkan wajahnya, ia baru ingat jika Rajendra tidak pernah menyukainya dan ia tidak boleh terlena begitu saja.


"Jika aku memang tidak menginginkanmu, aku tidak akan melakukan hal itu padamu. Perlu kau tahu, aku hanya pernah melakukan hal itu padamu," kata Rajendra ingin Senja tahu kalau ia memang serius.


Senja menatap Rajendra tidak percaya, apakah mungkin semua itu benar? Pria sempurna seperti Rajendra, pasti banyak sekali wanita yang menginginkannya. Bahkan pria itu juga pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita, pastilah pernah terjadi sesuatu antara keduanya.


"Lalu, kenapa harus aku? Kenapa kau melakukan itu padaku? Apa yang kau inginkan?" tanya Senja memandang langsung mata Rajendra.


"Karena ... " Rajendra memikirkan alasan apa yang membuatnya nekat memaksa Senja, tidak mungkin ia mengatakan jika ia hanya tidak ingin Senja dimiliki oleh orang lain, dan ia kesal melihat wanita itu dengan Revan.


"Aku tidak sengaja melakukannya, malam itu aku mabuk dan tidak sadar. Percayalah jika aku sedang dalam kondisi baik, aku tidak akan pernah melakukan itu padamu," ucap Rajendra mencari-cari alasan dengan berbohong alasan pastinya.


Senja tersenyum kecut, semuanya sudah terbukti, kenapa ia harus menanyakan hal yang hanya bisa menyakiti hatinya saja.


"Sudahlah, kau tidak perlu membahas hal itu lagi. Lebih baik kau istirahat saja agar segera pulih. Setelah ini, aku akan mencarikan tempat tinggal yang baru untukmu agar Revan tidak mengganggumu lagi," kata Rajendra memutuskan dengan seenaknya saja.


"Aku tidak mau," tegas Senja melirik Rajendra begitu tajam.


"Senja, aku melakukan ini demi kebaikanmu. Kau tahu semalam aku tidak menggunakan pengaman, bagaimana jika kau hamil dan-"


"Dan Revan akan mengetahui kebusukanmu begitu?" sergah Senja dengan begitu sinisnya.


"Cih, bodoh sekali aku hampir saja percaya kau benar-benar ingin bertanggungjawab. Kau bukan ingin mempertanggung jawabkan perbuatanmu, tapi kau hanya ingin menyembunyikan kebusukanmu bukan?" Senja berbicara dengan air mata yang tak terbendung lagi. "Aku mengerti Rajendra, jika memang itu yang kau inginkan. Maka, izinkan aku pergi dari hidupmu. Aku akan pergi sejauh mungkin dan melupakan semua yang terjadi antara kita. Aku tidak akan meminta apapun darimu, cukup jangan pernah menemuiku lagi," pinta Senja kali ini memandang lurus mata Rajendra.

__ADS_1


Rajendra mengertakkan giginya, matanya berkilat penuh amarah yang tidak bisa ditutupi lagi. Kenapa? Kenapa semua wanita yang dekat dengannya harus pergi? Apakah sedikit saja ia tidak pantas untuk memilih keinginannya sendiri?


"Cukup! Sudah cukup aku memberikanmu kebebasan Senja. Kau adalah istriku, jadi aku sangat berhak atas dirimu. Dan sebagai suamimu, aku meminta kau jangan coba-coba meninggalkan aku atau kau akan tahu apa yang tidak akan pernah kau bayangkan. Percayalah kau belum mengenalku dengan baik, bahkan aku bisa membunuh orang tanpa menyentuh. Dengarkan itu baik-baik, jangan pernah coba-coba meninggalkan aku atau kau akan menyesal!" bentak Rajendra mencengkram lengan Senja dengan sangat kuat. Matanya memerah penuh kemarahan yang tidak ditutupi.


"Sakit ..." Senja meringis kesakitan, matanya semakin basah karena sikap Rajendra yang menurutnya menyeramkan.


Melihat wajah Senja yang ketakutan, Rajendra segera melepaskan wanita itu. Ia terlalu emosi sampai tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Aku harap kau mengerti dengan baik perkataanku. Jika kau memang ingin pergi, cobalah, aku pasti menemukanmu meski kau akan pergi keujung dunia sekalipun. Takdirmu sudah terikat dengan aku," ucap Rajendra begitu datar dan dingin, ia langsung pergi meninggalkan Senja setelah mengatakan hal itu.


Senja memeluk meringkuk memeluk dirinya sendiri, hanya menangis yang bisa ia lakukan. Tidak ada harapan apapun lagi untuknya sekarang ini. Ia benar-benar sudah tidak tahan dan ingin pergi, tapi kenapa Tuhan seolah tidak ingin ia pergi dengan cepat? Tidak cukupkah penderitaannya selama ini?


_______


Rajendra menghisap rokoknya dalam-dalam lalu membuangnya perlahan, pikirannya begitu kacau sekali setelah apa yang sudah terjadi. Entahlah, kenapa ia bisa menjadi seegois ini. Ia hanya tidak ingin Senja pergi begitu saja, apakah itu semua salah?


Rajendra kembali menikmati rokoknya, sebenarnya ia butuh minum, tapi ia ingat kalau harus menjaga Senja, jadi ia mengurungkan niatnya untuk minum.


Saat Rajendra sedang sibuk menikmati rokoknya, ponselnya terdengar berdering menimbulkan suara yang cukup berisik. Rajendra melirik nama Ayahnya disana, ia tahu Ayahnya pasti bertanya alasannya pergi ke kantor apa.


Dengan malas, Rajendra akhirnya mengangkat panggilan telepon itu.


"Ya Ayah?" sahutnya begitu panggilan tersambung.


"Kenapa tidak ke kantor?"

__ADS_1


Seperti dugaan Rajendra, Ayahnya pasti menanyakan hal itu karena selama ini Rajendra adalah orang yang paling disiplin saat bekerja.


"Aku sedang ada urusan lain, ada apa memangnya? Semua pekerjaanku untuk sementara akan ditangani oleh Faris," ucap Rajendra mengusap wajahnya dengan kasar, terlalu lelah dengan masalah yang datang bertubi-tubi hari ini.


"Baiklah, Ayah hanya ingin mengambil berkas dari Om Riko kemarin. Bukankah beliau menyerahkannya padamu?" ujar Bara diseberang sana.


"Ah iya, aku menyimpannya di brankas. Ayah ambil saja disana," kata Rajendra lupa tentang hal itu karena kemarin ia mendapatkan hal yang tidak ia duga sama sekali.


"Baiklah, Ayah akan menutup teleponnya."


Rajendra menghela nafas panjang melihat ponselnya yang mati. Ia menyalakannya kembali dan melihat foto Kalea disana. Foto itu sudah menemani hari-harinya selama ini.


"Kau pasti sangat kecewa jika tahu apa yang telah aku lakukan. Maafkan aku ... ."


_______


Meskipun sudah menyerahkan jabatannya kepada putranya, Bara masih sesekali mengecek pekerjaannya jika ada klien besar. Bukannya tidak percaya dengan putranya, tapi Bara hanya ingin memastikan jika anaknya bekerja dengan baik agar tidak mengecewakan para kliennya, apalagi kebanyakan kliennya adalah orang yang sudah sangat lama bekerja dengan perusaan mereka.


Jadi hari itu Bara sengaja datang untuk mengecek kinerja putranya.


Setelah mengetahui dimana letak berkas yang perlu ia cek, ia langsung mencarinya di brankas yang dimaksud Rajendra. Disana banyak sekali berkas yang bertumpuk rapi, biasanya Bara memang meletakkan berkas yang sangat penting didalam brankas itu untuk mencegah hal yang tidak diinginkan.


Namun, ketika ia sedang mencari berkas yang ia maksud, ia tidak sengaja melihat sebuah berkas yang bersampul map abu-abu dengan tulisan yang cukup mengejutkan.


"Pengadilan agama? Surat apa ini? Kenapa Rajendra bisa memilikinya?"

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2