
Senja masih dilanda kebingungan yang begitu menyiksa. Dua orang pria tampan sedang mengulurkan tangan kepadanya. Bukannya ia merasa senang, ia jutsru begitu bingung. Karena semua ini bukan tentang perasaan saja, tapi juga tentang harga diri dari mereka berdua.
Namun, Senja akhirnya ingat jika saat ini ia bukanlah wanita suci yang pantas bersanding dengan Revan, pria jahil yang ternyata memiliki hati yang begitu baik. Dan Senja pun yakin, jika Rajendra pasti tetap tidak akan membiarkannya melenggang pergi dengan mudah mengingat bagaimana sikap arogan pria itu.
"Senja, kau tidak perlu takut dengan Kakakku. Aku tidak perduli kau pernah ada hubungan apa dengan dia. Aku hanya ingin memberitahumu jika dunia itu indah, Senja." Revan kembali berbicara karena Senja hanya diam saja.
Rajendra mendengus kecil, semakin tidak suka melihat sikap Adiknya itu.
"Tidak semua orang bisa menganggap dunia itu indah," tukasnya menahan dongkol yang luar biasa.
Revan tidak menggubrisnya, ia tetap menatap Senja dan menunggu jawaban dari wanita itu.
"Maafkan aku Tuan Revan," kata Senja menunduk, tidak mampu melihat wajah Revan yang langsung berubah begitu mendengar jawabannya.
"Senja, apa maksudmu?" Revan tahu arti kata maaf itu, tapi ia masih ingin memastikan jika Senja memang tidak ingin bersamanya.
"Aku rasa kau cukup cerdas Revan. Senja sudah memilihku, jadi kau harus segera pergi dari sini dan jangan mengganggunya," ucap Rajendra tersenyum puas dalam hatinya, sudah sangat yakin jika Senja pasti memilih dirinya.
Revan masih berdiri disana, menatap Senja yang tidak mau menatap dirinya. Kekecewaan itu terlihat sangat jelas dimatanya. Ternyata rasanya ditolak oleh orang yang kita cintai begitu menyakitkan.
"Kenapa kau masih disini juga? Perlu aku antar keluar?" ujar Rajendra sarkas.
Revan melirik Rajendra begitu tajam, tanpa mengatakan apapun, ia langsung pergi begitu saja membawa luka yang begitu menyakitkan didalam hatinya.
Rajendra menarik sudut bibirnya, sudah ia duga jika Senja pasti memilih dirinya. Lagipula memang sudah tidak ada jalan lagi bagi Senja karena ia sudah memiliki wanita itu seutuhnya.
"Apa kau menyesal telah menolak Revan?" tanya Rajendra dengan sengaja saat melihat wajah Senja yang terlihat sedih.
Senja mengertakkan giginya, menatap Rajendra dengan penuh amarah. "Apa kau puas sekarang? Puas sudah membuat aku seperti ini? Apalagi yang ingin kau lakukan untuk menghancurkan hidupku?" ucap Senja dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Menghancurkan? Bukankah sudah sewajarnya itu yang dilakukan oleh suami kepada istrinya? Apa kau lupa akan hal itu Senja?" kata Rajendra membuat Senja tersenyum kecut.
"Lucu sekali, kau berbicara seolah kita ini sepasang suami istri yang harmonis. Kau tidak lupa 'kan kalau kau sudah memintaku menandatangani surat perceraian? Apa sekarang kau ingin menjilat ludahmu sendiri?" sergah Senja dengan nada sarkas dan mampu membuat Rajendra langsung bungkam.
Rajendra terlihat kesal tapi apa yang dikatakan Senja membuat ia seperti mendapatkan tamparan keras yang luar biasa menyakitkan.
Rajendra menarik sudut bibirnya, ia merangsek maju dan langsung menarik pinggang Senja dengan kuat.
__ADS_1
"Lepas!" bentak Senja.
"Kau tahu, aku tidak perduli jika kau terus menolakku. Karena aku punya 100 cara untuk mendekatimu," bisik Rajendra dengan sengaja mencium pelipis Senja lalu pergi begitu saja meninggalkan wanita itu.
Senja mengigit bibirnya, tubuhnya terkaku hingga tidak bisa digerakkan. Seharusnya ia marah, tapi rasanya enggan sekali. Sudah terlalu lelah menghadapi sikap Rajendra yang selalu seenaknya. Mulai sekarang ia benar-benar harus berhati-hati pada pria itu dan sekuat tenaga harus membentengi hatinya agar tidak jatuh terlalu dalam jika tidak ingin ia kembali terluka.
Namun, saat Senja ingat ucapan Rajendra yang mengatakan kemungkinan besar ia hamil, hatinya jadi bimbang.
Haruskah ia bertahan dan menerima semua yang dilakukan Rajendra padanya?
________
Malam harinya, Senja membuka ponsel yang diberikan Revan padanya. Perasaannya kembali dilanda kebingungan. Bukan ia sudah menyukai pria itu atau bagaimana, tapi ia hanya merasa begitu kecewa pada dirinya sendiri.
Kecewa karena sudah membuat pria baik seperti Revan sakit hati. Tapi Senja juga tidak bisa menjanjikan apapun pada pria itu. Meskipun Revan baik, tapi perasaan itu belum tumbuh dihati Senja.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini?" Senja menghela nafas lelah, ia ingin sekali kembali ke kehidupannya yang dulu.
Meskipun dulu ia hidup miskin, ia tidak pernah dilanda perasaan yang seperti ini. Setiap hari ia hanya bekerja, bekerja dan bekerja. Tidak ada waktu untuk memikirkan cinta. Karena bagi Senja cinta akan membawa luka saja. Dan semua itu benar adanya karena saat ini ia merasakannya.
Senja tersentak saat mendengar suara berat pria yang begitu familiar. Ia menoleh dan kaget melihat Rajendra datang ke kamarnya.
'Mau apa dia?'
Rajendra tersenyum tipis, ia mendekatkan dirinya pada Senja lalu duduk disamping wanita itu.
"Untuk apa kau kesini? Pergi." Senja langsung beringsut menjauh.
"Pergi kemana? Kau tidak lihat ini sudah malam, waktunya kita tidur," ujar Rajendra begitu santai.
"Lalu? Untuk apa kau kesini, pergilah ke kamarmu sana!" seru Senja tak habis pikir dengan Rajendra ini.
"Kamarku?" Rajendra mengerutkan dahinya. "Bukankah kamarku dan kamarmu sama? Kita sudah menikah," sahut Rajendra mengerlingkan sebelah matanya menggoda.
Senja membesarkan matanya, ingin sekali mengumpat keras didepan Rajendra dan mengatakan kalau pria itu sudah ingin menceraikannya. Tapi ia kembali dibuat kaget saat Rajendra melepas kimono tidurnya hingga memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang menggoda.
"Apa-apaan kau ini?" teriak Senja langsung membuang mukanya, malu sekali melihat hal itu.
__ADS_1
Rajendra menarik sudut bibirnya, ia dengan santai langsung merebahkan tubuhnya di kasur Senja. "Tidak usah membuang muka seperti itu, kau juga sudah melihatnya 'kan?" ucap Rajendra.
Senja mendesis jengkel, tangannya sudah geram sekali ingin memukul pria kurang ajar itu.
"Kau memang gila, jika kau tidak mau pergi darisini. Aku yang akan pergi," kata Senja segera beranjak.
"Jangan coba-coba." Rajendra langsung menarik tangan Senja dengan cepat hingga wanita itu jatuh ke pelukannya.
Senja terpaku sesaat, tapi ia langsung mendorong Rajendra dengan kasar. "Lepaskan aku, bisakah kau jangan mengangguku sehari saja?" serunya begitu geram.
"Bukankah aku sudah bilang, kalau aku punya 100 cara itu mendapatkanmu? Dan ini adalah salah satunya, sekarang sebaiknya kau tidur saja," kata Rajendra menarik Senja kedalam pelukannya dan ia memejamkan matanya.
"Tidak mau! Lepaskan aku Rajendra, kau ini kenapa sih?" Senja kembali berontak, ia tidak mau dipeluk pria brengsek seperti Rajendra ini.
"Kalau kau terus bergerak, aku tidak berjanji untuk tidak menidurimu," ucap Rajendra masih memejamkan matanya dan memeluk Senja sangat erat.
"Kau pikir aku wanita apa ha! Cepat lepaskan aku Rajendra," rengek Senja terus saja berontak dan memukuli Rajendra.
Namun, tiba-tiba saja Rajendra memutar tubuhnya dengan cepat dan menindihnya hingga membuat kedua matanya membulat sempurna.
"Rajendra!" pekik Senja panik.
"Mau tidur atau aku tiduri?" ucap Rajendra menatap Senja begitu serius.
Senja mengigit bibirnya, benar-benar tidak berkutik sekarang. Ia begitu takut melihat sorot mata Rajendra yang begitu serius. Tapi secara bersamaan ia merasa jantungnya berdetak kencang saat berada didekat Rajendra seperti ini.
Rajendra tersenyum tipis, ia mendekatkan wajahnya lalu mencium kening Senja begitu dalam dan ia mengelus lembut rambut Senja.
"Tidurlah, aku tidak akan melakukan apapun padamu, aku berjanji," ucap Rajendra dengan nada paling serius yang terdengar.
Senja mendongak untuk melihat wajah Rajendra kembali, tapi ia langsung menunduk kembali saat Rajendra menatapnya dan memejamkan matanya, pura-pura tidur daripada meladeni pria keras kepala seperti Rajendra.
Rajendra mengulas senyumnya, ia memandang wajah Senja seraya terus mengelus rambutnya. Wanita itu benar-benar sangat polos, membuat siapapun pasti tertarik ingin memilikinya, termasuk dirinya.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1